out life
Kekuatan Spiritual episode 3
Ba’da dzhur pada hari ke-8 prakeberangkatan dimana hari pengumuman hasil penyeleksian pekan lalu pesantren Darfu (Daarul Furqon), hasil tersebut di tempel di mading pondok serentak semua santri berbondong-bondong untuk melihat hasilnya, namun berbeda dengan Ali yang terlihat tidak yakin akan dirinya bisa terpilih, ia memilih duduk, dan pasrah, pikirnya meskipun ia tidak melihat hasil itu, jika Allah berkehendak memilihnya maka akan tahu dengan sendirinnya tanpa repot-rept berdesak-desakan melihat hasil itu.
“Ali lihat pengumumannya yuk?” ajak Utsman
“anta aja yang deh yang lihat, ana disini aja, lagian ana udah pesimis lihatnya !” sahut Ali dengan nada sedih
“waduh emangnya anta kenapa pesimis gitu? Semangat dong Ali!” timbal Utsman memberikan dorongan,
“yah bagaimana nggak pesimis, dites kemarin pada tahap pertama ana setengah soal aja nggak diisi, di tahap kedua apalagi diskusi ana jadi malah pendengar setia, nggak ada yang bisa di harapkan, beda dengan anta, anta berperan aktif dalam diskusi itu, ana yakin anta pasti bisa berangkat !” jelas Ali sambil menggambarkan kondisinya,
“nggak gitu Ali, kita semua memiliki potensi berbeda-beda, semua bergerak pada bidang masing-masing, jika tahun ini nggak bisa berangkat, berusaha untuk tahun depannya, kegagalan hari ini jadikan kesuksesan nanti, jatuh sekali bangkit dua kali!” tanggapan Utsman,
“nah keren tuh, yah makanya sekarang mah ana sadar diri dulu aja deh, lain waktu ana persiapkan dengan baik” jawab Ali, menghibur diri,
Namun disaat mereka berbincang-bincang, dari kejauhan Umar berlari menghapiri mereka berdua dengan wajah gembira menghamiri mereka, setibanya Umar bergabung dengan Ali dan Utsman Ia langsung memeluk keduanya,
“Hoi hoi hoi, ada apa ini tiba-tiba meluk kita ?” tanya Utsman dengan nada heran
“Alhamdulillah, kita bertiga terpilih sebagai perwakilah Pondok sekaligus perwakilah indonesia untuk olimpiade nanti, dan nanti kita di berangkatkan untuk mengikuti karantina di Jakarta !” jawab Umar dengan wajah senang
“serius anta ?” Tanya Ali tidak percaya,
“Wallahi, ana berkata jujur!” jawab Umar
“Barakallah, Alhamdulillah” sambung Ali sambil melaksanakan sujud syukur
“Alhamdulillah, coba kita lihat yuk!” Ajak Utsman
Mereka bergegas pelihat pengumaman tersebut, sesampainya disana rekan santri yang lainya saling memberikan semangat dan ucapan selamat dan berjabat tangan kepada tiga sahabat itu.
***
Setiap jam, setiap detik, bumi berotasi menyebabkan pergantiannya hari setiap 24 Jam dalam sehari, hingga tinggal tersedia 3 hari sebelum keberangkatan mereka ke negeri piramid tersebut, hari yang telah berlalu tidaklah mereka sia-siakan melainkan mereka manfaatkan untuk belajar dan berlatih guna menampilkan hal terbaik untuk pangkuan ibu pertiwi di olimpiadi nanti, mereka mengikuti karantina di pusat ibu kota tepatnya di gedung direktorat kementrian Agama Republik Indonesia bersama dengan peserta yang berasal dari dua pondok pesantren lainnya yang di tunjuk untuk mewakili Indonesia, dalam hal ini setiap pondok di bagi menjadi tiga devisi mengenai beberapa kategori dalam olimpiade tersebut, tiga devisi itu diantaranya:
Devisi debat
Devisi MHQ (Musabaqoh Hitmil Qur’an) tingkat 30 juz
Devisi MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an)
Dalam hal ini tiga sahabat ponpes Darfu (Daarul Furqon) mengikuti devisi debat, sesuai dengan apa yang mereka persiapkan sebelumnya, karantina ini mengajarkan banyak pelajaran, pengalaman, serta hal baru untuk mereka, terlebih dalam berbahasa arab, mereka sudah hampir mahir dalam penggunaan dan pengucapan bahasa arab sebab di sisa hari sebelum keberangkatan mereka berlatih terus dalam penggunaan bahasa arab mereka. Satu hari sebelum keberangkatan sebelum keberengkatan semua peserta duta Indonesia mengemasi apa saja yang mereka butuhkan untuk di kairo nanti, malam sebelum esok pagi mereka berangkat dilakukannya kegiatan geladi bersih praolimpiade, dengan semangat dan keyakinan menampilkan potensi terbaik mereka.
Ketika jam dinding menujukkan pada angka 03.00 dinihari seperti rutinitas yang dilakukan seorang yang bernama Ali terbangun dari tidurnya, Ali membangunkan kedua rekannya untuk melaksanakan shalat malam untuk bermunajat kepada Allah agar keberangkatannya Allah berikan keberkahan,
“Umar, Utsman, bangun yuk kita minta kepada Allah kita berdoa malam ini agar kegiatan yang besok kita lakukan Allah berikan keberkahan dan kemudahan”, pinta Ali.
“Jam berapa sekarang?” tanya Umar
“jam 03.00 waktu yang tepat untuk bermunajat kepada Allah!” jawab Ali
“ya sudah yuk kita shalat” Utsman menanggapi permintaan Ali
Mereka bergegas melaksanakan shalat malam, dengan khusu mereka laksakan shalat yang di pimpin oleh Utsman, setelah dua kali salam mereka ucapkan mereka panjatkan doa dengan dipimpin Ali dengan di aminkan Umaar dan Utsman,
“ya rabb, sesungguhnya kekuasaan ada pada-Mu, sesungguhnya kemudahan ada pada-Mu, sesungguhnya kemenangan ada pada-Mu, sesungguhnya keberkahan ada pada-Mu, hari ini, detik ini, kami meminta petolongan-Mu, kami meminta bantuan-Mu, tiada daya dan upaya yang dapat kami perbuat tanpa upaya-Mu, kamu bawa nama bangsa ini pada pundak kami, kami bawa harapan bangsa ini pada kami, dengan rahmat-Mu, kami memohon jadikan kami yang terbaik dari yang terbaik, kami berharap atas apa yang Engkau rencakan Engkau takdirkan adalah yang terbaik untuk kami, Engkau Maha mengetahui dari apa yang tidak kami ketahu, Allahumma sahlaa illa ma’jaaltahu sahla wa’anta taj’alil hazna idza si,ta sahla, aamiiin” ucapan doa yang Ali panjatkan
“aamiiiin, Allahumma aamiiiin, Barakallahu fi taqaballahu” jawab Utsman
“aamiiiiin” sambung Umar,
Karena Umar dan Utsman tidak terbiasa shalat malam, setelah shalat mereka melanjutkan tidur mereka, sementara Ali terus berdzikir, mengucapkan Asma Allah, membaca shalawat, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga menjelang waktu subuh, kumandang adzan yang merdu menghiasi indahnya pagi nan sejahtra yang di lantunkan lelaki yang bernama Akbar (peserta MTQ) diiringin suara sandal Umar dan Utsman menuju masjid, sementara deras air keran yang membasahi wajah pak kiyai Muhamad, semua berkumpul membentuk saf barisan shalat yang di di pimpin kiyai Muhamad.
pukul 09.00 pagi ketika semua peserta, pendamping, crew, duta indonesia siap untuk lepas landas dengan jadwal penerbangan Indonesia-Mesir dengan 30 menit sebelum terbang Ali tidak bersama dengan mereka, semuanya sudah siap berada dalam peswat dengan nomer penerbangan MJ0891 tujuan Indonesia-Mesir yang sebentar lagi akan lepas landas Ali tidak bersama mereka, akhirnya mereka berangkat tanpa Ali, meski diperbolehkan dalam peraturan debat regu yang anggota kurang di perkenankan mengikuti tetapi pengurangan nilai 100 poin/peserta, dengan berat hati Umar, Utsman dan pak Kiyai Muhamad meninggalkan Ali.
Flash back
Pagi itu ketika waktu menunjukan israq (matahari naik di pukul 06.30) pak Kiyai Muhamad mendapatkan telpon dari pak Muslim (ayah kandung Ali) bahwa ibunda Ali masuk kerumah sakit dan akan di operasi pukul 09.00, sebelumnya pak Muslim tidak berniat memberi tahu Ali mengenai perihal tersebut, namun mengenai pernyataan dokter tentang penyakit Umi salamah (Ibunda Ali) sudah sangat parah, dengan pernyataan antara gagal dan berhasil dalam operasi tersebut, mendengar kabar demikian sebagai anak yang berbakti kepada orang tua Ali memutuskan untuk berada disamping ibunya, hal ini lebih penting ketimbang olimpiade yang Ia impikan sejak lama.
***
bersamaan dengan dilakukannya operasi Umi Salamah (ibunda Ali), sebagai seorang yang memiliki spiritual yang tinggi Ali mengadukan hal ini kepada Allah dengan melaksanakan shalat duha 12 rakaat, kemudian ia panjatkan doa,
“Ya Allah, jika memang ini jalan yang Engkau gariskan untuk saya, jalan yang terbaik untuk saya demi ibuku demi ridho-Mu saya ikhlas, namun berikan kemudahan untuk teman-teman hamba disana, berikan rahmat Mu yang begitu besar, hamba memohon ampunan untuk ibu hamba, jika ini untuk menebus dosanya maka ampunilah ya rob, jika ini ujian untuknya maka berilah kesabaran dan angkat derajat ibu hamba angkat penyakitnya ibu hamba, sesungguhnya engkau bisa jadikan malam kemudian engkau jadikan siang kembali, Engkau bisa menjadikan yang hidup kemudian mati, dan yang mati kemudian hidup, mudah bagi mu, maka sembuhkan ibu hamba dan antarkan hamba ke olimpiade itu sangat mudah bagi-Mu, hamba mohon ya robb, kabulkan lah, ku serahkan semuanya pada Mu, aamiiiin,” Doa Ali dengan air mata yang membasahi dia punya sajadah. Selepas Ali menemui Allah ia kembali keruang tunggu tempat dimana ibunya di operasi di deretan kursi depan ruang tersebut ayah Ali dengan di temani sanak saudara Ali dengan memanjatkan doa sambil ayah Ali menundukkan kepalnya, kemudian terdengar suara pintu terbuka dari ruang operasi itu,
“ Keluarga bapak Muslim?” panggil dokter
“saya dok, bagaimana dok keadaan isteri saya?” tanya pak Muslim dengan penuh pengharapkan akan keberhasilan operasi tersebut
“Alhamdulillah opersi berjalan lancar, namun saat ini pasien masih koma, kita berdoa semoga Allah berikan yang terbaik untuk kita semua!” jelas dokter
Mendengar perkataan dokter Ali bergegas memasuki ruang tempat ibunya berbaring, meliihat kondisi itu Ali meneteskan air matanya.Duta Indonesia telah tiba di negeri piramid, dengan persaan sedih terasa arti sebuah kehilangan, yang seharusnya mereka berbahagia dan bersemangat kala itu kini terasa berkurang rasa semangat itu, bagaimana tidak mereka bertiga memimpikan akan bisa berjaya dan menggali terus ilmu dan prestasi bersama-sama hingga sukses bersama-sama dan menjadi ujung tombak negeri tercinta ini terasa kurang ketika sahaabat mereka tidak berada di samping mereka,
“semua yang terjadi sudah kehendak Allah le, ojo sedih semuanya telah Allah tetapkan, yang penting kita harus sama-sama mendoakan yang terbaik buat Ali, betapa bahagianya Ali ketika mendengar kalian bisa membawa prestasi disini, tetap semangat semua ini pasti yang terbaik” ucap pak Kiyai Muhamad
“iyah pak, kiyai” jawab Umar, dan Utsman
Mereka berangkat menuju penginapan yang telah di persiapkan crew untuk beristirahat, sesampainnya di penginapan mereka mendapatkan informasi bahwa olimpiade untuk debat diadakan keesokan harinya, padahal pada pada saat TM (technical meeting) devisi ini diadakan ba’da isya waktu setempat.
Ba’da isya Ali mendapingi ibundanya, ia membacakan ayat-ayat Al-Quran disamping kanan tepat ibunya berbaring, dengan mukjizat Al-Qur’an ibunda Ali yang sedang koma akhirnya terbangun, melihat hal tersebut Ali berbegas memanggil ayahnya yang sedang duduk di tunggu didepan kamar tersebut,
“loh, Ali bukannya kamu hari ini harusnya berada di Mesir?” tanya ibunda Ali
“nggak bu, yang terpinting buat Ali adalah ibu, apapun keadaan Ali, ketika ibu yang harus Ali temui, Ali akan berbakti pada ibu lebih dari apapun!” jawab Ali
“subhanallah nak, maafkan ibu nak, gara-gara ibu, kamu harus rela mengorbankan salah satu impian terbesar kamu !” ucap ibunda Ali
“nggak bu, ibu ngga salah, semuanya sudah Allah gariskan untuk kita, ibu ngga salah bu !” jawab Ali sambil mencium tangan Ibundanya. Tiba-tiba suara telpon pak Muslim berbunyi
“Ali ini dari pak kiyai Muhamad” panggil Pak Muslim
“halo Assalamu’alaikum pak kiyai?” jawab Ali
“halo, Ali, waalaikumsalam, gimana keadaan ibu kamu Ali?” tanya pak kiyai Muhamad
“Alhamdulillah sudah baikan pak, bagaimana kaedaan disana pak kiyai?” tanya Ali kembali
“Alhamdulillah baik Li, devisi debat tampil besok sore Li, mohon doanya yah li” jawab pak Kiyai Muhamad,
“Barakallah, iyah pak kiyai Ali selalu doakan untuk pak kiyai dan yang lainnya semoga dapatkan hasil yang terbaik” sahut Ali
“aamiiiin, aamiiiin, tetap semangat Ali, saya yakin kamu pasti sukses pula!” ucap pak kiyai sambil memberi motivasi
“Allahumma aamiiiin,” jawab Ali
“ya sudah Ali, saya sudahi yah pembicaraannya, Assalamualaikum” tutup pak kiyai
“iyah iyah pak kiyai, waalaikumsalam” jawab Ali.
Di dua prtiga malam (waktu makan sahur) Ali terbangun seperti biasanya rutinitas yang ia lakukan yaitu melaksanakan shalat malam, ia berjalan menuju masjid rumah sakit tempat ia menginap, selepas ia melaksanakan shalat ia panjatkan doa kepada Allah SWT,
“ya Allah, sekiranya saya bisa bergabung dengan mereka, pasti saya orang yang sangat bahagia pada hari ini, karena engkau telah berikan nikmat yang begitu besar buat hamba, kau telah berikan kesembuhan kepada ibu hamba, namun bila engaku kirimkan hamba pada mereka agar bisa mengikuti olimpiade itu, maka saya adalah orang yang sangat bahagia pada hari ini, bagi Mu sangat mudah untuk mengirimkan hamba kesana, namun memang jika ini adalah yang terbaik untuk hamba maka bantu sahabat hamba agar bisa mengibarkan merah putih dengan prestasi, hal seperti ini mudah bagi Mu, aamiiiin” ucap Ali sambil mengangkat kedua tangannya, bersamaan dengan hal ini di waktu dua pertiga malam waktu kairo Umar, dan Utsman melaksanakan shalat malam dan mendoakan Ali agar bisa bergabung kembali bersama mereka untuk olimpiade tersebut dan mereka selipkan doa untuk kesembuhan ibunda Ali.
Kedu duta indonesia devisi MTQ dan MHQ, tampil sangat baik tinggal devisi debat yang hendak dimulai 30 menit kedepan, semua peserta perwakilan negara-negara menyiapkan regu mereka masing-masing, terlihat di monitor Indonesia menempati urutan terakhir karena sudah terpampang nilai -100 karena regu mereka tidak lengkap, dalam hal ini tidak membuat perasaan dan semangat Umar dan Utsman kecil,
“ayok Umar, sekarang dunia melihat kita dibawah, sebentar lagi kita lah yang berada dia atas mereka, Bismillah” ucapan penyemangat Utsman
“iyh bismillah” jawab Umar, semua crew dan pendamping dari masing-masing negara memenuhi tribun ruangan perlombaan devisi debat, memang dalam devisi ini selalu menjadi ajang paling bergengsi yang di tunggu-tunggu semua orang, semua penonto, peserta setiap nagara di kejutkan ketika nama Indonesia angka -100 itu hilang, pintu ruang perlombaan devisi debat, kemudia terdengar suara yang tidak asing bagi Umar dan Utsman,
“maaf saya terlambat, maaf membuat kalian khawatir, sekarang saya bersama kalian, Allah lah yang mengirim saya kesini, mari kita berlomba, mari tampilkan yang terbaik, untuk Indonesia kita !” ucap Ali sambil berjalan mendekati Umar dan Utsman
“Ali, Alhamdulillah” jawab serentak Umar dan Utsman sambil menghampiri dan memeluk Ali,
“Ali ko bisa ?, bagaimana ceritanya?” Tanya Umar
“nanti ceritanya sekarang mari kita berlomba!” ucap Ali
Se-isi ruangan terharu melihat tiga sahabat berpelukan seoalah beban yang mereka rasakan telah lepas terlebih duta Indonesia, air mata pak Kiayai Muhamad menetes ketika melihat Ali datang pada waktu yang sangat tepat.
bersambung...

Post a Comment
0 Comments