Jangan terlena dengan rutinitas dan bentar-bentar maunya on-time,
Gunakan juga sedikit waktumu dalam sehari untuk menimba ilmu yang baru entah itu dari rekan kerja, senior, seminar, buku, atau internet
(Christina Lie)
            Alkisah ada seekor elang yang mulai bertelur, tak terduga telur itu menggelundung dan jatuh tepat di sarang ayam yang berada jauh dibawah sarang elang tersebut. Telur itu berbaur dengan telur ayam lainnya. Proses demi proses berlalu telur itu pun menetas di buaian sang induk ayam, hingga kian dewasa si anak elang tersebut. Tapi, sangat disayangkan ia terisolasi dengan prilaku ayam pada umumnya. Padahal potensi si anak elang itu jauh lebih besar.
            Saya tak habis berpikir dengan keadaan kampus kita ini, padahal terdapat orang-orang yang hebat dan memiliki idealisme tinggi. Kita selalu saja merasa bahwa keberadaan kita dikampus kecil ini adalah suatu yang biasa-biasa saja bahkan tak patut dibanggakan. Entah mengapa bisa seperti itu?
            Saya mulai lelah mengikuti perkuliahan yang amat membosankan dan menyebalkan ini. apalagi mengikuti kegiatan organisasi yang kian monoton di sini. Semua regulasi tupoksi dalam organisasi berjubun pada segelincir relawan yang rela menghabiskan waktu untuk organisasinya. Mungkin ini kah yang dinamakan dinamika krisis identitas, atau bahkan saat ini mahasiswa di kampusku sangat nyaman menjadi seekor ayam yang menginginkan terbang tinggi.
            Kapan regulasi yang cacat ini akan berakhir?
            Krisis moneter kala 1998 lalu nampaknya patut disyukuri karena banyak mahasiswa simpatisan dengan keadaan dan berjuang melawan sistem yang cenderung tidak mengenakan kala itu dari pada saat ini kita yang krisis identitas, situasi yang mengancam dan membuat punah mahasiswa yang aktif kritis dan berprestasi, atau bahkan situaasi yang bisa mencabut ruh mahasisswa yang tadinya agen of change menjadi agen of broke. Ya, karena hari ini literasi kita mulai punah terkikis , dan bererupsi meninggalkan jiwa mahasiswa kita ini.
            Mari kita berhusnuzon saja agar lebih selow!.
            Hari ini kita boleh sadar kalau kandang kita kecil, lingkungan kita adalah sekelompok ayam yang hanya bermimpi untuk bisa terbang tinggi. tetapi ingat kawan kita adalah seekor elang yang tersesat tadi, kita memiliki potensi elang dalam diri kita itu adalah sebuah kodrat kita sebagai mahasiswa. Namun, kurangnya kepercayaan diri pada identitas kita lah yang menutupinya sehingga kita mengklaim bahwa kita adalah ayam. Ambilah cermin yang besar dan lihat lah! 
Kita  adalah elang!
Potensi kita untuk terbang tinggi sangat memungkinkan, potensi kita untuk tajam seperti elang sangat dibenarkan. Itu karena kita sadar bahwa kita adalah elang.
            Kandang kita adalah perkumpulan ayam yang lemah, tapi kita adalah elang yang ganas dan cerdik. Hanya saja ada sedikit masalah karena kita tergelundung kesarang ayam yang kecil dan dibuai ala ibu ayam yang Cuma bisa mengorek-orek tanah. Tapi kita adalah elang, potensi kita jauh lebih besar dari Cuma mengorek-ngorek tanah. Hanya saja jika kita sadar akan posisi kita sebagai mahasiswa dikampus.
            Kita harusnya menjadi aktivis yang bertanggung jawab dengan posisinya maka kita akan menjadi elang yang tangguh. Kita harusnya menjadi mahasiswa yang memiliki IPK diatas 3.5 dengan bertanggung jawab akan tugas kita didalam kelas perkuliahan maka kita akan menjadi elang yang cerdas.
            sahabatku, mari kita tentukan masikah kita senang menjadi seekor ayam, atau kah kita harus sadar menjadi seeokor elang yang ganas meski terlahir dari kandang ayam yang kecil. Wallahualam