sumber Gambar : https://astralife.co.id/ilovelife/manfaat-menulis-dengan-tangan-dari-kreativitas-hingga-prediksi-status-kesehatan/

“Saya lebih takut menghadapi satu pena wartawan dari pada seribu bayonet” kata Napoleon sorang kaisar Prancis dan penakluk eropa, seorang luar biasa yang sangat takut akan media tulisan yang menyerang, karena hal ini akan mempengerahui banyak orang dibanding musuh yang menghadang dengan senjata. Imam al-Ghazali juga berkata “kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis” karena didunia yang akan dikenal adalah orang yang menulis dan orang yang ditulis. Coba kita lihat pak Mahbub Junaidi yang dijuluki sang pendekar pena, beliau dikenal sebagai wartawan-sastrawan, agamawan, organisatoris, kolumnis, politikus, serta predikat baik lainnya yang disemangatkan dipundaknya. Beliau selama 9 tahun menulis di rubrik ‘asal usul’ Kompas sebanyak 236 buah tulisan, ini yang perlu kita jadikan motivasi dalam dunia literasi kita.
Mengapa menulis? karena menulis menyehatkan, analoginya karena setiap menulis kita menggerakan jari-jemari kita, memuter otak, dan lain sebagainya, data ini di kemukakan oleh Dr. James W. Pennebaker melakukan penelitian selama 15 tahun tentang menulis bisa menyehatkan badan. Selain itu menulis juga adalah sebagai sarana aktualisasi diri, aktualisasi diri adalah ajang untuk mencari perhatian karena manusia pada dasarnya makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow (kebutuhan fisiologis, kebutuhan safety, kebutuhan sosial, kebutuhan terhadap penghargaan, kebutuhan aktualisasi diri) dari teori hierarki ini salah satu bukti bahwa manusia pada dasarnya makhluk yang selalu ingin mencari perhatian, dari data tersebut kita fasilitasi dengan kegiatan menulis agar kita bisa memenuhi hasrat aktualisasi diri kita untuk kegiatan yang positif. Menulis juga dapat mengasah daya nalar dan kecerdasan sesorang, hal ini merupakan jantung dari kegiatan tulis menelis dikarenakan kita bisa nulis lantaran kita banyak membaca, membaca dan menulis merupakan dua belah sisi yang tidak bisa ditinggalkan, dengan membaca akan menambahkan daya nalar kita dan bertambahnya ilmu pengetahuan kita apalagi jika didampingi dengan kegiatan menulisnya. Ada juga yang menulis untuk meniatkan mencari uang saya teringat cerita kiyai Bisri dan kiyai Ali Maksum, beliau kiayi ali maksum bertanya kepada kiyai Bisri yang produksi menulis kita-kitab sedangkan kiyai Ali Maksum tidak seproduktif beliau, akhirnya kiyai Bisri memberikan sedikit trik yaitu meniatkan untuk mencari uang dan setelah selesai menulis beliau merubah niatnya untuk menyebar ilmu, begitulah guyonan dari Kiyai Bisri. Untuk niat seperti ini tidak menjadi masalah karena kita sebagai manusia yang membutuhkan materi untuk memenuhi kebutuhan kita, niat ini penulis menggap sama seperti sambil menyelam minum air, karena penulis pernah mengikuti lomba essay yang ada kebetulan itu ada uang pembinaannya, dan kebetulan meraih juara II maka sangat bersyukur disamping dapat pengalaman juga mendapat uang pembinaan, ini yang dimaksud menyelam sambil minum air.
Begitu pentingnya kegiatan menulis ini, karena akan merubah peradaban dan dapat mempengaruhi banyak khalayak umum, tulisan yang kita buat adalah suatu pedang yang akan memenggal kebodohan dikepala kita, memenggal cara pikir yang pendek, dan dapat mempengerahui kepribadian manusia dengan apa yang meraka baca. Banyaknya terorisme dalam lingkungan kita saat ini sebagai contoh kalahnya literasi kita saat ini.
Sebagai akhir, penulis ingin mengajak mari sama-sama kita menulis untuk membangun kepribadian kita saat ini terlebih kita bisa mengajak akan sesuatu kebaikan. Dengan menulis minimal satu langkah untuk meyelamatkan peradaban kita. Terlebih lagi dengan apa yang kita perhatikan dilingkungan terdekat kita saat ini sangat ironi bukan berapa banyak teman-teman kita yang meninggalkan tradisi membaca apalagi tradisi menulis. ayok menulis, mulailah nulis karena itu lah tanggal awal dari kegiatan ini. Ingat, menulis adalah ilmu praktek, bukan ilmu wacana., semakin sering kita peraktek, maka semakin kita terasa kemampuan kita.
Referensi Tulisan : Nur Rokhim, S. Hum (Reduktor Majalah Bangkit, Peneliti LPTI PM) pada pelatihan Jurnalistik tingkat dasar harokati jilid 2, 13 mei 2015, IIQ An Nur Yogyakarta