sumber Gambar : https://www.bing.com/images/search?view=detailV2&ccid=SrganBGG&id=B7F15B77A0E306015F8F992B4E7016D041148F34&thid=OIP.SrganBGGymGn4sv7xwWNmgHaHb&q=mendengarkan&simid=607986591798395989&selectedIndex=53&ajaxhist=0
Manusia di berkahi Allah memiliki dua telinga dan satu mulut. Disini lah letak kuasa dan keadilan Tuhan yang Maha sempurna dalam ciptaan-Nya. Mari kita merenung sejenak makna dibalik kesempurnaan penciptaan ini mengapa harus sepasang telinga lalu mengapa perbandingannya mengapa mesti dengan mulut? Kenapa tidak mata atau hidung. Padahal sama-sama panca inda bukan. Disinilah letak hikmah dibalik tulisan sederhana ini.
            Sahabatku manusia memiliki dua telinga dan satu mulut ini pertanda bahwa begitu jelasnya Rasulullah di utus untuk menyempurnakan akhlak bagi seluruh alam semesta. Apa kaitannya dengan tugas Rasulullah dari penciptaan ini. Disini lah telak pembeda antara manusia dengan hewan karena jika manusia mau berpikir dan merenungi dari hal yang sederhana ini maka kita akan menjadi menusia yang memanusiakan manusia. Allah mencipkan sepasang telinga untuk mendengar dan satu mulut untuk berbicara ini pertanda bahwa semestinya manusia menjadi seorang pendengar yang baik dan mau mendengarkan pendapat orang lain. Hal ini mengjarkan kita bagaiaman mendahulukan orang lain dari  pada diri kita yang mermuara pada menghukum kita untuk menekan nafsu atau ego kita yang selalu merasa paling benar dari pada orang lain. Sifat seperti ini lah yang tidak mencerminkan kita sebagai manusia karena di berkahi dengan akal fikiran kita terutama kita yang beragama muslim maka sangat jelas dalam kisah Rasulullah yang selalu mendahulukan orang lain lain dari pada mementingkan egonya. Dan lain sebagainya. Selanjutnya ketika seorang berbicara didepan kita di anjutkan untuk diam dan mendengarkan nya bukan malah membalasnya dengan ocehan yang tidak ada gunanya bukan ? ini lah bentuk etika dan adab yang akan mencerminkan diri kira karena pada kenyataannya dan pada umumnya manusia memiliki ego untuk merasa berkuasa dan merasa paling baik pendapatnya. Ini lah renenugan sederhana karena kita memiliki sepasang telinga yang kinerjanya dua kali dari pada satu mulut kita. Jika kita maksimalkan untuk memfungsikannya atau kita berbuat adil pada diri kita tentulah kita akan memiliki ketentraman dan kenyaman dalam hidup bermasyarakat bukan.
            Sahabatku penulis pernah disodorkan satu pertanyaan dari salah satu guru pemimbing waktu ikut belajar tambahan dulu di SMA. Beliau bertanya mengapa pada al-Qur’an tersusun kalimat samiul basir, sami’ul alim, kalimat itu tersusun dengan kata mendengar baru melihat. Dan sebagainya. Hal ini penulis kira ada kaitannya dari penciptaan sepasang telinga ini. Ternya secara sederhana kita memahami bahwa betapa pentingnya menjadi pendengar yang baik dari pada membantah. Disinilah letak sebuah hikmah sederhana ini untuk kita renungi jadilah pendengar yang baik untuk menghormati dan menghargai orang lain. Maka akan berlaku sebaliknya pada diri kita karena manusia yang baik adalah manusia yang bisa berbuat adil pada diri sendiri apalagi terhadap orang lain. Dari tulisan sederhana penulis mengajak terlebih untuk diri penulis sendiri untuk lebih dan harus menghargai pendapat orang lain dan menerima kritik yang bertujuan untuk memberikan pembenaran pada diri kita karena dengan begitu kita akan merasakan ketentraman dan kekuatan ukhuah dari hal yang paling sederhana ini. wallahualam