artikel
adab Ikhlas terhadap al-Qur'an
Sumber Gambar : http://www.alquranterjemahan.com/2015/06/daftar-nama-surat-al-quran.html
Pembasan Attibyan Fi Hamalatil Qur’an Imam Nawawi bab
IV.
Syarat pertama dalam adab mengamalkan alQur’an pertama harus dilandasi
dengan Ikhlas. Ikhlas tidak berbicara prilaku untuk di dengarkan dan dilihat
manusia (riya) apalagi di lakukan bukan karena Allah (syirik). Allah adalah
satu-satunya tujuan untuk mencapai kadar ikhas. Seperti keajiban mengajarkan
alQur’an sama dengan kewajiban kita untuk shalat maka harus didasari dengan
landasan ikhlas ini menurut ulama salaf. Berbeda dengan ulama mutaakhirin, hal
ini dibolehkan untuk mengambil upah untuk mengajarkan alQur’an karena dengan
melihat kondisi saat in yang banyak orang meniggalkan mengajar ilmu agama
islam. Pada perinsipnya hanya diperbolehkan dengan tanpa memasang tarif. Tujuannya
hanya bertakwa pada Allah (mendekatkan diri kepada Allah). Sebagai contoh
ketika kita disuruh diminta mengajarkan
alQur’an untuk orang miskin dan orang kaya maka harus kita yang
dahulukan orang yang miskin. Karena orang yang miskin memilih kita karena kita
salah satu harapan yang dipilih mereka, disinilah letak keikhlasan yang harus
kita lakukan.
Hudaiifah mengatakan ikhlas adalah orang yang mampu menyamakan
antara perbuatan dzohir dan batinnya. Jika kita bisa hidup seperti ini maka
inilah hidup yang aman dan tidak menjadi beban untuk membuat kita hidup kita
susah. Bagaimana cirinya ?. diantarnya :
1.
Orang
yang menyamakan antara pujian dan celaan. Karena ini sama-sama berasal dari
makhluk. Kita belajar dari kitab ihya maka kita harus bersyukur ketika kita
dipuji oleh makhluk karena dengan begitu maka kita mengetahui kekurangan kita
dari celaan orang lalin. Artinya kita bisa mengetahui penyakit hati kita dengan
celaan orang lain yang dilontarkan pada kita. Karena penyakit hati orang lain
lebih mengatui penyakit hati kita dengan membuka aib kita. Dengan hal ini kita
bisa memperbaiki diri kita sebelum kita menghadap kematian. Jadi ini lah yang
dimaksud dari pujian sama dengan celaan bagi orang -orang pada umumnya
2.
Jika
kita beramal soleh dia lupa, tetapi ketika ia berbuat dosa maka ia lama
melupakannya.
Orang
yang ikhlas itu lebih berharap pahala amalnya dibales di akhirat bukan didunia.
Ada tingkatan tiga tingkatan ikhlas. Pertama orang yang beramal untuk berharap
di balas di dunia (‘ibadatul Abdi) . kedua ibadahnya orang pedagang
memilah-dan memilih dalam beribadah mana yang lebih besar fadilahnya (‘ibadatul
tajiir). Yang ketiga orang yang beribadah kepada Allah karena dengan dasar
Cinta (‘ibadatul muhibbin). Sebagaimana yang dikatakan Rabiah “Ya
Allah jika aku beribadah karena surga-Mu, maka jangan masukan aku ke surga-Mu.
Jika karena Neraka-Mu maka masukan aku pada Neraka-Mu”. Inilah yang berat untuk
kita amalkan Qur’an yang kita hafalkan.


Post a Comment
0 Comments