out life
kekuatan spiritual episode 2
“assalamualaikum Wr. Wb.” Ucapan pembukaan Abdullah (ketua seksi acara)
“waalaikumsalam Wr. Wb.” Jawab serentak para santri
“semangat pagi, dan apa kabar pemuda Furqon (yel-yel sapaan khas pondok)” balas Abdullah
“pagi, pagi, pagi, semangat pagi, alhamdulillah luar biasa Allahu Akbar (jawaban yel-yel khas pondok)” sorakan para santri,
“barakallahu fi khoir, Alhamdulillah, baik saya akan bacakan teknis seleksi untuk calon peserta olimiadi, dalam penyeleksian kali ini kalian di bagi menjadi dua tahap, tahap yang pertama yaitu kalian di perkenankan menyelasaikan beberapa soal-soal dan waktu mengerjakaannya sampai dzuhur, ada tiga kategori bel yang berlaku dalam tahap ini, yang pertama adalah tanda bel dimulai mengerjakan, bel yang kedua waktu tingggal separuh, dan bel yang ketiga selesai mengerjakannya, setelah selesai kalian di perkenankan beristirahat untuk shalat dan akan, tahap kedua dilaksanakan ba’da dzuhur, dalam hal ini tahap dua dibutuhkan kekompakan kalian dalam menyelesaikan teka-teki nanti untuk tim diskusi perbaris/banjar dari barisan paling depan kalian hingga paling belakang kalian, adapun materi yang akan kalian diskusikan lebih jelasnya akan di sampaikan oleh penanggung jawab di setiap tahap, ada pertanyaan untuk hal ini, mungkin tidak ada, ya sudah untuk mempercepat waktu setelah di bubarkan silahkan memasuki aula?” jelas Abdullah, semua calon peserta bergegas memasuki aula untuk melaukan tes tahap pertama.Tengah 30 menit berlangsungnya tes, semua peserta dikejutkan oleh sosok Umar yang telah selesai mengerjakan soal tersebut dan berjalan mengantarkan pekerjaannya itu kemeja depan tempat pengawas ujian tahap pertama itu duduk, bagi Ali hal ini tidak membuatnya terheran karena sejatinya Umar memang seorang yang cerdas dalam intelektual dan ketajaman cara berfikir yang logis, apalagi soal yang dikatagorikan seperti yang di ujiakan itu diantaranya tes memakai logika dan ketajaman berfikir, bagi Umar ini adalah perkara yang mudah dan menyenangkan. Bel kedua di telah terdengar nyaring di telinga mereka namun terlihat dari mimik wajah para santri tercermin betapa sulit soal-soal tersebut terlebih dalam hal ini mereka harus berpikir bagaimana cara menemukan jawaban yang soal-soal berupa essay, begitu pula dengan Utsman dan Ali yang masing-masing dari mereka baru menyelesaikan separuh soal tersebut, detik jam terus berputar, keringat Ali, Utsman, serta rekan-rekan calon peserta mulai membasahi wajah mereka di iringi dengan keroncongannya perut yang disebabkan berputar otak untuk menemukan dan memcahkan masalah yang di tanyakan soal tersebut.
Ketika bayangan benda sejajar dengan wujud benda dan matahari berada di tengah-tengah kepala dengan panasnya terik diiringi kumandang adzan dzuhur, bel tanda berakhirnya seleksi tahap pertama selesai, calon peserta olimpiade melakukan shalat dzuhur berjamaah yang di pimpin oleh pak kiyai Muhamad. Ba’da dzuhur selepas mereka menyantap nasi dengan lauk ayam goreng yang di tabasahi sayur asam khas nusantara mereka melanjutkan ketahap dua penyeleksian calon peserta olimpiadi dua pekan kedepan nanti. Bel berbunyi tanda penyeleksian tahap kedua telah di mulai, penanggung jawab pada tahap ini memberikan arahan kepada calon peserta berkenan dengan peraturan dan poin-poin diskusi untuk tahap ini,
“setiap kelompok silahkan pilih satu dari kalian untuk dijadikan pemandu regu (kelompok), pilihlah satu sebagai seorang notulis, lalu satu seorang nara sumber, sisanya jadikan sebagai anggota kelompok, diberi waktu dua menit untuk kalian tentukan hal-ha yang telah di jelaskan tadi, silahkan dari sekarang!” terang sofian sambil merintah, selaku penanggung jawab tahap kedua
Semua calon peserta merundingkan tentang perihal tersebut, sementara di kelompoknya tiga sahabat itu mereka telah putuskan utsman yang naik menjadi pemandu (pemimpin) regu, karena mereka tahu utsman fasih dalam berpendapat dan merangkai kata-kata dalam halayak umum, kemudian sebagai narasumber Utsman memilih Umar karena dalam berpikir secara logis serta wawasan yang luas Umar cocok untuk hal seperti itu,“baik, waktu telah selesai, untuk semua regu haarap berkumpul dan duduk ditempat yang telah kami sediakan,” jelas sofian, dewan juri dalam tahap ini pun telah siap, dewan juri dalam hal ini kiyai Muhamad sebagai juri I yang di dampingi dengan Abi bakrin (sebagai juri II).
“soal pertama, ada seorang atheis menanyakan perihal kepada seorang pemuda muslim mengenai peristiwa akhirat yang kekal, dalam hal ini dia bertanya bahwa bagaimana pandangan kita terhadap orang-orang yang di surga mereka mendapat kenikmatan dengan makan sepuasnya tanpa merasakan rasanya buang air, padahal ketika di surga keadaan manusia sama dengan sekarang mereka rasakan (hidup kembali), bagaimana mungkin jika ada manusia sekarang ini tidak butuh yang namanya buang air besar (bab), pertanyaannya bagaimana tanggapan pemuda tersebut, waktu mendiskusikan hanya 10 menit, dimulai dari sekarang?” sofian membacakan soal pertamanya sambil mengaktifkan penghitungan waktunya. Semua regu berdiskusi mengenai hal tersebut, begitu juga regu yang di pandu oleh Utsman tentang perihal tersebut, dengan tanggap Utsman memimpin regunya dengan bijak, teliti, adil, dan merakyat (mengutarakan pendapat anggotaketimbang pendapatnya), dalam hal ini Abi bakrin selaku juri dua menilai perihal ketangkasan pemimpin diskusi untuk dijadikan pemimpin pasukan olimpiade nanti, bel dibunyikan tanda waktu berdiskusi telah usai, giliran saatnya mempresentasikan hasi diskusinya. Satu demi satu regu telah mempersentasikan hal tersebut dengan dalil-dalil yang mereka temukan di Al-Quran mengenai kehidupan setelah kehidupan didunia, tibalah giliran regu utsman untuk mempresentasikan hasil diskusinya,
“assalamulaikum Wr. Wb. Pada soal ini, ada seorang atheis menanyakan perihal kepada seorang pemuda muslim mengenai peristiwa akhirat yang kekal, dalam hal ini dia bertanya bahwa bagaimana pandangan kita terhadap orang-orang yang di surga mereka mendapat kenikmatan dengan makan sepuasnya tanpa merasakan rasanya buang air, padahal ketika di surga keadaan manusia sama dengan sekarang mereka rasakan (hidup kembali), bagaimana mungkin jika ada manusia sekarang ini tidak butuh yang namanya buang air besar (bab), kepada narasumber kami untuk menjawab perihal ini di persilahkan!” ucap Utsman membuka sesi penjelasan mengenai soal itu sambil mempersilahkan Umar untuk menjawab,“terima kasih kepada pemandu regu untuk kesempatannya, baik, Assalamu’alaikum Wr. Wb. jika saya (regu kami) yang menjadi seorang pemuda itu maka saya akan jelaskan kepadanya (seorang atheis) dengan logika sederhana mengenai sesorang yang di surga dengan puas dan bebasnnya makan dan minum tanpa merasakan ingin membuang hajat (BAB), dalam konteks ini saya tidak akan berikan dalil untuk seorang atheis karena mereka bukan seorang muslim melainkan seorang yang tidak mempercayai adanya Tuhan apalagi mempercayai kehidupan akhirat, pasti Ia beranggapan bahwa dalil adalah pemahaman yang di percayai dan di yakini orang-orang muslim, maka dengan fakta dan rahmat Allah yang akan saya gambarkan kepada ia ( seorang atheis) yang benar-benar terjadi di bumi ini, apalagi di akhirat nanti pasti terjadi, begini saya akan tanyakan kepada seorang atheis itu peristiwa janin dalam kandungan, tentu kita percaya bahwa sebuah janin didalam kandungan mendapat asupan nutrisi melalui dari seorang ibunya, meraka (janin) terus makan, lalu bagaimana cara ia buang hajatnya? Jawabnya pasti tidak akan merasakan hal itu, bagaimana kau tidak yakin akan kehidupan akhirat yang penggambarannya ada pada dunia ini, dengan penggambaran mengenai janin tersebut, Allah yang Maha pemberi rahmat pada kita bayangkan jika bayi dalam kandunangan mengeluarkan hajat (BAB) apa yang terjadi pada ibunya? Ini lah ke Maha BesaraNya Allah, lantas mengapa kau (atheis) tidak mempercayai hal tersebut!, begitulah pemaparan kami mengenai soal pertama ini, terima kasih atas perhatiannya sekian,, Wassalamualaikum “ terang Umar sebagai narasumber mengenai soal pertama yang mereka diskusikan,
“demikian pemaparan jawaban regu kami, terimaksih atas narasumber kami, terima kasih atas perhatiannya, saya selaku moderataor (pemandu diskusi) mengucapkan terima kasih, akhirul kalam Wassalamu’alaikum Wr. Wb.” Sambung utsman menutup persentasi rengunya.
Seketika itu se-isi aula itu terdiam dan serentak bertepuk tangan dari jawaban yang luar biasa dari regu tiga sahabat itu, dewan juri, panitia penyeleksi (dewan Pengurus) terheran mendengar pernyataan mengenai hal itu, diluar dugaan mereka, bahwa kerja sama team pemikiran yang logis dari regu tiga sahabat itu menakjubkan. Semua regu telah mempersentasikan hasil diskusinya seiringan dengan itu mentari pun bergerak semakin dalam keararh barat menandakan waktu semakin sore, ujian tahap ke-II penyeleksian calon peserta olimpiade tersebut selesai di laksanakan, semua santri pondok pesantren DarFu (Daarul Furqon) mempersiapkan giat pribadi untuk menyambut 3 rakaat dikala mega merah bertabur dilangit pesantren itu (waktu shalat maghrib) dan melanjutkan rutinitas pengajian di pesantren itu sebagaiman mestinya pada hari-hari biasa.
bersambung...

Post a Comment
0 Comments