Sayup wajah Nenekku terlihat dikejauhan, perlahan kaki ini melangkah menghampiri wanita tua yang sedang duduk dipelataran rumah yang mulai kusam. Sambil ku ucapkan salam beriring mencium tangannya yang mulai keriput. Aku telah pulang dari perantauan dari negeri paman Sam. Mentari terbenam terasa tersenyum kepadaku, diiringi daun nyiur yang berkelepak mengikuti alur, terasa indah dan damai. tetapi yang lebih indah adalah senyum manis di wajah yang sudah menua itu.
“Gon ? ini benar Gon?” kata Nenek sambil mengusap kepalaku
“gimana kabar Nenek?” kataku sambil memeluknya setelah bersalaman
“Nenek baik, bagaimana kabar ibumu dan adikmu Gon?” balas Nenek dan kusadari air matanya meleleh membasahi pipi tuanya.
“kami semua baik nek” kataku sambil dan melepas pelukan ke Nenek
“kamu pasti lapar, ayo kita makan dulu” ajak Nenek
            Dua tahun telah berlalu aku ingat ketika terakhir kali melihat wajah Nenek. Setelah kepergian ibukku dan adikku, sementara aku harus kembali ketempat dimana aku belajar. Keluargaku hancur karena pertikaian antara ibu dan ayahku yang mendebatkan sebidang tanah yang dibelinya empat tahun lalu. Hingga menghasilkan perpisahan di keduanya. Adikku ikut bersama Ibu dan sekolah disana, sementara aku tetap pergi merantau ke negeri orang untuk menyelesaikan studiku. Padahal aku dan adikku dibesarkan oleh Nenek karena ibuku seorang pembisnis yang sering keluar kota, dan ayahku adalah tentara yang selalu pergi keperbatasan negara.
“bagaimana kuliah mu Gon?” tanya Nenek sambil menyendokkan nasi kepiringku
“alhamdulillah berjalan lancar nek, sebentar lagi aku akan wisuda nek” jawabku kemudian menggapai piring yang telah berisi nasi
“wah bagus kalo gitu, bentar lagi cucu Nenek jadi sarjana” kata Nenek sambil tersenyum lebar kepadaku
“doain Gon yah nek” kata ku membalas senyumnya
“ya sudah kita makan dulu” balas Nenek
“oh yah nek, bagaimana kabar ayah?” tak kusadari aku bertanya hal yang seharusnya tidak kutanyakan, dan Nenek hanya terdiam.
***
            Angin berbisik dikesunyian, jam dinding menatap lengang ruang tamu hanya menyisikan suara jarumnya yang berputar. Semenatara luka dihatiku entah mengapa mulai terasa kembali pasca perpisahan itu. Sesekali ku tengok kekamar, Nenek tertidur pulas ditemani kenangan-kenangan tempo dulu dikala ayah, ibu, dan adikku masih berkumpul di rumah tua ini. Semua itu hanya kenangan yang sekajap hilang dimakan waktu. Aku masih ingat ketika waktu itu, disaat seorang anak kampung  yang berjalan mengiringi pinggir kali sambil menggenggam iqro  pergi kesurau untuk belajar mengaji bersama pak yai, sementara pertikaian hebat terjadi dirumah tua ini, mencegah adikku yang ingin bergabung mengaji di surai bersama temannya. Aku tahu betapa teririsnya hati Nenek ketika melihat ibuku memasukkan bajunya kedalam koper dan bergegas pergi, sementara adikku tidak kuasa melepas tangan Nenek yang dipaksa harus ikut bersama ibu. Semenatara diriku terus meyakinkan Nenek bahwa kami akan baik-baik saja. Nenek tahu tidak ada tempat lain selain tempat ini untuk kami menyambung nasib, semuanya remang, tanpa arah kemana ibu dan adikku akan melangkah, hingga menemukan rumah kecil diseberang daerah yang jauh dari rumah Nenek. Bagaimana sekolah adikku jika harus meninggalkan desa ini, semuanya tidak jelas. Hanya air mata dipipi Nenek dan rasa sakit di hati Ibu yang jelas terlihat.
            Hari berganti, bulan bertambah, dan jam terus mengalir. Meski tanpa izin dari ibuku hari ini aku sudah berada di rumah tua ini. Aku rindu Nenekku, aku ingin mencium tangannya. Meski perjalan menyeberangi berbagai negara, menguras semua isi dompetku tidak mengapa karena aku ingin bertemu dengan Nenekku. Aku benci ayah, tetapi aku tidak membenci Nenekku. Meski sore ini aku harus kembali lagi tak mengapa, asal aku bisa bertemu dengan Nenek. Kutuliskan secarik kertas bahwa aku pamit, aku harus kembali kesana. Kutulis salam untuk Nenek, semoga aku bisa bertemu dengan Nenek meski terbentang jarak. Hanya waktu yang akan menjawab persoalan ini. Yah hanya waktu yang bisa bisa menjawabnya, sampai jumpa kembali Nenekku.