Cerpen
Hingar Bingar
Hai namaku Abdul, anak paling eksis sejagad raya. Kata orang aku
anak yang manis nan imut. Itu karena aku punya senyum tipis di wajahku yang
oval. Siapa yang tidak tahu namaku di kota ini itu karena aku adalah anak dari
seorang dewan yang kaya raya. Suatu hari aku berjalan memutari kota kecil ini,
tak disengaja aku melihat sebuah insiden aneh. Ada sekelompok tikus mengerumuni
seekor kucing tak berdaya, tak berdaya sikucing itu dibuatnya terkapar karena jadi
bulanan sekelompok tikus itu. Aku heran mengapa bisa seperti itu, datang
seorang anak perempuan bernama Anya menapak pundakku.
“liat apa loe?” Anya
berkata.
“sttt... jangan
berisik itu loh masa kucing kalah dengan tikus?” jawabku menenangkan suasana.
“itu bedanya
minoritas golongan dengan mayoritas golongan” katanya sinis.
“maksud loe karena
sikucing itu seorang diri?” jawabku
menanggapi
“yap, tepat sekali”
jawabnya santai sambil tersenyum menyakitkan.
Angin berjalan menyusuri
cakrawala. Perkotaan yang ramai seolah acuh pada lingkungan. Tidak dengan
sikucing yang meronta meminta pertolongan yang dari tadi menjadi bulanan
sekelompok tikus. Sangat ironi melihat penampakan itu. Sejurus kemudian
datanglah beberapa kucing jantan bak pahlawan pada film action. Aku sedikit
senang melihatnya karena aku yakin keadaan akan berbalik. Tapi sangat
disayangkan keadaan itu malah semakin runyam. Kucing yang dicurigai sebagai
pahlawan tadi ternyata sudah bersekongkol dengan tikus-tikus itu. Ternyata mereka
berasosiasi.
“loh ko mereka
tidak membantu temannya yang di bullying itu?” tanyaku pada Anya seorang
yang suka makan mie tektek dan nasi goreng spesial pakai telur.
“itulah hukum rimba,
siapa yang kuat dia yang berkuasa” katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“aku tidak
mengerti padahal mereka itu jika bersatu akan mudah menghancurkan tikus yah?”
tanyaku pada Anya yang dari tadi membenarkan rambutnya karena tertiup angin.
Sejurus kemudian
angin segar kembali kehadapan ku, tikus dan kelompok kucing itu pergi
meninggalkan kucing malang itu. Aku dan Anya sepontan menghampirinya.
“hai... namaku
Abdul, dan ini teman saya Anya” aku menyapa kucing malang itu.
Anya menambahi “hallo...
siapa namamu?”
“namaku meong,
senang berkenalan dengan kalian” jawab kucing malang itu dan kami pun menjabat
tangan.
“boleh aku
bertanya?” kata ku pada Meong.
“silahkan!” meong
mempersilahkan aku bertanya.
“mengapa kamu jadi
bulan-bulanan mereka?” tanyaku penasaran.
“iya aku akan
menjawabnya. Aku adalah seorang yang tidak bisa melihat kebohongan. Kemarin aku
melihat sekelompok tikus itu mencuri mentega majikanku, aku dan teman-temanku
di suruh menjaga mentega itu dari tikus-tikus itu, tapi temanku di berikan
sebongkah tulang ikan dan sebagai gantinya mereka memberikan mentega yang
harusnya kami jaga itu” jawab Meong dengan mantap.
“kampret... jadi
teman-temanmu disuap dengan sebongkah tulang demi menukar kepercayaan majikan
mu?” Anya sepontan memotong penjelasan Meong.
“eh.. udah kaya
kereta ya nyerobot aja, lanjutkan cerita mu Meong!” pintaku sambil mendorong
Anya hingga terkaget.
“al hasil,
kejadian itu ku laporkan pada majikan ku, hingga mereka di hukum tak diberi
susu oleh majikanku. Tapi malangnya aku, disini aku tidak punya dukungan untuk
menekan kejujuran. Mereka bersekongkol menjebak ku dengan menaruh mentega itu keranjang
tidurku. Al hasil majikanku mengusirku hingga saat ini aku menjadi seekor kucing
gelandangan.”lanjut Meong dengan mata berkaca-kaca.
Aku heran pada
dunia ini. mengapa masalah ini terus terjadi, siapa yang berteriak keadilan maka
seolah ialah kambing hitamnya. Aku dan Anya memang hanya seorang anak yang
selalu diberi permen oleh orang tua kami. Tapi dihati nurani kami masih
tersimpan norma akan tanggung jawab kami sebagai manusia layaknya orang dewasa.
Aku bingung pada kenyataan ini siapakah yang sebenarnya bersalah? Siapakah yang
sebenarnya berteriak kebenaran padahal ia yang memulai peperangan? Siapa dan
siapa?
Anya ketika pulang
sekolah selasai mengerjakan PR sekolahnya tentang pelajaran kewarga negaraan
tak sengaja membuka buku kakaknya semester V jurusan Filsafat di Universitas Cinta
Alam, buku itu berjudul semi memahami karya F Rudi Herdiman tentang
pemikirannya Derrida yaitu Hermeneutik Radikal, dia bercerita bahwa bapak
Derrida menginterpretasikan teks terfokus pada teks dan menyusun
kemungkinan-kemungkinan dari teks tersebut. Aku yakin ini karena si majikan itu
hanya melihat apa yang dibicarakan oleh sekelompok kucing itu tentang mentega
yang tergeletak di keranjang si Meong kalo kita melihat dengan pemikiran bapak
Derrida. Padahal aku pernah juga berdebat dengan Anya setelah ia membaca buku
itu bergantian dengan ku, dan aku membaca pemikiran bapak Habermas tentang
Hermeneutik kritis. coba kalo ia baca pemikiran Hermeneutik Habermas maka si
majikan akan merekontruksi teks dari kelompok kucing itu yang mendistorsi
makna.
Aku hanya anak
kecil yang duduk di bangku sekolah dasar yang tak tahu arah jalan pulang. Melihat
fenomena Meong tadi siang membuatku resah tak karuan. Begitupun Anya yang
kebingungan di buatnya. Apa yang harus kami lakukan untuk menyelamatkan si
Meong untuk mengembalikan salah faham majikannya. ya sudah lah mending saya main gundu dengan teman-teman dari pada memikirkan hingar-bingar fenomena ini.


Post a Comment
0 Comments