Tugas Individu
Resume buku pengantar Filsafat
Louis O. Kattsoff cet. IX
Mata Kuliah : Filsafat Umum
Oleh:
Muhamad Jamaludin
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
JURUSAN USHULUDDIN
SEKOLAH TINGGI ILMU AL-QUR’AN (STIQ) AN-NUR YOGYAKARTA
2017



BAGIAN I
“Menguak Dasar-dasar Kefilsafatan”
BAB 1
Perenungan kefilsafatan
Apakah Filsafat itu ?
Filsafat tidak memberi petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, juga tidak melukiskan teknik-teknik baru untuk membuat atom atom atau sebagaimana lainnya, filsafat juga membawa kita pada pemahaman dan tindakan, seperti ingin membuat roti, maka filsafat adalah tungkunya, karena filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, dan menerbitkan serta mengatur semua itu dalam bentuk yang sistemastis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita pada tindakan yang lebih layak, dalam buku ini diceritakan tentang kisah socrates yang dihukum untuk minum racun karena tuduhan merusak jiwa kaum muda di athena, dalam cerita disebut tindakan socrates dengan kemauannya meminum racun karena beralandas sikap seorang filsuf yang seharusnya, hal ini karena Keinginan filsafat ialah pemikiran secara tepat filsafat, , dari certita diatas menunjukkan bahwa filsafat berbeda sama sekali dengan pekerjaan membuat roti, karena filsafat merupakan suatu analisa secara hati-hati terhadap penalaran mengenai suatu masalah. sejumlah maksna khusus yang didukung merupakan pemikiran secara sistematisperenungan kefilsafatan ialah percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang menandai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami diri kita, perenungan kefilsafat ialah sejenis percakapan yang dilakukan dengan diri sendiri atau dengan orang lain, hal ini mudah ditunjukkan dalam masalah filsafat pengetahuan.
Ciri-ciri pemikiran filsafat
            Suatu bagan konsepsional, karena filsafat merupakan hasil menjadi-sadarnya manusia mengenai dirinya sebagai pemikir, dan menjadi-kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam yang dipikirkannya. Dalam filsafat juga saling berhubungannya antara jawaban-jawaban kefilsafatan, saling bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan yang lain dalam usaha apakah yang dinamakan kebenaran. Selain bersifat konsepsional filsafat juga bersifat kohern artinya runtut, maknanya setiap pemikiran dalam filsafat memiliki keterbatasan seperti contoh pada pernyataan hujan turun (A) dengan tidak benar bahwa hujan turun (B), artinya jika kemungkinan pernyataan itu adalah (A) maka tidak akan ada pernyataan (B), begitu sebaliknya. Filsafat merupaka pemikiran yang rasinal artinya bagian-bagian yang terkandung di dalam filsafat harus bersifat logis, filsafat juga bersifat komprehensif (menyeluruh), Artinya kefilsafatan berusaha menyusun suatu bagan untuk dunia yang tempat kita hidup maupun untuk diri kita sendiri, hal ini berarti bahwa filsafat tidak akan berada pada sesuatu yang diluar jangkauannya. Filsafat dalam pandangan dunia artinya filsafat berusaa memahami segenap kenyataan menyusun pandangan dunia, filsafat sebagai definisi pendahuluan, yah karena kita berusaha mencari dasar-dasar bagi kepercayaan kita,dengan merenunginya maka dapat dengan mudah kita menemukan definisi pertama tentang filsafat.
BAB II
Metode Kefilsafatan

Tata cara perenungan kefilsafatan
            Memang cukup mudah untuk melakukan perenungan dalam filsafat, namun jauh lebih sulit untuk dapat memulai dan melanjutkannaya, karena filsafat berawal pada sebuah ketakjubkan dan dilanjutkan sebuah perenungan untuk mendapatkan sebuah konsep, dalam hal ini tidak terlepas dari metode-metode filsafat,dalam bab pertama telah dijelaskan bahwa filsafat sebuah perenungan untuk menyusun sebuah bagan konsepsiona jenis tertentu, pada bab tersebut telah diperkenalkan unsur-unsur sistem semacam itu
Analisa
            Ekstensi dan Intensi,  maksud dari penggunaan analisa adalah melakukan pemeriksaan konsep dari pernyataan-pernyataan untuk mengetahui berbagai istilah-istilah yang telah dibuat, analisah digunakan sebagai tahap lanjutan dari sebuah perenungan untuk mendapatkan prinsip atau konsepsioanal yang berawal dari perenungan sehingga kita akan menemukan istilah-istilah tersebut, atau dari istilah-istilah tersebut dapat kita temukan sebuah makna, namun perlu kita ketahui pula bahwa sebuah makna pun tidak identik dengan kebeneran, hendaknya perlu diingat, analisa terhadap makna tidaklah menetapkan kebenaran atau kesesatan kalimat yang bersangkutan, karena dalam analisa akan banyak menghasilkan sebuah data yang bervarisi.
Sintesa
Lawan analisa adalah sintesa artinya pengumpulan karena analisa adalah perincian, dalam kasus ini yang kita lakukan adalah mengumpulkan semua pengetahuan dan menyusunnya untuk menjadi suatu pandangan dunia, bagia filsafat spektualitaf tidak ada bahaya yang lebih besar ketimbang diketahuinnya lapangan-lapangan pengetahuan manusia tertentu oleh karenanya, sintesa ialah usaha untuk mencari kesatuan didalam keragaman itu.
Cara mamulai dan melanjutkan dalam perenungan kefilsafatan
Seorang filsuf besar descrates mewariskan pendirian tetang cara dan mememulai perenungan kefilsafatan diantaranya :
Adanya Masalah, hal ini penting karena pada dasarnya sebuah perenungan kefilsafatan memerlukan masalah sebagai bahan dasar dalam perenungan agar terbentuknya pelbagai definisi. Setelah memiliki masalah untuk di jadikan bahan dasar selanjutnya descrates menambahkan tahapan yakni menguji secara rasional anggapan-anggapan, merumuskan masalah yang dihadapinya descrates memulai pengetahuan yang diperoleh dari indranya, tahapan selamjutnya adalah memeriksa penyelesaian yang terdahulu, perlu juga mempertimbangkan penyelesaian-penyelesaian yang diajukan mengenai masalah yang disuguhkan, selanjutnya melakukan hipotesa, hipotesa dapat digunakan sebagai dugaan awal denifisi mengenai masalah yang ditemukan, dalam perenungan kefilsafatan –menyarankan suatu hipotesa yang kiranya memberi jawaban atas masalah yang diajukan, semua bahan bukti yang dapat kita temukan untuk mengukuhkannya  dan menunjukkan bahwa bukti tentang  hipotesa itu bukanlah bahan bukti yang sah atau tidak ada sangkut pautnya dengan masalahnya, langkah terakhir adalah menarik kesimpulan, dari proses yang tertera diatas hasil akhirnya adalah menarik kesimpulan, masalah yang didapat diawal akan terjawab dengan melalui tahapan-tahapan yang disebutkan diatas, kesimpulan adalah hasil dari perenungan filsafat kesimpulan bisa berupa sebuah defisi baik benar atau salah, tergantung pada proses tahapan-tahapan tersebut, demikianlah cara perenungan kefilsafatan Descrates.

Bab III
Bahasa dalam uraian kefisafatan
Filsafat Dan Bahasa
Kita merasa bahwa semua filsuf sepertinya menggunakan bahasanya sendiri, filsafat dapat di pandang sebagai suatu bahasa dan perenungan kefilsafatan, faktanya bahwa ungkapan pikiraan dan hasil-hasil perenungan kefilsafatan tidak dapat dilakukan tanpa bantuan bahasa, mari pertama-tama kita perhatikan Hakikat Bahasa, pada dasarnya bahasa adalah sususan dari abjad-abjad secara urut hingga terbentuk satu makna tersendiri, kata-kata tersbut kemudian bergabung membentuk satu kalimat hingga berakhir menjadi paragraf-paragraf sebagai pembahsaan dalam menuangkan pemikiran para filsuf, bahasa tersebut berupa Simbol dan perkataan, kata-kata dan istilah-istilah merupakan simbol-simbol, artinya perkataan-perkataan atau istilah-istilah merupakan tanda-tanda yang sudah terbiasa dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang terdapat dibalik perkataan-perkataan atau istilah-istilah itu sendiri, selain itu bahasa dalam filsafat harus memiliki Makna Perkataan, hal ini penting karena makna perkata akan memberikan identitas dari buah pemikiran seorang filsuf. Kalimat dan pernyataan, jika kata-kata dipersatukan sesuai dengan aturan-aturan tata-bahasa suatu bahasa, maka terjadilah kalimat-kalimat, hal ini sangat diperlukan untuk memperjelas pemikiran para filsuf dalam perenungan kefilsafatan.
Pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan yang mendasar
Seorang filsuf harus memiliki pola berpikir yang mendasar seperti apakah pernyataan-pernyataan itu benar?, apa makna yang dikandungnya?,pola berpikir ini saya anggap sebagai dasar utama perenungan setelah melihat sebuah hal yang takjub atau luar biasa, dengan cara berpikir demikian maka kita akan memulai proses perenungan kefilsafatan selanjutnya.
1.      Yang-ada (Being)
Istilah ini memiliki berbagai macam makna, tetapi dikerucutkan menjadi dua istilah yaitu esensi dan eksistensi, kita sebut segala sesuatu itu bersifat ‘yang-ada’, singkatnya barang sesuatu itu ada, hal ini di terapkan kepada sesuatu/segala hal, hakikat atau sejenisnya. Sesuatu yang bereksistensi misalnya bangku, dapat dikatakan ada.

2.      Kenyataan (reality)
Segala sesuatu mempunyai sifat ‘yang-ada’, namun tidak semua hal bersifat nyata atau merupakan kenyataan, kenyataan dapat juga didefinisikan sebagai sesuatu yang ditangkap dalam tangkapan yang dapat dipercaya,
3.      Eksistensi (Existence)
Eksistensi mengandung pengertian ruang dan waktu, adanya eksistensi yang kita katakan tidak akan terlepas dengan keterikatannya ruang dan waktu terkecuali dengan ‘Tuhan’ dimana Ia ada tetapi keberadaannya tidak terikat ruang dan waktu, jika kita bahas Tuhan disini lain ceritanya pembahasan dengan makhluk ciptaannya seperti manusia yang keberadaannya terikat ruang dan waktu, adanya manusia menunjukkan eksistensinya, begitu benda dan makhluk lainnya.
4.      Esensi (essence)
Jika berbicara tentang esensi ini maka tidak akan terlepas dengan eksistensi diatas, menurut pemahan penulis tentang buku ini, esensi adalah hakikat dari eksistensi, keberadaan makhluk (benda) kita katakan meja, memiliki eksistensi dan esensi, esensi adalah hakikat dari meja tersendiri, adanya meja menunjukkan eksistensinya, namun tidak terlepas dengan hakikat meja tersebut, ini lah yang disebut esesi.
5.      Subtansi (Subtance)
Hubungan esensi dengan subtansi serupa dengan hubungan antara eksistensi dengan realita atau kenyataan, dimana benda kita katakan meja memiliki realita atau adanya meja tersebut memiliki keberadaan eksistensinya dengan kenyataan (realitanya), dimana adanya eksistensi merupakan penerusan dengan kenyataannya di lapangan, jadi subtansi bisa dikatakan serupa dengan hubungan eksistensi dengan realita.
6.      Materi
Materi adalah subtansi khusus, dalam arti ini, materi ialah perkataan yang digunakan sebagai nama jenis subtansi yang mendasar dari alam fisik, alam fisik disini berarti lingkungan hal-hal yang menimbulkan pengalaman indrawi, yakni alam objek-objek yang dapat alat-alat kelengkapan indra kita, ilmu-ilmu pada dewasa ini banyak menyoroti susunan dan sifat materi.
7.      Bentuk
Bentuk ialah struktur, kata bentuk memiliki banyak makna, sebagai contoh sederhana, kita sepakati ketika penulis bilang meja kayu seperti yang diungkapkan di buku, meja kayu memiliki dua unsur, yaitu meja dan kayu, kayu sebagai bahan untuk membuat meja, tetapi kayu adalah sebagai struktur, karena kayu dapat kita menjadi bahan yang sama untuk membuat kursi, lemari, dan sebagainya, nah sktruktur-struktur itu sama dari kayu, tetapi kita sebut meja, kursi, ini lah yang namanya bentuk, sekali lagi yang disebut bentuk bukan wujud meja, kursi, bukan karena nama dan fungsinya, tetapi yang disebut bentuk tertuju pada strukturnya.
8.      Perubahan
Perubahan adalah suatu proses, karena perubahan pasti berproses, dimana bentuk, keadaan yang dikatakan mengalami perubahan adalah sesuatu yang mengalami proses, baik cepat atau pun lambat, baik sempurna maupun cacat, sebagai contoh perubahan yang terjadi dari peoses kekanak-kanakan menjadi dewasa.
9.      Sebab-akibat (Causality)
Sebab-akibat adalah kejadian yang saling keterkaitan, hal ini dikemukakan oleh Newton, yang kita kenal sebagai hukum III newton, adanya aksi-reaksi, hal ini sama halnya dengan sebab-akibat, dimana ketika seseorang dalam keadaan kenyang adalah suatu akibat dari keadaan lapar.
10.  Hubungan (relation)
Adanya hubungan menunjukkan suatu keterkaitan, relasi hubungan merupakan diantara salah satu pengertian-pengertian yang terdalam, dengan pendekatan sosiologis kita mendapat pemahaman dimana hubungan sangat penting terlebih manusia merupakan salah satu makhluk sosial, hubungan menjelaskan dua hal yang saling keterkaitan.
Bab IV
Lapangan penyelidikan Kefilsafatan


Lapangan Penyelidikan Filsafat
Filsafat merupakan perenungan para filsuf dengan berbagai metode-metode tertentu dalam melakukan perenungan, filsafat juga mempunyai berbagai makna dalam sejarah manusia
Filsafat dan Kebudayaan, jika kita artikan keduanya memang sangat berbeda, tetapi jika kita kaitkan keduanya memiliki relasi, karena filsafat merupakan perjuangan yang berlangsung terus menerus untuk menyelesaikan yang lama dengan yang baru didalam kebudayaan, selanjutnya fisafat melakukan percobaan untuk mengadakan penyesuain terhadap fakta perubahan kebudayaan, tanpa percobaan itu kehidupan manusia berada dalam bahaya, karena fisafat menginginkan hidup yang bermakna.
Filsafat sebagai usaha mengetahui, erat kaitannya perenungan filsafat kepada sebuah pengetahuan, karena dari pemikiran fisafat akan melanjut kepada sebuah pengetahuan tersebut.
Melakukan Analisa Terhadap Pernyataan,ketika bertemu dengan sebuah masalah, perenungan kefilsafatan akan mebuahkan pebagai definisi dan pernyataan, namun sebelum pernyataan itu dapat di terima sebagai informasi atau sebuah wawasan keilmuan, maka analisa perlu dilakukan, ternyata setelah dilakukan pemikiran yang mendalam terdapat tiga penafsiran yang menonjol diantaranya:
1.      Makna subjektif
2.      Makna oprasional
3.      Makna objektif
Cabang-cabang Filsafat
Para pendidik modern membagi pelajaran menjadi dua jenis, mata pelajaran alat, dan bahan, bahasa salah satu contohnya dari mata pelajaran alat, selain itu hanya ada satu mata pelajaran alat dalam filsafat yaitu logika sebagai mata pelajaran alat,selain logika metodologi juga sebagai mata pelaajaran alat yang membahasa pebagai metode khususnya metode ilmiah. Dalam filsafat digunakan pula pendekatan-pendekatan.  Cabang Filsafat yang selanjutnya adalah Metafisika, sebenarnya kata ini telah lama di kemukakan oleh aristoteles adalah hal-hal yang terdapat setelah fisika, maka dari itu aristoteles mendifinisikannya sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang-ada sebagai yang-ada.
Selain itu ada beberapa cabang-cabang kefilsafatan diantaranya:
1.      Ontologi dan Kosmologi
2.      Epistemologi dan filsafat pengetahuan
3.      Biologi kefilsafatan
4.      Psikologi kefilsafatan
5.      Antropologi kefilsafatan
6.      Sosiologi kefilsafatan
7.      Etika
8.      Filsafat Agama
BAGIAN II
“Menuju pembentukan Wawasan”
Bab V
Dunia Sebagaiman Manusia Melihatnya
Ilmu dan Filsafat
Seorang tidak mesti menjadi seorang filsuf yang lebih baik dengan jalan mengetahui fakta-fakta ilmiah yang lebih banyak, ditinjau dari sudut pandang lain, hasil-hasil dari ilmu modern juga penting bagi seorang filsuf. Telah kita ketahui bahwa perenungan kefilsafatan berusaha menyusun suatu pandangan dunia yang sistematis. Dalam proses terjadinya ilmu terbentuk dari sebuah proses berpikir dan perenungan, dengan menemukan sesuatu yang belum ada sebelumnya kemudian melakukan berbagai percobaan yang di dasari dengan metode-metode filsafat maka ilmu akan terbentuk, meski tidak semuanya terjadi seperti ini.
Hakekat Materi
Partikel materi yang terdalam adalah sesuatu yang tampaknya padat yang kita kenal, itulah materu, namun hal ini masih menjadi sebuah pembicaraan yang masih berujung pada perdebatan, namun ilmu kembali menjadi jembatan penengahnya tetapi hingga kini masih asyik mempersoalkannya, sampai abad ke XX teori atom materi tersusun dari partikel-partikel terdalam yang dinamakan atom, namun pada kenyataannya teori atom sebagai partikel yang terkecil masih mengandung kesalahan, dimana atom bukan termasuk bagian terkecil melainkan masih memiliki pelbagai partikel-partikel, hal ini telah dibuktikan dengan formula einsten E= mc2, dari formula ini diketahui susunan materi yang begitu luar biasa pada atom itu yang disebut partikel-partikel sub-atomik, hal ini mencakup pengertian tentang massa dan tenaga listrik, maka dalam arti itu biarpun sususan materi menjadi lebih rumit, namun materi tetap meliputi pengertian lama mengenai massa dan pengertian tenaga, setidaknya hingga ditemukannya formula E= mc2.
Hakekat Ruang-Waktu dan Gerakan
Pada penjelasan ini sama halnya ketika kita disuguhkan pertanyaan tentang rasa cinta, mengapa demikian, karena kita akan mengalami kesulitan untuk membuat definisi tentang ruang dan waktu, apa yang dikatakan oleh ilmu tentang ruang dan waktu, mari kita lihat tentang pemaham antara ruang dan gerakan, ketika disuguhkan dengan kasus dilatasi waktu dimana waktu dibumi tidak akan berlaku untuk pelanet tetangga bumi baik yupiter maupun mars, ataupun yang lainnya, dan berlaku sebaliknya, dalam hal ini kita pun masih berpikir bagaiman ruang yang kita tapaki dengan ruang yang terhampar di alam semesta ini memiliki kesamaan, sebagai bukti kasus black hole adalah sebuah lubang diruang angkasa yang memiliki gravitasi sangat tinggi ini dapat menarik bintang-bintang di sekitarnya, bahkan bumi sekalipun, lalu kita berhenti pada pertanyaan apa yang terjadi bila kita ikut masuk kedalam black hole tersebut apakah ruang yang ada saat ini bisa sama dengan ruang yang ada di dalam black hole tersebut, begitu juga dengan gerakan, meganpa gravitasi dapat menggerakan selaras seluruh pelanet yang ada di tata surya kita atau bahkan di galaksi kita, serta galaksi-galaksi lainnya bergerak secara selaras bersamaan, keterbatasannya kita untuk menyelediki hal ini dengan adanya keterbatasan disini maka renungan kita akan menjadi wawasan baru ketika kita bergerak melakukan pemikiran yang berkelanjutan tentang hakikat ruang-wakktu dan gerakan.
Ketertiban dan susunan Benda-benda Angkasa
Pernahkah kita membayangkan betapa besarnya alam semesta ini, jika di permisalkan lebar alam semesta ini sebesar meja makan kita, maka keberadaan kita hanyalah setitik debu, dari alam semesta tersebut bertabur ribuan bahkan jutaan bintang-bintang yang tersusun dengan sangat rapih dengan selaras memiliki graviatasi masing-masing, gerakan yang selaras bintang satu dengan yang lainnya karena adanya gerakan tarik menarik, sebagai bentuk kecilnya adalah matahari pada tata surya kita, bumi bergerak mengelilingi matahari, berlaku juga pada pelanet selain bumi, namun matahari yang sebagai sumber dari tata surya kita pun bergerak mengelilingi pusat galaksi bima sakti (milky way), maka dari itu ketertiban dari sususan benda-benda angkasa ini adalah hal yang tidak akan pernah habis dibahas oleh para manusia, karena keterbatasan alat dan keterbatasannya pemikiran kita dapat menggali terus wawasan untuk menemukan hal yang belum pernah diketahui manusia sebelumnya, semakin kita merenung akan hal ini semakin kita temukan wawasan baru lainnya.
Hakikat Hidup
Tubuh manusia diciptakan dengan begitu kompleks dan teratur, coba kita lihat di tubuh kita terdapat ribuan bahkan jutaan sel yang saling berhubungan membentuk sebuah jaringan, jaringan-jaringan tersbut saling terhubung sehingga terbentuk organ, sistem organ, saraf, dan sistem saraf. Sistem-sistem yang ada pada tubuh  manusia selalu bergerak dengan sendirinya tanpa menunggu perintah dari saraf pusat (otak), namun ada juga yang bergerak dengan perintah otak seperti mata dan sistem gerak tubuh, tapi pada dasarnya tubuh kita selalu mempunyai permasalahan-permasalahan yang tidak ada habisnya untuk di perbincangkan, semakin maju dan berkembangnya tekhnologi mutaakhir ini banyak juga permasalahan yang mengakibatkan kerja organ tubuh kita tehambat, seperti kita dikelilingi masalah kesahatan dengan pola kehidupan kita masing-masing, contohnya aktib dari sex bebas yang terjadi di dunia ini ada penyakit Aids yang masih sekarang masih jadi pekerjaan rumah bagi para ilmuan bagaimana cara penyembuhannya, maka dari itu manusia tidak akan kehabisan wawasan ketika merenungi hakikat kehidupan
Evolusi Manusia
Pembahasan ini sangat seksi untuk dibahas, dimana ada sebagaian dari kita yang tidak mempercayai teori evolusi manusia, terlebih carles darwin berbica bahwa manusia sekarang ini adalah evolusi dari kera atau manusia purba, tentu akan jadi pro dan contra ketika kita membahas teori evolusi yang carles darwin maksud, namun sejatinya evolusi benar terjadi, ketika manusia terlahir kedunia ini begitu terbatasnya kemampuan yang dimiliki baik kualitas maupun kuantitasnya bukan, namun seiring waktu berjalan sebagai mahkluk hidup manusia tidak akan bisa terlepas dari sifat makhluk hidup yaitu mengalami pertumbuhan, perumbuhan disini yang akan kita tujukan pada evolusi, sepakat atau tidaknya pertumbuhan yang dialami manusia baik kualitas (pertumbuhan cara berpikir) maupun kuantitas (pertumbuhan sel-sel, oragan, dsb) ini lah yang diisebut bahwa manusia mengalami evolusi, dari pembahasan ini lah evolusi manusia sebagai salah satu poin terbentuknya wawasan dalam perenungan kefilsafatan.
Struktur Tubuh Manusia
Begitu kompleksnya struk tubuh manusia, sebagai contoh sederhananya tubuh menusia bekerja sebagai sistem yang tak pernah berhenti kecuali manusia itu mati, sistem yang yang bekerja diantaranya adalah sistem pencernaan, pernafasan, peredaran darah, eksresi, dan lain sebagainya, salah satu sistem disini terbentuk dari berbagai organ-organ yang begitu kompleks, dari hal ini lah manusia merenungi peristiwa yang dialaminya itu sehingga membentuk wawasan pada manusia mengenai ilmu anatomi tubuh, ilmu biologi, dll
Hubungan Filsafat dan Ilmu
Filsafat adalah perenungan menuju terbentuknya belbagai difinisi, sebeleum terbentuk difinisi manusia yang melakukan perenungan ini terlebih dahulu mendapatkan suatu masalah atau ketakjuban, dari masalah tersebut dilakukan perenungan kefilsafatan yang menjembatani terbentuk suatu ilmu, jadi hubungan antara keduanya adalah ada pada keterkaitan antara ilmu perenungan kefilsafatan, perenungan kefilsafatan menjembatani terbentuknya sebuah ilmu
Bab VI
Beberapa Corak Sistem

Saling Hubungan di antara jawaban-Jawaban Kefilsafatan
Pelbagai ilmu pengentahuan terbentuk dari segi pandang yang berbeda sebagai contoh ketika dihadapkan dengan fenomena meja yang berada didalam ruangan yang kosong, beberapa pengamat mengamati bentuk meja dengan sudut pandang yang berbeda, salah satu diantaranya ada yang mengamati dari arah atas meja, dia berpendapat meja berbentuk persegi panjang tanpa ada kaki, penganmat yang lain mengamati dari arah depan, dia berpendapat meja memiliki dua kaki, dan pengamat yang lain mengamati dari arah samping dan berpendapat bahwa meja memiliki empat kaki, artinya semua pendapat tersebut tidak bisa disalahkan karena pemikirian pengamat tersebut dikatakan benar dengan sudut pandang masing-masing, nah dalam hal ini ketika jawaban-jawaban tersebut di hubungkan maka akan terbentuk wawasan dengan sebuah kesepakan para pengamat tersebut.
1.      Realime Modern
Realisme adalah sebuah paham tentang kenyataan, faham ini memiliki pemahaman tentang sesuatu yang ada adalah yang real atau nyata, namun pada faham realisme akan kesulitan ketika di suguhkan masalah yang tampak tidak sesuai dengan kenyataannya, seperti seseorang yang terkontaminasi listrik dengan tegangan tinggi masih bisa selamat, padahal pada kenyataannya harusnya manusia tersebut akan meninggal
2.      Neo-Naturalisme
Neo-naturalisme merupakan sebuah pemahaman diamana yang memiliki pemahaman ini akan berpatokan hanya pada kejadian yang terjadi dialam semata, seperti terjadinya gerhana matahari, fenomena ini mereka beranggapan hanya fenomena alam semata, terjadi atas hukum alam.
3.      Materialisme Dialektikis
Ini adalah sebuah sistem kefilsafatan yang dibangun oleh karl marx, dan merupakan landasan teoritis dari masyarakat komunis, orang mungkin belum mendengar istilah ini, tapi sangat boleh jadi ia sudah mengenal perkataan ‘komunis’ meskipun pemahamannya masih kabur, sementara deaklitika ialah teori yang mengenai proses perubahan, menurut pandangan ini segala sesuatu saling berhubungan, dan senatiasa mengalami perubahan.
4.      Idealisme
ini merupakan salah satu bentuk pemahaman juga, dimana penganutnya selalu menggunakan dan mengedepankan akal ketika melakukan perenungan.
5.      Pragmatisme
Berusaha menemukan hakikat terdalam suatu merupakan kegiatan yang sangat menarik, meskipun kegiatan itu merupakan hal yang sangat luar biasa, penganut pragmatisme selalu mengedepankan dan menaruh perhatian pada praktik.
Bab VII
Epistemologi Suatu Masalah                                                                                                        


Pentingnya Epistemologi
Masalah epistemologi selalu bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan, masalah epistemologi mempunyai banyak segi, penyelesaian masalah epistemologi tergantung pada apa yang diajarkan oleh seorang ahli psikologi kepada kita, epistemologi adalah suatu batasan kemampuan manusia, adanya kasus ini merupakan suatu kegelisahan yang akan berdampak pada pola pikir manusia yang terus melaukan perenungan kefilsafatan
Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
1.      Empirisme
Seseorang yang memiliki pemahaman ini akan selalu beranggapan bahwa sebuah ilmu pengetahuan adakan didapat dengan pengalaman, yang tampak dari panca indra kita
2.      Rasionalisme
Orang yang menganut paham ini menganggap bahwa ilmu pengetahuan akan didapat dengan menggunakan akal, bukan mengingkari paham empiris tetapi pengalaman yang didapat palin-paling sebuah rangsangan dari akal.
3.      Fenomenalis ajaran Khan
Ajaran khan tertuju pada hukum sebab akibat, sebagai contoh yang di sebutkan di dalam buku “kuman tipus adalah sebaagai penyebab penyakit tipus”.
4.      Metode Ilmiah
Perkembang ilmu-ilmu alam yang dihasilkan dari zaman dahulu hingga saat ini merupakan penggunaan metode, sengaja atau tidak sengaja itulah yang terjadi, meskipun banyak melakukan pendekatan-pendekatan. baik, metode ilmiah sebagai hal penting agar pemikiran dalam keiilmuan ini dapat diakui karena di ikat dengan metode imiah secara sistematis
BAGIAN III
“Mengenal Hakekat kefilsafatan”
Bab VIII
Epistemologi Makna Dan Kebenaran

Pentingnya Makna
Setiap kata yang kita ucapkan akan kita tela’ah tentang artinya agar pemahaman yang kita peroleh tentang kata tersebut akan menjadi kata yang tidak asing kita dengarkan seperti yang dicontohkan pada buku ini adalah kata demokrasi, yang terlintas di benak kita adalah apakah arti demokrasi ?, bagaimana yang kita ketahui apakah demokrasi itu, nah pertanyaan-pertanyaan ini lah yang berujung ada apakah arti dari kata itu dengan istilah ‘makna’, makna yang timbul dari sebuah pengamatan akan berbeda-beda setiap yang mengamatinya, tergantung situasi dan tandanya, hal ini memutuhkan analisa yang mendalam agar bisa menyepakati tentang makna tersebut, karena pada hakikatnya makna sangat penting dari sebuah perenungan filsafat ini, karena menyangkut terbentuknya defisi mengenai sebuah masalah yang dihadapi.
Paham-paham tentang Makna
Perkataan
Makna dari sebuah kata yang kita permasalahkan ini memang penting bagi perenungan kefilsafatan yang kita hadapi untuk memahami dari definisi nantinya, manun dari pemikiran para perenung kefilsafatan akan menghasilkan sebuah pendapat, sebelum terlintas dalam bentuk tulisan, hal yang pertama terjadi adalah terbentuknya pada perkataan filsuf tersebut, tentunya perkataan tersebut harus memiliki sebuah makna, baik secara denotatif maupun konotatif.
Pernyataan
Sampai sejau ini kita telah pahami tentang pandangan-pandangan yang bersifat suka-pilih dan saling melengkapi mengenai makna-kata, hemat saya memahami sebuh pernyataan penting dalam hal ini, setiap orang mengetahui makna saetiap kata, namun akan berbeda ketika kata-kata tersebut tersusun menjadi satu kalimat, coba lihat ketika ada kata ‘mobil’ dan ‘rusak’ coba kita pahami ketika kata itu terpsah artinya dengan kita jadikan satu ‘mobil rusak’ mengandung makna berbeda bukan, jadi memahami makna pernyataan penting untuk seorang filsuf.
Kebenaran
Mengenai makna-makna yang tersusun baik sebuah pernyataan maupun perkataan tentu harus diperhatikan antara kebenerannya, hemat saya dalam buku ini bahwa pernyataan kebenaran adalah sebuah relatif yang bisa dipandang dari mana sisi yang menyatakan kebenaran, maka dalam hal ini memahami makna kebenaran pun perlu dilakukan oleh filsuf.
Paham korespondensi
Pernyataan itu benar bila pernyataan itu merupakan sebuah fakta, fakta dilapangan bisa dibilang benar jika kita melalukakan penelitian mengenai hal itu, kita lakukan gerakan untuk pembuktian hal itu,  kemudian ada proposisi tersebut harus berhubungan dengan proposi-proposi yang lain, hemat saya paham korespondensi ini dianut oleh pengikut realisme, mereka berpegang pada kemandirian fakta-fakta atau hakikat yang tidak ideal dengan fakta.
Paham Empiris
Paham ini mendefinisikan kepada sebuah pengalaman, dan biasanya menunjuk pada pengalaman indrawi manusia, menekankan kebeneran yang bersifat sunjektif serta nisbi, berdasarkan sifat peramalan.
Pragmatisme
Paham pragmatis menanamkan kelakukan pada sebuah praktek atau pada pengalaman, sebagai contoh dalam buku ini kita kita akan tahu kebenaran ketika kita bingun ada dua jalan yang salah satu memiliki kebenaran, kanan atau kiri, hemat saya seorang itu akan tahu jalan kiri benar ketika ia telah melalui jalan tersebut atau sebaliknya.
Bab IX
Ontologi Pengertian-pengertian pokok

Menanggapi kenyataan yang beragam
Ontologi adalah salah satu diantara lapangan penyelidikan filsafat yang paling kuno. Seperti ahli filsuf thales yang atas perenungannya dimana-mana terdapat air, ia merupakan seorang yang berpandangan berbeda atas pandangan-pandangan orang pada umumnya di masanya, artinya pentingnnya kita menanggapi pernyataan-pernyataan yang beragam pada saat melakukan pemikiran filsafat,
1.      Yang Ada (being) dan yang-Tiada (non-being)
Istilah telah dikatakan pada bab III, akan sedikit saya perjelas kembali, bahwa yang ada sejatinya memiliki nilai yang melekat pada apa saja, bahkan pada sesuatu (apapun itu), karena sifatnya maka akan ada kemungkinan perbedaan antara barang satu dengan yang lain. Namun yang-tiada tidak sama memiliki ungkapan yang memiliki sesuatu (sifat ada). Kalimat yang-tiada merupakan bentuk ungkapan mustahil bagi yang-ada.
2.      Kenyataan dan kenampakan
Yang-nyata dan pasti ada merupakan bentuk penekan wujud suatu benda dalam eksistensi pada keberadaannya merepukan bentuk kenyataan dalam hal apa saja, dalam hal ini untuk  mempermudah melakukan perenungan kefilsafatan perlu akan subtansi ini, namun kenyataan tidak sepenuhnya sama dengan eksistensi, hal ini menyangkut beberapa pertanyaan, hendaklah kita berhati-hati untuk menentukan makna dari istilah-istilah tersebut.
3.      Eksistensi non-Eksistensi
Perlu diingat kembali makna ini telah dijelaskan diatas, namun untuk pengulangan saja, eksistensi merupakan sebuah keberadaan suatu hal yang-nyata dan berarti ada, namun pada kata yang seberangannya non-eksistensi adalah kebalikan dari kata tersebut.
Bab X
Ontologi Penyelesaian Masalah


Naturalisme
Williah R. Dennes, seseorang yang menganut paham naturalisme dewasa ini, naturalisme modern ketika berpendirian bahwa kenyataan pasti  bersifat kealaman, dalam hal ini beranggapan bahwa kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai pernyataan berasal dari kejadian, jejadian-kejadian dala ruang dan waktumerupakan satuan-satuan penyusun kenyataan penyusun yang ada, dan senantiasa dialami oleh manusia, jika naturalisme modern mengatakan bahwa kejadian merupakan hakikat terdalam dari kenyataan, maka dapat kita katakan yang bersifat nyata bersumber dari alam.
Materialisme
Seorang naturalisme dalam pemahamannya mengajarkan sesuatu yang nyata merupakan dari alam, berusaha melampaui pengertian dari alam, dan mendasarkan diri pada subtansi atau kenyataan terdalam yang dinamakan materi, namun pada hakikatnya paham naturalisme bisa di belokkan dengan paham ini, sebagai contoh kaum naturalisme beranggapan dalam hemat saya bahwa atom merupakan patrikel terkecil dari unsur, namun pada kenyataanya atom masih memiliki patrikel-patrikel kecil seperti adanya inti atom, nah subtansi ini lah yang dipandang materi.
Idealisme
Para penganut paham naturalisme dan materialisme mengatakan bahwa istilah-istilah yang mereka sarankan seperti alam, materi, dsb. Sudah cukup memberikan keterangan tentang kenyataan, namun ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan oleh penganut naturasil atau materialis seperti memikirkan tentang nilai, etika,  jiwa dsb, nah disinilah perannya pemahaman idealis.
BAGIAN IV
“Kosmologi suatu pemahaman”
Bab XI
Kosmologi : Ruang, Waktu, Gerakan
Di bab ini segala uraian tentang hakikat kenyataan kita tinggalkan, namun kita akan mengenal segi kenyataan yang disebut “alam fisik”, kita setuju bahwa alam semesta ini memeiliki ruang, luasnya alam semesta ini merupakan sebuah ruang yang tidak seorangpun mengetahui dimana batasannya, dewasa ini banyak orang yang membicarakan tentang tahun cahaya, konsep ini bukan menentukan sebuah kecepatan atau dibahas pada gerakan namun membahas tentang jarak sesungguhnya benda itu, sementera waktu semua benda bergerak mengelilingi inti dari geravitasi yang pada hakikatnya tidak ada yang tahu dimana letak dari inti gravitasi dunia dalam gerakan ini memiliki jangka waktu yang berbeda-beda sesuai dengan jarak benda tersebut, hal ini berada pada kosmologi kita.

Ajaran Newton
Newton beranggapan bahwa ruang dan waktu serta gerakan merupakan hal yang mutlak, singkatnya newton berpendapat ruang yang sudah dikatakan tadi yaitu jagad raya yang tesebar dan tanpa ada batasan, dan ajaran newton ini menegaskan yang disebut ruang waktu tersebut mutlak ‘adanya’, atau bisa disimpulkan bahwa menurut newton, ruang dan waktu memang merupakan satuan-satuan yang ada dalam kenyataan dan sifatnya objektif
Ajaran Einsten
Einsten beranggapan bahwa adanya ruang dan waktu itu adalah relatif, tergantung pada pengamantannya, artinya kita bicara pada hakikat disini sebelumnya kita tahu bahwa Newton beranggapan bahwa ruang dan waktu itu mutlak, tetapi Einsten lebih kerah pada pengamatannya, tergantung dari sudut kita mengamati ruang dan waktu itu serta gerakan, dapat disimpulkan bahwa ruang dan waktu merupakan perangkat-perangkat dengan objek yang lainnya yang dapat diukur dengan suatu cara tertentu, dan ia membedakannya dengan sejenis satuan yang lain, ruang dan waktu.
Ditinjau dari segi ontologi
1.      Kant
Dalam pembahsan yang kita tarik dari pendapat newton bahwa ruang dan waktu memang merupakan satuan-satuan yang ada dalam kenyataan dan sifatnya objektif, sedangkan menurut Einsten ruang dan waktu merupakan perangkat-perangkat dengan objek yang lainnya yang dapat diukur dengan suatu cara tertentu, dan ia membedakannya dengan sejenis satuan yang lain, ruang dan waktu, menurut kant, ruang dan waktu haruslah diandaikan adanya terlebih dahulu dibandingkan dengan segenap pengalaman manusia.
2.      Samuel Alexander
Diumumkannya teori relativitas terbatasa oleh Eisnten memberikan peluang terbukanya pengaruh terhadap pemikiran kefilsafatan, seperti Samuel Alexander (1859-1838), menurut khan ruang dan waktu adalah sebagai tempat persemaian alam semesta, artinya ruang dan waktu dipandang sebagai suatu raga, sedangkan waktu dipandang sebagai jiwa
Bab XII
Kosmologi Paham Mengenai Alam
Pandangan Yunani Mengenai Alam
Para pemikir besar yunani seperti Thales, Anaximander, Anaximenes, para penganut Aristoteles, dan plato, tokoh-tokoh tersebut berpendapat bahwa pemikiran kefilsafatan hanya pada alam semata, artinya pada masa ini perenungan atau berfikir pada kegiatan kefilsafatan hanya tertuju pada alam semata.

Pada Masa Renaissance
Meloncat beberapa abad setelah masa yunani kuno, pada masa ini alam hanya dipandang berdasarkan sifat mekanik, dalam masa ini adanya penolakan atas gagasan mengenai alam yang digambarkan sebagai organisme yang takterhingga, yang teologis, dan mereka memandang alam sebagai suatu yang tidak terhingga yang menyerupai mesin (mekanik), dan tidak berjiwa.
Pandangan Eddington tentang Alam
Ia adalah ilmua besar yang berhasil mengalihkan pandangannya mengenai fisika dan astronomi kepada pemikiran kefilsafatan, ia beranggapan bahwa alam tersusun dari dua poin diantaranya :
a.       Alam merupakan gambaran pemikiran kita dalam akal kita
b.      Pasangannya dalam dunia lahiriah.
BAGIAN V
“Pengembaraan Tiada Bertepi”
Bab XIII
Masalah Hidup

Hakikat Hidup
Dalam dunia ini kita sepakat bahwa yang namanya hidup di sangkutkan pada makhluk hidup seperti manusia misalnya, tetapi dewasa ini benda ciptaan manusia pun dapat hidup mobil misalnya, tetapi sejatinya benda-benda ciptaan manusia itu dapat hidup dengan adanya energi yang mendorongnya seperti tenaga listrik dan lain sebagainya, namun apakah makna dari hakikat hidup disini, sesuai dengan pemahaman saay pada buku ini ketika disuguhkan dengan pertanyaan ini maka saya ambil satu kata dasar “hidup”, kata ini menunjukkan pada ruang, sejatinya manusia masih mencari makna yang tersimpan dari ruang, waktu, dan gerakan, seandainya makna itu dapat dipecahkan maka hakikat hidup tersendiri akan mudah kita tafsirkan.
Istilah-Istilah
1.      Makna ‘mekanisme’
Ada empat pencerahan tentang makna mekanisme ini, tetapi kita perlu membedakan secara hati-hati ketika membicarakan makna ini secara hati-hati, mekanisme mengacu pada sebuah penjelasan, seperti yang di maksud Newtom, mengacu ada penjelasn fisiko-kimiawi, mungkin juga mengacu pada teori mesin, atau mungkin menujukkan sebuah penjelasan kausal, semua itu kecuali bagian akhir adalah hal-hal lazim terdapat pada ‘mekasnisme ontologis’, yang artinya bermaksud menjelaskan hakikat teradalam dari hidup.
2.      Vitalisme
Istilah ini menjadi lawan dari ‘mekanisme’. kehidupan adanya juga teori-teori yang mekanis, namun tidak menjadi kemungkinan dalam kkehidupan terdapat juga teori-teori yang tidak vitaslis, teori vitasli ini menunjukkan ajaran-ajaran yang mendefinisikan hidup dalam hubungannya suatu prinsip atau subtansi yang khas dan bersifat mendalam. Tokoh yang terkenalnya dalam penganut ini adalah Hans Dtiesch, tokoh ini memiliki pandangan tentang ‘entelika’[1].
3.      Paham psikofisik tentang hidup
Teori mekanisme dalam hidup termasuk paham monisme, karena mengatakan bahwa segi proses-proses hidup berarah tujuan sesungguhnya merupakan suatu ilusi belaka, atau jika tidak demikian, tiada laina sekedar cara berfungsi mekasinme-mekasnisme tertentu, sebaliknya seseorang yang memiliki paham vitaslime termasuk dualisme, adalah prinsip mekanika tidak akan bisa diamati oleh inderawi.
Bab XIV
Masalah Jiwa

Jiwa dan Raga Ilmu Bersifat Kealaman
Hal ini tidak akan disangkut-pautkan dengan masalh hakikat hidup, melihat teori hidup yang mendasarinya adalah ada pada teori ilmiah yang bersifat naturalis. Pada persoalan disini hakikat hidup pada manusia akan lebih ditekankan pada jiwa manusia itu sendiri, ada beberapa teori mengenai jiwa, adalah sebagai berikut:
1.      Jiwa sebagai subtansi yang berjenis khsus
2.      Jiwa sebagai jenis kemampuan
3.      Jiwa semata-mata sebagai sejenis proses yang tempak pada organisme-organisme hidup
4.      Jiwa dijubuhkan dengan pengertian tingkah laku
Makna Jiwa
Dalam buku ini menurut hemat saya makna dari jiwa ini adalah pemikiran dan ingatan manusia itu, coba renungkan kata ‘lost his mind’ seorang dikatakan ‘lost his mind’ jika cara berpikirnya tidak runtut atau kalau ingatannya hilang, umumnya jika seseorang bersangkutan melakukan hal-hal yang diluar akal dan tidak lagi dapat menguasai selera berpikirnya lagi, selebihnya teori tentang jiwa adalah sebagai berikut:
a.       Epifenomenallisme, faham ini beranggapan satu-satunya unsur yang kita dapati bila menyellidik proses-proses kejiwaan ialah syaraf-syaraf kita.
b.      Interaksionalisme. teori ini mendasarkan diri atas akal sehat sebagaia besar menyetujui paham ini, dimana paham ini mengatakan jiwa dan raga itu berbeda.
c.       Paralelisme psikofisik, paham ini mengatakan bahwa ada dua macam sistem kejadian, yang ragawai dan kejiwaan.
Teori-teori lain yang dapat memberikan pencerahan pada pemahaman ini, sebagai berikut:
1.      Jiwa sebagai subtansi-Sigmund Freud
2.      Jiwa sebagai kemampuan-Joseph A. Leighton
3.      Jiwa sebagai proses-James B. Pratt
4.      Jiwa sebagai tingkah laku-Y.H. krikorian
Bab XV
Aksiologi Masalah Nilai

Apakah yang-baik itu?
Mengingat kisah dari seorang filsuf kuno socrates, beserta filsuf-filsuf lainnya berpendapat bahwa masalah pokok ialah kesusilaan, socrates hidup pada akhir suatu masa dimana kebanyaka pemikir memperbincangkan masalah hakekat dunia dan mengembalikan masalah hakekat manusia,  makna yang terkandung oleh nilai yang-baik, susatu yang dikatakan baik pada pembahasan ini adalah yang memiliki kemanfaatanya, bisa kita lihat dari segi contoh, pisau adalah benda yang tajam yang dapat melukai apapun tergantung dengan pandangan masing-masing, tetapi pisau yang tajam baik bila digunakan tukang daging, dan lain sebagainya. Kebaikan ini digambarkan dengan sebuah nilai, baik berikut adalah sejumlah makna nilai diantaranya:
1.      Mengandung nilai (artinya, berguna)
2.      Merupakan nilai ( arinya, ‘baik’, atau ‘benar’ atau ‘indah’)
3.      Mepunyai nilai (artinya, merupakan objek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan orang mengambil sikap ‘menyetujui’, atau mempunyai sifat nilai tertntu)
4.      Memberi nilai (artinya, menanggapi sesuatu sebagai hal yang diinginkan atau sebagai hal yang menggambarkan nilai tertentu).
Nilai sebagai objek sesuatu kepentingan
Kita sepakat bahwa yang namanya nilai merupakan suatu masalah pengutamaan, tetapi mengenai selera orang-orang tidak perlu dipertanyakan, juga mengenai sebuah kesepakan, dalam hal ini memungkinkan tiga pilihan :
1.      Sikap setuju atau menentang tidak ada sangkut-pautnya tentang masalah nilai
2.      Nilai bersangkutan pada sesutu yang hakiki
3.      Nilai merupakan sumber pertama serta ciri yang tetap dari segenap nilai.
Teori pragmatis mengenai nilai
Menurut Dewey, nilai sebagi hasil pemberian nilai, meskipun kebaikan kiranya bersangkutan dengan akibat-akibat, namun kebaikan itu tidak bersangkutan dengan hasil-hasil jangka pendek dari suatu keinginan yang dangkal. Hemat saya nilai sabagai teori pragmatis merupakan sebuah tindakan dari kehidupan yang kita jalani.
Bab XVI
Nilai-Etika
Apakah yang mesti dikerjakan?
Etika merupakan cabang aksiologi pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai ‘betul’ (right) dan ‘salah’ (wrong), sebagai pokok bahasan khusus, etika mebicarakan sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut susila atau bajik.
Etika, makna dan masalahnya
Etika memiliki dua arti, yang satu tampak dalam ungkapan,  dan yang kedua adalah sebagai tindakan,  kedua unsur ini memang selalu berpegang erat pada etika, karena ucapan dan tindakan adalah hubungan yang utuh untuk etika tersendiri. Patut dicatat pula etika merupakan sebagai ilmu pengetahuan dapat berarti penyeledikan mengenai tanggapan-tanggapan kesusilaan. Etika disini lagii-lagi membicarakan mengenai nilai, karena niali bisa dikaitkan dengan etika, baik ataupun buruk, benar maupun salah.
Etika dan kebahagiaan sebagai kebaikan tertinggi
Etika teleogis adalah sebuah teori yang mengajarkan bahwa perbuatan-perbuatan kesusilaan berusaha mencari dan menemukan kebahagiaan atau kenikmatan, sedangkan ada teori lain yang dinamakan hedonisme, adalah suatu teori yang mengatakan bahwa kenikmatan atau akibat-akibat yang nikmat dalam dirinya sudah mengandung kebaikan.
Etika perwujudan-diri
Sebelumnya mari kenali apa itu diri, lalu apakah perwujudan itu, sementara kita telah bahas diawal mengenai etika, hemat saya tentang diri dan perwujudan pada buku ini menjelaskan bahwa yang dinamakan diri adalah pertama jika dilihat sekedar dari makhluk ekonomi adalah berhakekat binatang buas, tapi mengenai hal ini ada tanggapan bahwa diri merupakan suatu yang rohani, kaitannya diri adalah penyuaan pada setian manusia, etika merupakan jembatan untuk menunjukkan diri setiap manusia.


Bab XVII
Nilai-Estetika                                                                                                                               
Masalah Yang-Indah
Banyak yang pendapat antara kaum materialis dan kaum idealis tentang sebuah nilai baik dipandang sebagai subjektif maupun objektif. Baik, mengenai masalah keindahan maka nilai akan dipandang secara subjektif, lalu mengenai masalah selera hal ini dapat diabaikan.
Sejumlah istilah dalam estetika
Pertama estetika sebagai sebuah keindah, hal ini dapat disepakati oleh kebanyakan orang, karena etika merupakan sebuah keindahan, dalam karya murni dua dimensi atau tiga dimensi yang bicarakan pada nilai estetikanya, namun jika estetika dikatan sebuah seni maka lain ceritanya menilai hanya dengan keindahan, karena sesuatu seni dapat dinikmati bukan hanya sekedar dari keindahan belaka, jika kita membahas tentang seni maka akan hadir beberapa poin-poin yang buku ini terangkat diantaranya:
1.      Seni sebagai hasil kegiatan intuisi serta pengungkapan perasaan
2.      Keindahan sebagai rasa nikmat yang diobjektivasikan
3.      Keindahan sebagai objek tangapan akali
4.      Seni sebagai pengalaman
BAGIAN VI
”Terbentang Cakrawala Kebijaksanaan”
Bab XVIII
Masalah Manusia
Apakah manusia itu?
Membahas tentang manusia, sesungguhnya kefilsafatan yang pembahasannya tidak pernah ada henti seperti membahas Tuhan, alam semesta, dan salah satunya adalah manusia, sekarang saya akan paparkan mengenai pemahaman saya pada buku ini.
Ketika dilontarkan dengan pertanyaan siapakah aku? Maka, acapkali bingung untuk menjawabnya, karena sejatinya kita sendiri masih bingung secara hakikat diri kita. Namun ada pelbagai cara mengawali penyelidikan tentang manusia, kita bisa gunakan bagaimana menggunakan istilah ‘manusia’, tentunya akan ada beberapa pendekatan-pendekatan khusus seperti pendekatan sosiologis, atau pendekatan psikologis, selanjutnya bisa juga menggunakan istilah manusia secara tepat ditinjau dari segi bahasa, namun tidak akan mengerti apa makna yang dikandungnya, ketiga untuk meneliti manusia ialah dengan jalan meneliti apa yang telajh dikerjakan oleh manusia dan apa yang telah mereka hasilkan, dengan demikian kita akan meneliti tulisa-tulisan para ilmuan dan ahli filsuf untuk menyeledikinya.
Beberapa istilah dan makna yang terkandungnya
Makna manusia memiliki arti ganda, seperti pada kalimat berikut:
a.       Manusia tiada lain kecualii hewan
b.      Manusia merupakan hasil sejarah
c.       Manusia adalah makhluk rohani
d.      Manusia sebagai makhluk sosial
e.       Manusia sebagai makhluk individu
Kesepakan kita mengenai manusia memiliki akal dan hati nurani, maka pernyataan ‘a’ dapat kita bantah, karena hewan tidak memiliki apa yang Tuhan berikan pada manusia, manusia dapat memilih jalannya sendiri, untuk menemukan hakikat pada jati dirinya manusia bisa menggunakan akal dan perenungannya, pada bab awal kita sudah singgung tentang manusia merupakan hasil evolusi, pada pandangan ini saya tidak sepakat mengenai teori dari carles Darwin, akan tetapi evolusi disini adalah taraf integritas pada manusia sesungguhnya selalu berkembang dan bekembang.
.


[1] Entelika, atinya adalah proses perkembangan yang nampaknya memiliki arah tujuan pada embriologi, sama sekali tidak dapat dijelaskan baik dengan hukum-hukum fisika maupun sebagai gerak fisiko-kimiawi. Sebagai akibatnya, Driesch merasa bahwa ia  harus menunjukkan adanya sebuah faktor yang tidak dikenal dalam dunia ilmu, sebuah faktor yang mengendalikan proses-proses ini dan dirinya mengandung tujuan tersebut.