sumber gambar : https://lh3.googleusercontent.com/O_Jj74HwZb117ljoTWXz1GLOMNTwei7taXTyS1sitL_EWqUIv6OQCzBVX1zsvpyZYS0

hallo sahabat ku yang masih sering baca postingan saya, saya ucapkan terima kasih banyak yah... nah kali ini saya mau sedikit sharing dari perkuliahan hari ini yang di ampu oleh bapak Khoirun Niat, MA.mata kuliah Qowaid Tafsir semester 4 perodi Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, fakultas Ushuludin Institut Ilmu al-Qur'an Annur Yogyakarta Tahun 2018-2019, yuk langsung aja di cek-it-out...
Penjelasan kaidah sirah Nabawi dalam menafsirkan al-Qur’an adalah dengan mengkaitkan ayat-ayat al-Qur’an dengan sejarah hidup Nabi SAW, tentunya masih berkaitan dengan sunnah dan sebab an-Nuzul, selain itu lebih fokus pada psikologi Nabi dan apa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalil aqli dari kaidah ini adalah dikarenakan beberapa ayat al-Qur’an menyingung mengenai Nabi SAW. Baik berupa sikap, perbuatan atau kaidah yang menimpa beliau. Bahkan tak jarang, al-Qur’an menegur beliau atas sikap perbuatan beliu. Nah, untuk memahami ayat tersebut, tentunya diperlukan pengetahuan historis tentang apa yang sebenarnya terjadi pada beliau. Pengerahuan ini berguna supaya tidak terjadi kesalah pahaman dalam memahami ayat-ayat tersebut. Tetapi mengenai hal ini belum secara mendalam diterapkan dalam kaidah tafsir klasik, namun tafsir al-Jabiri berusaha menerapkan kadiah ini, bahkan secara menyeluruh dalam al-Qur’an.
Tetapi dengan catatan kita perlu pendekatan sejarah terutama yang dialami oleh Nabi, kita bisa merujuk pada kitab-kitab siroh Nabawiyyah dan kitab-kitab sejarah. Kita perlu berbahagia bahwa sumber referensi seperti sejarah, hadis, dan sirah Nabawiyyah tergolong lengkap untuk  kita telah dan kita pelajari, terlebih lagi kitab-kitab tersebut seperti kitab tafsir dengan corak sejarah atau ma’sur bisa kita akses dengan mudah.
Contoh pengaplikasian sirah Nabawi dalam menafsirkan al-Qur’an lihat surat al-Imran ayat 128. “itu bukan urusanmu (muhammad) apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazabnya, karena mereka orang-orang zalim ini di ceritakan pada tafsirnya Ibnu Katsir bahwa Rasulullah mendoakan laknat pada beberapa orang kafir dengan menyebut nama mereka. Contoh aplikasi yang lain lihat surat al-Qasas ayat 56 yang menceritakan kisah meninggalnya Abu Thalib yang akhirnya masih dalam agama leluhurnya.
Ini berbeda dengan asbabun nuzul makro, karena asbabun nuzul makro membahas secara sepintas dari penjelasan mengenai ayatnya. Dan juga berbeda dengan asbabun nuzul mikro yang membahas spesifikasi ayat. Namun memperhatikan sirah Nabawi lebih spesifikasi dari pembahasan asbabun nuzul mikro karena sirah Nabawi lebih membahas pada psikologi Nabi seperti aplikasi diatas tadi mengenai kematian Abu Thalib yang masih dalam keadaan agama leluhurnya Nabi menangisi dengan sejadi-jadinya hingga memintakan ampun untuk pamannya kemudian Allah menegur Nabi dengan turunnya ayat. Ini lah yang dimaksud sirah Nabawi berperan dalam menafsirkan ayat al-Qur’an. 
wallahualam..
nantikan tulisan-tulisan saya selanjutnya yah sahabatku... jangan lupa berikan kritik yang membangun karena saya pun masih belajar dalam mengembangkan diri .....