Flash back 
Saat pagi menjelang setelah melaksanakan shalat sunah israq Ali berjalan ke warung nasi dekat rumah sakit ibunya dirawat, ketika ia hendak memesan nasi ada seorang pri rapih dengan dasi melingkar dilehernya mendekatinya, pemuda itu bertanya kepadanya
“loh Ali nggak berangkat?” tanya pemuda itu
“Masya Allah bapak, bapak ngapain ada disini, ibu saya baru dioprasi pak, kemarin kondisi ibu saya koma, dan saya harus memutuskan pilihan saya untuk tetap berada disamping ibu saya, meskipun saya harus merelakan impian saya pak, demi ibu saya, saya ikhlas kan pak?” jelas Ali,
“kebetulan saya lewat sini, saya mau kebandara mau membatalkan tiket keberangkatan saya ini, karena ada rapat para Mentri nanti sore, dan pak Jendral meugaskan saya untuk menghadirinya lantaran beliau ingin melihat devisi kalian tampil nanti, Masya Allah, masih ada harapan buat kamu berangkat ko, waktunya kan nanti sore pelaksanaannya devisi kamu!” tanggapan pria itu
“iyah pak, tapi saya nggak tahu caranya berangkat kesananya?” ucap Ali
“sekarang kamu tahu cara untuk berangkatnya, Allah telah menjawab harapan kamu, yasudah tiket ini saya kasihkan kekamu untuk berangkat sekarang juga, pak Jendral telah menunngu di Bandara, kita berbegas saat ini juga kita berangkat” pinta pria itu
“Allahu Akbar, saya mesti izin ke ibu dan ayah saya pak, jika mereka meridhoi saya maka saya akan berangkat!” pinta Ali
“yah itu pasti, yuk saya juga mau bertemu kedua orang tua kamu” jawab pri itu, Ali bergegas menemui kedua orang tuanya untuk dengan di dampingi pria itu (asisten Jendral mentri Agama Republik Indonesia), sesampainya di kamar tempat ibunya di rawat Ali dan pria itu mencertikan perihal keberangatan tersebut kepada kedua orang tua nya
“Ibu selalu mengizinkan untuk Ali, anak ibu yang ibu sayang, berangkatlah nak, ibu selalu doakan yang terbaik, bawa nama  baik bangsa ini nak, Indonesia membutuhkan pemuda seperti Ali, Umar, dan Utsman, temui mereka, bantu mereka disana nak!” nasihat Umi Salamah kepada Ali 
“subhanallah, memang olimpiade itu rezeki kamu nak, ya sudah berangkat, doa kami menyertaimu nak, biar ibu mu ayah yang jaga disini !” ucap Pak Muslim“Alhamdulillah, terima kasih pak, bu kalo begitu Ali pergi dlu” sambil mencium kedua tangan ayah dan ibunya Ali berangkat bersama pria itu menuju bandara dan lepas landas saat itu juga.
Beginilah Allah mengatur hambanya yang memiliki SQ yang sangat tinggi, jarak antara Mesir dan Indonesia yang begitu jauh, bagi Allah buka menjadi halangan, bagaimana Allah menguji seorang Ali yang harus melepas dia punya impian, Allah uji Umar dan Utsman yang harus berjuang tanpa Ali, semuanya itu hanya ujian semata lantaran Allah sudah berjanji ketika seorang hamba datang pada-Nya akan sesuatu perkara pasti Allah berikan perkara itu dan bahkan Allah datang pada hamba-Nya lebih dekat, Allah sembuhkan ibunda Ali dan mengantarkan di bisa datang tepat waktu pada olimpiade devisi debat yang dalam hal ini secara pemikiran manusia hal yang mustahil, tapi mudah bagi rencana Allah ini, Allah beri pertolongan pada Ali, karena Allah sangat sayang pada Ali, Umar, serta Utsman lantaran impian yang mereka panjatkan ketika doanya, tepat pada waktunya Allah datangkan Ali untuk mengikuti oimpiade itu.
Babak pertama di devisi debat group F, indonesia berhasil menjadi runner up group yang di pastikan lolos ke babak perempat final bertemu dengan Libanon, dalam perempat final ini kasus atau tema untuk debat antara Indonesi melawan Maroko mengenai antara ham dan syariat, dalam hal ini pemikiran tajam Umar di padukan dengan dalil syariat Ali mengenai hukum Qisas membuat juri terpaku karena luar biasanya pengusaan bahasa mereka, dengan di pandu dengan pemimpin regu yang berwibawa serta berakarisma tinggi membuat keren penampilan mereka di babak perempat final, alhasil mereka di pastikan lolos ke semi final bertemu dengan tuan rumah. Babak semi final kasus permasalahan debat antara Indonesia melawan Mesir, tema atau pokok permasalahan dalam debat ini mengenai takdir Allah yang diberikan kepada makhluk Allah pada zaman azali, debat sengit antara Indonesia melawan Mesir yang membuat seisi ruangan terkagum ketika pernyataan pembicara kedua Mesir dibantah telak Umar, “ jika Antum beranggapan bahwa yang terjadi di dunia ini semua kehendak Allah, bagaimana dengan orang Kafir yang tidak mendapatkan nur, mereka itu sudah Allah takdirkan, gambarkan ke adilan Allah disini, pendapat kami mengenai hal tersebut adalah Allah akan menakdirkan kepada hamba-Nya ketika mereka mau berubah, bukan di takdirkan diawal sebelum mereka merubahnya silahkan” ucap pembicara kedua Mesir
“tanggapan kalian memang bagus, tapi ketahuilah kenapa Allah berkehendak menjadikan mereka kafir tetap kafir lantaran Allah pernah menegur dan menurunkan adzab kepada umat-umat terdahulu, apakah mereka tidak mengetahuinya? Jawabnya mereka tentu mengetahuinya, kemudian mengenai orang yang mau berubah baru Allah merubahnya sejatinya Allah telah berkehendak yang menggerakan hatinya untuk berubah, logika sederhanya seorang pengarang cerpen telah menentukan tokoh-tokoh baik, dan tokoh-tokoh jahat dalam cerita yang ia buat, adapun ketika tokoh jahat itu berubah dengan berbuat baik, sejatinya mereka di gerakan oleh pengarang cerpen tersebut, apakah dalam kasus ini antum masih mempertanyakan ke Maha Adilan-Nya Allah” jawab Umar dengan tegas, mendengar pernyataan ini, Indonesia berhasil mencuri poin dan di pastikan lolos ke Final bertemu dengan Malaysia.
Malam itu tepat sebelum perlaksanaan final seperti biasanya Ali membuka matanya dan bergerak membangunkan kedua temannya untuk melaksanakan shalat malam, waktu menunjukkan tepat di angka 03.00 waktu setempat, mereka menggelar sajadah dengan di imami Ali, setelah mereka melaksanakan shalat malam Ali mempin dzikir dan munajat kepada Allah, mereka lantunkan bersama ayat-ayat Al-Qura’an yang telah mereka hafalkan kemudian di ujung waktu hampir mendekati watu imsak Ali mempin doa“Ya Allah, dengan nama-Mu lah kami bisa berada disini, dengan kehendak-Mu lah Engkau kumpulkan kami disini merangkai sebuah harapan, kami bawa nama bangsa ini dipindak kami Engkau Maha mempermudah segala urusan, tinggal selangkah lagi kami akan kibarkan bendera merah putih tercinta dengan sebuah prestasi mengharumkan bangsa, ku serahkan semuanya kepada-Mu yang Maha memeiliki segalanya, robbana ya Allah atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah wakina ‘adza bannar, aamiiiin” ucapa Ali
“Allahumma aamiiiin” sahut Umar
“aamiiiin” timbal Utsman
Setelah mereka lakukan dua rakaat waktu dimana sebelum matahari terbit (subuh) mereka bertiga menemui sang kiayai Muhamad, mereka meminta doa dan harapan agar final sore nanti diberi kemudahan, kemudian pak kiyai Muhamad menyampaikan beberapa patuah, sambil duduk membentuk lingkaran mereka tukar pikiran dengan pak kiyai Muhamad
“apakah kalian tahu kunci sukses itu seperti apa?”
“orang yang memiliki kerja keras, kecerdasan tinggi, dan ketekunan pak kiyai,” jawab Umar
“dialah orang yang bisa berkomunikasi dengan baik, menyambung relasi, menyambung hubungan, dan bekerja sama dengan banyak orang,” pendapat Utsman
“orang yang sukses adalah orang yang mengedepankan urusan Allah, ketimbang urusan yang lain, berbakti pada orang tua,” pendapat Ali
“semua jawaban kalian benar, Umar menjawab demikian saya melihat potensi didiri Umar dengan intelektual yang tinggi, perlu diketahui Umar, intelektual tinggi Cuma mengantarkan kamu kepada kesuksesan hanya 20% saja” terang pak kiyai“lalu bagaimana untuk saya bisa melebihi itu pak kiyai?” tanya Umar
“dari poin yang saya tangkap dari Utsman, potensimu jauh lebih besar mendapatkan kesuksesan melainkan orang yang memiliki potensi kecerdasan emosional dalam hal ini orang tersebut pandai berkomunikasi, pandai membuat relasi, memimpin yang baik, katakan berorganisasi dengan baik, bisa mengantarkan pada kesuksesan 50%, nah untuk menjawab pertanyaan Umar, orang yang memiliki intelektual yang tinggi harus bisa bekerja sama, tidak akan bisa bila orang seperti ini melakukan hal sendiri meski cenderung orang yang memiliki intelektual yang tinggi bekerja dengan sendiri.” Jawab pak kiyai Muhamad
“berarti saya mesti memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata agar bisa mencapai kesuksesan 70% kah pak kiyai?” tanya Utsman 
“ saya akan tanggapi pendapat Ali, yah, orang yang memiliki spiritual yang tinggi akan mengantarkannya pada kesuksesan dengan terbang dengan persentasi 100% atau bahkan lebih karena dalam konnteks ini Allah yang langsung turun tangan, mendengar cerita Ali kemrin ketika ia sudah tidak dipastikan tidak ikut untuk kegiatan ini, namun kita sebagai manusia berpikir hal tersebut mustahil, nggak akan mungkin jarak Indonesia ke Mesir sangat jauh, tapi  dekat bagi Allah, siapa yang mengantarkan Ali kesini Allah kan? Apa yang dilakukan Ali hingga bisa berkumpul bersama kita disini, dia melakukan shalat malam dengan rutin, Ali meminta ketika Allah memang pada waktu seperti itu turun dan mengabulkan semua doa siapa saja yang berdoa, bukan Cuma itu, Allah sembuhkan ibunya Ali, dan subhanallah kita berangkat kemarin pakai pesawat kelas ekonomi kan, tapi Ali bisa sampai kesini dengan pesawat orang-orang kelas tinggi, dengan fasilitas mewah dan sebagainya, sudah berapa kelebihan yang ia dapatkan ketimbang kita kemarin, ini yang saya katakan dibuat terbang menggapainya, makanya kami pilih Ali padahal nilai hasil seleksi kemarin bisa dikatakan belum cukup, tapi Ali setiap malam berdoa melakukan shalat malam, pas waktu Ali berdoa saya mendengar doanya ia ingin jadi peserta dan Allah kabulkan doanya yang memang seleksi tahap tiga itu menguji tingkat spiritual, bukan Cuma itu, kalian tahukan setiap lima waktu Ali selalu tepat bahkan 15 menit sebelum adzan ia udah siap di dalam masjid, kesimupulannya, kalia bertiga memiliki potensi tinggi IQ untuk Umar, SQ untuk Ali, dan EQ untuk Utsman, untuk kali final ini kalian gabungkan potensi kamu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan nanti,” terang pak kiyai Muhamad. Mereka bertiga mendengarkan intruksi yang di berikan oleh pak kiyai Muhamad, Utsman pun menyusun rencana untuk mendaptkan poin banyak di babak final nanti, babak final ini sedikit berbeda dari babak sebelumnya dimana ada rebutan soal dengan beberapa pertanyaan, dalam babak ini ½ total nilai keseluruhan di ambil di babak rebutan.Seisi ruang Auditorium universitas Al-Azhar di penuhi ribuan penonton menyaksikan babak final olimpiade yang di lakukan di setiap tahunnya yang diikuti semua negara-negara di seluruh dunia, babak final ini mempertemukan dua negara serumpun berasal dari Asi, khusunya Asia tenggara, Indonesia melawan Malaysia, gemuruh ruang perlombaan dari suara penonton khususnya kedua suporter negara yang memasuki final, kedua regu duta negara Indonesia yang di wakili Utsman (ketua regu), Umar (pembicara 2), dan Ali (pembicara 3) memasuki ruangan menuju podium regunya dengan memakai baju batik khas Indonesia dan pin garuda di sebelah kanan peci mereka dengan gagah dan wibawa mereka berdiri diatas podium regu sambil melambaikan tangan ke arah suporter garuda, disusul duta Malaysia memasuki ruangan perlombaan yang dalam hal ini diwakili oleh Muhamad ikhsan (ketua regu), Ijat (pembicara 2), dan safi (pembicara 3), sebelum memulai pertandingan kedua negara menyanyikan lagu kebangsaan masing-masing negara. Pemandu acara membacakan peraturan dan poin-poin penting dalam pertandingan.
Pertanyaan pertama untuk indonesia “ mengapa orang islam diharuskan sedekah, sebutkan dalil dan berikan hikmah dibaliknya” juri satu membacakan pertanyaan pertama
Ali dengan tangkas langsung membacakan semua dalil tentang hal tersebut, lalu Umar menyempurnkan jawaban Ali,
“ Rasulullah di utus Allah sebagai Rahmatan Lil’alamiin, mengapa demikian karena Rasulullah SAW, mengetahui bagaimana pentingnya sedekah bagi umat, mengapa logika sederhananya jelas, ketika kita makan pisang dengan kulit-kuliny apa terasa nikmat? Lalu ketika kita menyembelih ayam kemudian memasaknya apakah nikmat jika bulunya ikut di makan ? tentu tidak, lalu bagaimana jika seseorang didunia katakan saya, kami, dan kita semua sekarang ini makan dan minum tanpa Allah kasih buang air besar, apa yang akan terjadi? Pasti kita membuncit, nah dalam konteks seperti ini Rasulullah mengajarkan untuk bersedekah karena di setiap rezeki yang Allah beri kepada kita ada hak orang lain yang mesti kita keluarkan, seperti halnya kulit pisang yang kita buang adalah rezeki untuk di urai oleh dekomposer yang juga makhluk Allah, jadi begitu lah pentingnya sedekah untuk kita, begitu lah pemaparan kami terimaksih” pemaparan Umar, serentak suporter garuda bertepuk tangan dan bergemuruh ketika mendengar pernyataan itu, kemudian pertama dibacakan untuk Malaysia. Babak demi babak telah mereka lalui Malaysia memimpin 5 poin, tinggal tersisa satu babak penentuan juara olimpiade kali ini yaitu babak rebutan.
Pemandu acara membacakan peraturan perlombaan babak terakhir ini menandakan akan dimualinya babak penentu juara olimpiade,
“setiap kelompok di perkenankan menjawab setiap pertanyaan, bagi peserta yang menekan bel tetapi tidak menjawab maka pertanyaan tidak dapat dilempar dan dinyatakan hangus, kemudian beralih kepertanyaan berikut, setiap pertanyaan yang jawabannya sempurna mendapat nilai 100, nilai ditentukan oleh juri, semakin sempurna jawaban yang dipaparkan, maka semakin tinggi poin yang didapat, dalam hal kekompakan tim di nilai dari cara mereka berinteraksi satu sama lainnya ” ujar  pemandu acara.Flash back
30 menit sebelum babak final dimulai, Utsman memberikan strategi untuk menguasai babak rebutan,
“ ketika babak rebutan nanti, yang bertugas menekan bel adalah Ali” ucap Utsman
“loh, ana nggak begitu menguasai materi ketimbang kalian” bantah Ali
“tenang, kami ada di belakang anta, ketika anta tekan tombol langsung tengok kebelakang dan salah satu dari kami pasti mengangkat tangan, mengingat anta memiliki reflek tangan yang cepat” tanggap Utsman
“ana siap ketika anta tekan bel, dan bahkan ketika juri membacakan soal begitu ana langsung faham ana beri anta isyarat, “batuk” satu kali,” jawab Umar sambil memberi usul
“oke deh siap, serahkan sama ana !” sambung Ali.
***
“Pertnyaan pertama, sebutkan sepenggal ayat dalam Al-Qur’an mengenai tentang huznuzoh?” pertanyaan pertama di bacakan juri I, seketika bel berbunyi dari podium indonesia,
“ surat Al-Hujuat Ayat:12 yang berbunya hai orang-orang yang beriman, jauhilah persangka (buruk), karena sebagian dari kamu dari prasangka itu dosa” jawab Ali
“yah benar,” jawab juri I, juri II memberi nilai pada indonesia 100 poin,
“Pertanyaan kedua, sebutkan satu hadis imam muslim tentang prilaku istirja pada zaman rasulullah” pertanyaan kedua di bacakan juri I, kemudian bel podium Malaysia berbunyi
“di riwayatkan dari Ummu Salamah, tiada seroang muslim yang ditimpah musibah (masalah) kemudian mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun,(sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang kembali pada-Nya). Ya Allah, berilah pahala untukku dalam musibahku (masalahku) dan berikanlah ganti yang lebih baik darinya”, kecuali Allah akan memberikan ganti kepada-Nya dengan yang lebih baik darinya, (Hr. Imam Muslim)” jawab ijat.“yah jawabannya tepat, 100 untuk Malaysia” ucap juri I. Pertanyaan demi pertanyaan telah diucapkan sudah dua pertanyaan yang di hanguskan Indonesia, selisih poin tidak berubah Malaysia tetap memimpin, tersisa dua pertanyaan lagi, 
“ pertanyaan ke-9, seorang atheis bertanya kepada seorang pemuda muslim tentang bagaimana bentuk Tuhan yang pemuda muslim sembah, lalu bagaimana jawaban seorang pemuda muslim itu?” pertanyaan ke-9 di bacakan juri I, kemudian bel podium Indonesia berbunyi, seketika itu Umar mengangkat tangannya dan menepuk pundak Ali,
“terimakasih telah menekan belnya, kini saatnya kita yang memimpin,” ucap Umar, 
“ayok tunjukkan pada dunia Indonesia yang sebenarnya” jawab Utsman
Umar bersiap-siap meberikan pemaparannya, lengan tangan Ali di rangkulkan di ke bahu Umar sebelah kiri, begitu pula Utsman yang merangkulkan lengan tangan ke bahu Umar sebelah kanan, dalam hal ini tergambar jelas bahwa mereka berjuang bukan Cuma sendiri tetapi mereka bayangkan seluruh harapan bangsa ada pada mereka, seluruh semangat, serta doa seluruh bangsa Indonesia ada bersama mereka, bukan Cuma pendukung yang ada di ruangan itu, tetapi seluruh bangsa Indonesia yang berada di penjuru dunia menyaksikan langsung melalui televisi, serentak keluarga Ali khususnya kedua orang tua Ali sedang menyaksikan mereka dengan penuh harapan, begitu juga keluarga Umar, serta Utsman di masing-masing daerah tengah menyaksikan acara ini, sahabat-sahabat santri, rekan-rekan dewan penguruh pondok, semuanya menyaksikan akan pemaparan jawaban Umar sebagai penentu poin terakhir Indonesia, Umar segera melotarkan pemaparannya, Ali menundukkan kepala sambil berdoa, Utsaman memberi semngat kepada Umar agar tetap tenang dalam berpikir, tenggambar seperti tiga cahaya yang bersatu, tiga potensi yang bergabung menjadi satu, ini lah momen yang pak kiyai Muhamad prediksi, intruksi yang di berikan pak kiyai Muhamad pagi tadi akhirnya terjadi.

bersambung...