out life
Kekuatan Spiritual Episode 5
Seketika semua penoton terdiam, dan seisi ruangan terdiam, salah satu suporter Indonesia bertepuk tangan yang memprofokator keseluruhan penonton bertepuk tangan,
“sempurna, jawaban yang sangat mengagumkan, nilai 100 untuk Indonesia” ucap juri II
Tinggal satu pertanyaan tersisa dan kini Indonesia unggul 50 poin dari rivalnya Malaysia, penentu hasil akhir, Ali, Umar, dan Utsman, ketiga sahabat ini meletakkan tangan mereka diatas bel.“pertanyaan terakhir, surat pada Al-Quran yaitu surat Asy-Syura ayat 30, menjelaskan tentang apa” pertanyaan terakhir di bacakan juri I, bel pun berbunya di podium Indonesia, serentak pendukung indonesia bertepuk tangan, tiga sahabat ini bersamaan sujud syukur bertanda mereka mengakhiri babak ini dengan memimpin 50 poin, pertanyaan terakhir mereka sengaja hanguskan, tidak mereka jawab lantara mereka berpikir Malaysia adalah serumpun dengan Indonesia, mereka saling menjaga persaan satu sama lain, tidak menjatuhkan, tidak berusuhan meski dalam hal ini Malaysia menjadi musuh mereka, namun tetap dalam luar perlombaan ini mereka adalah teman,
“ beri tepuk tangan untuk kedua regu dari duta Indonesia dan duta Malaysia, pertandingan olimpiade devisi debat telah selesai dan di menangkan oleh Indonesia dengan selesih poin 50 diatas Malaysia, kami ucapkan selamat kepada kedua regu dari duta masing-masing negara, dan kepada bapak rektor Universitas Al-Azhar kairo, di perkenankan dengan segala hormat untuk memberi penghargaan dan memakaikan medali kepada peserta dari masing-masing regu dengan perincian medali emas untuk Indonesia sebagai juara ke-I, medali perak untuk Malaysia sebagai juara ke-II, dan medali perunggu untuk Mesir sebagai juara ke-III, sekali lagi kami ucapkan selamat kepada regu dari duta negara masing-masing.” Ucap pemandu acara beratanda selesai semua devisi telah selesai dilaksanakan. Umar, Utsman, Ali berdiri diatas panggung utama untuk menerima penghargaan dan medali dengan menyelempangkan bendera merah putih di badan Umar.
“berikutnya kita akan umumkan juara-juara di setiap devisi lainnya” ucap pemandu acara, dalam hal ini devisi MHQ, dan MTQ, indonesia mendapat medali perak di dua devisi ini, dengan perolehan total lima medali yang di dapat indonesia, tiga diantaranya medali emas, dan dua diantaranya medali perak,“berikut adalah juara Umum olimpiade tahun ini, dengan surat keputusan panitia olimpiade, no surat : 456/Olimpiade/2016, menimbang dan seterusnya, memperhatikan dan seterusnnya, memutuskan hasil juara umum olimpiade dengan total nilai 7.980 dengan no urut pendaftar G.0017. jatuh kepada Indonesiaaaaaaaa,” ucap pemandu acara. serentak semua suporter garuda, warga negara Indonesia yang berada di penjuru dunia, serta warga negara Indonesia yang berada di tanah air bergembira dengan hasil ini, para crew, pendamping, pembina, peserta dari duta Indonesia menggambarkan bertapa behagianya mereka, tiga sahabat ini serentak memluk pak kiyai Muhamad menandakan ucapan terima kasih atas semua yang di berikan pak kiyai Muhamad kepada tiga sahabat ini, semua rekan santri, dewan pengurus pondok, keluarga Ali khususnya ayah dan ibundanya yang menyaksikan siaran langsung di televisi ruangan ibunya dirawat, keluarga Umar, serta keluarga Utsman, terharu menyaksikan hal ini, duta indonesia di dari tiga devisi di persilahkan untuk menerima piagam penghargaan yang di tanda tangani mentri luar negeri Mesir, dan rektor Universitas Al-Azhar kairo, namun dalam hal ini semua sepakat yang menerima adalah ketiga sahabat itu, mereka bergegas menuju panggung utama, pemandu acara memberikan tiga sahabat ini sepatah dua patah sambutan mengenai perasaan mereka,
“Assalamu’alaikum, terutama terima kasih kepada Allah SWT dalam hal ini memberikan rahmatNya untuk kita bisa berdiri di panggung ini, terima kasih untuk crew, terima kasih buat pak Kiyai Muhamad, dewan pengurus, rekan santri, buat Umi buat Abi, terima kasih untuk semuanya, ini untuk Indonesia” Ucap Utsman
“dari saya, saya ucapkan terima kasih kepada Allah, saya ucapkan terimasih juga buat semuanya, kami bisa berdiri dsini bukan karena kerja pribadi kami sendiri, melainkan bersama kalian” ucap Umar“jika kalian tanya siapa orang yang paling bahagia pada hari ini ?, saya lah orang yang paling bahagia disini, karena sebelumnya mustahil saya bisa sampai kesini, sangat mustahil, jika bukan karena Allah maka apa yang terjadi pada hari ini tidak akan bisa seperti ini, ibu, terima kasih buat dukungan mu, buat doamu, ibu hari ini kau saksikan putra kecil mu dulu yang selalu membantah perintah mu, kali ini putra kecil mu dulu sudah bisa mandiri bu, jangan khawatirkan putra mu ini, kali ini Ali akan buktikan pada Ibu Ali bisa jadi apa yang ibu harapkan, terima kasih ibu ku” ucap Ali sambil menangis, ketika mendengar ucapan Ali, seisi ruanga terdiam dan pak kiyai Muhamad meneteskan air matanya melihat ketiga muridnya berhasil menggapai impiannya, begitu juga kedua orang tua Ali yang menyaksikan acara tersebut mereka meneteskan air mata melihat putranya bisa berdiri di panggung yang di saksikan jutaan mata di seluruh dunia, di terakhir acara sebelum upacara penutupan olimpiade tersebut di lakukan pengibaran bendera sang merah putih, dengan di iringi lagu kebangsaan Indonesia raya yang di saksikan jutaan warga negara indonesia berada di seluruh dunia dan di tanah air, pada saat itu terasa bahwa seluruh dunia mengakui bahwa Indonesia memiliki potensi sangat besar, potensi yang dapat mengharumkan nama ibu pertiwi, dunia mengakui betapa kerennya nuansa Indonesia dalam pengembangan wawasan anak bangsa dala berkarya, terasa bergemuruh lyrik lagu Indonesia raya dengan nada yang alunannya sangat menyentuh hati terasa keras dan berwibawa keseluruh dunia bahwa Indonesia bukanlah negara yang lemah.
Duta-duta Indonesia, dengan di temani crew, pembina, pendamping, berkeliling di negeri piramid sebelum menuju negeri tercinta. Sesampainya mereka di pangkuan ibu pertiwi disambut hangat oleh bangsa ini, banyak wartawan yang meliput akan hal itu, mereka di undang makan malam dengan pak presiden di istana Indonesia Jakarta, sebelum masing-masing dari mereka kembali ke pesantren tempat mereka belajar. Ucapan terima kasih negara kepada mereka adalah mereka di berikan beasiswa melanjutkan pelajarannya di universitas Al-Azhar kairo dengan Cuma-Cuma, disamping itu pondok pesantren tempat mereka belajar di berikan dana bantuan untuk pembangunan asrama pondok dan penambahan beberapa fasilitas pondok, ucapan terima kasih negara kepada anak-anak bangsa yang berprestasi sebelumnya kurang adanya tanggapan lantaran banyak anak-anak bangsa yang memiliki potensi untuk mengharumkan nama bangsa terbuang sia-sia, namun dalam hal ini mentri agama indonesia sangat memberikan apresiasi kepada anak-anak bangsa yang memiliki berbagai karya dan potensi untuk bisa bahu membahu menggenggam arah bangsa ini terutama di bidang keagamaan yang banyak potensi terpendam di lingkungan pondok untuk bisa berperan dalam pembangunan bangsa, mengingat sejarah Indonesia tentang pesantren yang di pimpin oleh Mbah kiyai Hasyim Asyari pendiri NU, bergerak bersama santrinya untuk melawan para penjajah untuk memerdekakan negeri ini, lantaran kita yakin bahwa santri memiliki kemampuan SQ yang minimal rata-rata atau bahkan banyak yang memiliki diatas rata-rata yang dalam hal ini bisa di jadikan batu loncatan menuju kesuksesan suatu bangsa dengan berlandas iman dan takwa.
***Siang itu suasana pondok yang memiliki khas, santri-santri membacakan nadzom imriti di aula pondok dengan di pimpin oleh Ali setelah selesai Ali memberikan sebuah kata motivasi sukses,
“IQ, setinggi-tingginya manusia memilikinya akan mengantarkan ia pada kesuksesan 20%, berkomunikasi dengan baik, membangun relasi, bekerja sama dengan akan akan mengantarkan mu pada kesuksesan hanya 50%, tapi, Spiritual lah, dengan kun fayakun lah, kita diajak terbang untuk mengarah kesuksesan itu dengan persentasi 100% bahkan lebih, kesimpulannya, temulah Allah ketika kita memasrahkan semua hajat dunia kita, maka Allah lah yang akan mengantarkannya pada hajat kita lebih baik dari pada yang kita harapkan, Allah is amazing” ucap Ali,
sementara Umar mengajar pengetahuan-pengetahuan umum di MTS Al-Ma’had Al-Furqon, ditengah-tengah pelajaran Umar memberi sebuah motivasi,
“IQ, setinggi-tingginya manusia memilikinya akan mengantarkan ia pada kesuksesan 20%, berkomunikasi dengan baik, membangun relasi, bekerja sama dengan akan akan mengantarkan mu pada kesuksesan hanya 50%, tapi, Spiritual lah, dengan kun fayakun lah, kita diajak terbang untuk mengarah kesuksesan itu dengan persentasi 100% bahkan lebih, kesimpulannya, temulah Allah ketika kita memasrahkan semua hajat dunia kita, maka Allah lah yang akan mengantarkannya pada hajat kita lebih baik dari pada yang kita harapkan, Allah is amazing” Ucap Umar.
kemudian Utsman sedang menyampaikan materi kepemimpinan dan training motivasi di Aula Ma Al-Ma’had Al-Furqon, di begian akhir acara ia menyampaikan sebuah motivasi yang telah mengantarkannya ke sebuah prestasi yang ia harapkan,
“IQ, setinggi-tingginya manusia memilikinya akan mengantarkan ia pada kesuksesan 20%, berkomunikasi dengan baik, membangun relasi, bekerja sama dengan akan akan mengantarkan mu pada kesuksesan hanya 50%, tapi, Spiritual lah, dengan kun fayakun lah, kita diajak terbang untuk mengarah kesuksesan itu dengan persentasi 100% bahkan lebih, kesimpulannya, temulah Allah ketika kita memasrahkan semua hajat dunia kita, maka Allah lah yang akan mengantarkannya pada hajat kita lebih baik dari pada yang kita harapkan, Allah is amazing” ucap Utsman. Memang mereka sudah memahami konsep tiga potensi ini, konsep yang mereka gabungkan ketika mengikuti olimpiade waktu itu, dan mereka menyeimbangkan ketiga konsep ini, meskipun kemampuan individu yang mereka miliki lebih unggul, tiga sahabat ini mereka masih duduk di bangku kelas 3 MA, namun pak kiyai Muhamad mempercayai mereka untuk membawa pondok pesantren ini kearah yang lebih baik lagi.Detik berganti detik, menit berubah menjadi jam seiring perubahan rotasi bumi yang diiringi revolusi bumi, tepatnya pada bulan april tiga sahabat berserta satu angkatan mereaka mengikuti ujian nasional yang seperti biasanya pemenrintah Republik Indonesia adakan yang menjadi tolak ukur kelelulusan, namun pada hal ini yang menjadi tolak ukur kelulusan bergantung pada sekolah masing-masing, setiap malam setelah kegiatan dipondok selesai tiga sahabat ini membentuk kelompok belajar mengupas dan membahas soal-soal ujian nasional, rekan-rekan santri mengapresiasi kelompok belajar ini, banyak diantara yang mengikuti dengan rutin sebelum pelaksanaan ini,
“berikutnya, kita bahas soal-soal fisika, bagaimana?” tanya Utsman
“oke, oke,” jawab rekan santri yang lain
“sebentar ana siapkan dulu bukunya” ucap Ali
“mau bahas soal nomor berapa?” tanya Umar
“oh, yang nomor 27, nih!” jawab Utsman
“yah, lumayan sulit tuh!” ucap rekan santri lainya
“ok, perhatikan yah !” jawab Umar sambil menulis trik mengerjakan soal.
***
Tibalah hari dimana ujian nasional dilaksanakan, mereka melakukan usaha persiapan ujian dengan maksimal, diantaranya dengan belajar untuk meningkatkan kemampuan berpikir dengan intelektual mereka, kemudian mereka membuat relasi atau kelompok belajar untuk meningkatkan kemampuan emosional mereka agar lebih baik, ketimbang belajar sendiri, dan yang lebih penting, mereka rutin melakukan shalat malam sebelum menjelang hari pelaksanaan ujian, walhasil ketika pelaksanaan ujian tersebut dengan tiga kemampuan otak yang mereka gabungkan ketika ujian mereka bersikap tenang dalam mengerjakannya, sehingga ketika pengumuman hasil ujian mereka mendapat hasil yang memuaskan dengan nilai rata-rata ujia 95,0. Umar, Utsman, dan Ali ketika mendapat pengumuman kelulusan mereka sudah menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 juznya ditambah mereka fasih dalam berbahasa arab, sesuai perjanjian kemarin olimpiade, mereka mendapat beasiswa melanjutkan pelajaran mereka di universitas Al-azhar Kairo.Pada awal masuk kuliah Utsman berhasil meraih peserta terbaik OSPEK (masa pengenalan kampus bagi mahasiswa/i baru), waktu berjalan menginjak dua semester Umar berhasil mengarang buku filsafat yang di terbitkan universitas Al-azhar kairo, dan menjadi the best seller pada tahun itu, dan Ali berhasil mengarang kitab dan mendapatkan penghargaan dari universiatas Al-azhar kairo. Tiga sahabat ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah di banding negara-negara rumpun timur tengah, eropa, ataupun afrika, mereka sudah membuktikan, bahwa seorang santri juga bisa berkarya, menyusun harapan mereka menjadi anak-anak emas penerus bangsa untuk membangun negara menuju kemerdekaan yang hakiki berlandaskan rohani Qurani dan Aswaja (ahli sunnah wal jamaah), dengan makna santri “sun tree” (tiga cahaya) atau tiga potensi, tiga kemampuan otak ( IQ, EQ, dan SQ) ketiga ini mereka gabungkan untuk Indonesia negeri tercinta, bangsa Indonesia memang membuthkan pemuda yang memiliki SQ (Spiritual Quality) yang tinggi, untuk bisa menggerakan kemudi bangsa ini agar menuju kearah kemerdekaan yang hakiki dimana kemerdekaan yang tanpa di kuasai oleh tangan-tangan kaum sekuler yang mementingkan kesejahteraan untuk dirinya, kemerdekaan yang terbebas dari tangan-tangan kotor kaum koruptor, yang merampas hak rakyat tanpa memikirkan nasib rakyat, kemerdekaan yang bebas dari penyalahgunaan narkotika yang menurunkan semangat para muda untuk maju, banyak petinggi-petinggi negara yang tingkat intelektual yang tinggi, banyak pemuda yang memiliki intelektual yang tinggi pula, banyak orang-orang sukses dalam dunia bisnis yang memiliki relasi banyak, banyak orang-orang yang sukses dalam menggunakan media komunikasi, namun hanya sedikit mereka yang memiliki tingginya perasaan akan takut kepada Allah, sedikitnya orang-orang yang amanah, sedikitnya orang-orang dengan ketakwaan yang tinggi sedikitnya orang dengan SQ tinggi di negeri ini yang dapat mengantarkan Indonesia dengan terbang menuju kesuksesan.
-----Selesai----
-Kisah diatas memang hanya sekedar cerita belaka karangan penulis, akan tetapi pada makna sebenarnya bahwa spiritual dapat mengendalikan manusia kepada kesuksesan yang hakiki, lihat bagaimana seorang anak yang nama Ali pada cerita diatas memiliki spiritual diatas rata-rata, karena dengan hal itu hal mustahil terjadi dapat terjadi, itulah spiritual.

Post a Comment
0 Comments