Sumber Gambar : http://www.syedara.com/2017/08/pengertian-dan-definisi-masyarakat-menurut-para-ahli/

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik QS Al Imran : 110[1]
Ahmad Fajarudin Shadiq dalam skripsinya tentang Konsep Ummah dalam Al-Qur’an (Sebuah Analisah semantik Toshihiko Izutsu) Mahasiswa UIN Sunan Gunung Jati ia menuturkan mengenai ayat ini Menurut al-Thabari yang disebut khoiru Ummah adalah para sahabat yang ikut hijrah ke Madinah bersama Rasulullah SAW. Pendapat beliau ini didasarkan atas beberapa riwayat yang menegaskan tentang kebaiakan umat islam pada masa Rasulullah SAW. Sementara Ibnu Katsir berpendapat demikian mengenai khoiru ummah hanya saja beliau menambahkan bahwa masyarakat yang baik bukan hanya pada masa Rasulullah melainkan juga pada masa sebelum nabi di utus hingga hari kiamat dengan catatan masyarakat tersebut memenuhi kriteria sebagaimana yang disebutkan pada ayat diatas.[2]
Ummah disebutkan dalam al-Qur'an 62 kali dalam dua puluh empat surah[3] ada juga yang menyebutkan sebanyak 64 kali dalam 24 surat,[4] kata Ummah banyak menyimpan makna dalam al-Qur’an. Ayat diatas salah satu contoh khoiru ummah yang di nisbatkan pada umat Rasulullah yang disebut sahabat, atau umat saat ini dan terdahulu sesuai dengan kriteria ayat diatas. Ummah juga bisa dikatakan hanya sebatas manusia saja, lebih dari itu terma ummah juga bisa dinisbatkan pada kelompok tertentu seperti agama, waktu atau tempat. Apalagi saat ini muncul konsep negara bangsa (nation-state). Didalam al-Qur’an itu sendiri terdapat istilah nation atau bangsa pada umumnya, disebut dalam al-Qur’an adalah ummah; clan atau marga disebut sebagai ‘asyirah dan sya’b. people atau rakyat dirujukkan dengan kata ahl, unas, al-bald. Qawn, dan syu’ub.[5] Sebagai contoh Menurut Quraish Shihab, ummah berasal dari kata amma– yaummu yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Karenanya muncul kata umm  berarti ibu dan imam berarti pemimpin, karena keduanya menjadi teladan, tumpuan pandangan, dan harapan anggota masyarakat,[6] Ummah dapat bermakna waktu, pola atau metode, atau juga bermakna komunitas. Komunitas tersebut dimaknai sebagai sebuah komunitas agama secara umum (atau bagian dari sebuah agama) dimana ia juga menggambarkan beberapa komunitas. Sekarang istilah tersebut dimaknai dengan komunitas Islam semata.
Dari salah satu ayat yang dipaparkan penulis lebih mengkerucut kan pembahasan bahwa pada ayat diatas yaitu surat al-Imrab ayat 110 tingkat satuan ummah adalah masyarakat (Society), seperti ummah yang terbentuk dari piagam Madinah. Pada ayat terdahulu, jawabannya terhadap imbauan bisa berbentuk organisasi, pemerintahan (goverment) atau negara (state) sebagai bagian dari masyarakat. Namun, masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat dengan ciri-ciri tertentu, yaitu kependudukanya beriman dan didalamnya terdapat mekanisme kelembagaan yang bisa berfungsi melaksanakan al-amr bil ma’ruf dan al-nahy ‘an al-munkar. Dengan memberi kualitas itu, maka yang dimaksud adalah masyarakat yang lebih berkembang yang disebut oleh Heggel adalah masyarakat sipil.
Kesimpulannya, kata ummah dalam al-Qur’an menyimpan banyak makna, namun penulis memetik satu ayat yaitu pada surat al-Imron ayat 110 tentang khoiru ummah. jadi singkatnya, secara sederhana ummah juga bisa disebut sebagai konsep negara-bangsa, atau kelompok tertentu, atau masyarakat. Hanya saja pada ayat ini menggunakan redaksi kata khoiru menurut analisa penulis adalah kita sebagai manusia yang berhimpun menjadi satu masyarakat, atau satu kelompok tertentu, golongan, ras, atau bangsa jika memenuhi kriteria yang disebutkan diatas maka itulah maksud dari khoiru itu. Wallahualam
Sumber Referensi:
1.      https://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-110
2.      Ahmad Fajarudin Shadiq, skripsi, Konsep Ummah dalam Al-Qur’an (Sebuah Analisah semantik Toshihiko Izutsu), 2016
3.      Zayad Abd. Rahman, jurnal, KONSEP UMMAH DALAM AL-QUR’AN (Sebuah Upaya Melerai  Miskonsepsi NegaraBangsa)
4.      Dawam Raharjo, Ensiklopedia al-Qur’an (Tafsir Sosial berdasarkan konsep-konsep kunci),(Paramadina, Jakarta:2002)
5.      Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996)


[1] https://tafsirq.com/3-ali-imran/ayat-110
[2] Ahmad Fajarudin Shadiq, skripsi, Konsep Ummah dalam Al-Qur’an (Sebuah Analisah semantik Toshihiko Izutsu), 2016
[3] Zayad Abd. Rahman, jurnal, KONSEP UMMAH DALAM AL-QUR’AN (Sebuah Upaya Melerai  Miskonsepsi NegaraBangsa)
[4] Dawam Raharjo, Ensiklopedia al-Qur’an (Tafsir Sosial berdasarkan konsep-konsep kunci),(Paramadina, Jakarta:2002), Hal, 482
[5] Dawam Raharjo, Ensiklopedia al-Qur’an (Tafsir Sosial berdasarkan konsep-konsep kunci),(Paramadina, Jakarta:2002), Hal, 483

[6] Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996), 325