sumber gambar : https://i.ytimg.com/vi/ebJI0ZMZYks/hqdefault.jpg
 tulisan ini menyambung pembahasan dari memahami ilmu balagih pada tulisan sebelunya. sebelum membahasa bagaimana kita memahami berita tentu kita perlu mengetahui landasan utama kita dalam kalam yang dipakai untuk menyampaikan berita. hal ini tentu perlu adanya ilmu ma'ani dalam belajar balagoh. Pengertian Ma’ani adalah bentuk jamak dari kata makna, arti, atau istilah. Pengertian ilmu ma’ani Yaitu kaidah-kaidah mengenai cara menyesuaikan kalam dengan yang dibutuhkan oleh situasi dan kondisi sehingga cocok dengan tujuan diungkapkannya kalam tadi. Dalam ilmu ma’ani, setiap kalam memeiliki dua unsur yaitu unsur makna kalam dan tujuan kalam tersebut. Ilmu ini memiliki faidah yaitu memahami mukjizat al-Qur’an dan melatih diri untuk bisa menciptakan kalam yang sesuai kaidah-kaidah ilmu ma’ani.
Perintisnya adalah Abdul Qodir al-Jurjani ( w. 471 H). Sumber ilmu ini bermuara pada al-Qur’an, al-Hadis dan kalam-kalam Arab. Dalam ilmu ma’ani. Dilihat dari segi tujuan pengungkapan, kalam dibagi menjadi dua yaitu khabar (berita) sesuatu yang sudah terjadi kan telah diucapkan yang bersifat informatif, yang kedua adalah insya’ (selain berita) menginginkan terjadinya sesuatu, kita bisa cek kebenearan mengenai pembagian kalam ini. Pada dasarnya kalam manusia itu memang terbagi menjadi dua bagian yaitu menceritakan sesuatu yang sudah terjadi atau menginginkan sesuatu itu terjadi. Sebagai contoh menyatakan “kamu cantik !, kalimat ini bisa sebagi khobar tetapi redaksinya memakai insya, artinya ada harapan sesuatu ketika  menyatakan kalimat itu”.
Khobar adalah sebuah kalam yang dengan sendirinya bisa dinilai benar atau salah (jujur atau dusta) tanpa melihat siapa yang mengatakannya. Khobar juga  adalah sebuah kalam yang subtansinya sudah terjadi meskipun tidak diucapkan. Ketika kita di sodorkan pertanyaan apa perbedaannya realita dengan fakta, perbedaannya adalah fakta itu sesuatu sudut pandang dari banyak orang mengenai sebuah fenomena, akan tetapi realita adalah kenyataan dari setiap ungkapan dari fenomena itu. Singkatnya ketika ada sebuah kecelakaan kita lihat dari sudut orang disekitarnya ketika yang memandang kecelakaan itu dari seorang montir dan dokter justru berbeda bukan, inilah yang di sebut fakta. Tetapi dari sudut padang personal mengenai suatu fenomena itu lah yang dimaksud dengan realitanya. Apa kaitannya perbedaan fakta dan realita ini terhadap khobar? Bisa kita lihat khobar itu lah pondasi dasar dari kalam yang diungkapkan oleh personal itu, karena kalam itu telah terucap dari peristiwa yang sudah terjadi (kecelakaan).
Macam-macam khobar itu ada dua. pertama, kabar shadiq (berita benar atau jujur) yaitu berita yang isinya sesuai dengan apa yang telah terjadi. Kedua, khabar kadzib (berita salah atau dusta yang sekarang dikenal hoax) yaitu berita yang isinya tidak sesuai dengan apa yang telah terjadi. Ini lah fenomena yang saat ini sexy untuk di perdebatkan karena pada zaman ini (banyak yang mengatakan zaman now) sulit untuk memilah dan miilih antara berita yang benar dan berita yang salah. Tugas kita adalah harus bisa membebdakan antara khobar dan insya’, ketika kalam itu sebuah khobar maka perlu kita klarifikasi. Ketika kalam itu berupa insya (nasehat) maka perlu yang kita perhatikan adalah ucapannya bukan dari siapa yang menasehatinya. Tetapi sekali lagi berbeda dengan khobar, yang kita lihat adalah siapa yang memberikan informasi itu orang jujur atau tidaknya. Tujuannya agar kita mudah mengklarifikasi berita yang kita terima.
Tujuan asli khabar ada dua, ini berdasarkan ilmu balagah. Pertama, faidatul khabar yaitu memberi tahu kepada orang yang tidak tahu mengenai suatu hal, seperti perkataan “hei baju belakang mu kotor” perkataan itu memang bertujuan memberi tahu keadaan sebenarnya yang terjadi yang tidak diketahui oleh orang yang di informasikan. Yang kedua, lazimul faidah yaitu mengabarkan bahwa mutakalim (orang yang berbicara) juga mengetahui apa yang telah diketahui oleh mukhotob (yang diajak bicara), lebih jelasnya adalah memberitahu bahwa saya juga mengetahui apa yang kamu ketahui. Sebagai contoh ketika saya lulus ujian dan kamu pun tahu hal itu lalu kamu memberi tahu kembali kepada saya bahwa saya telah lulus ujian.
Tujuan lain dari khabar yaitu diantaranya pertama, istriham yaitu mengharap belas kasihan atau rasa iba, ini seperti yang diucapkan nabi Musa yang diceritakan oleh Tuhan dalam bahasa Tuhan pada surat al-Qasas ayat 24, apakah maksudnya Nabi Musa memberi tahu Tuhan untuk keadaan padahal Tuhan telah mengetahui? Ini kita katakan tidak karena nabi musa bertujuan untuk mengharap belas kasihan pada Tuhan. Kedua, mengobarkan semangat. Ketiga, memperlihatkan lemahnya diri, ini bisa dilihat pada surat Rum ayat 4. Keempat, memperlihatkan kesedihan, ini bisa dilihat pada surat al-Imran ayat 36. Dalam keseharian kita, tujuan ini  bisa kita ketahui dengan memperhatikan konteks bahasanya dan historis keadaanya.
Khabar dalam redaksinya dibagi menjadi dua, Ini dilihat dalam bahasa Arab. Pertama dilihat dari jumlah ismiyah yaitu menunjukkan terjadinya sesuatu kepada sesuatu yang lain tanpa melihat apakah itu memperbarui diri ataukah terus menerus, seperti ucapan “bumi itu bergerak”. Kata tersebut tanpa melihat zaman atau waktu, karena dalam ilmu bahasa Arab jumlah Ismiyah itu diawali dengan Mubtada. Yang kedua adalah Jumlah Fi’liyah yaitu untuk menunjukkan makna memperbarui diri dan terjadi pada masa tertentu secara ringkas. Khusus fi’il mudhari’ bisa menunjukkan makna terus menerus, seperti pada ucapan “matahari telah terbit”. Namun dari dua pemaparan ini kita bisa lihat bahwa jumlah ismiyah lebih kuat maknanya.
Cara menyampaikan khabar kepada mukhab (orang yang diajak bicara) secara umum. Dibebakan menjadi tiga. Pertama, ibtida’i (permulaan) suatu kalam yang tidak diungkapan dengan ta’kid atau penguatan seperti sumpah dan sebagainya. Poin dari ibtida’i bisa kita lihat dari kalam yang ditunjukkan kepada mukhotob yang tidak tahu isi berita. Selain itu bisa kita lihat pada indikasinya seperti mukhotob tidak bertanya dan tidak membantah. Kedua, Thalabi ( permintaan) atau kalam yang harus menggunakan ta’kid poinnya adalah kalam yang ditujukkan kepada mukhotob yang ragu terhadap isi berita, selain itu indikasinya adalah mukhotob bertanya tetapi tidak membantah. Ketiga, Inkari (mengingkari) wajib menggunakan ta’kid.
Pengertian insya’ adalah sebuah kalam yang tidak bisa dinilai benar atau salah (jujur atau dusta), insya’ adalah sebuah kalam yang substansinya belum terjadi dan mutakalim ingin hal itu terjadi sebagai contoh pada kata “duduklah !”.
Insya bermacam-macam, diantanya adalah Insya’ Thalabi artinya insya yang menunjukkam permintaan terhadap mukhotob, yaitu terbagi menjadi lima hal seperti amr (perintah) Lihat surat Maryam ayat 12, Nahy (larangan) lihat surat al-Imran ayat 85, Istifham (bertanya) lihat surat maryam ayat 20, Tamanni (berhayal sesuatu yang tidak mungkin terjadi ) lihat surat maryam ayat 23, Nida’ (panggilan) lihat surat al-Baqarah ayat 21. Dan yang kedua adalah Insya’ Ghaitu Thalabi atau Insya’ yang menunjukkan permintaan seperti pujian lihat surat al-Ankabut ayat 58, celaan lihat surat az-Zumar ayat 72, akad , sumpah lihat surat yusuf ayat 85, dan lain sebagainya.