Makalah-Makalah Kuliah IAT
Kaidah Tafsir Ketika Terjadi Kontradiksi Penafsiran
sumber gambar : http://islamkristologi.blogspot.com/2016/06/ayat-ayat-kontradiktif-dalam-alkita.html
sahabatku kali ini penulis mau bahasa sedikit tentang tafsir lagi, karena kita sebagai umat muslim tentu akan berpegang teguh pada kitab alQur'an, nah gimana jika dalam penafsiran ulama berbeda dan bertolak belakang. nah ini ada sedikit pemaparan bagaiman kita bisa belajar dari hal tersebut, tulisan ini penulis kutip dari perkuliahan senin lalu tentang kontradiksi penafsiran pada mata kulaih qowaid tafsi perodi ilmu alquran dan tafsir fakultas ushuludinInstitut Ilmu al-Qur'an An Nur Yogyakarta.
Pengertian kontradiksi adalah dua hal menunjukkan sesuatu yang
berlawanan, yaitu satu positif, yang lain negatif. Satu menunjukkan boleh, yang
lain menunjukkan tidak boleh, pendapat lain adalah dua hal yang menunjukkan
sesuatu yang berbeda, yang satu mengatakan ‘A’ misalnya, dan yang lain
mengatakan ‘B’ atau ada yang menunjukkan angka 6, dan pendapat lain mengatakan
angka 9. Ini lah yang disebut pengertian kontradiksi.
Muqiddimah Fi Ushul At-Tafsir Karya Ibnu Taimiyah mengatakn bahwa istilah yang berbeda bukan merupakan kontradiksi
ketika merujuk pada substansi yang sama. Ibnu taimiyah juga mengatakan bahwa
contoh dari sebuah sifat yang umum juga bukan merupakan kontradiksi seperti
pada surat al-Hujurat ayat 6 pada kata Fasiq ibnu taimiyah mengatakan
bahwa orang Fasiq adalah orang yang meninggalkan shalat, orang yang
meninggalkan puasa, orang yang memekan riba, orang yang berzinah dan lain
sebagainya. Yang ketiga lafal musytarak (sebuah lafal kata yang memiliki
makna ganda dan itu bertentangan) bukan merupakan kontradiksi ketika makna-maknanya
bisa diberlakukakan sesuai dengan konteksnya masing-masing seperti pada ayat
228 surat al-Baqarah pada ayat itu terdapat al-Qar’u bisa berarti suci atau
haid itu berlawanan, tapi kedua makna tadi bisa diterapkan tinggal melihat
konteksnya.
Inilah salah satu kehebatan al-Qur’an yang bisa memberikan makna
kontradiksi dari setiap lafalnya tergantung konteks yang sedang terjadi dan di
berlakukan berdasarkan konteksnya masing-masing. Contoh dari kontradiksi adalah
pada ayat 8 surat ar-Ra’du memiliki makna pertama yaitu Allah mengetahui apa
(Janin) yang dikandung oleh setiap perempuan (Maushulah), tetapi jika
(masdariyah) maka akan memiliki makna Allah mengetahui mengandungnya
(proses) setiap perempuan. Contoh kedua pada surat an-Nisa ayat 22 memiliki
penafsiran pertama yaitu janganlah kalian menikahi wanita yang telah
dinikahi oleh ayahmu (Maushulah), tetapi ketika menggunakan makna
(Masdariah) akan mengandung menafsiran Janganlah kamu menikahi seperti
nikahnuya ayahmu pada zaman jahiliyah. Kemudian contoh yang lebih ekstrim
yaitu yang ketiga pada surat an-Nisa ayat 3 memiliki penafisran boleh
menikah maksimal empat, tetapi ada juga yang menfsirkan boleh menikahi
maksimal sembilan, karena menggunaka
huruf athof wau yang maknanya
‘dan’ maka redaksi penafsirannya yaitu dua dan tiga dan empat jika ditambahkan
menjadi sembilan dan berermin pada zaman Rasulullah dimana Rasulullah memiliki
istri sembilan, wallahualam.
Dari ketiga contoh diatas terdapat beberapa perbedaan, contoh
pertama jika kita satukan kedua penafsiran itu maka tidak akan masalah yaitu
kontradiksi karena sama-sama menceritakan janin, begitu juga contoh yang kedua
bisa kita kompromikan kedua penafsiran ayat tersebut, tetapi ketiga contoh yang
ketiga tidak bisa kita kompromikan karena kita harus memilih salah satu yaitu
empat atau sembilan. Ada beberapa cara kita bisa lakukan untuk menarik
kesimpulan antara kontradiksi disini yaitu salah satunya adalah mengkompromikan
ketika ada kontradiksi seperti contoh pertama dan kedua.


Post a Comment
0 Comments