Makalah-Makalah Kuliah IAT
Hadist Akidah akhlak
Pendahuluan
Kali ini kita memuat adab atau etika berbicara. Setiap
kita manusia, setiap hari, dan hampir setiap saat, menggunakan dan membutuhkan
komunikasi. Salah satu alat komunikasi yang sering kita gunakan adalah bahasa
lisan. Dalam menggunakan bahasa atau berbicara dengan lawan bicara kita tentu
harus menggunakan bahasa yang baik, mudah dipahami dan dimengerti.
Rasulullah telah mencontohkan kepada kita. Betapa lembut dan dan santunnya Rasulullah. Sehingga masing-masing lawan bicaranya merasa dia yang paling di muliakan Rasulullah.
Rasulullah telah mencontohkan kepada kita. Betapa lembut dan dan santunnya Rasulullah. Sehingga masing-masing lawan bicaranya merasa dia yang paling di muliakan Rasulullah.
Dalam berbicara dengan lawan biacara, kita harus
menggunakan tata karma dan tutur kata yang baik. Jangan sampai bahasa kita
menyakiti orang lain, ketus, nyelekik dan menimbulkan permusuhan. Akhlak yang
baik akan mengeluarkan bahasa yang baik. Dalam istilah teko, “ teko akan
mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Di dalamnya air kopi maka akan keluar
air kopi, kalau di dalamnya air teh maka yang akan keluar juga air teh. Begitu
juga dengan manusia, jika akhlaknya baik maka tutur katanya yang keluar juga
baik dan sebaliknya.
Pembahasan
a.
Pengertian
Hadis Etika Bicara
Hadisadalah peraturan sahabat tentang
Rasulullah baik mengenai perkataan, perbuatan, maupun taqrirnya. Pengertian
hadis sering diidentikan dengan sunnah, meskipun para ulama hadis
membedakannya. Sunnah diartikan secara khusus untuk tradisi yang diyakini
berasal dari perbuatan atau kebiasaan Rasulullah yang berkaitan dengan ajaran
Islam. Istilah lain yang sering muncul muncul dalam pembahasan hadis adalah khabar
dan atsar. Khabar adalah berita yang sumbernya berasal dari para sahabat,
sedangkan atsar adalah berita yang berasal dari para Tabi’in.
Etika (Yunani Kuno: "ethikos",
berarti "timbul dari kebiasaan") adalah sebuah sesuatu di mana dan
bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai
atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.
Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar,
salah, baik, buruk, dan tanggung
jawab. St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan
etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy).
Etika dimulai
bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan
kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena
pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain.Untuk itulah
diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh
manusia.
Secara metodologis, tidak setiap
hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etikaEtika memerlukan sikap
kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika
merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku
manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah
laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat
dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.[1]
Berbicara dalam hal ini diatrikan
dengan Komunikasi, komunikasi adalah "suatu proses dalam mana
seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat
menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan
dan orang lain".. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal
yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasaverbal yang dapat
dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan
gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum,
menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi
dengan bahasa nonverbal.[2]
Sedangkan berdasarkan uraian
diatasHadis etika berbicaraadalah prilaku
sesorang yang mencerminkan nilai normatif sebagai adat kebiasaan untuk
menyampaikan pesan atau informasi berdasarkan hadis-hadis Rasulullah.
b.
Berberapa Hadis tentang etika berbicara
1.
Dalam berbicara tidak boleh gibah
Dalam kitab Shahih Muslim hadits no. 2589 disebutkan.
“Diriwayatkan
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah ?” Para sahabat
menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah
ialah engkau menceritakan hal-hal tentang saudaramu yang tidak dia suka” Ada
yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu benar-benar ada
padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti kamu telah melakukan
ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya,
berarti kamu telah berdusta atas dirinya”
Allah Azza wa Jalla berfirman.
“Dan janganlah
kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” [Al-Israa
: 36]
2. Dalam
bercira sebaiknya menyandarkan sesuatu yang bermanfaat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga
perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian
hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh
pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan
Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar),
banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta”
3. Dalam
berbicara hendaknya menjauhkan dari perbuatan zinah
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang
tidak akan bisa dielakkannya. Zina pada mata adalah melihat. Zina pada telinga
adalah mendengar. Zina lidah adalah berucap kata. Zina tangan adalah
meraba. Zina kaki adalah melangkah. (Dalam hal ini), hati yang mempunyai
keinginan angan-angan, dan kemaluanlah yang membuktikan semua itu atau
mengurungkannya”
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits
no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda.
4. Dalam
berbicaraha hendaknya terlepas dari gangguan lisan
“Seorang muslim
adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan
tangannya”
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Muslim no.64
dengan lafaz.
“Ada seorang
laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang
orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.
5. Berhati-hati
dalam berbicara
Hadits diatas juga diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir
hadits no. 65 dengan lafaz seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah
bin Umar.
Al-Hafizh (Ibnu Hajar Al-Asqalani) menjelaskan hadits tersebut.
Beliau berkata, “Hadits ini bersifat umum bila dinisbatkan kepada lisan. Hal
itu karena lisan memungkinkan berbicara tentang apa yang telah lalu, yang
sedang terjadi sekarang dan juga yang akan terjadi saat mendatang. Berbeda
dengan tangan. Pengaruh tangan tidak seluas pengaruh lisan. Walaupun begitu,
tangan bisa juga mempunyai pengaruh yang luas sebagaimana lisan, yaitu melalui
tulisan. Dan pengaruh tulisan juga tidak kalah hebatnya dengan pengaruh
tulisan”.
Oleh karena itu, dalam sebuah sya’ir disebutkan :
Aku menulis dan aku yakin pada saat aku menulisnya Tanganku
kan lenyap, namun tulisan tangannku kan abadi. Bila tanganku menulis kebaikan,
kan diganjar setimpal, Jika tanganku menulis kejelekan, tinggal menunggu
balasan.
6. Menjaga
perkataan dengan yang baik
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya
hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah bersabda.
مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ
لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk
menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan
kepadanya jaminan masuk surga”
Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua
janggutnya adalah mulut, sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah
kemaluan.
Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim
dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa
Rasulullah bersabda.
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir
maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”
Imam Nawawi berkomentar tentang hadits ini ketika
menjelaskan hadits-hadits Arba’in. Beliau menjelaskan, “Imam Syafi’i
menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata
hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak
akan membawa mudharat, maka silahkan dia berbicara. Akan tetapi, jika
diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa
mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara”. Sebagian ulama
berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang
mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada
berbicara”.
“Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam
daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena
bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan
paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa
berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.[3]
, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak
mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia
diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia
lebih banyak mendengar daripada berbicara. Seringkali orang menyesal di
kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan
pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan
adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan.
Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka
perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang
berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.[4]
Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali
hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu
kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia
akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun
orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara
apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga
lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”.[5]
Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab
Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988 dari Abu Hurairah
bahwa Rasulullah bersabda.
7. Sebelum
berbicara hendaknya memikirkannya terlebih dahulu
“Sesungguhnya
seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa
dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih
jauh dari jarak timur dengan barat”
Masalah ini disebutkan pula di akhir hadits yang
berisi wasiat Nabi kepada Muadz yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2616 yang
sekaligus dia komentari sebagai hadits yang hasan shahih. Dalam hadits tersebut
Rasulullah bersabda.
“Bukankah tidak
ada yang menjerumuskan orang ke dalam neraka selain buah lisannya ?”
Perkataan Nabi di atas adalah sebagai jawaban atas
pertanyaan Mu’adz.
يَا نَبِّيَّ اللَّهِ وَإِنَّا
لَمُؤَا خَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ
“Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas
apa yang kita katakan ?”
Yang dimaksud dengan buah lisannya adalah balasan dan
siksaan dari perkataan-perkataannya yang haram. Sesungguhnya setiap orang yang
hidup di dunia sedang menanam kebaikan atau keburukan dengan perkataan dan amal
perbuatannya. Kemudian pada hari kiamat kelak dia akan menuai apa yang dia
tanam. Barangsiapa yang menanam sesuatu yang baik dari ucapannya maupun
perbuatan, maka dia akan menunai kemuliaan. Sebaliknya, barangsiapa yang
menanam Sesuatu yang jelek dari ucapan maupun perbuatan maka kelak akan menuai
penyesalan”[6]
“Hal ini
menunjukkan bahwa menjaga lisan dan senantiasa mengontrolnya merupakan pangkal
segala kebaikan. Dan barangsiapa yang mampu menguasai lisannya maka
sesungguhnya dia telah mampu menguasai, mengontrol dan mengatur semua
urusannya”.[7]
“ Seseorang yang
menganggap bahwa lisannya bisa membawa bencana sering saya dapati baik
amalan-amalannya”.
8. Perkataaan
yang baik mencerminkan amalan yang baik
Diriwayatkan bahwa Yahya bin Abi Katsir pernah
berkata, “Seseorang yang baik perkataannya dapat aku lihat dari amal-amal
perbuatannya, dan orang yang jelek perkataannya pun dapat aku lihat dari
amal-amal perbuatannya”.
Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab
Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda.
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut ? Para
sahabat pun menjawab, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki
uang dirham maupun harta benda. ‘Beliau menimpali, ‘Sesungguhnya orang yang
bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan
membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa
dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan
memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang
terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum
selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang
terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam
neraka”.
9.
Apabila berbicara hendaknya membuat orang lain faham
Dari Anis Ra. “Sesungguhnya
Rasulullah SAW apabila berbicara maka diulangi sampai tiga kali, sehingga dapat
difahami, dan kemudian mengucapkan salam sebanyak tiga kali (H.R. Bukhori)[8]
Hadis ini menyebutkan bahwa
ketika kita berbicara harus di perjelas dan di ulangi sebanyak tiga kali kepada
kelompok tertentu agar mendapatkan kefahaman dari apa yang dibicarakan, dan
hadis ini mengajarkan ketika akan berbicara dengan seseorang jika sesasama
muslim hendaklah mengucapkan salam.
Dari Aisyah Ra berkata :” jika
Rasulullah berbicara, maka ucapan Rasulullah jelas dan dapat dipahami bagi setiap orang yang mendengarnya (H.R. Abu
Daud)[9]
Kesimpulan
Dari
pemaparan diatas kita dapat simpulkan bahwa Hadis etika berbicara adalah
bagaimana budaya kita sebagai seorang muslim yang mencerminkan akhlak
Rasulullah dalam berbicara tentunya mengandung normatif sebagaimana yang
diajarkan Rasulullah dengan hadis Beliau, karena ucapan yang baik mencerminkan
prilaku yang baik, berbicara yang baik akan menimbulkan disenangi oleh banyak
orang dan dapat menjalin momunikasi yang baik.
Daftar
Pustaka
Imam Bukhori, Kitab
shohih Bukhori
Muhamad Nawawi, Kitab
Riadussholihiin
Al-Hafidz Ibnu Rajab, kitab Jami’
Al-Ulum wa Al-Hikam
Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti
berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala
https://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi#Proses
[1]
https://id.wikipedia.org/wiki/Etika
[2]
https://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi#Proses
[3]Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti
berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45
[4]Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti
berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 47
[5]Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti
berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 49
[6]Al-Hafidz Ibnu Rajab, kitab Jami’
Al-Ulum wa Al-Hikam Hal. 147
[7]Al-Hafidz Ibnu Rajab, kitab Jami’
Al-Ulum wa Al-Hikam Hal. 149
[8]Muhamad Nawawi, Kitab
Riadussholihiin Hal. 332
[9]Muhamad Nawawi, Kitab
Riadussholihiin Hal. 332

Post a Comment
0 Comments