Dalam buku Hermeneutika Dan Pengembangan Ulumul Quran Karya Sahiron Syamsuddin beliau menbagi menjadi beberapa aliran penafsiran jika dipandang pada pemaknaan teks, diantanya:
Pertama, Aliran obyektivis adalah aliran yang lebih menekankan pada pencarian makna asal dari obyek penafsiran teks tertulis, teks diucapkan, prilaku, simbol-simbol kehidupan, dan lain sebagainya. Singkatnya penafsiran ini adalah upaya merekontruksi apa yang dimaksud oleh pecipta teks.
Kedua, aliran subyektivis. Aliran ini lebih menekankan pada peran pembaca/penafsir dalam pemaknaan terhadap teks. Aliran ini bisa disebut juga dengan “reader-centred hermeneutics” atau hermeneutika yang dipusatkan pada pemakna oleh pembaca.pemikir dalam aliran ini beragam, ada yang sangat subyektivis ‘dekontruksi’ ada juga yang subyektifis yakni postrukturalisme, dan juga ada yang kurang subyektivis yaitu strukturalisme.
Ketiga, aliran Obyektivitis-cum-subyektivis. Aliran ini adalah aliran yang berada pada tengah-tengah antara dua aliran diatas. Dalam hal pemaknaan terhadap teks yang ditafsirkan, aliran ini berusaha menguak kembali makna untuk masa dimana teks itu ditafsirka. Dengan kata lain, aliran ini memberikan keseimbangan antara pencari makna asal teks dan peran pembaca dalam penafsiran. Beliau mengatakan dalam buku ini bahwa aliran ini adalah moderat dari kedua aliran diatas atau aliran ini ingin menguak kembali makna yang asli itu disamping dengan makna yang sudah didekontruksi oleh pembaca teks.
Dari pernyataan di atas penulis tidak ingin membahas secara merinci tentang kajian aliran dalam penafsiran, hanya saja pemikiran Pak Syahiron di atas merupakan sebuah analogi dalam kerangka berpikir ketika membagi aliran dalam mahasiswa ini.
Mahasiswa, di negeri ini eksisistensinya tidak diragukan lagi. Mengingat tragedi 1998 kala itu, dimana reformasi pun bisa terjadi jika mahasiswa sudah menyatukan suaranya. Hanya saja saat ini kita sebagai mahasiswa pun dibingungkan dengan eksistensinya sebagai mahasiswa mana yang bisa merubah bangsa ini.
Dari pemikiran pak Sahiron yang menjelaskan beberapa aliran tafsir di atas ternyata dalam kehidupan mahasiswa pun terdapat beberapa aliran, yaitu: aliran mahasiswa organisatoris, aliran mahasiswa non organisatoris, dan aliran mahasiswa organisatoris-cum-non organisatoris.
Aliran mahasiswa organisatoris, adalah mahasiswa aktivis yang mengabdikan dirinya pada organisasi, hingga ia menjadi mahasiswa berkelas karena jumlah semesternya jauh lebih banyak dari mahasiswa lainnya (senior tingkat akut). Bisa juga aliran mahasiswa ini adalah mahasiswa yang memandang bahwa berorganisasi sangat penting dari pada ikut perkuliahan.
Aliran yang kedua adalah mahasiswa non organisatoris, aliran ini adalah aliran mahasiswa yang sangat tekun dalam dunia perkuliahan hingga hampir selalu mendapat IPK sempurna, namun enggan dalam berorganisasi. Aliran ini beranggapan bahwa ikut berorganiasasi adalah sebuah penghalang dan membuat tujuan kuliah jauh dari koridornya. Mereka cenderung menghabiskan waktu untuk membaca buku dan tak mau memikirkan perjuangan dalam membangun organisasi kampus.
Aliran yang terakhir adalah mahasiswa organisatoris-cum-non organisatoris. Ini adalah aliran mahasiswa yang paling moderat diantara kedua aliran diatas. Mahasiswa pada aliran ini cenderung mengalokasikan waktunya untuk mengikuti perkuliahan hingga mendapat IPK di atas 3.00 tetapi dalam berorganisasi pun tidak kalah saing. Mahasiswa ini memiliki integritas tinggi dari pada aliran keduanya, pada saat mereka wisuda predikat cumlaude sudah pasti disandang, dan tak kalah juga dengan jaringan yang ia miliki sangat luas.
Dari tiga asumsi di atas, semua memiliki paradigma masing-masing. Aliran organisatoris biasanya menganggap mahasiswa yang tidak ada pada alirannya merupakan mahasiswa yang mengalami krisis identitas. Aliran ini cenderung berpikir bahwa mahasiswa yang tidak ikut andil dalam oraganisasi adalah mahasiswa yang tidak memiliki kepekaan akan fungsional sebagai kemahasiswaannya.
Sebaliknya, aliran non organisatoris akan beranggapan bahwa mahasiswa yang menceburkan diri dan mengabdikan diri pada organisasi merupakan kegiatan yang buang waktu. Jarang membaca literasi, hanya menyuarakan kegiatan yang tidak berkompeten dari kegiatan membaca buku.
Aliran yang terakhir yaitu aliran organisatoris-cum-non organisatoris, biasanya tipe mahasiswa ini sangat santai memahami fenomena. Aktif bergelut dalam organisasi dan membangun literasi dengan berdiskusi dan membuat serpihan tinta di atas kertas secara konsisten. Menebar jaringan di dunia luas, pandai membagi waktu selalu di segani.
Dari tulisan ini mari kita renungi kita ada pada aliran yang mana?
Mungkinkah kita ada pada aliran organisatoris, non organisatori, atau organisatoris-cum-non organisatoris. Mari ceburkan diri kita pada organisasi tanpa menghilangkan ruh perkuliahan kita. Membangun konten dengan perkuliahan, dan branding dengan organisasi, berbagi rasa satu sama lalinnya, mari sama-sama kita satukan visi kita agar selalu ada pada identitas kita sebagai mahasiswa sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi.