27 rajab merupakan salah satu hari yang sangat bersejarah bagi umat Islam di dunia ini. Salah satu fenomena di luar nalar manusia modern saat ini. Fenomena yang merupakan salah satu bentuk Maha Sucinya Allah SWT. Ketika kita merenungi ayat 1 surat al-Isra.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
KH Muslim Nawawi Hafidzollahu ta’ala pada peringatan isra mi’raj pondok pesantren An nur Yogyakarta menjelaskan konsep dan pelajaran yang berharga dari ayat ini. Beliau menjelaskan bahwa ayat ini merupakan sebuah cerminan perjalanan yang sangat berharga untuk di petik hikmahnya
Lazimnya setiap orang yang melakukan perjalanan atau rekreasi ke sebuah lokasi akan membawa buah tangan (oleh-oleh) untuk kerabat yang di tinggalkan. Hal ini guna untuk menyenangkan hati sesama manusia. Ketika berkunjung ketempat rekreasi pastilah buah tangan yang di bawa pun memiliki ciri has dari destinasi wilayah masing-masing, akan tampak beda buah tangan dari tempat rekreasi yang berdestinasi pegunungan dengan tempat rekreasi yang berdestinasi pantai. Pada fenomena isra mi’raj ini perjalanan yang di lalui Rasulillah SAW. Berdestinasi dari masjid ke masjid, sesuai dengan ayat diatas  لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى, maka buah tangan yang dibawa Rasulillah adalah perintah shalat lima waktu. Ini merupakan oleh-oleh terbaik yang di berikan Rasulillah kepada kita sebagai umatnya.
Isra mengandung pengertian perjalanan malam yang di tempuh oleh Rasulillah SAW. Untuk meraih keberkahan Allah SAW. Sedangkan Mi’raj adalah naiknya Rasulillah dari masjidil Aqso ke sidrotul Muntaha untuk bertemu dengan sang kekasih (Allah). Peristiwa isra mi’raj merupakan sebuah peristiwa yang terbaik yang di alami Rasulillah SAW. Shalat merupakan oleh-oleh terbaik pula yang diberikan Rasulillah untuk kita. Dengan shalat kita pun bisa dikatakan melakukan isra mi’raj.
Esensi isra mi’raj yang dapat kita rasakan ketika kita terbangun dimalam hari kemudian bergegas berangkat untuk melakukan shalat malam. Dengan melakukan perjalan kecil kita menuju tempat ibadah itu merupakan esensi isra secara sederhana yang dapat kita rasakan. sedangkan mi'’aj adalah ketika kita melaksanakan shalat dengan rukun sahalat yang pas, ditambah dengan khusunya kita shalat, maka kita akan mi’raj hingga Ars, sesuai apa yang Rasulillah katakan bahwa assholatul mi’rajul mu’minin yang artinya shalat adalah mi’rajnya orang mu’min.
Esensi shalat disini merupakan sebuah kunci untuk membuka kesuksesan serta kebahagian kita di dunia maupun diakhirat. Sesuai apa yang Allah katakan pada ayat 153 surat Al Baqarah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.
Ketika kita ingin sukses pada tujuan kita, maka hal yang perlu kita lakukan adalah membenarkan shalat kita. Ini merupakan buah tangan yang sangat berharga untuk kita sebagai umat Rasulullah Muhammad SAW sebagai hamba Allah SWT.
 Dari ayat ini kita bisa belajar bahwa Rasulullah merupakan seorang yang tidak egois, hal ini terbukti ketika beliau bertemu dengan kekasihnya (Allah) beliau diberikan sesuatu yang sangat berharga kemudian disampaikannya kepada kita hingga saat ini kita masih mengerjakan nya, kemudian ayat ini juga mengajarkan kita bahwa shalat merupakan esensi terpenting dalam kehidupan kita, di jadikannya kunci untuk membuka segala keluh kesah kita. Wallahu'alam.
Tulisan ini di sarikan dalam peringatan isra mi'raj di pondok pesantren An Nur Yogyakarta pada 04 April 2019 di halaman kampus IIQ An Nur Yogyakarta, di tulis oleh Muhamad Jamaludin.