artikel
Keagungan Tuhan Dalam Dunia Sains
A.
Informasi Dalam Sains
a.
Alam Semesta
Sebagai manusia tentunya kita pernah berpikir bahwa didalam
kehidupan kita yang sangat teratur ini pernah bertanya dalam hati kecil kita
sesungguhnya ada Dzat yang menciptakan kita, dari struktur terkecil yang
disebut atom hingga sistem yang sangat besar hingga manusia tidak bisa
menjangkaunya yaitu alam semesta. Selama berabad-abad lamanya manusia selalu
mencari jawaban bagaimana asal-usul alam semesta ini, beribu-ribu model
menggambarkan alam semesta telah disajikan dan becribu-ribu teori telah
diungkap disepanjang sejarah, namun dalam catatan tersebut dapat tersimpulkan
menjadi dua model yang berbeda, yaitu konsep alam semesta tak terbatas dan
permulaan[1].
Teori yang pertama menyatakan bahwa alam semesta tak dapat bertahan
dan ada sejak waktu yang tak terbatas dan terus bertahan dalam keaadan yang
sekarang ini. Meurut teori ini alam semesta tidak memiliki awal ataupun akhir,
atau alam semesta ini tidak pernah dicipkatan dari tidak ada menjadi ada,
gagasan bahwa alam semesta ini tak terbatas, yaitu tidak berawal. Teori ini
yang menjadi salah satu alasan para ateisme untuk mengingkari adanya Allah. Ini
merupakan pandangan mereka bahwa alam semeta ini tidak berawal, berarti tidak
ada yang menciptakan. Namun ilmu pengetahuan segera mengungkap bukti pasti
bahwa argumen-argumen mereka tidak berlakum, karena alam semesta di dahului
oleh ledakan besar yang disebut big-bang, muncul dari sesuatu yang tidak
ada berarti ada satu hal yang masuk dalam logika kita yaitu “penciptaan” ini
lah yang hanya bisa dilakukan oleh Tuhan.
Pada tahun 1922 abad ke-20 Masehi terjadi sebuah lompatan besar
dimana seorang ahli fisika Rusia, Alexandre Friedmann, berhasil menemukan bahwa
alam semesta tidak memiliki struktur yang statis, artinya selalu bergerak terus
menerus tanpa henti[2].
Berpijak pada teori relativitas Einstein, Friedmann menghitung bahwa sebuah Implus
saja dapat mengakibatkan alam semesta meluas atau mengerut. Hal ini
disimpulkan oleh Georges Lemaitre, seorang ahli astronomi terkenal dibelgia,
menurutnya hal ini penting disadari bahwa alam semesta memiliki awal dan
terus-menerus meluas sejak permulaan, selain itu ada hal yang lainnya yang
tidak kalah penting yaitu kelebihan radiasi yang tertinggal dari big bang
dan ini dapat dilacak, setelah itu bukti bahwa alam semesta terus meluas mulai
bermunculan. Menurut Einsten, terdapat tiga energi dalam alam semesta, yaitu:
energi gravitas, energi elektromagnetik, dan energi atom. Apabila kita
perhatikan alam mikro kosmos, dimana elektron berputar-putar mengelilingi inti
atom atau pada alam makrokosmos dimana planet-planet berputar mengelilingi
matahari, maka ketiga energi tadi terdapat didalamnya, seperti energi gravitasi
inti atom yang menarik elektron.[3]
Energi elektromagnetik yang menciptakan medan magnet, yang menciptakan medan
magnet, akibat gerakan berputar elektron tersebut. Dan energi atom yang
memelihara kesimbangan dari keseluruhan sistem yang ada pada alam semesta.
b.
Tata Surya
Sumber
Gambar:https://pastiguna.com/nama-nama-planet-dalam-tata-surya/
Tata
surya adalah sekumpulan benda langit, yaitu matahari sebagai pusatnya, dan
planee-planetnya itu merkurius, venus, bumi, mars, yupiter, saturnus, uranus,
neptunus dan 165 buah satelit planet yang sudah diketahui sampai sekarang,
serta obyek-obyek tata surya lainya seperti asteroid, meteoroid, dan planet,
komet, debu antar-planet, dan sebuah yang dinamakan sabuk kuiper[4]. Tata
surya didominasi oleh matahari atau matahari sebagai pusat dari tata surya,
karena massa seluruh planet dan anggota tata surya lainnya hanya 0,0014 atau 14
x 10-4 kali massa matahari. Selain Matahari, obyek-obyek yang besar didominasi oleh planet-planet
besar seperti, saturnus, uranus, neptunus.
Ujung
tata surya adalah Neptunus yang berada pada jarak milyaran kilometer dari
matahari. Diseberang neptunus terdapat sabuk kuiper yang terbentuk seperti
donat yang tersusun dari objek-objek beku yang terbentang meluas sampai jarak
12 milyar kilometer. Sabuk kuiper diselumbungi lapisan terbentuk bola yang
diberi nama awan ort[5] yang
bisa meluas sampai pada jarak 6 triliun kilometer dari matahari. Satuan jarak
dalam telaah tentang tata surya adalah satuan astronomi (SA) yang besarnya
sebesar jarak rata-rata bumi kematahari yaitu 150 juta kilometer. Perhatikaan
gambar dibawah ini.
Sumber gambar :
https://langitselatan.com/2015/07/03/apa-itu-awan-oort/
Dari
pemaparan ini lah kita bisa mengetahui seberapa besar tata surya kita saat ini,
namun penulis hanya sebutkan satu tata surya dalam galaksi bima sakti kita, ada
banyak tata surya-tata surya lainnya terutama dalam galaksi bima sakti.
Tata surya adalah
salah satu keselarasan keindahan yang paling mengagumkan yang dapat disaksikan,
terdapat banyak planet. Baik dalam maupun luar dengan lima puluh empat satelit
yang diketahui dan benda-benda kecil yang jumlahnya tidak diketahui[6]. Pada
struktur tata surya, kita menemukan contoh lain dari keindahan keseimbangan;
keseimbangan antara gaya sentrifugal[7]
planet yang dilawan oleh gaya gavitasi dari benda primer planet tersebut.
Astronomi menyebut benda primer adalah benda yang dikitari oleh benda lainnya.
Seperti contoh benda primer bumi adalah matari, dan sebagainya. Ini bisa di
permaksudkan bahwa dalam tata surya benda yang memiliki gravitasi lebih
besarlah yang akan menarik benda yang memiliki gravitasi yang lebih kecil,
benda yang memiliki gravitasi lebih besar itulah yang disebut dengan benda
primer).
c.
Planet Bumi (planet biru)
Bumi adalah satu-satunya tempat dimana manusia dapat hidup dan
bertahan tanpa alat bantu, berkat tanah dan air yang melimpah serta atmosfer
yang dapat dihirup untuk bernafas.[8] Tidak
seperti 63 planet utama beserta satelit lain dalam tata surya kita, bumi adalah
satu-satunya planet yang memiliki atmosfer, suhu lingkungan dan permukaan yang
cocok bagi kehidupan. Meskipun air, kebutuhan utama kehidupann, tidak ditemukan
ditempat lain dalam tata surya kita, tiga-perempat permukaan bumi dipenuhi
dengan air. Planet yang berjari-jari sekitar 6.000 km ini sangat berbeda dengan
planet lainnya seperti venus yang ketebalannya 80 kali ketebalan atmosfer bumi
(tekanan serta dengan tekanan air laut pada kedalaman sekitar 1,5 km dibawah
permukaan air lait). Jika yang terjadi pada bumi sama dengan yang terjadi pada
venus, maka kita tidak akan bisa hidup seperti ini, bahkan banyak meteroid yang
jatuh ke bumi tanpa terbakar habis di atmosfer bumi. Pada siang hari, udara yang terdapat di dekat permukaan
mendapatkan pemanasan cahaya matahari dan pemanasan ini membuatnya mengembang
hingga ia bergerak keatas. Oleh sebab itu, temperatur di dekat bumi selalu
berada dalam keadaan yang memungkinkan kehidupan berjalan.[9]
Bila udara mengerut jika dipanaskan, maka pada siang hari udara
akan bergerak kebawah dan permukaan bumi menjadi sangat panas hingga tidak akan
mungkin menyokong kehidupan. Pergerakan udara ini menghasilkan angin yang
memindahkan berbagai senyawa seperti karbon dioksida dari daerah perkotaan,
atau memindah oksigen ke daerah perkotaan yang membuthkannya, itu salah satu
keistimewaan dari atmosfer.[10]
Kesimbangan yang
memungkinkan kehidupan adalah hal-hal yang akan kita bahas karena ini adalah
salah satu dan satu-satunya yang ada di bumi. Mempelajari bumi, kita dapat
menyusun daftar “faktor yang menentukan bagi kehidupan” sepanjang kita mau.
Ahli astronomi Amerika membuat daftar sendiri:
Gravitasi di permukaan:
1.
Jika
lebih kuat : atmosfer menahan terlalu banyak amonia dan methana
2.
Jika
lebih lemah : atmosfer planet akan terlalu banyak air
Jarak dengan bintang induk (matahari)
1.
Jika
lebih jauh : planet akan terlalu dingin bagi siklus air yag stabil
2.
Jika
lebih dekat : planet akan terlalu panas bagi siklus air yang stabil.
Ketebalan kerak bumi
1.
Jika
lebih tebal : terlalu banyak oksigen berpindah dari atmosfer ke kerak bumi
2.
Jika
lebih tipis : aktivitas tektonik dan vulkanik akan terlalu besar
Periode rotasi
1.
Jika
lebih lama : perbedaan suhu pada siang dan malam hari terlalu besar.
2.
Jika
lebih cepat : kecepatan angin pada siang terlalu tinggi
Interaksi gravitasi dengan bulan
1.
Jika
lebih besar : efek pasang-surut pada laut, atmosfer dan periode rotasi semakin
merusak
2.
Jika
lebih kecil : perubahan tidak langsung pada orbit menyebabkan ketidakstabilan
Medan magnet
1.
Jika
lebih kuat : badai elektromagnetik terlalu merusak
2.
Jika
lebih lemah : kurang perlindungan dari radiasi yang membahayakan dari bintang.
Ini
hanya sebian “keputusan rancangan” yang harus dibuat agar kehidupan ada dan
bertahan. Namun sesedikit ini pun cukup untuk menunjukkan bahwa keberadaan bumi
bukan karena kebetulan, tidak juga terbentuk oleh serangkaian kejadian acak.[11]
B.
Informasi dalam alQuran
ءَأَنتُمۡ
أَشَدُّ خَلۡقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُۚ بَنَىٰهَا ٢٧
رَفَعَ سَمۡكَهَا فَسَوَّىٰهَا ٢٨ وَأَغۡطَشَ لَيۡلَهَا وَأَخۡرَجَ
ضُحَىٰهَا ٢٩ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ
دَحَىٰهَآ ٣٠
“Apakah
kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya Dia
meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya dan Dia menjadikan malamnya
gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang Dan bumi sesudah itu
dihamparkan-Nya [QS. An-Nazi’aat, 79: 27-30]”
وَسَخَّرَ
لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ وَٱلنُّجُومُ
مُسَخَّرَٰتُۢ بِأَمۡرِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ
١٢
“Dan
Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan
bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum
yang memahami(nya) [QS. An-Nahl 16:12]”
Al-Biqai
menghubngkan ayat ini dengan ayat yang lalu dengan cara menimbulkan satu
sanggahan yang boleh jadi datang dari seorang ateis yang boleh jadi berkata :”
perbedaan dan keragaman tumbuhan dan buah itu disebabkan oleh faktor alam dan
peredaran planet-planet”. Pandangan itu dibantah oleh ayat ini yang intinya
adalah bahwa planet-planet itu tidak mungkin dapat melakukannya karena ia pun
mengalami perubahan-perubahan dan semuanya tunduk kepada kekuasaan Allah SWT.
Dapat juga
dikatakan bahwa setelah menyebut nikmat-nikmat Ilahi yang terhampar dibumi,
ayat ini beralih mengurai nikmat-Nya yang bersumber dari langit. Untuk itu,
ayat ini mengatakan : Dan disamping aneka anugerah-Nya yang telah
diuraikan dalam sebelum ini, masih banyak anugerah-Nya yang lain. Antara lain Dia
juga-demi kemaslahatan semua makhluk- menundukkan malam hingga
menjadikan juga siang sehingga menjadi terang-benerangagar kamu dapat
giat belajar dan giat bekerja, bahkan, Dia juga menundukkan matahari yang dapat
kamu manfaatkan kehangatan dan sinarnya dan bulan agar kamu mengetahui jumlah
tahun dan perhitungan, dan selanjutnya semua bintang-bintang ditundukkan pula
dengan perintah-Nya untuk kemaslahatan kamu antara lain dengan melihat posisi
bintang-bintang itu kamu mendapat petunjuk arah dalam kegelapan. Sesungguhnya
pada yang demikian itu, yakni penundukkan dan pengaturan itu, benar-benar
terdapat banyak tanda-tanda kekuasaan atas kasih sayang-Nya bagi
kaum yang berakal, yakni yang mau memanfaatkan akal dan karunia Allah
kepada mereka.
Ar-Razi dalam
bukunya, Darrut ar-Tanzil, menjelaskan mengapa ayat ini mengungkap
bentuk jamak untu kata (ايات) sedang pada ayat
sebelumnya dan ayat setelahnya menggunakan bentuk tunggal. Menurutnya, ini
agaknya disebabkan hal-hal yang disebut oleh ayat sebelumnya dan setelahnya
semua bersumber dari bumi, dan dengan demikian, kesemuanya dapat dinilai hanya
satu, yakni semuanya dari satu ciptaan saja. Ayat sebelumnya berbicara tentang
penubuhan aneka buah yang tumbuh dbumi dan ayat setelah berbicara tentang
penciptaan melalui pengembangbiakan binatang yang juga dibumi, oleh karena itu,
kata (اية) terbentuk tunggal. Berbeda dengan ayat
ini, yang diuraikan disini adalah peredaran matahari, bulan dan bintang, pada
alam semesta ini yang memiliki sistem yang berbeda dengan yang lain. Jika
demikian, ayat ini berbicara dengan banyak tanda dan karena itu digunakan
jamak.
وَهُوَ ٱلَّذِي
خَلَقَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ كُلّٞ فِي فَلَكٖ
يَسۡبَحُونَ ٣٣
“Dan
Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.
Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya [QS. Al-Anbiya
21:33]”
كُلّٞ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونpada penggalan
ayat ini, mengandung makna bahwa masing-masing mempunyai poros dan garis edar
sendiri-sendiri, dan semua tanpa kenal dan tidak pernah diam, terus beredar.
Kenyataan ini tampak jelas pada matahari dan bulan. Ayat-ayat suci ini
mengisyaratkan suatu fakta ilmiah yang baru ditemukan oleh para astronom belasn
abad sesudah turunnya al-Qur’an . matahari, bumi, bulan, dan seluruh planet,
serta benda-benda langit lainnya dalam alam semesta ini bergerak di ruang
angkasa luar dengan kecapatan dalam arah tertentu. Disisi lain, matahari dengan
tata suryanya berada dalam suatu nebula besar dengan bima sakti. Kecepatan
edarnya bisa mencapai sekitar 700 kilometer per-detik dan peredarannya
mengitari pusat membutuhkan waktu 200 juta tahun cahaya.
Ayat ini menggunakan kata (خلق)
untuk menyatakan nikmat penciptaan keempat hal yang disebut diatas, sedang
ayat-ayat sebelumnya menggunakan kata (جعل)
hanya membutuhkan satu objek, sedang kata ja’ala/menjadikan membutuhkan
dua objek. Kata khalaqa pada ayat diatas objeknya hanya satu, yaitu (الليا)
malam, sedang kata ja’ala seperti terbaca pada ayat diatas
menggunakan dua objek, yaitu (السماء) langit, dan (سفقا)
atap. Kata khalaqa memberi kesan kehebatan ciptaan Allah yang
kata ja’ala mengandung makna kemanfaatan ciptaan itu sedang manusia
hendaknya dapat mengambil manfaat darinya yang kemudian mengantarnya kepada
pengakuan akan pemeliharaan Allah serta mensyukuri-Nya. Tidak jarang al-Qur’an
menggunakan kata khalaqa dalam arti ja’ala/menjadikan, demikian
juga sebaliknya. Ini dapat dibedakan dengan memperhatikan jumlah objek
masing-masing sehingga jika ada kalimat menggunakan kata khalaqa dengan
dua objek, yang dimaksud adalah ja’ala dengan kesan seperti yang di
sebutkan diatas. Demikian juga sebaliknya, jika kata ja’ala hanya
menggunakan satu objek, yang dimaksud adalah khalaqa dengan kesan
tersendiri itu.
Kalau saja anda bayangkan besarnya matahari itu yang mencapai satu
juta kali lipat besarnya bumi bahwa ia bergerak di angkasa raya yang begitu
luas, ketika itu anda akan menyadari sekelumit dari kuasa Allah SWT. Dan ini
pada gilirannya menumbulkan rasa kagum kepda-Nya.
C.
Keterkaitan Teori Sains dalam alQur’an
Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda,
“Bintang-bintang adalah penjaga lagit. Jika mereka hancur, apa yang
dijanjikan atas langit akan terjadi. Aku adalah penjaga sahabat-sahabatku. Jika
aku pergi, apa yang dijanjikan atas sahabat-sahabatku akan terjadi. Dan sahabat-sahabatku
adalah penjaga umatku. Jika sahabat-sahabatku pergi, apa yang dijanjikan atas
umatku akan terjadi.”
Pada bagian ini penulis akan menjelaskan fase pertama dari hadis
Rasulullah SAW. Yakni, “Bintang-bintang adalah penjaga lagit. Jika mereka
hancur, apa yang dijanjikan atas langit akan terjadi” kepergian bintang
diawaldengan cahayanya yang meredup, terus semakin meredup hingga tak bercahaya
sama sekali, kemudian ia akan meledak dan berubah menjadi debu langit. “apa
yang dijanjikan atas langit”, jika bintang-bintang pergi apa yang akan
terjadi selain kehancuran.[12]
Bintang adalah
objek luar angkasa yang terbesar, berupa bola gas yang panas berpijar sebagai
hasil fusi nuklir yang berlangsung didalamnya. Sekalipun terdiri dalam gas,
setiap bintang memiliki gaya gravitasi yang menjaga keseimbangan antar bintang[13]
dalam alam semesta yang kita diami saat ini terdapat jutaan bahkan trilliunan
bintang-bintang yang menghuni alam semesta raya. Hal ini dibuktikan dengan
teori sains yang penulis paparkan pada bagian pertama, selain itu, alQur’an
menginformasikan pada [QS. An-Nahl 16:12] “...Dan bintang-bintang itu
ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)”
ayat ini menyebutkan validasi antara teori alam semesta yang deklarasikan
dewasa ini dengan alQur’an dan hadis yang Rasulullah SAW sampaikan di 15 abad
yang lalu.
Sebagaimana
makhluk Allah lainnya, bintang juga mengalami fase-fase kehidupan yang dimulai dari
fase kelahiran, muda, dewasa, tua, dan mati ketika ia meledak dan berubah
menjadi debu luar angkasa.[14] Hal
ini membuktikan bahwa bintang merupakan makhluk atau sebuah ciptaan Allah SWT.
Yang bisa mengalami kehancuran dan penciptaan yang merupakan sebuah tanda Maha
Besar dan Maha Kuasa-Nya Allah SWT.
Kebenaran yang
dipertahankan oleh sumber-sumber agama adalah realitas penciptaan dari
ketiadaan[15] teori
ini yang tercantum dalam alQur’an bahwa Allah menciptakan makhluk dari sesuatu
ketiadaan kemudian menjadi ada dan pada akhirnya Allah hancurkan hingga kembali
tiada begitulaah alam semesta raya ini Allah ciptakan. Ini telah dinyatakan
dalam kitab-kitab suci yang berfungsi sebagai petunjuk jalan bagi manusia
selama ribuan tahun lamanya terlebih informasi yang alQur’an katakan[16].
Sebagai contoh alQur’an berbicara pada teori penciptaan alam semesta ini dari
ketiadaan, disamping bagaimana kemunculannya, yang sesuai dengan ilmu
pengetahuan abad ke-20 ini disebutkan pada QS. Al-An’am, 6:101
بَدِيعُ
ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ
صَٰحِبَةٞۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ١٠١
“
Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak
mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala
sesuatu”
Aspek penting lainnya yang diungkap alQur’an empat belas abad
sebelum penemuan teori big bang dan temuan yang berkaitan dengannya adalah
bahwa ketika diciptakan, alam semesta menempati volume kecil,
أَوَ لَمۡ يَرَ
ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقٗا
فَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ أَفَلَا
يُؤۡمِنُونَ ٣٠
“Dan
apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka
tiada juga beriman QS. Al-Anbiya 21: 30”[17]
Terjemah diatas ketika dilihat pada kata “suatu yang padu”
yang berarti “bercampur” dalam kamus bahasa arab. Kata itu digunakan
untuk merujuk dua zat yang berbeda yang menjadi satu. Fase “kami pisahkan”
mengandung makna bahwa sesuatu terjadi dengan memisahkan atau menghancurkan
strukturnya. Tumbuhnya biji ditanah adalah salah satu tindakan menggunakan
ungkapan ini.[18]
Mari kita
tinjau lagi ayat ini dengan mengetahui ini di benak kita. Dalam ayat ini,
langit dan bumi pada mulanya berstatus ratk (satu padu). Mereka dipisahkan
dengan satu muncul dengan yang lain. Menariknya para ahli kosmologi berbicara
tentang “telur kosmik” yang mengandung semua teori materi dialam semesta
sebelum big bang.[19]
Kebenaran lain
dalam alQur’an terungkap adalah pengembangan jagad raya yang ditemukan pada
akhir tahun 1920-an. Penemuan Hubble tentang geser merah dalam spektrum cahaya
bintang diungkapkan dalam alQur’an sebagai berikut:
وَٱلسَّمَآءَ
بَنَيۡنَٰهَا بِأَيۡيْدٖ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ ٤٧
“Dan
langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami
benar-benar meluaskannya”
Singaktnya,
temuan-temuan ilmu alam modern mengarah pada kebenaran yang dinyatakan dalam
alQur’an dan tidak mendukung dogma materialis. Materialis boleh saja menyatakan
bahwa semua itu “kebetulan” namun faktanya bahwa alam semesta terjadi sebagai
hasil penciptaan Allah dan satu-satunya pengetahuan yang benar tentang asal
mula alam semesta ditemukan dalam firman Allah yang diturunkan kepada
Rasulullah SAW. Dan disampaikan kepada kita sebagai umatnya, hal ini
menunjukkan akan kekuasaan Allah yang Maha Pencipta.[20]
[1] Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam,
kesempurnaan penciptaan atom, Jilid II, Bandung 2004, hlm 4
[2] Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam,
kesempurnaan penciptaan atom, Jilid II, Bandung 2004, hlm 5
[4] A. Gunawan Admiranto, Bandung, Eksplorasi
Tata Surya: 2017 hlm: 17
[5] A. Gunawan Admiranto, Bandung, Eksplorasi
Tata Surya: 2017 hlm: 18
[6] Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam,
penciptaan Alam Semesta, Jilid VII, Bandung 2004, hlm 57
[7]Gaya sentrifugal adalah lawan dari gaya sentripetal merupakan efek semu yang ditimbulkan ketika
sebuah benda melakukan gerak melingkar, sentrifugal berarti menjahui pusat putaran.
[8] Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam,
penciptaan Alam Semesta, Jilid VII, Bandung 2004, hlm 59
[9] A. Gunawan Admiranto, Bandung, Eksplorasi
Tata Surya: 2017 hlm: 77
[10] A. Gunawan Admiranto, Bandung, Eksplorasi
Tata Surya: 2017 hlm: 77
[11]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam,
penciptaan Alam Semesta, Jilid VII, Bandung 2004, hlm 82
[12]Prof. Dr. Zaghlul Raghib al-Najjar, Buku
Pintar Sains Dalam Hadis, Jakarta: 2013, hlm. 147
[13]Prof. Dr. Zaghlul Raghib al-Najjar, Buku
Pintar Sains Dalam Hadis, Jakarta: 2013, hlm. 148
[14]Prof. Dr. Zaghlul Raghib al-Najjar, Buku
Pintar Sains Dalam Hadis, Jakarta: 2013, hlm. 149
[15]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam,
Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 12
[16]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam,
Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 12
[17]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam,
Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 12
[18]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam,
Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 12
[19]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam,
Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 12
[20]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam,
Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 13






Post a Comment
0 Comments