Apa yang terbayang dipikiran kita ketika mendengar kata pengemis? Pasti terbayang seseorang yang identik dengan meminta minta. Pengemis berasal dari kata awal kamis dan mendapat imbuhan pe-ng, padahal dari asal kata kemis tidak ada makna secara tersurat kata pemita-minta atau secara tekstual tidak ada makna yang merujuk kepada peminta-minta kan, Right.
Al kisah pada zaman dahulu ada seorang yang sangat kaya lagi dermawan yang selalu memberikan bantuan pada masyarakat kurang mampu. Namun, si orang dermawan ini memberikan bantuan-bantuannya pada hari kamis secara rutin dan berkepanjangan. Disinilah awal terbentuknya mengapa ngemis selalu terlintas sebagai peminta-minta. Mengapa tidak, ketika sudah menjadi jadwal khusus yang tidak boleh terlewat oleh masyarakat itu maka kata ngemis di jadikan kata yang meruju untuk meminta bantuan pada orang dermawan tersebut. 
Sahabatku, seandainya cerita diatas itu hanyalah sebuah ilusi atau dongeng belaka tidak kita jadikan sebuah persoalan. Namun, mari sama-sama kita merenungi kata pengemis pada diri kita. sejatinya memang kita sebagai pengemis yang selalu meminta pertolongan dan perlindungan pada dzat yang Maha Dermawan. Sangat tidak mungkin jika kita  bisa hidup tanpa ada bantuan Allah sedikitpun. Kita bernafas saja sudah salah satu bentuk bahwa kita adalah seorang pengemis yang selalu diberi oleh dzat yang Maha Dermawan. Jadi sekarang apa yang mau kita sombongkan? Apa yang mau kita banggakan? Pengemis ko sombong? Sangat tidak pantas bukan.
Sahabatku, tulisan sederhana ini penulis mau mengajak terkhusus untuk diri sendiri mengambil pelajaran dan introspeksi diri sendiri. Kita posisikan diri kita sebagai “pengemis” hanya pada Allah saja. Bukan pada tahta, atau pun jabatan. Itulah yang akan menyelamatkan kita dari prilaku yang melampaui batas. Wallahualam
sumber referensi:sahabat firman senior PMII