sumber Gambar: https://www.bing.com/images/search?view=detailV2&ccid=0otTGHNA&id=720CBF5B0947092BBAA8480D6EE998DCA106C9E4&thid=OIP.0otTGHNAYUBfXL68rFSnpgHaEK&q=retorika&simid=608001679990787107&selectedIndex=4&ajaxhist=0

sebagaim manusia pada umumnya tentu kita tidak akan terlepas dari komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung (dengan alat), komunikasi yang baik tentu memerlukan beberapa kaidah hal ini berguna untuk menunjukkan kualitas diri kita dari lawan bicara kita, nah dalam tulisan sederhana ini penulis sedikit akan menbagi pemahaman tentang ilmu balaghah yang harus kita perhatikan ketika kita berkomunikasi, apalagi kita sebagai pendakwah dan menjadi public figure di masyarakat nanti. 
dalam ilmu balagah terdapat dua kaidah yaitu Kalam dan Mutakalim, berbeda dengan fasohah. ilmu balaghah memperhatikan tidak hanya membahas redaksional dan melihat kefasihan kalamnya. Di ilmu fasohah lebih membahas ilmu umum, tetapi dalam balaghah membahas ke khususannya. Sebagai contoh fashoha  membahas masalah kucing tetapi balaghah membahas tentang kucing, artinya kucing itu sudah meliputi hewan.
Balaghah secara bahasa adalah masdar dari fiil madi artinya sesorang telah sampai meraih keinginannya,  baligoh artinya telah sampai. Menurut istilah balaghah merupakan makna secara benar dan tepat sehingga memiliki pengaruh signifikan dengan memperhatikan kebutuhan situasi dan kondisi, baik situasi penyampaian maupun kondisional. Dalam balaghah ini harus sebuah ungkapan bukan isyarat seperti morse atau bahasa tubuh, dan sebagainya. Ungkapan ini harus berupa makna atau sesuatu yang ada di pikiran kita itu maksud dari makna disini, karena dalam pikiran kita ada tujuan untuk mengungkapan makna itu, selaim itu, balaghah harus benar yang makna benar disini harus sesuai dengan kaidah bahasa arab yang fasohah. Memerhatikan kondisi audien juga perlu diperhatikan dalam mempelajari ilmu balaghah, seperti berbicara kepada petani dengan bahasa yang harus dimengerti oleh petani itu, hal ini disamping situasi penyampaian. Balaghah sifat dari sebuah kalimat dan orang yang menyampaikan kalimat tersebut, hal ini berbeda dengan fashohah.
 Kalimat itu harus kalimat yang baligh, kalimat yang baligh disini adalah jika kalimat tersebut sesui dengan yang dibutuhkan oleh situasi dan kondisi dengan menggunakan lafal-lafal yang fashih, seperti ingin memuju orang dengan melihat kondisi orang tersebut ada yang suka dengan pujian panjang dan ada juga dengan singkat dengan makna yang luas, ini lah yang perlu diperhatikan dalam mempelajari ilmu balaghah. Semisal memuji seseorang maka yang dibutuhkan adalah gaya yang pengungkapan panjang, ini lah yang perlu diperhatikan seperti muqtadlo (gaya pengungkapan panjang, memuji seseorang (hal), gaya pengungkapan panjang ketika memuji (muthabaqah), dan kalimat yang diungkapkan dengan gaya pengungkapan panjang ketika sedang ingin memuji seseorang. Itu lah beberapa poin yang mesti diperhatikan ketika mau memuju atau mencela orang yang dengan kata lain memakai ilmu balaghah dalam kehidupan kita, karena seorang disebut baligh jika ia memiliki kemampuan atau bakat untuk menciptakan sebuah kalimat yang baligh yang sesuia dengan kebutuhan situasi dan kondisi. Sebagai contoh seorang yang sangat pandai dengan menggunakan balaghah yang baik adalah Soekarno seorang proklamator Indonesia. Pernah ada sebuah cerita ketika dimonas terdapat sebuah tugu seperti monas hal ini yang dikomentari oleh Soekarno, hal ini langsung di tindak lanjuti oleh presidennya. Pernah suatu saat Soekarno memberikan pidato didepan santri al Azhar yang di segani oleh audien karena dengan retorika dalam pidato yang disampaikan sangat bagus dan sangat paham dengan audiensi dan situasi saat itu.
Beberapa hal yang terkait dalam balaghah ketika kita ingin menulis  atau mengungkapkan sesuatu diantranya :
1.      Gaya bahasa ilmiah (uslub ilmy), ini diperlukan ketika menulis buku ajar, makalah, dan lain-lain. Cirinya adalah bersifat logis dan analitis, memakai bahasa baku dan mematuhi aturan kebahasaan secara ketat, tidak ada pengulangan, dan menjauhi bahasa-bahasa puitis, sastra, atau majaz.
2.      Gaya bahasa sastra (uslub adabiy), ini diperlukan ketika menulis puisi, sair, cerpen, novel, dan lain-lain. Dengan ciri mengutamakan keindahan bahasa, berbahasa lebih bebas, boleh saja terjadi pengulangan, memakai bahasa sastra, hiperbola, atau majaz
3.      Gaya bahasa orasi (Ushul Khithaby), seperti kampanye, khutbah, iklan, dan lain-lain. Dengan ciri biasanya untuk mempengaruhi dan membujuk pendengar, atau pembaca. Bahasanya bebas tetapi mengutamakan makna yang kuat. Sering terjadi pengulangan, hal ini sangat perlu karena ini lah yang akan menjadi jantung pertahanan untuk bisa mempengaruhi orang lain, disinilah letak perbedaan antara gaya bahasa orasi dengan gaya bahasa ilmiah, terakhir yaitu memakai bahasa yang jelas dan mudah dipahami.
Inilah sedikit pemaparan tentang ilmu balaghah untuk meningkatan kualitas diri kita agar bisa mempososisikan diri kita terhadap lawan biacara kita.