opini
Sampah Kampus
Pagiku tak seindah kala itu, malamku tak
senyenyak kala itu. Namaku Hamzah anak fakultas ushuludin semester VI.
Tiga tahun yang lalu rasanya aku baru saja merasa
bahagia kala menyandang gelar mahasiwa. Datang ke kampus dengan riang gembira seperti
seekor tupai yang bangun dari tidurnya karena hibernasi dimusim dingin. Sambil menatap
betapa agungnya para kakak tingkat dengan almamater kebanggaannya sembari
menggulung lengannya hingga siku dan rambut gondrong menjadi simbol senioritasnya,
menakutkan.
Waktu berputar serasa cepat aku sudah menjadi
mahasiswa dan katanya mahasiswa itu tonggak utama bangsa ini. Nyatanya aku
hanya diam tak banyak tingkah untuk negeri ini. Memang. Cuma ikut diskusi
bicara basa-basi dan baca buku seketemunya. Nongkrong tak karuan dan sering
titip absesnsi. Terkadang ikut kulihan nan fokus dengan gadget ku.
Pada akhirnya aku mengerti bahwa hari itu aku
merasakan krisis pada keidentitasanku sebagai mahasiswa.
“apa
kabar mahasiswa? Bagaimana harimu?” ku dengar sambutan presiden mahasiswa di
hari sabtu ini sambil bersiap mengikuti diskusi tentang politisasi agama.
“jika
ada yang bertanya demikian, maka jawablah selagi matahari terbit dengan
indahnya, maka seindah itulah kabarku hari ini. Jawablah jika api perjuangan
masih bergejolak di dadaku maka sehebat itulah kabarku. Hari ini jika berbicara
eksistensi kita sebagai mahasiswa saya teringat perkataan pak Fahrudin Faiz
sebagai salah dosen yang ahli dalam bidang filsafat beliau berkata “manusia
mempunyai dua hal, yaitu kecerdasan dan kesadaran, semua manusia memiliki
kecerdasan, namun sedikit yang memiliki kesadaran” begitulah kata beliau,
ini yang dapat kita ambil sebagai refleksi diri kita sendiri, apakah kita
termasuk orang yang memiliki kesadaran dalam segala hal sehingga kita menjadi
orang yang bijak sana” lanjut perkataan sang presiden mahasiswa itu,
Baru-baru
ini viral sebuah film dokumenter tentang sebuah aktivitas pertambangan batu
bara dan perusahaan PLTU yang mendesak dan mencekik masyarakat, tanpa ampun. Aku
sebagai mahasiswa, selalu luntang-lantung di kampus menemui para dosen untuk
berdiskusi tentang keilmuan. Tentang akademisi yang ku selami, hingga saat ini
menuju tugas akhir pembuatan skripsi. Bukankah seharusnya aku merasa malu
tentang pemilu saat ini yang ku tahu hanya panggung perebut kekuasaan berkedok
agama. Entah bagaimana dan cara ku bersinergi pada masyarakat akan negeri ini
yang semakin lama merugi akibat ulah para kapitalis.
Bukankah
harusnya paradigma fungsional yang seharusnya di terapkan agar hidup ini
mengalami keseimbangan. Mungkinkan ini hanya sebuah keperspektifan belaka. Atau
mungkin saya yang kurang baca.
Paradigma
sudah kuganti, semua aktivitas dalam kampus ku sumbangkan untuk berpikir dan
bergerak dalam membentuk integritas diri. Tapi ironi itu Cuma beban
berat yang kuterima, tanpa ampun regulasi dalam organisasi ku semakin mencekik,
akhirnya benar apa yang dikatakan sahabatku sebagai presiden mahasiswa yang
beliau bilang bahwa kesadaran sudah tidak ada lagi, krisis identitas sebagai
eksistensi mahasiswa semakin tampak.
Mahasiswa
sesungguhnya bagaimana?
Semakin
bingung, aku bergerak dan berpikir terus mengikis nilai pada IPK ku dan terus
merosot. Tekun belajar tanpa menceburkan diri pada aktivitas mahasiswa dalam
bergerak membuatku malu melihat masyarakat yang tercekik paradigma kapitalis.
Aku
harus bagaimana? Apakah hari ini aku Cuma menjadi sampah kampus?
Setiap
hari menjadi tukang pos kampus menyebar berita rapat dan ngopi untuk bergerak
dan berpikir agenda esok, justru itu yang menjadikan ku buronan para dosen. Berpikir
untuk membangun dan menjadikan kampus berintegritas tapi malah menghancurlan
tujuan utama dikampus, aku ikut rapat tapi Cuma fokus dengan game online yang
di install di handphone ku, atau fokus membaca status anak milineal di medsos
ku, memalukan memang.
Wahai
nyamuk yang menemaniku malam ini berikanlah ku kabar bahwa hari ini aku
berpikir dan bergerak sebagai sampah kampus tidak membuatku menjadi sampah
masyarakat kelak.
“bro,
ngelamun aja lu?” ucap Ari sambil menepuk pundakku yang memecah lamunanku.
“nggak,
siapa yang melamun, gw Cuma heran sama nyamuk yang selalu mondar-mandir memberi
kritik tanpa mau mendengarkan keluhan hati gw” jawab ku sambil meletakkan pena
yang sembari tadi ku pegang.
“edeh,
susah dah bicara sama anak ushuludin mah, selalu pakai bahasa majaz” jawab ari
sedikit protes.
“ok
jangan ganggu, gw mau nulis artikel dulu dah!” kataku menutup percakapan.
Sambil
mengingat lamunan ku yang tadi ku tuliskan secercah kata yang kurangkai menjadi
narasi denga tema “SAMPAH KAMPUS”.
Sumber Gambar : https://gayahidupmu.com/2018/04/18/kenali-keuntungan-jadi-aktivis-kampus-berikut-ini/


Post a Comment
0 Comments