A.    Informasi Dalam Sains
a.      Alam Semesta





Sebagai manusia tentunya kita pernah berpikir bahwa didalam kehidupan kita yang sangat teratur ini pernah bertanya dalam hati kecil kita sesungguhnya ada Dzat yang menciptakan kita, dari struktur terkecil yang disebut atom hingga sistem yang sangat besar hingga manusia tidak bisa menjangkaunya yaitu alam semesta. Selama berabad-abad lamanya manusia selalu mencari jawaban bagaimana asal-usul alam semesta ini, beribu-ribu model menggambarkan alam semesta telah disajikan dan becribu-ribu teori telah diungkap disepanjang sejarah, namun dalam catatan tersebut dapat tersimpulkan menjadi dua model yang berbeda, yaitu konsep alam semesta tak terbatas dan permulaan[1].
Teori yang pertama menyatakan bahwa alam semesta tak dapat bertahan dan ada sejak waktu yang tak terbatas dan terus bertahan dalam keaadan yang sekarang ini. Meurut teori ini alam semesta tidak memiliki awal ataupun akhir, atau alam semesta ini tidak pernah dicipkatan dari tidak ada menjadi ada, gagasan bahwa alam semesta ini tak terbatas, yaitu tidak berawal. Teori ini yang menjadi salah satu alasan para ateisme untuk mengingkari adanya Allah. Ini merupakan pandangan mereka bahwa alam semeta ini tidak berawal, berarti tidak ada yang menciptakan. Namun ilmu pengetahuan segera mengungkap bukti pasti bahwa argumen-argumen mereka tidak berlakum, karena alam semesta di dahului oleh ledakan besar yang disebut big-bang, muncul dari sesuatu yang tidak ada berarti ada satu hal yang masuk dalam logika kita yaitu “penciptaan” ini lah yang hanya bisa dilakukan oleh Tuhan.
Pada tahun 1922 abad ke-20 Masehi terjadi sebuah lompatan besar dimana seorang ahli fisika Rusia, Alexandre Friedmann, berhasil menemukan bahwa alam semesta tidak memiliki struktur yang statis, artinya selalu bergerak terus menerus tanpa henti[2]. Berpijak pada teori relativitas Einstein, Friedmann menghitung bahwa sebuah Implus saja dapat mengakibatkan alam semesta meluas atau mengerut. Hal ini disimpulkan oleh Georges Lemaitre, seorang ahli astronomi terkenal dibelgia, menurutnya hal ini penting disadari bahwa alam semesta memiliki awal dan terus-menerus meluas sejak permulaan, selain itu ada hal yang lainnya yang tidak kalah penting yaitu kelebihan radiasi yang tertinggal dari big bang dan ini dapat dilacak, setelah itu bukti bahwa alam semesta terus meluas mulai bermunculan. Menurut Einsten, terdapat tiga energi dalam alam semesta, yaitu: energi gravitas, energi elektromagnetik, dan energi atom. Apabila kita perhatikan alam mikro kosmos, dimana elektron berputar-putar mengelilingi inti atom atau pada alam makrokosmos dimana planet-planet berputar mengelilingi matahari, maka ketiga energi tadi terdapat didalamnya, seperti energi gravitasi inti atom yang menarik elektron.[3] Energi elektromagnetik yang menciptakan medan magnet, yang menciptakan medan magnet, akibat gerakan berputar elektron tersebut. Dan energi atom yang memelihara kesimbangan dari keseluruhan sistem yang ada pada alam semesta.



b.      Tata Surya

Sumber Gambar:https://pastiguna.com/nama-nama-planet-dalam-tata-surya/
Tata surya adalah sekumpulan benda langit, yaitu matahari sebagai pusatnya, dan planee-planetnya itu merkurius, venus, bumi, mars, yupiter, saturnus, uranus, neptunus dan 165 buah satelit planet yang sudah diketahui sampai sekarang, serta obyek-obyek tata surya lainya seperti asteroid, meteoroid, dan planet, komet, debu antar-planet, dan sebuah yang dinamakan sabuk kuiper[4]. Tata surya didominasi oleh matahari atau matahari sebagai pusat dari tata surya, karena massa seluruh planet dan anggota tata surya lainnya hanya 0,0014 atau 14 x 10-4 kali massa matahari. Selain Matahari, obyek-obyek  yang besar didominasi oleh planet-planet besar seperti, saturnus, uranus, neptunus.
Ujung tata surya adalah Neptunus yang berada pada jarak milyaran kilometer dari matahari. Diseberang neptunus terdapat sabuk kuiper yang terbentuk seperti donat yang tersusun dari objek-objek beku yang terbentang meluas sampai jarak 12 milyar kilometer. Sabuk kuiper diselumbungi lapisan terbentuk bola yang diberi nama awan ort[5] yang bisa meluas sampai pada jarak 6 triliun kilometer dari matahari. Satuan jarak dalam telaah tentang tata surya adalah satuan astronomi (SA) yang besarnya sebesar jarak rata-rata bumi kematahari yaitu 150 juta kilometer. Perhatikaan gambar dibawah ini.

Sumber gambar : https://langitselatan.com/2015/07/03/apa-itu-awan-oort/
Dari pemaparan ini lah kita bisa mengetahui seberapa besar tata surya kita saat ini, namun penulis hanya sebutkan satu tata surya dalam galaksi bima sakti kita, ada banyak tata surya-tata surya lainnya terutama dalam galaksi bima sakti.
            Tata surya adalah salah satu keselarasan keindahan yang paling mengagumkan yang dapat disaksikan, terdapat banyak planet. Baik dalam maupun luar dengan lima puluh empat satelit yang diketahui dan benda-benda kecil yang jumlahnya tidak diketahui[6]. Pada struktur tata surya, kita menemukan contoh lain dari keindahan keseimbangan; keseimbangan antara gaya sentrifugal[7] planet yang dilawan oleh gaya gavitasi dari benda primer planet tersebut. Astronomi menyebut benda primer adalah benda yang dikitari oleh benda lainnya. Seperti contoh benda primer bumi adalah matari, dan sebagainya. Ini bisa di permaksudkan bahwa dalam tata surya benda yang memiliki gravitasi lebih besarlah yang akan menarik benda yang memiliki gravitasi yang lebih kecil, benda yang memiliki gravitasi lebih besar itulah yang disebut dengan benda primer).




c.       Planet Bumi (planet biru)

            Bumi adalah satu-satunya tempat dimana manusia dapat hidup dan bertahan tanpa alat bantu, berkat tanah dan air yang melimpah serta atmosfer yang dapat dihirup untuk bernafas.[8] Tidak seperti 63 planet utama beserta satelit lain dalam tata surya kita, bumi adalah satu-satunya planet yang memiliki atmosfer, suhu lingkungan dan permukaan yang cocok bagi kehidupan. Meskipun air, kebutuhan utama kehidupann, tidak ditemukan ditempat lain dalam tata surya kita, tiga-perempat permukaan bumi dipenuhi dengan air. Planet yang berjari-jari sekitar 6.000 km ini sangat berbeda dengan planet lainnya seperti venus yang ketebalannya 80 kali ketebalan atmosfer bumi (tekanan serta dengan tekanan air laut pada kedalaman sekitar 1,5 km dibawah permukaan air lait). Jika yang terjadi pada bumi sama dengan yang terjadi pada venus, maka kita tidak akan bisa hidup seperti ini, bahkan banyak meteroid yang jatuh ke bumi tanpa terbakar habis di atmosfer bumi. Pada siang hari,  udara yang terdapat di dekat permukaan mendapatkan pemanasan cahaya matahari dan pemanasan ini membuatnya mengembang hingga ia bergerak keatas. Oleh sebab itu, temperatur di dekat bumi selalu berada dalam keadaan yang memungkinkan kehidupan berjalan.[9]

Bila udara mengerut jika dipanaskan, maka pada siang hari udara akan bergerak kebawah dan permukaan bumi menjadi sangat panas hingga tidak akan mungkin menyokong kehidupan. Pergerakan udara ini menghasilkan angin yang memindahkan berbagai senyawa seperti karbon dioksida dari daerah perkotaan, atau memindah oksigen ke daerah perkotaan yang membuthkannya, itu salah satu keistimewaan dari atmosfer.[10]
            Kesimbangan yang memungkinkan kehidupan adalah hal-hal yang akan kita bahas karena ini adalah salah satu dan satu-satunya yang ada di bumi. Mempelajari bumi, kita dapat menyusun daftar “faktor yang menentukan bagi kehidupan” sepanjang kita mau. Ahli astronomi Amerika membuat daftar sendiri:
Gravitasi di permukaan:
1.      Jika lebih kuat : atmosfer menahan terlalu banyak amonia dan methana
2.      Jika lebih lemah : atmosfer planet akan terlalu banyak air
Jarak dengan bintang induk (matahari)
1.      Jika lebih jauh : planet akan terlalu dingin bagi siklus air yag stabil
2.      Jika lebih dekat : planet akan terlalu panas bagi siklus air yang stabil.
Ketebalan kerak bumi
1.      Jika lebih tebal : terlalu banyak oksigen berpindah dari atmosfer ke kerak bumi
2.      Jika lebih tipis : aktivitas tektonik dan vulkanik akan terlalu besar
Periode rotasi
1.      Jika lebih lama : perbedaan suhu pada siang dan malam hari terlalu besar.
2.      Jika lebih cepat : kecepatan angin pada siang terlalu tinggi
Interaksi gravitasi dengan bulan
1.      Jika lebih besar : efek pasang-surut pada laut, atmosfer dan periode rotasi semakin merusak
2.      Jika lebih kecil : perubahan tidak langsung pada orbit menyebabkan ketidakstabilan
Medan magnet
1.      Jika lebih kuat : badai elektromagnetik terlalu merusak
2.      Jika lebih lemah : kurang perlindungan dari radiasi yang membahayakan dari bintang.
Ini hanya sebian “keputusan rancangan” yang harus dibuat agar kehidupan ada dan bertahan. Namun sesedikit ini pun cukup untuk menunjukkan bahwa keberadaan bumi bukan karena kebetulan, tidak juga terbentuk oleh serangkaian kejadian acak.[11]

B.     Informasi dalam alQuran
ءَأَنتُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا أَمِ ٱلسَّمَآءُۚ بَنَىٰهَا ٢٧  رَفَعَ سَمۡكَهَا فَسَوَّىٰهَا ٢٨ وَأَغۡطَشَ لَيۡلَهَا وَأَخۡرَجَ ضُحَىٰهَا ٢٩  وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ ٣٠
“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya [QS. An-Nazi’aat, 79: 27-30]”
وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ وَٱلنُّجُومُ مُسَخَّرَٰتُۢ بِأَمۡرِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ١٢
“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya) [QS. An-Nahl 16:12]”
            Al-Biqai menghubngkan ayat ini dengan ayat yang lalu dengan cara menimbulkan satu sanggahan yang boleh jadi datang dari seorang ateis yang boleh jadi berkata :” perbedaan dan keragaman tumbuhan dan buah itu disebabkan oleh faktor alam dan peredaran planet-planet”. Pandangan itu dibantah oleh ayat ini yang intinya adalah bahwa planet-planet itu tidak mungkin dapat melakukannya karena ia pun mengalami perubahan-perubahan dan semuanya tunduk kepada kekuasaan Allah SWT.
            Dapat juga dikatakan bahwa setelah menyebut nikmat-nikmat Ilahi yang terhampar dibumi, ayat ini beralih mengurai nikmat-Nya yang bersumber dari langit. Untuk itu, ayat ini mengatakan : Dan disamping aneka anugerah-Nya yang telah diuraikan dalam sebelum ini, masih banyak anugerah-Nya yang lain. Antara lain Dia juga-demi kemaslahatan semua makhluk- menundukkan malam hingga menjadikan juga siang sehingga menjadi terang-benerangagar kamu dapat giat belajar dan giat bekerja, bahkan, Dia juga menundukkan matahari yang dapat kamu manfaatkan kehangatan dan sinarnya dan bulan agar kamu mengetahui jumlah tahun dan perhitungan, dan selanjutnya semua bintang-bintang ditundukkan pula dengan perintah-Nya untuk kemaslahatan kamu antara lain dengan melihat posisi bintang-bintang itu kamu mendapat petunjuk arah dalam kegelapan. Sesungguhnya pada yang demikian itu, yakni penundukkan dan pengaturan itu, benar-benar terdapat banyak tanda-tanda kekuasaan atas kasih sayang-Nya bagi kaum yang berakal, yakni yang mau memanfaatkan akal dan karunia Allah kepada mereka.
            Ar-Razi dalam bukunya, Darrut ar-Tanzil, menjelaskan mengapa ayat ini mengungkap bentuk jamak untu kata (ايات) sedang pada ayat sebelumnya dan ayat setelahnya menggunakan bentuk tunggal. Menurutnya, ini agaknya disebabkan hal-hal yang disebut oleh ayat sebelumnya dan setelahnya semua bersumber dari bumi, dan dengan demikian, kesemuanya dapat dinilai hanya satu, yakni semuanya dari satu ciptaan saja. Ayat sebelumnya berbicara tentang penubuhan aneka buah yang tumbuh dbumi dan ayat setelah berbicara tentang penciptaan melalui pengembangbiakan binatang yang juga dibumi, oleh karena itu, kata (اية) terbentuk tunggal. Berbeda dengan ayat ini, yang diuraikan disini adalah peredaran matahari, bulan dan bintang, pada alam semesta ini yang memiliki sistem yang berbeda dengan yang lain. Jika demikian, ayat ini berbicara dengan banyak tanda dan karena itu digunakan jamak.
وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ كُلّٞ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونَ ٣٣
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya [QS. Al-Anbiya 21:33]”
كُلّٞ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونpada penggalan ayat ini, mengandung makna bahwa masing-masing mempunyai poros dan garis edar sendiri-sendiri, dan semua tanpa kenal dan tidak pernah diam, terus beredar. Kenyataan ini tampak jelas pada matahari dan bulan. Ayat-ayat suci ini mengisyaratkan suatu fakta ilmiah yang baru ditemukan oleh para astronom belasn abad sesudah turunnya al-Qur’an . matahari, bumi, bulan, dan seluruh planet, serta benda-benda langit lainnya dalam alam semesta ini bergerak di ruang angkasa luar dengan kecapatan dalam arah tertentu. Disisi lain, matahari dengan tata suryanya berada dalam suatu nebula besar dengan bima sakti. Kecepatan edarnya bisa mencapai sekitar 700 kilometer per-detik dan peredarannya mengitari pusat membutuhkan waktu 200 juta tahun cahaya.
Ayat ini menggunakan kata (خلق) untuk menyatakan nikmat penciptaan keempat hal yang disebut diatas, sedang ayat-ayat sebelumnya menggunakan kata (جعل) hanya membutuhkan satu objek, sedang kata ja’ala/menjadikan membutuhkan dua objek. Kata khalaqa pada ayat diatas objeknya hanya satu, yaitu (الليا) malam, sedang kata ja’ala seperti terbaca pada ayat diatas menggunakan dua objek, yaitu (السماء) langit, dan (سفقا) atap. Kata khalaqa memberi kesan kehebatan ciptaan Allah yang kata ja’ala mengandung makna kemanfaatan ciptaan itu sedang manusia hendaknya dapat mengambil manfaat darinya yang kemudian mengantarnya kepada pengakuan akan pemeliharaan Allah serta mensyukuri-Nya. Tidak jarang al-Qur’an menggunakan kata khalaqa dalam arti ja’ala/menjadikan, demikian juga sebaliknya. Ini dapat dibedakan dengan memperhatikan jumlah objek masing-masing sehingga jika ada kalimat menggunakan kata khalaqa dengan dua objek, yang dimaksud adalah ja’ala dengan kesan seperti yang di sebutkan diatas. Demikian juga sebaliknya, jika kata ja’ala hanya menggunakan satu objek, yang dimaksud adalah khalaqa dengan kesan tersendiri itu.
Kalau saja anda bayangkan besarnya matahari itu yang mencapai satu juta kali lipat besarnya bumi bahwa ia bergerak di angkasa raya yang begitu luas, ketika itu anda akan menyadari sekelumit dari kuasa Allah SWT. Dan ini pada gilirannya menumbulkan rasa kagum kepda-Nya.
C.    Keterkaitan Teori Sains dalam alQur’an
Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda,
“Bintang-bintang adalah penjaga lagit. Jika mereka hancur, apa yang dijanjikan atas langit akan terjadi. Aku adalah penjaga sahabat-sahabatku. Jika aku pergi, apa yang dijanjikan atas sahabat-sahabatku akan terjadi. Dan sahabat-sahabatku adalah penjaga umatku. Jika sahabat-sahabatku pergi, apa yang dijanjikan atas umatku akan terjadi.”
Pada bagian ini penulis akan menjelaskan fase pertama dari hadis Rasulullah SAW. Yakni, “Bintang-bintang adalah penjaga lagit. Jika mereka hancur, apa yang dijanjikan atas langit akan terjadi” kepergian bintang diawaldengan cahayanya yang meredup, terus semakin meredup hingga tak bercahaya sama sekali, kemudian ia akan meledak dan berubah menjadi debu langit. “apa yang dijanjikan atas langit”, jika bintang-bintang pergi apa yang akan terjadi selain kehancuran.[12]
            Bintang adalah objek luar angkasa yang terbesar, berupa bola gas yang panas berpijar sebagai hasil fusi nuklir yang berlangsung didalamnya. Sekalipun terdiri dalam gas, setiap bintang memiliki gaya gravitasi yang menjaga keseimbangan antar bintang[13] dalam alam semesta yang kita diami saat ini terdapat jutaan bahkan trilliunan bintang-bintang yang menghuni alam semesta raya. Hal ini dibuktikan dengan teori sains yang penulis paparkan pada bagian pertama, selain itu, alQur’an menginformasikan pada [QS. An-Nahl 16:12] “...Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)” ayat ini menyebutkan validasi antara teori alam semesta yang deklarasikan dewasa ini dengan alQur’an dan hadis yang Rasulullah SAW sampaikan di 15 abad yang lalu.
            Sebagaimana makhluk Allah lainnya, bintang juga mengalami fase-fase kehidupan yang dimulai dari fase kelahiran, muda, dewasa, tua, dan mati ketika ia meledak dan berubah menjadi debu luar angkasa.[14] Hal ini membuktikan bahwa bintang merupakan makhluk atau sebuah ciptaan Allah SWT. Yang bisa mengalami kehancuran dan penciptaan yang merupakan sebuah tanda Maha Besar dan Maha Kuasa-Nya Allah SWT.
            Kebenaran yang dipertahankan oleh sumber-sumber agama adalah realitas penciptaan dari ketiadaan[15] teori ini yang tercantum dalam alQur’an bahwa Allah menciptakan makhluk dari sesuatu ketiadaan kemudian menjadi ada dan pada akhirnya Allah hancurkan hingga kembali tiada begitulaah alam semesta raya ini Allah ciptakan. Ini telah dinyatakan dalam kitab-kitab suci yang berfungsi sebagai petunjuk jalan bagi manusia selama ribuan tahun lamanya terlebih informasi yang alQur’an katakan[16]. Sebagai contoh alQur’an berbicara pada teori penciptaan alam semesta ini dari ketiadaan, disamping bagaimana kemunculannya, yang sesuai dengan ilmu pengetahuan abad ke-20 ini disebutkan pada QS. Al-An’am, 6:101
بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُۥ وَلَدٞ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ صَٰحِبَةٞۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ١٠١
“ Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu”
Aspek penting lainnya yang diungkap alQur’an empat belas abad sebelum penemuan teori big bang dan temuan yang berkaitan dengannya adalah bahwa ketika diciptakan, alam semesta menempati volume kecil,
أَوَ لَمۡ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقٗا فَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ ٣٠
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman QS. Al-Anbiya 21: 30”[17]
Terjemah diatas ketika dilihat pada kata “suatu yang padu” yang berarti “bercampur” dalam kamus bahasa arab. Kata itu digunakan untuk merujuk dua zat yang berbeda yang menjadi satu. Fase “kami pisahkan” mengandung makna bahwa sesuatu terjadi dengan memisahkan atau menghancurkan strukturnya. Tumbuhnya biji ditanah adalah salah satu tindakan menggunakan ungkapan ini.[18]
            Mari kita tinjau lagi ayat ini dengan mengetahui ini di benak kita. Dalam ayat ini, langit dan bumi pada mulanya berstatus ratk (satu padu). Mereka dipisahkan dengan satu muncul dengan yang lain. Menariknya para ahli kosmologi berbicara tentang “telur kosmik” yang mengandung semua teori materi dialam semesta sebelum big bang.[19]
            Kebenaran lain dalam alQur’an terungkap adalah pengembangan jagad raya yang ditemukan pada akhir tahun 1920-an. Penemuan Hubble tentang geser merah dalam spektrum cahaya bintang diungkapkan dalam alQur’an sebagai berikut:
وَٱلسَّمَآءَ بَنَيۡنَٰهَا بِأَيۡيْدٖ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ ٤٧
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya”
            Singaktnya, temuan-temuan ilmu alam modern mengarah pada kebenaran yang dinyatakan dalam alQur’an dan tidak mendukung dogma materialis. Materialis boleh saja menyatakan bahwa semua itu “kebetulan” namun faktanya bahwa alam semesta terjadi sebagai hasil penciptaan Allah dan satu-satunya pengetahuan yang benar tentang asal mula alam semesta ditemukan dalam firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Dan disampaikan kepada kita sebagai umatnya, hal ini menunjukkan akan kekuasaan Allah yang Maha Pencipta.[20]



[1] Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam, kesempurnaan penciptaan atom, Jilid II, Bandung 2004, hlm 4
[2] Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam, kesempurnaan penciptaan atom, Jilid II, Bandung 2004, hlm 5
[3]Gustian Ary Ginanjar, Jakarta, rahasia sukses membangkitkan ESQ power:2003 hlm:39

[4] A. Gunawan Admiranto, Bandung, Eksplorasi Tata Surya: 2017 hlm: 17
[5] A. Gunawan Admiranto, Bandung, Eksplorasi Tata Surya: 2017 hlm: 18
[6] Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam, penciptaan Alam Semesta, Jilid VII, Bandung 2004, hlm 57
[7]Gaya sentrifugal adalah lawan dari gaya sentripetal merupakan efek semu yang ditimbulkan ketika sebuah benda melakukan gerak melingkar, sentrifugal berarti menjahui pusat putaran.
[8] Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam, penciptaan Alam Semesta, Jilid VII, Bandung 2004, hlm 59
[9] A. Gunawan Admiranto, Bandung, Eksplorasi Tata Surya: 2017 hlm: 77
[10] A. Gunawan Admiranto, Bandung, Eksplorasi Tata Surya: 2017 hlm: 77
[11]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam, penciptaan Alam Semesta, Jilid VII, Bandung 2004, hlm 82
[12]Prof. Dr. Zaghlul Raghib al-Najjar, Buku Pintar Sains Dalam Hadis, Jakarta: 2013, hlm. 147
[13]Prof. Dr. Zaghlul Raghib al-Najjar, Buku Pintar Sains Dalam Hadis, Jakarta: 2013, hlm. 148
[14]Prof. Dr. Zaghlul Raghib al-Najjar, Buku Pintar Sains Dalam Hadis, Jakarta: 2013, hlm. 149
[15]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam, Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 12
[16]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam, Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 12
[17]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam, Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 12
[18]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam, Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 12
[19]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam, Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 12
[20]Harun Yahya, Pustaka Sains Populer Islam, Kesempurnaan Penciptaan Atom, JilidII, Bandung 2004, hlm 13