Makalah-Makalah Kuliah IAT
Filsafat Umum
Tugas Individu
Resume buku pengantar Filsafat
Louis O.
Kattsoff cet. IX
Mata Kuliah : Filsafat
Umum
Oleh:
Muhamad
Jamaludin
PROGRAM
STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR
JURUSAN
USHULUDDIN
SEKOLAH TINGGI ILMU AL-QUR’AN (STIQ) AN-NUR YOGYAKARTA
2017
BAGIAN I
“Menguak Dasar-dasar Kefilsafatan”
BAB 1
Perenungan kefilsafatan
Apakah Filsafat itu ?
Filsafat
tidak memberi petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi,
juga tidak melukiskan teknik-teknik baru untuk membuat atom atom atau
sebagaimana lainnya, filsafat juga membawa kita pada pemahaman dan tindakan,
seperti ingin membuat roti, maka filsafat adalah tungkunya, karena filsafat
ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, dan menerbitkan serta
mengatur semua itu dalam bentuk yang sistemastis. Filsafat membawa kita kepada
pemahaman, dan pemahaman membawa kita pada tindakan yang lebih layak, dalam
buku ini diceritakan tentang kisah socrates yang dihukum untuk minum racun
karena tuduhan merusak jiwa kaum muda di athena, dalam cerita disebut tindakan
socrates dengan kemauannya meminum racun karena beralandas sikap seorang filsuf
yang seharusnya, hal ini karena Keinginan filsafat ialah pemikiran secara tepat
filsafat, , dari certita diatas menunjukkan bahwa filsafat berbeda sama sekali
dengan pekerjaan membuat roti, karena filsafat merupakan suatu analisa secara
hati-hati terhadap penalaran mengenai suatu masalah. sejumlah maksna khusus
yang didukung merupakan pemikiran secara sistematisperenungan kefilsafatan
ialah percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang
menandai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami diri
kita, perenungan kefilsafat ialah sejenis percakapan yang dilakukan dengan diri
sendiri atau dengan orang lain, hal ini mudah ditunjukkan dalam masalah
filsafat pengetahuan.
Ciri-ciri pemikiran filsafat
Suatu
bagan konsepsional, karena filsafat merupakan hasil menjadi-sadarnya
manusia mengenai dirinya sebagai pemikir, dan menjadi-kritisnya manusia
terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam yang dipikirkannya. Dalam
filsafat juga saling berhubungannya antara jawaban-jawaban kefilsafatan, saling
bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan yang lain dalam usaha apakah yang
dinamakan kebenaran. Selain bersifat konsepsional filsafat juga bersifat kohern artinya runtut, maknanya setiap
pemikiran dalam filsafat memiliki keterbatasan seperti contoh pada pernyataan
hujan turun (A) dengan tidak benar bahwa hujan turun (B), artinya jika
kemungkinan pernyataan itu adalah (A) maka tidak akan ada pernyataan (B),
begitu sebaliknya. Filsafat merupaka
pemikiran yang rasinal artinya bagian-bagian yang terkandung di dalam
filsafat harus bersifat logis, filsafat juga bersifat komprehensif (menyeluruh), Artinya kefilsafatan berusaha menyusun
suatu bagan untuk dunia yang tempat kita hidup maupun untuk diri kita sendiri,
hal ini berarti bahwa filsafat tidak akan berada pada sesuatu yang diluar
jangkauannya. Filsafat dalam pandangan
dunia artinya filsafat berusaa memahami segenap kenyataan menyusun
pandangan dunia, filsafat sebagai definisi pendahuluan, yah karena kita
berusaha mencari dasar-dasar bagi kepercayaan kita,dengan merenunginya maka
dapat dengan mudah kita menemukan definisi pertama tentang filsafat.
BAB II
Metode Kefilsafatan
Tata
cara perenungan kefilsafatan
Memang cukup mudah untuk melakukan perenungan dalam
filsafat, namun jauh lebih sulit untuk dapat memulai dan melanjutkannaya,
karena filsafat berawal pada sebuah ketakjubkan dan dilanjutkan sebuah
perenungan untuk mendapatkan sebuah konsep, dalam hal ini tidak terlepas dari metode-metode filsafat,dalam bab pertama
telah dijelaskan bahwa filsafat sebuah perenungan untuk menyusun sebuah bagan
konsepsiona jenis tertentu, pada bab tersebut telah diperkenalkan unsur-unsur
sistem semacam itu
Analisa
Ekstensi dan
Intensi, maksud dari penggunaan analisa
adalah melakukan pemeriksaan konsep dari pernyataan-pernyataan untuk mengetahui
berbagai istilah-istilah yang telah dibuat, analisah digunakan sebagai tahap
lanjutan dari sebuah perenungan untuk mendapatkan prinsip atau konsepsioanal
yang berawal dari perenungan sehingga kita akan menemukan istilah-istilah
tersebut, atau dari istilah-istilah tersebut dapat kita temukan sebuah makna,
namun perlu kita ketahui pula bahwa sebuah makna pun tidak identik dengan
kebeneran, hendaknya perlu diingat, analisa terhadap makna tidaklah menetapkan
kebenaran atau kesesatan kalimat yang bersangkutan, karena dalam analisa akan
banyak menghasilkan sebuah data yang bervarisi.
Sintesa
Lawan analisa adalah
sintesa artinya pengumpulan karena analisa adalah perincian, dalam kasus ini
yang kita lakukan adalah mengumpulkan semua pengetahuan dan menyusunnya untuk
menjadi suatu pandangan dunia, bagia filsafat spektualitaf tidak ada bahaya
yang lebih besar ketimbang diketahuinnya lapangan-lapangan pengetahuan manusia
tertentu oleh karenanya, sintesa ialah usaha untuk mencari kesatuan didalam
keragaman itu.
Cara
mamulai dan melanjutkan dalam perenungan kefilsafatan
Seorang filsuf besar
descrates mewariskan pendirian tetang cara dan mememulai perenungan
kefilsafatan diantaranya :
Adanya
Masalah, hal ini penting karena pada dasarnya sebuah
perenungan kefilsafatan memerlukan masalah sebagai bahan dasar dalam perenungan
agar terbentuknya pelbagai definisi. Setelah memiliki masalah untuk di jadikan
bahan dasar selanjutnya descrates menambahkan tahapan yakni menguji secara rasional anggapan-anggapan, merumuskan
masalah yang dihadapinya descrates memulai pengetahuan yang diperoleh dari
indranya, tahapan selamjutnya adalah memeriksa
penyelesaian yang terdahulu, perlu juga mempertimbangkan
penyelesaian-penyelesaian yang diajukan mengenai masalah yang disuguhkan,
selanjutnya melakukan hipotesa,
hipotesa dapat digunakan sebagai dugaan awal denifisi mengenai masalah yang
ditemukan, dalam perenungan kefilsafatan –menyarankan suatu hipotesa yang
kiranya memberi jawaban atas masalah yang diajukan, semua bahan bukti yang
dapat kita temukan untuk mengukuhkannya
dan menunjukkan bahwa bukti tentang
hipotesa itu bukanlah bahan bukti yang sah atau tidak ada sangkut
pautnya dengan masalahnya, langkah terakhir adalah menarik kesimpulan, dari proses yang tertera diatas hasil akhirnya
adalah menarik kesimpulan, masalah yang didapat diawal akan terjawab dengan
melalui tahapan-tahapan yang disebutkan diatas, kesimpulan adalah hasil dari
perenungan filsafat kesimpulan bisa berupa sebuah defisi baik benar atau salah,
tergantung pada proses tahapan-tahapan tersebut, demikianlah cara perenungan
kefilsafatan Descrates.
Bab III
Bahasa dalam uraian kefisafatan
Filsafat
Dan Bahasa
Kita merasa bahwa semua
filsuf sepertinya menggunakan bahasanya sendiri, filsafat dapat di pandang
sebagai suatu bahasa dan perenungan kefilsafatan, faktanya bahwa ungkapan
pikiraan dan hasil-hasil perenungan kefilsafatan tidak dapat dilakukan tanpa
bantuan bahasa, mari pertama-tama kita perhatikan Hakikat Bahasa, pada dasarnya bahasa adalah sususan dari
abjad-abjad secara urut hingga terbentuk satu makna tersendiri, kata-kata
tersbut kemudian bergabung membentuk satu kalimat hingga berakhir menjadi
paragraf-paragraf sebagai pembahsaan dalam menuangkan pemikiran para filsuf,
bahasa tersebut berupa Simbol dan
perkataan, kata-kata dan istilah-istilah merupakan simbol-simbol, artinya
perkataan-perkataan atau istilah-istilah merupakan tanda-tanda yang sudah terbiasa
dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang terdapat dibalik perkataan-perkataan
atau istilah-istilah itu sendiri, selain itu bahasa dalam filsafat harus
memiliki Makna Perkataan, hal ini
penting karena makna perkata akan memberikan identitas dari buah pemikiran
seorang filsuf. Kalimat dan pernyataan,
jika kata-kata dipersatukan sesuai dengan aturan-aturan tata-bahasa suatu
bahasa, maka terjadilah kalimat-kalimat, hal ini sangat diperlukan untuk
memperjelas pemikiran para filsuf dalam perenungan kefilsafatan.
Pertanyaan-pertanyaan
kefilsafatan yang mendasar
Seorang filsuf harus
memiliki pola berpikir yang mendasar seperti apakah pernyataan-pernyataan itu benar?, apa makna yang dikandungnya?,pola berpikir ini saya anggap sebagai
dasar utama perenungan setelah melihat sebuah hal yang takjub atau luar biasa,
dengan cara berpikir demikian maka kita akan memulai proses perenungan
kefilsafatan selanjutnya.
1. Yang-ada (Being)
Istilah ini memiliki
berbagai macam makna, tetapi dikerucutkan menjadi dua istilah yaitu esensi dan
eksistensi, kita sebut segala sesuatu itu bersifat ‘yang-ada’, singkatnya
barang sesuatu itu ada, hal ini di terapkan kepada sesuatu/segala hal, hakikat
atau sejenisnya. Sesuatu yang bereksistensi misalnya bangku, dapat dikatakan
ada.
2. Kenyataan
(reality)
Segala sesuatu
mempunyai sifat ‘yang-ada’, namun tidak semua hal bersifat nyata atau merupakan
kenyataan, kenyataan dapat juga didefinisikan sebagai sesuatu yang ditangkap dalam
tangkapan yang dapat dipercaya,
3. Eksistensi
(Existence)
Eksistensi mengandung
pengertian ruang dan waktu, adanya eksistensi yang kita katakan tidak akan
terlepas dengan keterikatannya ruang dan waktu terkecuali dengan ‘Tuhan’ dimana
Ia ada tetapi keberadaannya tidak terikat ruang dan waktu, jika kita bahas
Tuhan disini lain ceritanya pembahasan dengan makhluk ciptaannya seperti
manusia yang keberadaannya terikat ruang dan waktu, adanya manusia menunjukkan
eksistensinya, begitu benda dan makhluk lainnya.
4. Esensi (essence)
Jika berbicara tentang
esensi ini maka tidak akan terlepas dengan eksistensi diatas, menurut pemahan
penulis tentang buku ini, esensi adalah hakikat dari eksistensi, keberadaan
makhluk (benda) kita katakan meja, memiliki eksistensi dan esensi, esensi
adalah hakikat dari meja tersendiri, adanya meja menunjukkan eksistensinya,
namun tidak terlepas dengan hakikat meja tersebut, ini lah yang disebut esesi.
5. Subtansi
(Subtance)
Hubungan esensi dengan
subtansi serupa dengan hubungan antara eksistensi dengan realita atau
kenyataan, dimana benda kita katakan meja memiliki realita atau adanya meja
tersebut memiliki keberadaan eksistensinya dengan kenyataan (realitanya),
dimana adanya eksistensi merupakan penerusan dengan kenyataannya di lapangan, jadi
subtansi bisa dikatakan serupa dengan hubungan eksistensi dengan realita.
6. Materi
Materi adalah subtansi
khusus, dalam arti ini, materi ialah perkataan yang digunakan sebagai nama
jenis subtansi yang mendasar dari alam fisik, alam fisik disini berarti lingkungan
hal-hal yang menimbulkan pengalaman indrawi, yakni alam objek-objek yang dapat
alat-alat kelengkapan indra kita, ilmu-ilmu pada dewasa ini banyak menyoroti
susunan dan sifat materi.
7. Bentuk
Bentuk ialah struktur,
kata bentuk memiliki banyak makna, sebagai contoh sederhana, kita sepakati
ketika penulis bilang meja kayu seperti yang diungkapkan di buku, meja kayu
memiliki dua unsur, yaitu meja dan kayu, kayu sebagai bahan untuk membuat meja,
tetapi kayu adalah sebagai struktur, karena kayu dapat kita menjadi bahan yang
sama untuk membuat kursi, lemari, dan sebagainya, nah sktruktur-struktur itu
sama dari kayu, tetapi kita sebut meja, kursi, ini lah yang namanya bentuk,
sekali lagi yang disebut bentuk bukan wujud meja, kursi, bukan karena nama dan
fungsinya, tetapi yang disebut bentuk tertuju pada strukturnya.
8. Perubahan
Perubahan adalah suatu
proses, karena perubahan pasti berproses, dimana bentuk, keadaan yang dikatakan
mengalami perubahan adalah sesuatu yang mengalami proses, baik cepat atau pun
lambat, baik sempurna maupun cacat, sebagai contoh perubahan yang terjadi dari
peoses kekanak-kanakan menjadi dewasa.
9. Sebab-akibat
(Causality)
Sebab-akibat adalah
kejadian yang saling keterkaitan, hal ini dikemukakan oleh Newton, yang kita kenal sebagai hukum III newton, adanya
aksi-reaksi, hal ini sama halnya dengan sebab-akibat, dimana ketika seseorang
dalam keadaan kenyang adalah suatu akibat dari keadaan lapar.
10. Hubungan
(relation)
Adanya hubungan
menunjukkan suatu keterkaitan, relasi hubungan merupakan diantara salah satu
pengertian-pengertian yang terdalam, dengan pendekatan sosiologis kita mendapat
pemahaman dimana hubungan sangat penting terlebih manusia merupakan salah satu
makhluk sosial, hubungan menjelaskan dua hal yang saling keterkaitan.
Bab IV
Lapangan penyelidikan Kefilsafatan
Lapangan
Penyelidikan Filsafat
Filsafat merupakan
perenungan para filsuf dengan berbagai metode-metode tertentu dalam melakukan
perenungan, filsafat juga mempunyai berbagai makna dalam sejarah manusia
Filsafat
dan Kebudayaan, jika kita artikan keduanya memang sangat
berbeda, tetapi jika kita kaitkan keduanya memiliki relasi, karena filsafat
merupakan perjuangan yang berlangsung terus menerus untuk menyelesaikan yang
lama dengan yang baru didalam kebudayaan, selanjutnya fisafat melakukan
percobaan untuk mengadakan penyesuain terhadap fakta perubahan kebudayaan,
tanpa percobaan itu kehidupan manusia berada dalam bahaya, karena fisafat
menginginkan hidup yang bermakna.
Filsafat
sebagai usaha mengetahui, erat kaitannya perenungan filsafat
kepada sebuah pengetahuan, karena dari pemikiran fisafat akan melanjut kepada
sebuah pengetahuan tersebut.
Melakukan
Analisa Terhadap Pernyataan,ketika bertemu dengan
sebuah masalah, perenungan kefilsafatan akan mebuahkan pebagai definisi dan
pernyataan, namun sebelum pernyataan itu dapat di terima sebagai informasi atau
sebuah wawasan keilmuan, maka analisa perlu dilakukan, ternyata setelah
dilakukan pemikiran yang mendalam terdapat tiga penafsiran yang menonjol
diantaranya:
1.
Makna subjektif
2.
Makna oprasional
3.
Makna objektif
Cabang-cabang
Filsafat
Para pendidik modern
membagi pelajaran menjadi dua jenis, mata pelajaran alat, dan bahan, bahasa
salah satu contohnya dari mata pelajaran alat, selain itu hanya ada satu mata
pelajaran alat dalam filsafat yaitu logika
sebagai mata pelajaran alat,selain logika metodologi juga sebagai mata pelaajaran alat yang membahasa pebagai
metode khususnya metode ilmiah. Dalam filsafat digunakan pula
pendekatan-pendekatan. Cabang Filsafat
yang selanjutnya adalah Metafisika,
sebenarnya kata ini telah lama di kemukakan oleh aristoteles adalah hal-hal
yang terdapat setelah fisika, maka dari itu aristoteles mendifinisikannya
sebagai ilmu pengetahuan mengenai yang-ada sebagai yang-ada.
Selain itu ada beberapa
cabang-cabang kefilsafatan diantaranya:
1.
Ontologi dan
Kosmologi
2.
Epistemologi dan
filsafat pengetahuan
3.
Biologi
kefilsafatan
4.
Psikologi
kefilsafatan
5.
Antropologi
kefilsafatan
6.
Sosiologi
kefilsafatan
7.
Etika
8.
Filsafat Agama
BAGIAN
II
“Menuju pembentukan Wawasan”
Bab
V
Dunia
Sebagaiman Manusia Melihatnya
Ilmu
dan Filsafat
Seorang
tidak mesti menjadi seorang filsuf yang lebih baik dengan jalan mengetahui
fakta-fakta ilmiah yang lebih banyak, ditinjau dari sudut pandang lain,
hasil-hasil dari ilmu modern juga penting bagi seorang filsuf. Telah kita
ketahui bahwa perenungan kefilsafatan berusaha menyusun suatu pandangan dunia
yang sistematis. Dalam proses terjadinya ilmu terbentuk dari sebuah proses
berpikir dan perenungan, dengan menemukan sesuatu yang belum ada sebelumnya
kemudian melakukan berbagai percobaan yang di dasari dengan metode-metode
filsafat maka ilmu akan terbentuk, meski tidak semuanya terjadi seperti ini.
Hakekat Materi
Partikel
materi yang terdalam adalah sesuatu yang tampaknya padat yang kita kenal,
itulah materu, namun hal ini masih menjadi sebuah pembicaraan yang masih
berujung pada perdebatan, namun ilmu kembali menjadi jembatan penengahnya
tetapi hingga kini masih asyik mempersoalkannya, sampai abad ke XX teori atom
materi tersusun dari partikel-partikel terdalam yang dinamakan atom, namun pada
kenyataannya teori atom sebagai partikel yang terkecil masih mengandung
kesalahan, dimana atom bukan termasuk bagian terkecil melainkan masih memiliki
pelbagai partikel-partikel, hal ini telah dibuktikan dengan formula einsten E= mc2, dari formula ini
diketahui susunan materi yang begitu luar biasa pada atom itu yang disebut
partikel-partikel sub-atomik, hal ini mencakup pengertian tentang massa dan
tenaga listrik, maka dalam arti itu biarpun sususan materi menjadi lebih rumit,
namun materi tetap meliputi pengertian lama mengenai massa dan pengertian
tenaga, setidaknya hingga ditemukannya formula E= mc2.
Hakekat Ruang-Waktu dan Gerakan
Pada
penjelasan ini sama halnya ketika kita disuguhkan pertanyaan tentang rasa
cinta, mengapa demikian, karena kita akan mengalami kesulitan untuk membuat
definisi tentang ruang dan waktu, apa yang dikatakan oleh ilmu tentang ruang
dan waktu, mari kita lihat tentang pemaham antara ruang dan gerakan, ketika
disuguhkan dengan kasus dilatasi waktu dimana waktu dibumi tidak akan berlaku
untuk pelanet tetangga bumi baik yupiter maupun mars, ataupun yang lainnya, dan
berlaku sebaliknya, dalam hal ini kita pun masih berpikir bagaiman ruang yang
kita tapaki dengan ruang yang terhampar di alam semesta ini memiliki kesamaan,
sebagai bukti kasus black hole adalah sebuah lubang diruang angkasa yang
memiliki gravitasi sangat tinggi ini dapat menarik bintang-bintang di
sekitarnya, bahkan bumi sekalipun, lalu kita berhenti pada pertanyaan apa yang
terjadi bila kita ikut masuk kedalam black hole tersebut apakah ruang yang ada
saat ini bisa sama dengan ruang yang ada di dalam black hole tersebut, begitu
juga dengan gerakan, meganpa gravitasi dapat menggerakan selaras seluruh
pelanet yang ada di tata surya kita atau bahkan di galaksi kita, serta
galaksi-galaksi lainnya bergerak secara selaras bersamaan, keterbatasannya kita
untuk menyelediki hal ini dengan adanya keterbatasan disini maka renungan kita
akan menjadi wawasan baru ketika kita bergerak melakukan pemikiran yang
berkelanjutan tentang hakikat ruang-wakktu dan gerakan.
Ketertiban dan susunan Benda-benda
Angkasa
Pernahkah
kita membayangkan betapa besarnya alam semesta ini, jika di permisalkan lebar
alam semesta ini sebesar meja makan kita, maka keberadaan kita hanyalah setitik
debu, dari alam semesta tersebut bertabur ribuan bahkan jutaan bintang-bintang
yang tersusun dengan sangat rapih dengan selaras memiliki graviatasi
masing-masing, gerakan yang selaras bintang satu dengan yang lainnya karena
adanya gerakan tarik menarik, sebagai bentuk kecilnya adalah matahari pada tata
surya kita, bumi bergerak mengelilingi matahari, berlaku juga pada pelanet
selain bumi, namun matahari yang sebagai sumber dari tata surya kita pun
bergerak mengelilingi pusat galaksi bima sakti (milky way), maka dari itu ketertiban dari sususan benda-benda
angkasa ini adalah hal yang tidak akan pernah habis dibahas oleh para manusia,
karena keterbatasan alat dan keterbatasannya pemikiran kita dapat menggali
terus wawasan untuk menemukan hal yang belum pernah diketahui manusia
sebelumnya, semakin kita merenung akan hal ini semakin kita temukan wawasan
baru lainnya.
Hakikat Hidup
Tubuh
manusia diciptakan dengan begitu kompleks dan teratur, coba kita lihat di tubuh
kita terdapat ribuan bahkan jutaan sel yang saling berhubungan membentuk sebuah
jaringan, jaringan-jaringan tersbut saling terhubung sehingga terbentuk organ,
sistem organ, saraf, dan sistem saraf. Sistem-sistem yang ada pada tubuh manusia selalu bergerak dengan sendirinya
tanpa menunggu perintah dari saraf pusat (otak), namun ada juga yang bergerak
dengan perintah otak seperti mata dan sistem gerak tubuh, tapi pada dasarnya
tubuh kita selalu mempunyai permasalahan-permasalahan yang tidak ada habisnya
untuk di perbincangkan, semakin maju dan berkembangnya tekhnologi mutaakhir ini
banyak juga permasalahan yang mengakibatkan kerja organ tubuh kita tehambat,
seperti kita dikelilingi masalah kesahatan dengan pola kehidupan kita
masing-masing, contohnya aktib dari sex bebas yang terjadi di dunia ini ada
penyakit Aids yang masih sekarang masih jadi pekerjaan rumah bagi para ilmuan
bagaimana cara penyembuhannya, maka dari itu manusia tidak akan kehabisan
wawasan ketika merenungi hakikat kehidupan
Evolusi Manusia
Pembahasan
ini sangat seksi untuk dibahas, dimana ada sebagaian dari kita yang tidak
mempercayai teori evolusi manusia, terlebih carles darwin berbica bahwa manusia
sekarang ini adalah evolusi dari kera atau manusia purba, tentu akan jadi pro
dan contra ketika kita membahas teori evolusi yang carles darwin maksud, namun
sejatinya evolusi benar terjadi, ketika manusia terlahir kedunia ini begitu
terbatasnya kemampuan yang dimiliki baik kualitas maupun kuantitasnya bukan, namun
seiring waktu berjalan sebagai mahkluk hidup manusia tidak akan bisa terlepas
dari sifat makhluk hidup yaitu mengalami pertumbuhan, perumbuhan disini yang
akan kita tujukan pada evolusi, sepakat atau tidaknya pertumbuhan yang dialami
manusia baik kualitas (pertumbuhan cara berpikir) maupun kuantitas (pertumbuhan
sel-sel, oragan, dsb) ini lah yang diisebut bahwa manusia mengalami evolusi,
dari pembahasan ini lah evolusi manusia sebagai salah satu poin terbentuknya
wawasan dalam perenungan kefilsafatan.
Struktur Tubuh Manusia
Begitu
kompleksnya struk tubuh manusia, sebagai contoh sederhananya tubuh menusia
bekerja sebagai sistem yang tak pernah berhenti kecuali manusia itu mati,
sistem yang yang bekerja diantaranya adalah sistem pencernaan, pernafasan, peredaran
darah, eksresi, dan lain sebagainya, salah satu sistem disini terbentuk dari
berbagai organ-organ yang begitu kompleks, dari hal ini lah manusia merenungi
peristiwa yang dialaminya itu sehingga membentuk wawasan pada manusia mengenai
ilmu anatomi tubuh, ilmu biologi, dll
Hubungan Filsafat dan Ilmu
Filsafat
adalah perenungan menuju terbentuknya belbagai difinisi, sebeleum terbentuk
difinisi manusia yang melakukan perenungan ini terlebih dahulu mendapatkan
suatu masalah atau ketakjuban, dari masalah tersebut dilakukan perenungan
kefilsafatan yang menjembatani terbentuk suatu ilmu, jadi hubungan antara
keduanya adalah ada pada keterkaitan antara ilmu perenungan kefilsafatan,
perenungan kefilsafatan menjembatani terbentuknya sebuah ilmu
Bab VI
Beberapa Corak Sistem
Saling
Hubungan di antara jawaban-Jawaban Kefilsafatan
Pelbagai ilmu
pengentahuan terbentuk dari segi pandang yang berbeda sebagai contoh ketika
dihadapkan dengan fenomena meja yang berada didalam ruangan yang kosong,
beberapa pengamat mengamati bentuk meja dengan sudut pandang yang berbeda,
salah satu diantaranya ada yang mengamati dari arah atas meja, dia berpendapat
meja berbentuk persegi panjang tanpa ada kaki, penganmat yang lain mengamati
dari arah depan, dia berpendapat meja memiliki dua kaki, dan pengamat yang lain
mengamati dari arah samping dan berpendapat bahwa meja memiliki empat kaki,
artinya semua pendapat tersebut tidak bisa disalahkan karena pemikirian
pengamat tersebut dikatakan benar dengan sudut pandang masing-masing, nah dalam
hal ini ketika jawaban-jawaban tersebut di hubungkan maka akan terbentuk
wawasan dengan sebuah kesepakan para pengamat tersebut.
1.
Realime
Modern
Realisme adalah sebuah
paham tentang kenyataan, faham ini memiliki pemahaman tentang sesuatu yang ada
adalah yang real atau nyata, namun pada faham realisme akan kesulitan ketika di
suguhkan masalah yang tampak tidak sesuai dengan kenyataannya, seperti
seseorang yang terkontaminasi listrik dengan tegangan tinggi masih bisa
selamat, padahal pada kenyataannya harusnya manusia tersebut akan meninggal
2.
Neo-Naturalisme
Neo-naturalisme
merupakan sebuah pemahaman diamana yang memiliki pemahaman ini akan berpatokan
hanya pada kejadian yang terjadi dialam semata, seperti terjadinya gerhana
matahari, fenomena ini mereka beranggapan hanya fenomena alam semata, terjadi
atas hukum alam.
3.
Materialisme
Dialektikis
Ini adalah sebuah
sistem kefilsafatan yang dibangun oleh karl marx, dan merupakan landasan
teoritis dari masyarakat komunis, orang mungkin belum mendengar istilah ini, tapi
sangat boleh jadi ia sudah mengenal perkataan ‘komunis’ meskipun pemahamannya
masih kabur, sementara deaklitika ialah teori yang mengenai proses perubahan,
menurut pandangan ini segala sesuatu saling berhubungan, dan senatiasa
mengalami perubahan.
4.
Idealisme
ini merupakan salah
satu bentuk pemahaman juga, dimana penganutnya selalu menggunakan dan
mengedepankan akal ketika melakukan perenungan.
5.
Pragmatisme
Berusaha menemukan
hakikat terdalam suatu merupakan kegiatan yang sangat menarik, meskipun kegiatan
itu merupakan hal yang sangat luar biasa, penganut pragmatisme selalu
mengedepankan dan menaruh perhatian pada praktik.
Bab VII
Epistemologi Suatu
Masalah
Pentingnya
Epistemologi
Masalah epistemologi
selalu bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan, masalah
epistemologi mempunyai banyak segi, penyelesaian masalah epistemologi
tergantung pada apa yang diajarkan oleh seorang ahli psikologi kepada kita,
epistemologi adalah suatu batasan kemampuan manusia, adanya kasus ini merupakan
suatu kegelisahan yang akan berdampak pada pola pikir manusia yang terus
melaukan perenungan kefilsafatan
Metode-metode
untuk memperoleh pengetahuan
1. Empirisme
Seseorang yang memiliki
pemahaman ini akan selalu beranggapan bahwa sebuah ilmu pengetahuan adakan
didapat dengan pengalaman, yang tampak dari panca indra kita
2. Rasionalisme
Orang
yang menganut paham ini menganggap bahwa ilmu pengetahuan akan didapat dengan
menggunakan akal, bukan mengingkari paham empiris tetapi pengalaman yang
didapat palin-paling sebuah rangsangan dari akal.
3. Fenomenalis
ajaran Khan
Ajaran khan tertuju
pada hukum sebab akibat, sebagai contoh yang di sebutkan di dalam buku “kuman
tipus adalah sebaagai penyebab penyakit tipus”.
4. Metode Ilmiah
Perkembang ilmu-ilmu
alam yang dihasilkan dari zaman dahulu hingga saat ini merupakan penggunaan
metode, sengaja atau tidak sengaja itulah yang terjadi, meskipun banyak
melakukan pendekatan-pendekatan. baik, metode ilmiah sebagai hal penting agar
pemikiran dalam keiilmuan ini dapat diakui karena di ikat dengan metode imiah
secara sistematis
BAGIAN
III
“Mengenal
Hakekat kefilsafatan”
Bab
VIII
Epistemologi
Makna Dan Kebenaran
Pentingnya
Makna
Setiap kata yang
kita ucapkan akan kita tela’ah tentang artinya agar pemahaman yang kita peroleh
tentang kata tersebut akan menjadi kata yang tidak asing kita dengarkan seperti
yang dicontohkan pada buku ini adalah kata demokrasi, yang terlintas di benak kita
adalah apakah arti demokrasi ?, bagaimana yang kita ketahui apakah demokrasi
itu, nah pertanyaan-pertanyaan ini lah yang berujung ada apakah arti dari kata
itu dengan istilah ‘makna’, makna yang timbul dari sebuah pengamatan akan
berbeda-beda setiap yang mengamatinya, tergantung situasi dan tandanya, hal ini
memutuhkan analisa yang mendalam agar bisa menyepakati tentang makna tersebut,
karena pada hakikatnya makna sangat penting dari sebuah perenungan filsafat
ini, karena menyangkut terbentuknya defisi mengenai sebuah masalah yang
dihadapi.
Paham-paham
tentang Makna
Perkataan
Makna dari sebuah kata
yang kita permasalahkan ini memang penting bagi perenungan kefilsafatan yang
kita hadapi untuk memahami dari definisi nantinya, manun dari pemikiran para
perenung kefilsafatan akan menghasilkan sebuah pendapat, sebelum terlintas
dalam bentuk tulisan, hal yang pertama terjadi adalah terbentuknya pada
perkataan filsuf tersebut, tentunya perkataan tersebut harus memiliki sebuah
makna, baik secara denotatif maupun konotatif.
Pernyataan
Sampai sejau ini
kita telah pahami tentang pandangan-pandangan yang bersifat suka-pilih dan
saling melengkapi mengenai makna-kata, hemat saya memahami sebuh pernyataan
penting dalam hal ini, setiap orang mengetahui makna saetiap kata, namun akan
berbeda ketika kata-kata tersebut tersusun menjadi satu kalimat, coba lihat
ketika ada kata ‘mobil’ dan ‘rusak’ coba kita pahami ketika kata itu terpsah
artinya dengan kita jadikan satu ‘mobil rusak’ mengandung makna berbeda bukan,
jadi memahami makna pernyataan penting untuk seorang filsuf.
Kebenaran
Mengenai
makna-makna yang tersusun baik sebuah pernyataan maupun perkataan tentu harus
diperhatikan antara kebenerannya, hemat saya dalam buku ini bahwa pernyataan
kebenaran adalah sebuah relatif yang bisa dipandang dari mana sisi yang
menyatakan kebenaran, maka dalam hal ini memahami makna kebenaran pun perlu
dilakukan oleh filsuf.
Paham
korespondensi
Pernyataan itu
benar bila pernyataan itu merupakan sebuah fakta, fakta dilapangan bisa
dibilang benar jika kita melalukakan penelitian mengenai hal itu, kita lakukan
gerakan untuk pembuktian hal itu,
kemudian ada proposisi tersebut harus berhubungan dengan proposi-proposi
yang lain, hemat saya paham korespondensi ini dianut oleh pengikut realisme, mereka
berpegang pada kemandirian fakta-fakta atau hakikat yang tidak ideal dengan
fakta.
Paham
Empiris
Paham ini
mendefinisikan kepada sebuah pengalaman, dan biasanya menunjuk pada pengalaman
indrawi manusia, menekankan kebeneran yang bersifat sunjektif serta nisbi,
berdasarkan sifat peramalan.
Pragmatisme
Paham pragmatis
menanamkan kelakukan pada sebuah praktek atau pada pengalaman, sebagai contoh
dalam buku ini kita kita akan tahu kebenaran ketika kita bingun ada dua jalan
yang salah satu memiliki kebenaran, kanan atau kiri, hemat saya seorang itu
akan tahu jalan kiri benar ketika ia telah melalui jalan tersebut atau
sebaliknya.
Bab IX
Ontologi
Pengertian-pengertian pokok
Menanggapi
kenyataan yang beragam
Ontologi adalah salah
satu diantara lapangan penyelidikan filsafat yang paling kuno. Seperti ahli
filsuf thales yang atas perenungannya dimana-mana terdapat air, ia merupakan
seorang yang berpandangan berbeda atas pandangan-pandangan orang pada umumnya
di masanya, artinya pentingnnya kita menanggapi pernyataan-pernyataan yang
beragam pada saat melakukan pemikiran filsafat,
1. Yang Ada (being) dan yang-Tiada (non-being)
Istilah telah dikatakan
pada bab III, akan sedikit saya perjelas kembali, bahwa yang ada sejatinya
memiliki nilai yang melekat pada apa saja, bahkan pada sesuatu (apapun itu),
karena sifatnya maka akan ada kemungkinan perbedaan antara barang satu dengan
yang lain. Namun yang-tiada tidak sama memiliki ungkapan yang memiliki sesuatu
(sifat ada). Kalimat yang-tiada merupakan bentuk ungkapan mustahil bagi
yang-ada.
2. Kenyataan dan
kenampakan
Yang-nyata dan pasti
ada merupakan bentuk penekan wujud suatu benda dalam eksistensi pada
keberadaannya merepukan bentuk kenyataan dalam hal apa saja, dalam hal ini
untuk mempermudah melakukan perenungan
kefilsafatan perlu akan subtansi ini, namun kenyataan tidak sepenuhnya sama
dengan eksistensi, hal ini menyangkut beberapa pertanyaan, hendaklah kita
berhati-hati untuk menentukan makna dari istilah-istilah tersebut.
3. Eksistensi
non-Eksistensi
Perlu diingat kembali
makna ini telah dijelaskan diatas, namun untuk pengulangan saja, eksistensi
merupakan sebuah keberadaan suatu hal yang-nyata dan berarti ada, namun pada
kata yang seberangannya non-eksistensi adalah kebalikan dari kata tersebut.
Bab
X
Ontologi
Penyelesaian Masalah
Naturalisme
Williah R. Dennes,
seseorang yang menganut paham naturalisme dewasa ini, naturalisme modern ketika
berpendirian bahwa kenyataan pasti
bersifat kealaman, dalam hal ini beranggapan bahwa kategori pokok untuk
memberikan keterangan mengenai pernyataan berasal dari kejadian,
jejadian-kejadian dala ruang dan waktumerupakan satuan-satuan penyusun
kenyataan penyusun yang ada, dan senantiasa dialami oleh manusia, jika
naturalisme modern mengatakan bahwa kejadian merupakan hakikat terdalam dari
kenyataan, maka dapat kita katakan yang bersifat nyata bersumber dari alam.
Materialisme
Seorang naturalisme
dalam pemahamannya mengajarkan sesuatu yang nyata merupakan dari alam, berusaha
melampaui pengertian dari alam, dan mendasarkan diri pada subtansi atau
kenyataan terdalam yang dinamakan materi, namun pada hakikatnya paham
naturalisme bisa di belokkan dengan paham ini, sebagai contoh kaum naturalisme
beranggapan dalam hemat saya bahwa atom merupakan patrikel terkecil dari unsur,
namun pada kenyataanya atom masih memiliki patrikel-patrikel kecil seperti
adanya inti atom, nah subtansi ini lah yang dipandang materi.
Idealisme
Para penganut paham
naturalisme dan materialisme mengatakan bahwa istilah-istilah yang mereka
sarankan seperti alam, materi, dsb. Sudah cukup memberikan keterangan tentang
kenyataan, namun ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan oleh penganut
naturasil atau materialis seperti memikirkan tentang nilai, etika, jiwa dsb, nah disinilah perannya pemahaman
idealis.
BAGIAN
IV
“Kosmologi
suatu pemahaman”
Bab XI
Kosmologi : Ruang, Waktu, Gerakan
Di bab ini segala
uraian tentang hakikat kenyataan kita tinggalkan, namun kita akan mengenal segi
kenyataan yang disebut “alam fisik”, kita setuju bahwa alam semesta ini
memeiliki ruang, luasnya alam semesta ini merupakan sebuah ruang yang tidak
seorangpun mengetahui dimana batasannya, dewasa ini banyak orang yang
membicarakan tentang tahun cahaya, konsep ini bukan menentukan sebuah kecepatan
atau dibahas pada gerakan namun membahas tentang jarak sesungguhnya benda itu,
sementera waktu semua benda bergerak mengelilingi inti dari geravitasi yang
pada hakikatnya tidak ada yang tahu dimana letak dari inti gravitasi dunia
dalam gerakan ini memiliki jangka waktu yang berbeda-beda sesuai dengan jarak
benda tersebut, hal ini berada pada kosmologi kita.
Ajaran
Newton
Newton beranggapan
bahwa ruang dan waktu serta gerakan merupakan hal yang mutlak, singkatnya
newton berpendapat ruang yang sudah dikatakan tadi yaitu jagad raya yang
tesebar dan tanpa ada batasan, dan ajaran newton ini menegaskan yang disebut
ruang waktu tersebut mutlak ‘adanya’, atau bisa disimpulkan bahwa menurut
newton, ruang dan waktu memang merupakan satuan-satuan yang ada dalam kenyataan
dan sifatnya objektif
Ajaran
Einsten
Einsten beranggapan
bahwa adanya ruang dan waktu itu adalah relatif, tergantung pada
pengamantannya, artinya kita bicara pada hakikat disini sebelumnya kita tahu
bahwa Newton beranggapan bahwa ruang dan waktu itu mutlak, tetapi Einsten lebih
kerah pada pengamatannya, tergantung dari sudut kita mengamati ruang dan waktu
itu serta gerakan, dapat disimpulkan bahwa ruang dan waktu merupakan
perangkat-perangkat dengan objek yang lainnya yang dapat diukur dengan suatu
cara tertentu, dan ia membedakannya dengan sejenis satuan yang lain, ruang dan
waktu.
Ditinjau
dari segi ontologi
1. Kant
Dalam pembahsan yang
kita tarik dari pendapat newton bahwa ruang dan waktu memang merupakan
satuan-satuan yang ada dalam kenyataan dan sifatnya objektif, sedangkan menurut
Einsten ruang dan waktu merupakan perangkat-perangkat dengan objek yang lainnya
yang dapat diukur dengan suatu cara tertentu, dan ia membedakannya dengan
sejenis satuan yang lain, ruang dan waktu, menurut kant, ruang dan waktu
haruslah diandaikan adanya terlebih dahulu dibandingkan dengan segenap
pengalaman manusia.
2. Samuel Alexander
Diumumkannya teori
relativitas terbatasa oleh Eisnten memberikan peluang terbukanya pengaruh
terhadap pemikiran kefilsafatan, seperti Samuel Alexander (1859-1838), menurut
khan ruang dan waktu adalah sebagai tempat persemaian alam semesta, artinya
ruang dan waktu dipandang sebagai suatu raga, sedangkan waktu dipandang sebagai
jiwa
Bab
XII
Kosmologi
Paham Mengenai Alam
Pandangan
Yunani Mengenai Alam
Para pemikir besar
yunani seperti Thales, Anaximander, Anaximenes, para penganut Aristoteles, dan
plato, tokoh-tokoh tersebut berpendapat bahwa pemikiran kefilsafatan hanya pada
alam semata, artinya pada masa ini perenungan atau berfikir pada kegiatan
kefilsafatan hanya tertuju pada alam semata.
Pada
Masa Renaissance
Meloncat beberapa abad
setelah masa yunani kuno, pada masa ini alam hanya dipandang berdasarkan sifat
mekanik, dalam masa ini adanya penolakan atas gagasan mengenai alam yang
digambarkan sebagai organisme yang takterhingga, yang teologis, dan mereka
memandang alam sebagai suatu yang tidak terhingga yang menyerupai mesin
(mekanik), dan tidak berjiwa.
Pandangan
Eddington tentang Alam
Ia adalah ilmua besar
yang berhasil mengalihkan pandangannya mengenai fisika dan astronomi kepada
pemikiran kefilsafatan, ia beranggapan bahwa alam tersusun dari dua poin
diantaranya :
a.
Alam merupakan
gambaran pemikiran kita dalam akal kita
b.
Pasangannya
dalam dunia lahiriah.
BAGIAN
V
“Pengembaraan
Tiada Bertepi”
Bab XIII
Masalah Hidup
Hakikat Hidup
Dalam dunia ini kita
sepakat bahwa yang namanya hidup di sangkutkan pada makhluk hidup seperti
manusia misalnya, tetapi dewasa ini benda ciptaan manusia pun dapat hidup mobil
misalnya, tetapi sejatinya benda-benda ciptaan manusia itu dapat hidup dengan
adanya energi yang mendorongnya seperti tenaga listrik dan lain sebagainya,
namun apakah makna dari hakikat hidup disini, sesuai dengan pemahaman saay pada
buku ini ketika disuguhkan dengan pertanyaan ini maka saya ambil satu kata
dasar “hidup”, kata ini menunjukkan pada ruang, sejatinya manusia masih mencari
makna yang tersimpan dari ruang, waktu, dan gerakan, seandainya makna itu dapat
dipecahkan maka hakikat hidup tersendiri akan mudah kita tafsirkan.
Istilah-Istilah
1.
Makna
‘mekanisme’
Ada empat pencerahan
tentang makna mekanisme ini, tetapi kita perlu membedakan secara hati-hati
ketika membicarakan makna ini secara hati-hati, mekanisme mengacu pada sebuah
penjelasan, seperti yang di maksud Newtom, mengacu ada penjelasn
fisiko-kimiawi, mungkin juga mengacu pada teori mesin, atau mungkin menujukkan
sebuah penjelasan kausal, semua itu kecuali bagian akhir adalah hal-hal lazim
terdapat pada ‘mekasnisme ontologis’, yang artinya bermaksud menjelaskan
hakikat teradalam dari hidup.
2. Vitalisme
Istilah ini
menjadi lawan dari ‘mekanisme’. kehidupan adanya juga teori-teori yang mekanis,
namun tidak menjadi kemungkinan dalam kkehidupan terdapat juga teori-teori yang
tidak vitaslis, teori vitasli ini menunjukkan ajaran-ajaran yang mendefinisikan
hidup dalam hubungannya suatu prinsip atau subtansi yang khas dan bersifat
mendalam. Tokoh yang terkenalnya dalam penganut ini adalah Hans Dtiesch, tokoh
ini memiliki pandangan tentang ‘entelika’[1].
3. Paham psikofisik
tentang hidup
Teori mekanisme
dalam hidup termasuk paham monisme, karena mengatakan bahwa segi proses-proses
hidup berarah tujuan sesungguhnya merupakan suatu ilusi belaka, atau jika tidak
demikian, tiada laina sekedar cara berfungsi mekasinme-mekasnisme tertentu,
sebaliknya seseorang yang memiliki paham vitaslime termasuk dualisme, adalah
prinsip mekanika tidak akan bisa diamati oleh inderawi.
Bab
XIV
Masalah
Jiwa
Jiwa dan Raga
Ilmu Bersifat Kealaman
Hal ini tidak akan
disangkut-pautkan dengan masalh hakikat hidup, melihat teori hidup yang
mendasarinya adalah ada pada teori ilmiah yang bersifat naturalis. Pada
persoalan disini hakikat hidup pada manusia akan lebih ditekankan pada jiwa
manusia itu sendiri, ada beberapa teori mengenai jiwa, adalah sebagai berikut:
1.
Jiwa sebagai
subtansi yang berjenis khsus
2.
Jiwa sebagai
jenis kemampuan
3.
Jiwa semata-mata
sebagai sejenis proses yang tempak pada organisme-organisme hidup
4.
Jiwa dijubuhkan
dengan pengertian tingkah laku
Makna Jiwa
Dalam buku ini menurut
hemat saya makna dari jiwa ini adalah pemikiran dan ingatan manusia itu, coba
renungkan kata ‘lost his mind’ seorang dikatakan ‘lost his mind’ jika cara
berpikirnya tidak runtut atau kalau ingatannya hilang, umumnya jika seseorang
bersangkutan melakukan hal-hal yang diluar akal dan tidak lagi dapat menguasai
selera berpikirnya lagi, selebihnya teori tentang jiwa adalah sebagai berikut:
a.
Epifenomenallisme,
faham ini beranggapan satu-satunya unsur yang kita dapati bila menyellidik
proses-proses kejiwaan ialah syaraf-syaraf kita.
b.
Interaksionalisme.
teori
ini mendasarkan diri atas akal sehat sebagaia besar menyetujui paham ini,
dimana paham ini mengatakan jiwa dan raga itu berbeda.
c.
Paralelisme
psikofisik, paham ini mengatakan bahwa ada dua macam
sistem kejadian, yang ragawai dan kejiwaan.
Teori-teori lain
yang dapat memberikan pencerahan pada pemahaman ini, sebagai berikut:
1.
Jiwa sebagai
subtansi-Sigmund Freud
2.
Jiwa sebagai
kemampuan-Joseph A. Leighton
3.
Jiwa sebagai
proses-James B. Pratt
4.
Jiwa sebagai
tingkah laku-Y.H. krikorian
Bab XV
Aksiologi Masalah Nilai
Apakah
yang-baik itu?
Mengingat kisah dari
seorang filsuf kuno socrates, beserta filsuf-filsuf lainnya berpendapat bahwa
masalah pokok ialah kesusilaan, socrates hidup pada akhir suatu masa dimana
kebanyaka pemikir memperbincangkan masalah hakekat dunia dan mengembalikan masalah
hakekat manusia, makna yang terkandung
oleh nilai yang-baik, susatu yang dikatakan baik pada pembahasan ini adalah
yang memiliki kemanfaatanya, bisa kita lihat dari segi contoh, pisau adalah
benda yang tajam yang dapat melukai apapun tergantung dengan pandangan
masing-masing, tetapi pisau yang tajam baik bila digunakan tukang daging, dan
lain sebagainya. Kebaikan ini digambarkan dengan sebuah nilai, baik berikut
adalah sejumlah makna nilai diantaranya:
1.
Mengandung nilai
(artinya, berguna)
2.
Merupakan nilai (
arinya, ‘baik’, atau ‘benar’ atau ‘indah’)
3.
Mepunyai nilai
(artinya, merupakan objek keinginan, mempunyai kualitas yang dapat menyebabkan
orang mengambil sikap ‘menyetujui’, atau mempunyai sifat nilai tertntu)
4.
Memberi nilai
(artinya, menanggapi sesuatu sebagai hal yang diinginkan atau sebagai hal yang
menggambarkan nilai tertentu).
Nilai
sebagai objek sesuatu kepentingan
Kita sepakat
bahwa yang namanya nilai merupakan suatu masalah pengutamaan, tetapi mengenai
selera orang-orang tidak perlu dipertanyakan, juga mengenai sebuah kesepakan,
dalam hal ini memungkinkan tiga pilihan :
1.
Sikap setuju
atau menentang tidak ada sangkut-pautnya tentang masalah nilai
2.
Nilai
bersangkutan pada sesutu yang hakiki
3.
Nilai merupakan
sumber pertama serta ciri yang tetap dari segenap nilai.
Teori
pragmatis mengenai nilai
Menurut Dewey, nilai
sebagi hasil pemberian nilai, meskipun kebaikan kiranya bersangkutan dengan
akibat-akibat, namun kebaikan itu tidak bersangkutan dengan hasil-hasil jangka
pendek dari suatu keinginan yang dangkal. Hemat saya nilai sabagai teori
pragmatis merupakan sebuah tindakan dari kehidupan yang kita jalani.
Bab
XVI
Nilai-Etika
Apakah
yang mesti dikerjakan?
Etika merupakan cabang
aksiologi pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai ‘betul’
(right) dan ‘salah’ (wrong), sebagai pokok bahasan khusus, etika mebicarakan
sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut susila atau bajik.
Etika,
makna dan masalahnya
Etika memiliki dua
arti, yang satu tampak dalam ungkapan,
dan yang kedua adalah sebagai tindakan,
kedua unsur ini memang selalu berpegang erat pada etika, karena ucapan
dan tindakan adalah hubungan yang utuh untuk etika tersendiri. Patut dicatat
pula etika merupakan sebagai ilmu pengetahuan dapat berarti penyeledikan
mengenai tanggapan-tanggapan kesusilaan. Etika disini lagii-lagi membicarakan
mengenai nilai, karena niali bisa dikaitkan dengan etika, baik ataupun buruk,
benar maupun salah.
Etika
dan kebahagiaan sebagai kebaikan tertinggi
Etika teleogis adalah
sebuah teori yang mengajarkan bahwa perbuatan-perbuatan kesusilaan berusaha
mencari dan menemukan kebahagiaan atau kenikmatan, sedangkan ada teori lain
yang dinamakan hedonisme, adalah suatu teori yang mengatakan bahwa kenikmatan
atau akibat-akibat yang nikmat dalam dirinya sudah mengandung kebaikan.
Etika
perwujudan-diri
Sebelumnya mari kenali
apa itu diri, lalu apakah perwujudan itu, sementara kita telah bahas diawal
mengenai etika, hemat saya tentang diri dan perwujudan pada buku ini
menjelaskan bahwa yang dinamakan diri adalah pertama jika dilihat sekedar dari
makhluk ekonomi adalah berhakekat binatang buas, tapi mengenai hal ini ada
tanggapan bahwa diri merupakan suatu yang rohani, kaitannya diri adalah
penyuaan pada setian manusia, etika merupakan jembatan untuk menunjukkan diri
setiap manusia.
Bab XVII
Nilai-Estetika
Masalah
Yang-Indah
Banyak yang pendapat
antara kaum materialis dan kaum idealis tentang sebuah nilai baik dipandang
sebagai subjektif maupun objektif. Baik, mengenai masalah keindahan maka nilai
akan dipandang secara subjektif, lalu mengenai masalah selera hal ini dapat
diabaikan.
Sejumlah
istilah dalam estetika
Pertama estetika
sebagai sebuah keindah, hal ini dapat disepakati oleh kebanyakan orang, karena
etika merupakan sebuah keindahan, dalam karya murni dua dimensi atau tiga
dimensi yang bicarakan pada nilai estetikanya, namun jika estetika dikatan
sebuah seni maka lain ceritanya menilai hanya dengan keindahan, karena sesuatu
seni dapat dinikmati bukan hanya sekedar dari keindahan belaka, jika kita
membahas tentang seni maka akan hadir beberapa poin-poin yang buku ini
terangkat diantaranya:
1.
Seni sebagai
hasil kegiatan intuisi serta pengungkapan perasaan
2.
Keindahan
sebagai rasa nikmat yang diobjektivasikan
3.
Keindahan
sebagai objek tangapan akali
4.
Seni sebagai
pengalaman
BAGIAN VI
”Terbentang Cakrawala
Kebijaksanaan”
Bab XVIII
Masalah Manusia
Apakah
manusia itu?
Membahas
tentang manusia, sesungguhnya kefilsafatan yang pembahasannya tidak pernah ada
henti seperti membahas Tuhan, alam semesta, dan salah satunya adalah manusia,
sekarang saya akan paparkan mengenai pemahaman saya pada buku ini.
Ketika
dilontarkan dengan pertanyaan siapakah
aku? Maka, acapkali bingung untuk menjawabnya, karena sejatinya kita
sendiri masih bingung secara hakikat diri kita. Namun ada pelbagai cara
mengawali penyelidikan tentang manusia, kita bisa gunakan bagaimana menggunakan
istilah ‘manusia’, tentunya akan ada beberapa pendekatan-pendekatan khusus
seperti pendekatan sosiologis, atau pendekatan psikologis, selanjutnya bisa
juga menggunakan istilah manusia secara tepat ditinjau dari segi bahasa, namun
tidak akan mengerti apa makna yang dikandungnya, ketiga untuk meneliti manusia
ialah dengan jalan meneliti apa yang telajh dikerjakan oleh manusia dan apa
yang telah mereka hasilkan, dengan demikian kita akan meneliti tulisa-tulisan
para ilmuan dan ahli filsuf untuk menyeledikinya.
Beberapa istilah dan makna yang
terkandungnya
Makna
manusia memiliki arti ganda, seperti pada kalimat berikut:
a.
Manusia tiada
lain kecualii hewan
b.
Manusia
merupakan hasil sejarah
c.
Manusia adalah
makhluk rohani
d.
Manusia sebagai
makhluk sosial
e.
Manusia sebagai
makhluk individu
Kesepakan
kita mengenai manusia memiliki akal dan hati nurani, maka pernyataan ‘a’ dapat
kita bantah, karena hewan tidak memiliki apa yang Tuhan berikan pada manusia,
manusia dapat memilih jalannya sendiri, untuk menemukan hakikat pada jati
dirinya manusia bisa menggunakan akal dan perenungannya, pada bab awal kita
sudah singgung tentang manusia merupakan hasil evolusi, pada pandangan ini saya
tidak sepakat mengenai teori dari carles Darwin, akan tetapi evolusi disini
adalah taraf integritas pada manusia sesungguhnya selalu berkembang dan
bekembang.
.
[1]
Entelika, atinya adalah proses perkembangan yang nampaknya memiliki arah tujuan
pada embriologi, sama sekali tidak dapat dijelaskan baik dengan hukum-hukum
fisika maupun sebagai gerak fisiko-kimiawi. Sebagai akibatnya, Driesch merasa
bahwa ia harus menunjukkan adanya sebuah
faktor yang tidak dikenal dalam dunia ilmu, sebuah faktor yang mengendalikan
proses-proses ini dan dirinya mengandung tujuan tersebut.

Post a Comment
0 Comments