artikel
Intropeksi Diri Sebagai Usaha Menyongsong Pendidikan Mumpuni
sumber gambar : http://sebutannyaayam.blogspot.com/2017/05/cara-intropeksi-diri-atau-muhasabah.html
ditulis Oleh : Umi Hasanah, PAI A Semester II, IIQ An-Nur Yogyakarta
PEPATAH Jawa
mengatakan, nulat sarira hangarsa wani, tersirat makna, bahwa
mereka yang telah berintropeksi diri kelak dengan mudahnya dapat tampil percaya
diri. Demikian pula, dalam kitab “Qifayatul Atqiya”, disebutkan
bahwasannya intropeksi diri sangat berpengaruh guna meningkatkan kualitas diri.
Siapa yang tidak ingin menjadikan dirinya berkualitas, jawabannya
mereka yang tidak mau berproses.
Proses
adalah serangkaian peristiwa yang mau tidak mau harus dilalui guna memperoleh
hasil yang maksimal. Dalam kegiatan berproses ini manusia sangat dipengaruhi
oleh dua faktor yang
sama pentingnya yakni faktor
hereditas (potensi sejak lahir) serta faktor lingkungan (sesuatu yang ada di luar diri
individu). Oleh karenanya muncul berbagai pandangan dari para Ahli yang
menimbulkan perdebatan, manakah diantara keduanya yang terpenting. Muncul
beberapa aliran yang membahasnya di antaranya ialah aliran nativisme dan empirisme.
Aliran Nativisme dengan
tokohnya Shouphenhauer, berpendapat, perkembangan anak ditentukan
sepenuhnya oleh potensi yang dibawa sejak lahir. Dalam prakteknya seorang anak
akan dengan mudahnya merespon segala rangsangan yang masuk apabila ia memiliki
modal dalam dirinya yang menunjang tersampainya rangsang tersebut.
Modal
ini adalah potensi yang harus terus diasah agar berkembang dan tidak menjadi
bakat yang tertidur. Karena setajam apapun pisau apabila digunakan terus menerus,
tanpa diasah kembali maka tidak akan setajam dulu, kemudian bakat ini dikatakan tertidur apabila pembawa
hereditas tidak menampakkan potensinya, hal ini dikarenakan dia yang memiliki
potensi, maka dia juga yang seharusnya sadar dan terus berusaha mengeksplornya
agar eksis. Karena pintar butuh pengakuan maka action. Kemudian dimana manusia dapat melakukan
kegiatan berprosesnya? Selanjutnya manusia membutuhkan lingkungan guna
menunjang terlaksananya kegiatan berproses tersebut.
Untuk itu,
lahir aliran Empirisme, sebagai
pendukung pentingnya lingkungan dalam serangkaian kegiatan berproses
menusia. Sebagai tokohnya ialah John Locke, berpendapat, perkembangan
anak ditentukan sepenuhnya oleh lingkungannya atau pendidikannya. Manusia tentu tidak dapat menghindari interaksi langsung terhadap
lingkungan, selain lingkungan sebagai tempat manusia hidup, lingkungan disini
juga dapat dikatakan sebagai pendidikannya. Pendidikan disini adalah
serangkaian pengalaman yang telah dilalui sejak manusia mulai bernafas, karena
pada hakikatnya manusia berkewajiban menuntut ilmu sejak ia dilahirkan hingga
ke liang lahat, maka pendidikan ini dapat disebut juga sebagai lingkungannya.
Kedua teori ini, yaitu nativisme dan empirisme sangat
berat sebelah. Ahli aliran ini kedua-duanya lupa bahwa dalam kenyataanya suatu
heriditas dan lingkungan hidup tak dapat secara terpisah-pisah dalam proses
perkembangannya. Tidak ada orang hidup semata-mata terpengaruh oleh heriditas atau lingkungan hidup
saja. Tidak mungkin jiwa manusia berkembang bila tidak ada kemampuan
berkembang, maka untuk bisa berkembang harus ada potensi untuk berkembang.
Walaupun potensi itu ada, tetapi bila situasi dan kondisi tidak memberi
kemungkinan untuk berkembang, maka potensi berkembang itu tidak ada
kenyataannya. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa manusia hidup, tumbuh, dan berkembang, dipengaruhi oleh
heriditas dan lingkungannya.
Jadi jelaslah bahwa heriditas dan lingkungan bukanlah dua hal
yang saling bertentangan, tetapi merupakan dua unsur yang saling melengkapi
bagi perkembangan individu dan kedua-duanya sama pentingnya. Adapun guna
menengahi kedua teori diatas, lahir pendapat yang menyatukannya, yakni
aliran Naturalisme yang mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya
baik, tetapi menjadi tidak baik karena pengaruh dari masyarakat, termasuk orang
dewasa sebagai lingkungannya. Kalau ingin menjadi menjadi baik maka harus
dikembalikkan ke alam. Alam tidak dapat berbohong, karena alam bukanlah
makhluk yang dapat mengumpat jika ia khilaf, alam sebagai saksi bisu dalam
serangkaian kegitan berproses manusia.
Sebagai manusia yang telah berproses, tugas kita selanjutnya
adalah bertawakkal, karena yang menentukan hasil adalah Yang Menciptakan
Manusia, bukanlah manusia yang hanya dapat menciptakan kapan dirinya bisa
memulai proses. Karena sebuah
hasil takan mengkhianati usaha, maka maksimalkanlah dalam kegiatan berproses
kita. Kemudian apabila hasil ini tidak sesuai dengan yang kita harapkan,
cobalah tengok diri ini sudah pantaskah untuk menerima hasil tersebut. Di
sinilah pentingnya berintropeksi diri, tindakan ini dikatakan dapat
meningkatkan kualitas diri karena seseorang yang telah mengetahui dan sadar
akan kedhoifannya di hadapan Sang Pencipta akan semakin
berusaha mewujudkan keinginannya dan mendekatkan diri kepada Tuhannya.
Sebaliknya apabila pencapaian kita sesuai dengan yang
diharapkan, kita tidak boleh langsung berbangga diri dan lupa kalau ada yang
lebih Hebat yang sebelumnya telah Menciptakan kita. Apakah mungkin diri ini berproses untuk
kemudian menuai hasil apabila sebelumnya kita tidak Diciptakan oleh-Nya.
Akhirnya jangan sampai kita terlena dengan datangnya pujian yang menghampiri,
karena yang patut dipuji hanyalah Allah Swt.
Tugas
seorang makhluk adalah senantiasa berusaha, untuk hasil yang akan kita peroleh serahkanlah
semuanya kepada sang Pencipta. Adapun didalam jiwa masing-masing individu yang
telah sadar kelak akan memudahkan proses tersampaiya pendidikan, layaknya
tujuan pendidikan yaitu memenusiakan manusia. Misi tersebut akan terlaksana
apabila manusianya telah menjadi manusia yang seutuhnya, salah satunya bagi
mereka yang sadar akan potensinya (hereditas) dan mereka yang berada serta
selalu menciptakan lingkungan yang baik untuk dirinya dan orang-orang
disekelilingnya. Semua lika-liku kehidupan ini adalah jalan menuju kesuksesan
kita, yang telah didesign khusus sesuai kebutuhan masing-masing
hamba. Terima kasih ya Rabb.
WallAhu’alam…
Referensi:
Mustaqim dan Abdul Wahab, Psikologi
Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta) Hlm. 10-11.
Pengajian kitab Qifayatul Atqiya,
di PON Pes An-Nur Putri, oleh KH. Munir (Kota Gede).


Post a Comment
0 Comments