“sistem dan lingkungan manakah penghambat kesuksesan mu, semua yang kau pikirkan maka itu lah yang kau dapatka”
-Muhamad Jamaludin-
Dalam ilmu kimia kita tahu bahwa Reaksi endoterm adalah reaksi dari panas menuju dingin, sedangkan reaksi eksoterm adalah sebaliknya hal ini terjadi pada lingkungan dan sistem, namun pada kesematan ini penulis tidak akan memaparkan mengenai lingkungan dan sistem yang dibahas di ilmu kimia, pembaca bisa tanyakan langsung hal itu pada pakarnya, atau bisa ditanya pada mbah google hehe, tatapi penulis akan memaparkan lingkungan dan sistem yang tejadi pada diri kita sendiri, yuk cek it out.
Sahabatku, sistem kita umpamakan adalah diri kita, sedangkan lingkungan adalah sesuatu yang berasal dari luar diri kita, seperti teman, lingkunan pergaulan dan lain sebagainya, mari kita renungkan sejenak bahwa faktor kesuksesan yang akan kita tempuh berawal dari dalam diri kita (sistem), juga berasal diri kita, pepatah jawa pernah mengatakan “Didalam jiwa tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat” mari kita buka kata –Jiwa yang kuat- apa maksud dari kata ini?, ketika penulis menoleh kebelakang, waktu penulis masih duduk di bangku putih abu-abu, penulis pernah berdebat dengan salah seorang teman tentang pengaruh lingkungan dan faktor diri sendiri, jadi waktu itu di SMA kami ada kelas yang difavoritkan oleh guru-guru dimana seisi kelasnya hampir mayoritas siswa rangking atas dari semester sebelumya, kebetulan penulis sendiri berada dikelas yang normal-normal saja katakanlah kelas unggulan dan kelas reguler kira-kira seperti itu, nah yang menjadi perdebatannya penulis bilang, faktor kesuksesan tidak ditentukan lingkungan, tetapi ditentukan oleh jiwa kita, seberapa kuat jiwa dapat memerangi rintangan dan haluan maka kesuksesanlah yang akan menantinnya bukan ditentukan dengan seberapa unggu lingkungan kita, teteapi perkataan itu dibantah oleh salah satu sahabat penulis, beliau mengkritik perkataan diatas begini kata ia “lingkungan berdampak besar bagi kesuksesan kita karena manusia tidak bisa hidup dengan individualis, mereka butuh lingkungan untuk mendorong kesuksesannya, lingkungan pun berpengaruh besar dalam perkembangan diri kita, karena lingkungan bisa mendorong kita agar ikut kedalamnya melakukan sebuah perubahan untuk perkembangan diri kita, namun dalam ini tidak akan menjadi sebuah patokan siapa yang benar siapa yang salah, tergantung kita meyakini mana yang berpengaruh besar dalam menopang kesuksesan kita, lingkungan atau sistem.Sahabatku, jiwa yang kuat yang kita miliki akan dapat menghalau rintangan meski lingkungan kita tidak mendukung kesuksesan yang dihadapan kita, jiwa yang kuat akan mampu mengendalikan lingkungan yang tidak sejalan dengan tujuan kita, jiwa yang kuat akan mampu memimpin lingkungan yang tidak menerimnya, juga faktor lingkungan yang mendorong sistem untuk mengikutinya juga berpengaruh untuk menopang kesuksesan kita, jiwa yang malas sedangkan lingkungan yang aktif mengajak akan kebaikan untuk membawa kita kepada taraf kesuksesan adalah hal yang penting untuk kita meraih kesuksesan, mari kita renungi sebuah kisah yang pernah penulis dapat dari guru sosiologi saat di SMA lalu,
Ada sebuah rumah sakit di sebuah kota besar, pada malam itu ada dua seorang ibu yang tengah hamil tua yang siap melahirkan, kedua ibu itu dari latar belakang yang berbeda, ibu a berasal dari keluarga yang taat pada agama, ibu b berasal dari “pegawai cafe”. kedua ibu itu berada  di satu kamar yang sama di UGD (Unit Gawat Darurat) lama proses persalin itu berjalan, akhirnya kedua ibu itu dapat melahirkan dengan normal dan selamat, secara kebetulan anak yang lahir dari kedua ibu itu adalah seorang wanita, tanpa terduga anak dirumah sakit itu tertukar dan kedua ibu itu tidak menyadari akan hal itu, hari berganti hari hingga sang putri dari kedua ibu itu tumbuh dewasa. Lalu bagaimana akhalk dari kedua anak itu anak dari ibu a yang taat beribadah dibawah asuhan ibu yang “minim pemahaman dalam beragama islam”, lalu sebaliknya anak dari ibu “pegawai cafe” yang di bawah asuhan keluarga yang taat dalam beragama. Jika dibandingkan siapa kah yang paling alim? Jika kita telaah sebut saja nama anak perempuan yang diasuh ibu a adalah mutia dan anak perempuan yang dibawah asuhan ibu b adalah tiara. Mari penulis tanyakan kembali siapakah yang paling alim? Yah tepat sekali, jika dianalogikan yang akan terbentuk anak yang alim yang taat beribadah adalah mutia meski pada dasarnya ia terlahir dari rahim ibu b yang “taraf pengetahuan agamanya minim” akan tetapi lingkungan yang memaksa ia untuk bisa tumbuh menjadi pribadi yang baik, lalu bagaimana dengan tiara yang sejatinya ia berasal dari ibu a, tentu sudah kebayang bukan, nah kalau demikian berarti lingkungan donga yang berpengaruh besar untuk faktor kesuksesan? Belum tentu, coba renungi dari kisah yang kedua ini.Muhamad datang dari desa jauh dari keramaian kota, muhamad berasal dari kalangan keluarga yang tidak mampu, jangankan untuk biaya pendidikannya, untuk makan sehari-hari hanya berkecukupan, terkadang ia berpuasa sehari penuh tanpa memakan apapun yang di konsumsinya untuk menahan lapar di perut ketika berbuka hanya air minum dan sebuah batu yang diikat di perutnya untuk menahan rasa lapar itu, teteapi tekad Muhamad untuk menghafal alQuran sangat tinggi, setiap harinya ia mampu menghafal satu halaman alQuran yang disetorkan kepada ayahnya, sedangkan disisi lain umar adalah salah satu santri dari pondok pesantren tahfidz alQuran ternama dipusat kota, namun ironinya umar hanya bermalas-malasan tidak bersungguh-sungguh dalam belajarnya, hari berganti hari hingga tahun berganti tahun, Muhamad dengan semangat yang gigih berhasil halfa 30 juz, sedangkan umar   masih tetap pada kondisi saat ia baru pertama datang, coba kita telaah dari kisah ini, Muhamad meskipun sistem tidak mendukung untuk dia bisa menghafal alQuran namun pada kenyataannya ia mampu menghafal 30 juz, sedangkan Umar sudah jelas lingkungan mendukung dia, lingkungan memfasilitisai untuk menunjang kesuksesan ia. Nah dari kisah ini apakah lingkungan bisa mendorong kita pada kesuksesan?, padahal lingkungan tempat ia berada sangat mendukung untuk ia bisa hafal 30 juz,
Sahabatku, dari dua kisah di atas kita tidak bisa mempatok mana yang benar dan mana yang salah, dalam hal ini mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing jika memang jiwa kita kuat akan tekad, seberapa sulit apapun lingkungan yang kita hadapi bukan menjadi penghambat kita untuk menuju kesuksesan, begitu juga sebaliknya jika memang kita mudah terbawa lingkungan, maka cari lah lingkungan yang menjadikan kita lebih baik, lebih terarah pada kesuksesan kita maka ikutilah lingkungan itu, yang terpenting adalah orang yang luar biasa adalah ia yang memili tekad kuat yang mampu membawa lingkungan, yang mampu mengubah lingkungan, yang mampu memimpin lingkungan sesuai dengan jalan kesuksesannya.
Sahabatku jiwa yang kuat itu jika kita mau merenungi adalah perkara yang mudah asalkan kita bisa membedakan mana yang hak untuk kita, mana yang hawa nafsu kita, ketika kita melihat lingkungan sekitar kita asyik dengan kesenenangan padahal dari kesenangan itu adalah sebuah penghambat diri kita untuk menuju kesuksesan, nah disinilah terbentuk jiwa yang kuat ketika kita bisa mengontrol nafsu kita untuk memenuhi hak-hak di diri kita, sebagai contoh, menjelang hari dimana ujian sekolah kita akan berlangsung, teman-teman disekitar kita asyik dengan bermain sepak bola, padahal sejatinya waktu itu adalah hak untuk badan kita belajar bukan bermain, kapan mainnya, nanti setelah ujian selesai, tetapi pada kenyataannya kita tidak bisa tempatkan mana hak untuk badan kita untuk menutupi nafsu kita belaka, dan ironinnya ketika ujian itu berlangsung kita mensugesti diri kita dengan meminta jawaban dari teman yang lain, kita malah browsing jawaban di internet, kita sibuk untuk buat kunci jawaban, tengok sana tengok sini, kita dzolim pada diri kita, ini yang kita bicarakan diri kita bukan orang lain coba sama-sama kita renungi, Allah Maha Adil, Maha Pemberi, Allah berikan mana hak untuk satu makhluk dengan makhluk lainnya, bagaimana kita mau terbentuk jiwa yang kuat, lantaran ketika kasus diatas terjadi nilai ujian kita kecil, tidak lulus, yang kita salahkan Allah, ayok coba kita renungi dari kasus ini pribadi kita sendiri sudah tidak meperdulikan mana yang seharusnya kita lakukakn, mana yang seharusnya kita kerjakan, mana yang seharusnya kita tinggalkan, tempatkan diri kita pada lingkungan, tempatkan lingkungan pada diri kita, ketika semunya telah berhubungan satu sama lain, berjalan dengan sebuah keteraturan, berjalan dengan berpusat pada jiwa yang kuat disitulah kita bisa mengenali siapa diri kita, disitulah kita bisa mengenali apa arti sukses, begitulah cara Allah memberi jawaban pada permasalahan yang kita hadapi, karena setiap permasalahan berakhir pada sebuah hikmah, dari hikmah lah kita akan tahu arti dari kesuksesan, arti dari kegagalan, arti dari sebuah pengalaman, arti dari sebuah kemandirian dan sebaganinya, ketika kita telah mengenali semua arti itu disitulah jiwa yang kuat hadir, 
wallahualam