opini
Krisis Identitas
Sumber Gambar : https://pijarpsikologi.org/krisis-identitas-ayo-kenali-dirimu/
Mulanya sore itu terlihat sejuk dan syahdu, angin semilir merayap
menembus cakrawala, pesawat kertas yang baru dibuat Asta terbang bersamaan
angin menembus jendela kampus Institut ternama di samping kota tepat sebelah
sisi kanan masjid Raya. Sementara di luar kelas terdapat kegaduhan beberapa
mahasiswa karena Putri salah satu mahasiswa agribisnis terjatuh di tangga. Semua
berkerumun menghampirinya. Putri tidak terluka parah, lecet pada badannya saja
tidak ada, tetapi yang naas adalah hilang ingatan seketika. Ya,
amnesia. Putri mengalami Amnesia
Pasca-Trauma, karena ia terjatuh tepat dibagian kepala terbentur lantai. Semua teman
Putri serentak terheboh dengan apa yang terjadi seketika itu. Perlahan Putri
berkata ia menyebutkan satu nama yang sangat familiar di kalangan
teman-temannya yaitu Rendi. Rendi adalah salah satu mantan kekasihnya yang
pernah membuatnya bahagia beberapa tahun lewat.
***
Mahasiswa saat ini
persis mengalami Amnesia Pasca-Trauma, karena seketika saat ini kita sebagaimana
manusia dirasa kehilangan ingatan kita untuk mengeksistensi diri kita sendiri. Peranan
mahasiswa sebagai agen of change seperti ingatan masa lalu yang
takkan pudar dimakan zaman, pasca reformasi
98 kala itu. Saat ini, yang kita ingat hanya beberapa kejadian-kejadian silam
kala mahasiswa menunjukkan eksistensinya. Dahulu, jelas perbedaan yang kontras.
Mahasiswa dahulu terlihat lihai dalam mengolah jari-jemarinya memberikan
sumbangsi kritikan pedas bagi pemerintah, Pak Mahbub Junaidi misalnya.
Kemana eksistensi
kita saat ini?
Pertanyaan yang
sangat sulit kita jawab. Sejatinya saat ini kita seperti Amnesia Pasca-Trauma
yang kehilangan ingatan kita pada kejadian-kejadian sebelumnya. Kita di
benturkan setumpuk kasus oleh rezim saat ini, oleh rezim sebelumnya hingga
menyerang daya ingat kita bahwa kita seolah anak kecil yang merengek minta
makan karena lapar, namun di imingi makanan akan turun dari langit asal kita
bersabar, entah kapan datang. Pertanyaan yang tidak ada jawabannya.
Kemana identitas
kita saat ini?
Mahasiswa saat ini
hanya datang kekampus, duduk, ngobrol, ketawa-ketiwi, buku gadget, bahas
betapa tampannya Lee Min Hoo, bahas betapa mahirnya ia menggerakan zilong untuk
memenangkan squad-nya, yang lebih ironinya adalah kita sebagai mahasiswa
yang bangga keluar masuk cafe untuk menikmati waktu-waktu luang. Tanpa diskusi,
tanpa literasi. Semuanya berjalan selama bertahun-tahun, bahkan kita bangga
menjadi mahasisaw abadi, padahal itu kutukan dari kampus, tapi kita tetap
menikmatinya. Ini yang dirasa saat ini kita mengalami Amnesia Pasca-trauma. Lupa
akan khittoh kita sebagai mahasiswa. Kita berbangga menjadi mahasiswa
yang konsumsif. Ada juga diantara kita yang sudah menjulurkan lenganya pada UKM-UKM
tertentu. Namun, semua itu dilakukan lantaran hanya ikut-ikutan. Masih lebih
baik, tetapi dirasa itu kurang maksimal.
Kapan kita akan
merubah negeri ini?
Mahasiswa yang
katanya agen of change sudah melupakan identitasnya, apalagi masyarakat
yang ada di desa-desa terpencil yang hanya tahu bagaimana menanam padi disawah
saja. Mereka butuh kita, mereka mengharapkan pada generasi yang saat ini
bersandang gagah bertuliskan mahasiswa fakultas pertanian, mahasisaw fakultas
ushuluudin, dan sebagainya. Masa depan negeri ini ada dipundak kita kawan. Mau kapan
lagi kita melihat negeri ini menimbun utang hingga triliyunan. Kita sebagai
mahasiswa dirasa penting untuk menghayati dalam mengimplementasi eksistensi, membangun
relasi, membuat inovasi, mengutarakan literasi hingga membentuk pribadi yang tangguh
dan membawa kemudi negara ini pada cita-cita yang diinginkan.


Post a Comment
0 Comments