artikel
Istifham (Bertanya)
sumber gambar : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkfLCsg9nddLx9w0psdLx_jFrQv1E1UubsELc9b3zqyMBDVytWKoDznHrYUIfLbUEsj6F253FmoMhL1-HQUBg3DMrCszuYwWvYX8kVuRTqsCmCxdyQ0XTjv-QN9CE0KKhCsyg4vYTy4yPQ/s1600/question-mark-nothing.jpg
Makna aslinya adalah meminta
pengetahuan yang ia belum tahu,
mengingat kembali pembahasan sebelumnya tentang isya’, istifham ini termasuk salah
satu bentuk insya’ karena mutakallim belum mengetahui suatu informasi dari suatu
kejadian. Dalam istifham ada beberapa adat (alat) yang digunakan untuk bertanya
tentunya dalamm bahasa arab biasanya menggunakan “a” (apa/apalah), biasa juga
menggunakan kata hal (apakah), biasa juga menggunakan kata ma (apa)
biasanya untuk menanyakan benda, man (siapa) biasanya digunakan untuk
menanyakan benda, Mata (kapan, umum) menentukan waktu masa lampau akan
datang atau secara umum, ayana (kapan, akan datang) menanyakan waktu yang
akan datang, kayfa (bagaimana), ayna (dimana) untuk menanyakan
tempat, anna (bagaimana, dari mana, atau kapan) contoh pada alQur’an kata
tanya yang gunakan nabi Zakariah kepada siti Maryam yang menanyakan makan yang
ada di dalam kamarnya, kam (berapa), ie’ (yang mana), dan lain
sebagainya yang disebutkan diatas adalah pada umumnya.
Istifham dibagi
menjadi dua, ada yang bersifat deskriptif artinya tidak menyakan kepastian ya
atau tidak, biasanya digunakan untuk menanyakan kejelasan. Seperti perkataan
apa atau apakah, jika kata tanya yang digunakan apa maka ini lah pertanyaan
yang bersifat deskriptif berbeda ketika yang bertanya apakah maka akan keluar
jawaban ya atau tidak. Contoh lain seperti dari mana kamu? Ini lah pertanyaan
yang deskriptif yang memerlukan penjelasan dari keadaan yang kita lakukan. Biasanya
kita sering salah kaprah dengan hal yang sesederhana ini. Istifham yang kedua
adalah konfirmatif memberikan pembenaran seperti iya atau tidak yang telah disebutkan
tadi. Istifham ini biasanya mutakalim memberi pertanyaan untuk memberi
kejelasan pembenarannya mengenai pertanyaannya bukan untuk meminta penjelasan
mengenai pertanyaanya.
Contoh-contoh
istofham dalam al-Qur’an yaitu pada ayat 62 surat al-Anbiya, surat Maryam ayat
46, surat al-Baqarah 140, surat al-An’am ayat 143, surat az-Zumar ayat 9, surat
Yunus ayat 34, surat al-An’am 63, surat al-Baqarah ayat 214, surat ad-Dzariat
ayat 12, surat al-Baqarah ayat 269, dan surat Maryam ayat 73.
Kadang istifham
tidak sesuai dengan makna aslinya, seperti pertanyaan yang bersifat perintah
lihat QS al-Maidah ayat 91, kadang juga bersifat larangan seperti pada QS. At-Taubah
ayat 13, pertanyaan yang bersifat menyamakan seperti pada QS. Al-Baqarah ayat
6, ada juga perntanyaan bersifat meniadakan seperti pada QS. Ar-Rahman ayat 6,
ada juga pertanyaan yang bersifat mengingkari seperti pada QS. Al-An’am ayat
40, pertanyaan yang bersifat menarik minat seperti pada surah as-Shaf ayat 10,
pertanyaan yang membuat heran seperti pada QS. Al-Furqan ayat 7, pertanyaan untuk
mengagungkan seperti pada QS. Al-Baqarah ayat 255, pertanyaan yang mengancam seperti pada QS. Al-Fajr
ayat 6, dan lain sebagainya. Pertanyaan itu bisa kita ketahui ketika kita
melihat siyaqul Kalam (runtunan kalam) dan tujuannya.
Istifham menjadi
sebuah gaya bahasa pengungkapan ini biasanya di gunakan oleh bangsa Arab dalam
berbahasa. Istifham ini merupakan sebuah gaya pengungkapan tidak mesti dengan
langsung mengungkapan. Di al-Qur’an padahal Allah Maha Mengetahui tetapi tetap
menggunakan kalimat pertanyaan ini merupakan keindahan alam gaya al-Qur’an. Karena
pada dasarnya manusia itu memiliki sikap yang berbeda-beda, ada sebagian orang
yang ketika kita berbicara secara langsung bisa menyebabkan kesalahfahaman dan pada
akhirnya timbul sakit hari. Makanya dengan keindahan bahasa disini al-Qur’an
menggunakan kaidah istifham.


Post a Comment
0 Comments