Pasca sekolah menengah atas, studi saya dilanjutkan kesalah satu pondok pesantren besar di Indonesia (Pondok Pesantren an-Nur Yogyakarta). Kebiasaan anak pondok, ketika sore menjelang malam, selagi nunggun adzan maghrib, untuk mengisi kekosongan perut kita biasa nongkrong di angkringan pak de, jaraknya kurang lebih Cuma 500m dari asrama kami, berbagai menu makanan di jajahkan dengan harga yang ekonomis yang tidak menguras banyak uang saku kami, minuman favorit yang saya pesan adalah teh manis hangat, apalagi ketika berbuka puasa terasa nikmat si tenggorokan melepas lelah ¾ hari kita jalani mencari keberkahan ilmu, sahabatku mari sama-sama kita ambil sebuah hikmah dibalik nikmatnya teh manis yang Allah karuniakan untuk kita, karena di rumah pembaca pun pernah merasakan nikmatnya teh manis itu, begini sahabatku, ketika saya pesan teh itu, ternyata ada endapan gula yang belum terlarut dalam air teh itu, ketika diminum terasa pahit teh itu karena gulanya mengendap dan tidak melarut, saya minum hampir ½ gelas teh itu baru sadar karena gulanya mengendap, ketika sadar baru saya aduk-aduk hingga gulanya merata, dan ternyata manisnya itu melebihi pada teh yang normal ketika gulanya larut merata pada kondisi airnya penuh.
Sahabatku mari sama-sama kita lihat pelajaran yang dapat kita ambil dari kasus ini, begitulah ternyata potret kehidupan, kita sama-sama tahu bahwa biodata orang-orang yang menikmati kesuksesannya dengan merasakan pahitnya terlebih dahulu lebih terasa banyak hikmah dan kenikmatan proses kesuksesannya dibanding orang-orang yang sukses sebab keturunan dan fasilitas yang mendorong ia menuju kesuksesan dengan manis dan mudah sama halnya ketika minum air teh yang gulanya sejak awal larut, kita ambil sebagai contoh seorang tokoh pak Bj. Habibie salah seorang mantan presiden kita sekaligus dapat mencantumkan kehormatan nama bangsa dengan kejeniusannya, karena sebab pahit yang ia rasakan sebelumnya, begitulah ternyata kehidupan disekitar kita, jika kita resapi makna dari pepatah yang pernah kita dengat “berakit-rakit dahulu, bersenang-renang ketepian, susah-susah dahulu senang kemudian”, saya setuju dengan kata ini, karena hukum alamnya seperti ini, dan mari sama-sama kita jadikan contoh Rasulullah SAW. Sebagai tauladan kita, manusia termulia yang tercantum namanya dan belum ada yang bisa mengeser namanya karena ke muliaah akhlak beliau, kita belajar dari beliau, dimana saat kecil sudah ditinggal sang ayah tercinta, kemuadian umur 6 tahunnya ibunda beliau pun menyusul, dan ketika Allah perintahkan untuk medakwahkan Agama Allah, dengan penuh perjuangan dan kesusahan, hingga akhirnya nikmat iman dan islam bisa kita rasakan bukan, kepahitan yang awal kita rasakan akan berbuah kebagiaan kelak, tetap optimis dan tanpa putus asa . wallahualam