Nasionalis
Paradigma Kritis Transformatif PMII
Berdasarkan pemaparan narasumber bapak Qowim Mustofa S. Th. I, M. Hum. pada Pelatihan Keder Dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) komesariat Institut Ilmu alQuran Yogyakarta pada tanggal 26-29 Oktober 2017 di Bambangripulo PP ar-Ridho II Bantul Yogyakarta. Sebelum mengetahui apa yang akan dilakukan PMII dalam wacana ini, dalam tulisan sederhana ini maka penulis menggambarkan apa itu paradigma ? lalu bagaimana kita memahami paradigma secara sederhana ini, sebelum lanjut mari cari tahu apa itu PKT (paradigma kritis transformatif), ketika kita pinjam pemikiran Thomas Khun, seorang ahli fisika teoritik, dalam bukunya “The strukture of scientific revolution” salah satu tokoh yang mendeklarasikan kata paradigma, atau tokoh ini lah yang pertama kali memperkenalkan paradigma merupakan sebuah cara pandangan melihat realitas benda, ini merupakan sebuah asumsi dasar sebelum terbentuknya sebuah teori. Paradigma berangkat dari sebuah epistemologi (mengetahui sesuatu) melalui dua jalan yaitu rasionalisme dan materialisme, ketika berbicara paradigma maka titik fokusnya hanya pada materialisme (pengetahuan yang memiliki benda). Imannuel Khan salah satu tokoh filsafat yang mengkolaborasikan antara faham rasionalisme dan materialisme dengan memfokuskan kembali faham materiasime dan membagi dua yaitu nomena dan fenomena, nah hal ini yang menjadi titik acuan sebagai titik garapan paradigma kritis transformatif. paradigma kritis transformatif salah satu prinsip yang digunakan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dengan berlandasan nilai-nilai ASWAJA (Ahlu Sunah Wal Jamaah) dan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) untu disalurkan pada realitas atau fenomena yang terjadi di masyarakat, paradigma kritis transformatif (PKT) ini merupakan sebuah wadah yang membuat mahasiswa berpikir kritis untuk bahu-membahu membangun negeri ini, dipakainya kata Transformatif ini sebagai Implementasi dari paradigma kritis yang bermuara pada politik atau lebih sederhanya “berpolitik”. Bapak KH. Abdurrahman Wahid atau yang sering kita kenal gusdur berkata politik yang baik adalah politik yang tidak merugikan satu sama lainnya, ini sangat menarik karena PMII berlandasan nilai ASWAJA dan NDP (Nilai Dasar Pergerakan), NDP ini memiliki tiga poin yaitu hablu minallah-hablu minannas- hablu minal’alam yang diselimuti nilai ASWAJA yaitu tasamuh, tawasut, dan lain sebagainya. Politik yang di lakukan PMII berdasarkan nilai rahmatalil’alamiin ini lah sebagai paradigma kritis yang melihat realitas di masyarakat kita untuk bahu-membahu menjunjung tinggi nilai persatuan, perdamaian, toleransi, juga hakikat keadilan di negeri ini.


Post a Comment
0 Comments