artikel
Dinamika Kajian Alqur’an (Antara Timur Dan Barat)
Sumber Gambar : http://dialog-islamkristen.blogspot.com/2015/09/tanggapan-sejarawan-barat-menyebut-al.html
Negara-negara dibarat merupakan negara yang sangat
berkembang pesat dalam ilmu kajian tentang al-Qur’an. Pertama muncul pada kajian ini bersinggungan
dengan kajian filologi (teks dan bahasa), latar belakang perkembangan ilmu ini
muncul adalah mengkaji teks bible dimana dalam teks tersebut membahas tentang
kalam Allah yang menyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah hanya satu
bahasa. Dengan pernyataan Injil yang seperti itu. Maka, para kaum orientalis
mempelajari banyak bahasa seperti bahasa Arab, karena bahasa Arab dianggapnya
paling representatif untuk dikaji dalam
hal ini yaitu al-Qur’an. Itulah secara garis besar mengapa banyak kaum
orientalis yang tertarik untuk mengkaji al-Qur’an hingga saat ini.
Perkembangan demi perkembangan dalam
mengkaji al-Qur’an ini terjadi tahap demi tahap. Dalam perkembangannya kajian
dibarat memiliki dua pendekatan yaitu pendekatan makna asli teks, dan
pendekatan penafsiran oleh para mufassir. Namun, yang paling banyak melakukan
pendekatan yang kedua, yaitu pendekatan penafsiran oleh mufassir. Hal ini
dikarenakan untuk melakukan pendekatan yang pertama, mereka harus merekontruksi
ulang sejarah yang rumit, tidak sampai disitu untuk merekontruksi ulang sejarah
dibutuhkan banyak data yang valid, sedangkan untuk saat ini data yang disajikan
sangat minim.
Kajian al-Qur’an di barat tidak
memiliki payung akidah, artinya mereka mengkaji al-Qur’an hanya pada
rekontruksi sejarah dan tidak mengkaji al-Qur’an untuk normatifnya atau
mengikuti peraturan yang ada di al-Qur’an untuk dijadikan patokan berprilaku. Rekontruksi
sejara mereka dapatkan ada pada ulumul Quran yang membahas bahwa ayat al-Qur’an
turun berangsur-agsur yang berarti ada perjalanan sejarah dari mulai turunnya
wahyu pertama saat nabi diangkat menjadi utusanNya, hingga pada saat beliau
wafat. Hal ini berdasarkan perspektif mereka yaitu evolusi gagasan konteks
budaya.
Jika kita mau melihat Road Map studi
al-Qur’an di barat maka kita akan mengkaji teori yang dikemukakan oleh Abraham
Geiger (M 1874), atau Theodor N (M 1930) yang membuat kronologis al-Qur’an
artinya terlihat seperti sirah nabawi, yang membagi fase Mekkah menjadi
beberapa bagian, seperti fase awal yang kriteria ayat tergolong pendek
dan kaya akan prosa, fase kedua yang kriteria ayat mempengaruhi tradisi bacaan.
Selanjutnya kajian al-Qur’an di
barat pun berkembang pasca perang dunia II, pada saat ini kajian al-Qur’an
terlepas dari filologi melainkan membahas tentang sikologi Nabi Muhammad SAW,
dan karir Nabi Muhammad SAW, namun ada juga yang menolak pandangan ini, karena
mereka beranggapan bahwa sirah nabawi muncul setelah nabi wafat. Pada saat
ini ada satu tokoh yaitu John Wansbrough yang menganalisa gaya bahasa al-Qur’an
menjadi teks kanonik.
Kajian al-Qur’an di barat juga
muncul istilah late antique yaitu masa dimana teks antik diubah manjadi
tradisi baru yaitu nafas Tauhid. Hal ini berbicara ranah al-Qur’an pada tiga
sifat. Pertama disebut pemain kreatif, maksudnya adalah menafsirkan ulang
tradisi sastra, keagamaan, menjadi tradisi Islam. Kedua, dokumen pada zamannya.
Ketiga al-Qur’an dikontekstualisasikan, artinya membaca al-Qur’an sebagai teks
yang memiliki sejarah.
Kajian Islam dikalangan muslim
berbeda dengan kajian di kalangan orientalis (barat) jika di barat kajian
al-Qur’an berbasis pada rekontruksi sejarah, maka dalam kajian dikalangan
muslim malah membahas ranah teologi, dan normatif. Pada kajian al-Qur’an di
kalangan muslim ini memiliki dua pendekatan juga. Yaitu pendekatan tekstual,
dan kontekstual.
Pendekatan tekstual ini artinya
dalam memahami al-Qur’an kita harus memperihatikan ilmu-ilmu bahasa, kaidah
penafsiran. Hingga kita bisa memahami maksud dari teks yang kita baca kemudian
kita interpretasikan kembali berdasarkan teks yang ada. Pendekatan kontekstual
berbicara konsepsi sejarah yang terkandung dalam teks, juga memperhatikan world
view. Artiinya dalam memahami al-Qur’an kita dibutuhkan konteks
lingkungan saat ini tetapi tidak menutup kemungkinan atau melenceng jauh dari
teks yang dibaca.
Sejauh
ini kajian al-Qur’an di barat jauh lebih pesat berkembang karena mereka kaya
akan konteks yang merekontruksi sejarah. Hal dapat kita ambil adalah
rekontruksi sejarah yang runtut sehingga kita dapat menentukan hukum, fatwa,
nilai, dan etika dalam memahami teks yang bersinggung waktu turunnya ayat
dengan waktu saat ini. Selain itu orang-orang orientalis memahami al-Qur’an
dengan belajar banyak bahasa (selain bahasa Arab) seperti bahasa Suryani, dan
Ibrani. Hal ini membuktikan tingkat keseriusan mereka dalam mengkaji al-Qur’an.
Maka dengan hal ini kita tidak heran bahwa mereka jauh lebih berkembang
dibandingkan kajian al-Qur’an di timur.
Disampaikan oleh Dr. Phil. Munirul Ikhwan, Lc, MA pada kuliah umum "Dinamika Kajian Alqur’an (Antara Timur Dan Barat)" bertempat di Auditorium IIQ An Nur Yogyakarta 25 oktober 2018.
Penulis : Muhamad Jamaludin (Semester V IAT)
Penulis : Muhamad Jamaludin (Semester V IAT)


Post a Comment
0 Comments