Nasionalis
Guru Sebagai Obor Dalam Pendidikan
Hujan deras
membasahi perkarangan ponpes An Nur komplek al Maghfiroh sembari mengangkat
kain sebetis berjalan dari masjid, genangan air yang menjadi penyapu kerikil
yang menempel di tumit kakiku, ah, sorban putih yang ku selendangkan di
bahu kiri ku tidak ada di tempatnya sementara mataku melirik ke kanan dan
kekiri tak lupa kebelekang sedang mencarinya. Dari jauh terlihat seorang gagah
berjalan sambil memegangi payung di tangan kanannya dan menjinjing sorban putih
itu di tangan kirinya. Jangankan aku menatap wajahnya, sepertinya pepohonan pun
ikut menunduk merasakan apa yang hatiku rasakan. Lelaki gagah itu adalah sang
penyinari hati ku. Sambil berjalan menunduk dan dengan penuh takdzim ku hampiri
beliau dan meraih sorban itu, hatiku malu sambil bahagia melihat senyum beliau
yang menatapku di ikuti angin dan hujan yang rintik-rintik yang turun di
dipenan komplek Maghfiroh PP Annur itu seakan merasakan bagaimana perasaan hati
ini, dialah guruku yang amat ku cintai.
Kita tak tahu bahwa kegelepan yang
berjubah kebodohan dihati kita tak ada yang bisa menerangi dengan cahaya
keilmuan kecuali dengan perantara guru kita. Kita bisa merasakan bagaimana
indahnya aliran ilmu mengalir dalam hati kita, beliau lah sang Guru dengan
kesabarannya mendidik dan memberikan nasihat kepada kita sebagai muridnya.
Tidak pernah kita terbayang wajah beliau yang menahan dinginnya malam dan
beratnya mata menahan ngantuk di dua pertiga malam beliau mendoakan kita,
beliau selalu mendoakan kita agar menjadi orang yang berguna kelak di masa yang
akan datang.
Dalam makna pendidikan yang utuh
tentu tidak akan terlepas dari kata seorang guru. Dalam kegiatan simposium
tafsir nusantara Prof. Dr. Nasaruddin Umar beliau menjelaskan makna guru
sebagai kiasan dari bahas sansekerta yang artinya gu berarti kegelapan
dan ru artinya obro, yang bila kita satukan akan terbentuk makna obor
dalam kegelapan itulah guru kita. tulisan sederhana ini penulis mengajak dengan
kerendahan hati pada hari pendidikan ini kita muliakan guru-guru kita, beliau
adalah orang tua kita yang melahirkan jiwa dengan akhlak mulia untuk kita,
masikah kita dengan tenang menentangnya, masikah kita dengan bangga
membangkangnya, sahabatku mari kita rubah diri kita dan jadikan diri kita hina
sebenar-benar hina untuk mengabdi dan memuliakan ilmu guru-guru kita.
Karena
kunci sukses pada dunia pendidikan yang sedang kita emban hari ini adalah
bagaimana cara kita beretika kepada guru kita, tanpa adanya seorang guru maka
tidaklah ada kata pendidikan yang seyogyanya dipandu oleh seorang guru.
Sementara dalam kitab at-Tibyan fi adabi hamalatil Qur’an karya al-imam
an-Nawawi, beliau banyak menjelaskan tugas pokok seorang guru untuk
mensukseskan dunia pendidikan yang bermuara pada murid yang memiliki akhlakul
karimah dan menjadikan murid selalu dalam jalan yang Allah Ridhoi. Satu
diantaranya al-Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa sorang guru harus memiliki sikap hilm (dermawan, bersifat
dewasa, dan aris), sorang guru harus menetapkan pada dirinya sikap wira’i,
sikap inilah yang dilakukan guru kita untuk menciptakan pendidikan yang
berkualitas yang kita emban pada hari ini. Betapa sulit dan mulianya tugas
beliau-beliau guru kita tanpa mengharapkan apapun kecuali ridha Allah SWT.
"Selamat hari Pendidikan
Nasional 02 mei 2018 terimakasih guru ku, tak akan terbayang apa jadinya aku
tanpa mu, semoga engkau selalu dalam lindungan Rabb ku, dan limpahan Rahmat-Nya
atas semua jasa-jasa mu, barakallahu ya syaikuna..


Post a Comment
0 Comments