MERAH PUTIH DI LANGIT MESIR
oleh Muhamad Jamaludin
Jauh diupuk barat mentari nan indah terbenam dengan di iringi suara merdu kumandang adzan dengan berbondong-bondong mereka (santri pondok pesantren Daarul Furqon Indonesia) berjalan kearah masjid yang megah dengan memegang tasbih dan kitab Suci Al-Qur’anul Karim, serta peci hitam dikepala mereka, dan berselendang sajadah di bahu kanan mereka di iringin mega kuning yang bertabur dilangit sebelah barat daya hingga menutupi barat.  Umar , Utsman, Ali adalah ketiga santri pondok pesantren Daarul Furqon Indonesia yogyakarta. Mereka berlatar belakang dari masing-masing daerah di nusantara dan berbeda potensi yang mereka miliki, Umar adalah seorang anak nelayan dari daerah sumatra yang memiliki pengetahuan dan intelektual yang tinggi, Ali berasal dari ibu kota Jakarta, anak yang sangat tekun dan taat pada perintah Allah SWT, disamping itu bakat pengetahuan agamanya diatas rata-rata, serta Utsman berasal dari bagian daerah istimewa Yogyakarta, ia memiliki kecerdasan bersosialisasi diatas ketimbang rekan-rekan yang lainnya, tidak heran di antara mereka bertiga Utsman lah yang paling aktif mengemukakan pendapat serta sering berinteraksi dengan banyak teman-teman santri di pondok tersebut, ketiga sabahat ini dikenal di pondoknya dengan sebutan trisula atau tiga sahabat,  tiga sahabat yang menjadi satu kesatuan, tiga sahabat ini yang diyakini oleh sang kiyai akan menjadi ujung tombak bagi generasi emas penerus bangsa dengan dilandaskan tingginya berpikir atau intelligence quotient yang tinggi , serta berkepribadian dengan emotional quontient yang tinggi namun juga yang diutamakan adalah spiritual quotient yang hakiki dengan memegang teguh ahli sunnah waljamaah yang di wariskan Rasulullah SAW, begitulah harapan besar sang kiyai kepada tiga sahabat ini, tergambar jelas dari tiga sahabat ini memiliki tiga cahaya (sun three) yang salah satunya ada pada diri mereka. Dengan bersama, bertiga, mereka kelak akan bersinar mengharumkan nusantara, mengibarkan merah putih dengan kemerdekaan yang mutlak yang mereka angan-angankan, yang berawal dari merah putih di langit pesantren hingga merah putih di langit dunia (dunia mengakui Indonesia memiliki potensi bukan Cuma kuantitas melainkan berkualitas) dan untuk mengharumkan nama ibu pertiwi dan menjadi generasi pendobrak bangsa dengan berlandas iman dan takwa, rohani (jiwa) yang Qur’ani dan aswaja  (ahlu sunnah wal jamaah)

mereka pun melaksanakan shalat maghrib berjamah yang di pimpin pak Kiyai Muhamad.
***
Terdengar suara sandal pak kiyai dari kejauhan para santri duduk berbaris rapih di dalam aula terlihat begitu lurusnya lekar (meja kecil dari kayu) di hadapan santri membentuk empat saf barisan dengan kitab kuning berada diatas lekar tersebut yang diiringi suara shalawat nabi tanda akan di mulai pengajian malam itu itu (ba’da maghrib).
“eh pak kiyai udah datang tuh !” ucap Utsman yang duduk berada di barisan belakang saf dekat pintu masuk aula, mendengar ucapan Umar semua santri sigap sambil membuka kitab masing-masing halaman terakhir pengajian kemarin
“assalamualaikum” ucap salam sang kiayai
“waalaikumsalam” ucap semua santri serentak
Pak kiyai memulai kegiatan malam itu. Pak kiayai menjelaskan bagaimana Allah memberikan rahmat yang begitu benyak bagi hambanya ,
“ada sebuah riwat bahwa ketika hari dimana penghakiman semua amal di timbang datang seorang yang membawa begitu banyak dosa kemudian Allah menimbang amal orang tersebut semua amal yang Allah timbang itu lebih berat amal jeleknya, lalu tiba-tiba datang sebuah kertas yang isinya kalimat tauhid Lailahaillah maka semua dosa itu kalah beratnya dengan kalimat tauhid maka orang tersebut di nobatkan ke surga Allah ta’ala, begitu besarnya rahmat Allah bagi hambanya yang yakin akan Allah ta’ala Tuhan semesta alam, Fashlun wallahualam” Ucap yang sang kiaya, disambung dengan shalawat nabi yang dibaca oleh para santri menandakan pengajian malam itu telah selesai, ba’da isya mereka hanya bertadarus bersama di aula pesantren tersebut.
Sesampainya di dalam kobong (asrama/kamar pesantren) Umar, Utsan, dan Ali mengadakan diskusi dan mempelajari ulang pengajian ba’da maghrib tersebut.
“Maha besar Allah yang memberi rahmat bagi semua makhluk, tergambar dalam kalam Allah dalam Al-Qur’an ayat pertama pada surat Al-Fatiha” ucap Ali
“dalam sehari ada 24 jam, dalam sebulan ada 30 hari berarti ada 720 jam sekitar 43.200 menit, manusia normal pada dasarnya memiliki 100 denyut nadi diukur di lengan kiri dalam semeni, berarti dalam sebulan yang berarti 4.320.000, setiap denyut nadi itu ada aliran darah yang mengantarkan keluar masuk pada jantung manusia, dan setiap aliran darah itu ada oksigen yang di bawa darah, dan setiap oksigen yang yang kita hirup dihasilkan oleh fotosintesis tumbuhan yang membutuhkan karbondioksida yang dihasilkan dari pernafasan manusia pada umumnya, bayangkan ada berapa banyak oksigen yang masuk pada tubuh kita dan kalian tahu berapa harga oksigen dirumah sakit saat ini? Bayangkan jika kita untuk bernafas saja harus bayar maka orang terkaya sedunia pun tidak akan sanggup membayarnya untuk bernafas saja kita nggak bisa kalo Allah tidak beri, bahkan bagi mereka kaum-kaum yang tidak mengakui adanya Allah masih Allah beri bernafas, itulah contoh sederhana kasih sayang Allah kepada kita apalagi contoh yang lebih kompleknya,” jelas Umar menanggapi perkataan Ali
“subhanallah, mari kita sama-sama jadikan ibadah kita sebagai ungkapan syukur kita atas nikmat dan rahmat Allah yang telah Allah berikan kepada kita” jawab utsman sambil merangkul Umar dan Ali.
“ya sudah sebaiknya sekarang kita tidur sudah malam, biar besok nggak kesiangan” perintah Utsman,
“ iyah, jangan lupa wudhu sebelum tidur” ucap Ali,
“terima kasih sudah mengingatkan”. Timbal Umar.
Terdengar suara merdu kumandang adzan Ali dengan diiringi sebelum adzan bel   masjid pesantren Daarul Furqon Indonesia di bunyikan oleh pengurus pondok pesantren bertanda waktu melaksanakan shalat subuh telah tiba, udara dingin menusuk kulit dan rasa ngantuk yang masih terasa di mata santri-santri tidak menjadi halangan untuk mereka mendekatkan diri kepada Allah dan melaksanakan apa yang Allah perintahkan, ba’da subuh sang kiayai mengumumkan beberapa perihal bahwa pondok pesantren Daarul Furqon seperti halnya dari tahun ketahun selalu di tunjuk untuk perwakilan indonesia dalam mengikuti berbagai lomba dalam olimpiade keagamaan yang dilaksanakan di negeri piramid (mesir), namun pada hal ini hanya di butuhkan tiga orang peserta saja untuk mengikuti olimpiade keagamaan,

“ santri-santri ku ada beberapa informasi yang akan saya sampaikan, seperti biasa dari tahun ketahun pesantren kita memang di tunjuk sebagai perwakilan indonesia untuk mengikuti olimpiade ke agamaan di mesir, bagi mereka yang tampil terbaik akan mendapatkan beasiswa melanjutkan study nya di universitas ternama di mesir, dalam hal ini saya berikan kuasa kepada pengurus untuk membuat kelompok yang masing-masing dri mereka berjumlah tiga orang/kelompok, setelah kelompok tersebut terbentuk, kita adakan seleksi bagi kelompok yang terbaik ya sudah kita berangkatkan kelompok terbaik itu, ada pertanyaan?” jelas sang kiayai,
“maaf pak kiayai, apakah di bebaskan kita menentukan per-anggota kelompoknya?” tanya Utsman, “saya kembalikan kebijakan hal itu pada pengurus!”, jawab sang kiyai,
“nggeh pak kiayi” sambut Abi Bakrin sebagai pengurus pondok,
“selepas ini semua pengurus berkumpul di aula, untuk para santri silahkan kembali ke pondok masing-masing!” pinta sang kiyai,
“shalallah ala Muhammad, shallah alaihi wasalim, shalallah ala Muhammad Ya robbi shalli wa sallim” ucap semua santri (bacaan ketika kegiatan di majlis selesai baik majlis dzikir, ataupun majlis ilmu) sambil berjabat tangan satu sama lainnya.
“assalamualaikum wr. Wb. “ ucapan pembukaan rapat sang kiyai Muhamad
“waalaikumsalam Wr. Wb” jawab dewan pengurus pondok
“untuk mempersingkat waktu, saya serahkan kepada Abi Bakrin untuk memimpin rapat ini, sok silahkan!” ucap sang kiyai Muhamad sambil mengintruksikan Abi Bakrin,
“pertama saya ucapkan terima kasih kepada pak kiyai telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mempin rapat ini, baik rekan-rekan dewan pengurus, disini saya akan menjelaskan beberapa kriteria penilaian untuk seleksi besok diantaranya :
Setiap kelompok terdiri dari tiga orang
Tiap anggota kelompok harus memiliki kemampuan perindividu
Mampu bekerja sama dengan tim
Dapat melaksanakan shalat berjamaah minimal 2 minggu sebelum pelaksanaan perlombaan tersebut berturut-turut, selain itu kita buat tim khusus untuk menilai siapa diantara santri-santri yang ketika adzan bergegas shalat atau bahkan sebelum adzan sudah siap shalat.
Dalam hal ini kita seleksi perindividu terlebih dahulu dengan berbagai tes, kemudian ketika kita dapatkan kelompok tersebut, maka kita gabungkan orang-orang yang mendapatkan nilai tertinggi dalam satu kelompok tersebut, terlebih mereka yang memiliki IQ, EQ, SQ diatas rata-rata lah yang akan menjadi perwakilan pondok ini bahkan menjadi perwakilan Indonesia, ada pertanyaan atau tambahan” Jelas Aba Bakrin selaku ketua dewan kepengurusan pondok,
“interupsi, izin untuk bertanya, untuk poin ke dua, tiap-tiap individu harus memeiliki kemampuan personalnya, dalam hal ini mereka di tuntut dengan bekerja sendiri, dan di poin keigaa mereka harus bekerja sama dengan tim, untuk pelaksanaan teknisnya seperti apa?” tanya Khalid selaku sekertaris dewan pengurus pondok,
“jadi seperti ini, di poin ke-2 setiap siswa kita uji dengan mengerjakan beberapa soal-soal pengetahuan dan soal-soal logika untuk menilai seberapa tajam cara berpikir santri, kemudian di poin ke-3 kita adakan diskusi untuk menilai seberapa tinggi nilai kebersamaan dan kerja sama mereka untuk mengatahui seberapa tingginya nilai emosional santri, seperti itu? Bisa dimengerti?” jawab Abi Bakrin,
“ya saya mengerti ?” tanggap Khalid
“baik ada lagi yang mau bertanya atau ada yang mau menambahkan?” tanya Abi Bakrin kembali,
“intrupsi, izin menambahkan, untuk sahalat berjamaah sudah menjadi budaya pondok untuk shalat berjamaah bahkan jika mereka tidak shalat berjamaah maka akan di ta’dzir (hukuman bagi yang melanggar peraturan), menurut saya bagaimana jika kita ganti poin ini dengan menilai siapa yang sering bangun malam untuk melaksanakan shalat di masjid, semakin sering dia shalat malamnya maka dia lah yang akan kita pilih, dalam konteks ini kita jangan bocorkan poin ini kepada santri agar kita lebih mudah menyeleksi siapa saja yang tulus melaksanakan shalat malam dengan khusu dan ikhlas karena Allah, bagaimana menurut rekan-rekan?” terang Abu Hurairah selaku Seksi bendahara pondok,

“hmm, ide yang kreatif, saya setuju dengan masukannya, untuk shalat berjamaah memang semuanya wajib melaksanakannya, namun yang kita nilai adalah kegigihan santri untuk nergegas melaksanakan shalat, kemudian untuk shalat malam saya setuju menganai perihal itu!”, jawab Abi Bakrin, kemudian kourum rapat meng-iyakan masukan dari Abu Hurairah,
“masih ada kah pertanyaan atau masukan dari rekan-rekan dewan pengurus pondok?, bagaimana pak kiyai sepertinya hasil rapat ini selesai?” ucap Abi Bakrin kembali
“yah, seperti yang di sepakati kuorum, saya menyetujui ketetapan tersebut, yasudah besok tinggal kita laksanakan seleksi tersebut, untuk teknis lapangan saya amanahkan kepada Bilal, teknis acara Abdullah, teknis perlengkapan Sofian, sisanya bisa kondisikan dan kepada Abi Bakrin silahkan kamu urus untuk penyeleksiannya, biar saya urus keberangkatannya nanti, bisa di pahami?” tegas Kiyai Muhamad
“yah, pak kiayai, insya Allah kami jalankan amanah pak kiyai” jawab Abi Bakrin, se-usai rapat dengan pak kiyai Abi Bakrin selaku ketua dewan pengurus pondok merapatkan kembali untuk membentuk kepanitian tim penyeleksi calon peserta olimpiadi yang akan dilaksanakan dua pekan kedepannya.
***
bersambung...