Hujan mulai reda, ranting-ranting pohon berkelapak ringan tertiup angin. Sementara ayam jago mulai singgah dari tempatnya yang sendari tadi berteduh di tepi rumah yang warna dindingnya sejuk serasi dengan semak-semak yang berbaris rapi. Orang-orang berbondong meninggalkan masjid selesai menjalankan shalat jumat. Aku berjalan sambil mengangkat sarungku sampai betis karena genangan air yang menghalangi jalanku. Tak terduga sorban putih yang diselempangkan dibahu kananku tidak ada di tempatnya, sepontan aku menoleh kanan-kiri dan sekitarnya namun tak ada hasil yang kudapatkan.
Dari kejauhan terlihat seorang gagah menjinjing sorban putihku ditangan kananya, dan tangan kirinya menggenggam payung berjalan menerobos gerimis menghampiriku. Kepalaku tertunduk takzim padanya, hatiku berdetak bahkan kuperhatikan pohon kelapa disampingku terasa ikut tunduk takzim padanya.
“Le ... ini sorbanmu kan?” kata Abah Fajar menyodorkan sorban itu sambil tersenyum lembut padaku.
“Nggeh bah ... ngapunten bah, saya ceroboh,” jawabku dengan penuh takzim. Kami pun berjalan beriringan, aku di belakangnya Abah Fajar seperti seorang Sultan yang dikawal prajuritnya dan disaksikan gerimis yang memecah panasnya siang hari.
Bintang bertaburan digelapnya malam seperti permen caca era 90an yang tergeletak dipermadani hitam, aku terdiam sementara secercah tinta yang mulai kutuliskan kata demi kata sambil mengingat kejadian hari ini. Sangat bahagia di hatiku, terasa seperti seorang gadis pingitan yang dibebaskan dari tradisi perjodohan keluarganya. Ini kesekian kalinya aku memandang senyum menawan di wajah Abah Fajar.
 Teduh nan nyaman memandang wajahnya, hati yang mati tersiram cahaya keilmuannya. Aku ingat bagaimana kang Baros salah satu senior dipondokku bercerita tentang tirakat beliau dalam menjaga keistiqomahannya, rekoso tanpa lelah, memilih hidup sederhana dengan kaum-kaum sarungan selama bertahun-tahun. Mengemban amanah menjadi pejuang Allah dalam menjaga keontentikan al-Qur’an. Itulah Abah Fajar, sultonun qulub sang penyejuk jiwa yang kehausan.
 “Kang jenengan dipanggil abah suruh ke ndalem1 beliau!,” kata Somad sorang yang memiliki suara emas dan menyukai musik ala timur tengah memecah lamunanku.
 Aku melongo pada somad. “Wah ada apa yah?.” 
 “Hmm ... ndak tau kang, jengenan kesana saja!” pintanya sambil menjukkan ibu jarinya ke arah rumah abah Fajar.
 “Oke, matur nuwun2 Mad,” timbalku sambil bergegas kerumah abah. 
 Langit menatapku seraya kebingungan, semenatara pohon mangga didepan rumah abah terpaku membisu menyimpan sejuta pertanyaan. Aku sepakat pada laron yang terbang mondarmandir serasa berbisik jangan risau, ini pertanda baik. Lututku tertekuk berjejer dengan sofa di pelataran rumah abah yang hampir sejajar dengan bahu ku, sementara bibirku berkata lembut mengucap salam takzim pada abah. Terdengar ucapan salam yang indah merambat ketelingaku lewat sela pintu yang terbuka sedikit itu, suara abah yang kemudian memerintahkan aku untuk masuk.
 “Masuk le ...” kata yang terucap setelah salam yang kudengar.
 Tanpa sepatah kata pun badan ini spontan bergerak mengikuti perintah itu dengan takzim sementara kepalaku terus tertunduk dihadapan seorang yang sangat ku muliakan dan sangat ku cintai ini.
 “Aldi, hafalan Qur’an mu sudah selesai, mulai besok malam kamu ngaji qiroah sab’ah sama abah. Habis shalat isya langsung ke ndalem aja. Abah tunggu!” pinta abah kepadaku.
 “nggih bah, sendiko dawuh.3” Mengangguk-anggukan kepalaku pada Abah.
 “Aldi, kamu ingat dulu abah pernah nasehati kamu. Dari segitu banyaknya santri abah yang menghafal al-Qur’an yang setor sama abah, Cuma kamu yang nggak teliti pas murojaahnya,” balas Abah mengingatkan kejadian waktu itu.
 “Iya bah, saya selalu mengingatnya,” jawab ku dengan rasa malu bercampur perasaan senang, karena itu bentuk perhatian seorang guru kepada muridnya.
                                                         

 “Hahaha, alhamdulillah kalo seperti itu. Berarati memang hafalanmu kuat. Ya sudah besok malam mulai setorannya,” timbal abah sambil terkekeh kepada ku.
 “Nggeh bah.” Sambil tersenyum malu menimbali guyonan Abah kemudian beranjak pergi.
 “Ya sudah, kamu bisa kembali ke kamarmu,” kata abah yang mengisyaratkan pertemuan ini telah berakhir, dengan takzim akupun mengikuti perintah beliau.
 Selamat sore langit, apa kabar rindu? mentari sudah meninggalkan upuk timur, sementara rembulan memunculkan wajah tenangnya menghampas hingar-bingar kesibukan para santri di siang hari. Ada yang mengantri mandi, ada yang murojaah al-Qur’an, ada juga yang melalarkan al-Fiah ibnu malik dengan fokus dan penuh penghayatan bak kidung nusantara yang memunculkan nada khas kebhinekaan. Kopiah hitamku ku miringkan, semenetara kitab Faidhul-barakat karya simbah Arwani kudus sedang aku murojaah.
 Sekali lagi aku teringat satu kalimat abah kala itu, bukan marah apalagi membenci beliau. Justru itulah kata terindah dalam prosesku menjaga kalam Allah di hati ini. Abah Fajar memberikan semangat lewat nasehatnya untuk diriku yang ceroboh. Belaiu yang menjadi panutanku saat ini dan hingga kapan pun. Kata orang guru adalah seorang pahlawan tanpa jasa. Namun, bagiku abah Fajar pahlawan yang penuh jasa menyirami hatiku dengan kalam Tuhan, dan nasihat Nabiku. Beliau cerminan dari akhlak Nabiku.
 Abah Fajar, adalah seorang yang kucinta, di hatinya ada kalam Allah. Prilakunya jika mata ini menatapnya takkan kuat karena indahnnya akhlak beliau. Telinga ini jika mendengar nasihatnya maka takkan sanggup membangkangnya. Aku seperti binatang jalang yang tak tahu arah dan tujuan dibuatnya menjadi seorang yang paham akan norma. Semoga Allah senantiasa merahmati dan memberikan keberkahan ilmunya padaku, dan pada kami muridnya.