artikel
Eksistensi Hamba pada lagu Sandaran Hati Letto
Oleh : Muhamad Jamaludin (Mahasiswa IIQ An Nur
Yogyakarta)
Plettonic pasti tahu lagu yang satu ini,
tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang perintah
shalat tahajud yang tersimpan di dalam lagu sebelum cahaya karya band letto
yang di vokalisi oleh Neo.
Untuk
membedah makna yang tersipan dari lagu sandaran hati letto penulis masih
menggunakan analisa pendekatan semiotika Muhamad Arkoun. Mari kita bedah
kandungan makna yang tersimpan dari lagi sandaran hati letto. Sebelumnya ada
yang pernah menulis artikel tentang ini, Penulis sepakat pada artikel yang
dibuat oleh Sufita tentang makna yang terkandung dalam lagu sandaran hati by
letto. Ia berbicara bahwa pada lagu ini makna yang tersimpan dari sandaran hati
adalah Tuhan, dimana artikel ini mengungkap bahwa yang dimaksud dari kata
sandaran hati di lagu ini adalah sang pencipta.[1]
Sebenernya
pisau bedah yang akan kita pakai untuk menggali makna dari lagu ini adalah
pendekatan semiotik al-Qur’annya Arkoun, dimana pendekatan ini dipakai Arkoun
untuk membedah makna surat al-Fatihah, itu yang ditulis oleh Ahmad Sihabul Millah, MA
dalam bukunya Semiotika al-Qur’an Muhamad Arkoun. Terkait hal tersebut
penulis teringat ketika membaca pemikiran Sujiwo Tejo dalam bukunya Tuhan
Maha Asyik. Beliau menjelaskan bahwa al-Qur’an merupakan sebuah tanda,
sampai sini saya sepakat ketika pisau bedah Arkoun dipakai untuk membedah lagu
ini, meski menganalisa al-Qur’an jauh lebih rumit dari menganalisa lagi ini, Tapi
hal ini tidak jadi persoalan.
Arkoun melakukan analisis terhadap tanda-tanda
bahasa dengan merupakan korpus resmi tertutup yang didalamnya memuat ujaran
dalam bentuk bahasa. Setiap bahasa tentu memiliki tanda-tanda bahasa yang ikut
memengaruhi pembentukan maknanya.
Sebagai contoh Arkoun menggunakan dua metode pendekatan semiotika, Yakni
metode semiotika tingkat pertama dan semiotika tingkat kedua.[2]
Semiotika tingkat pertama mengandung unsur tanda, penanda, dan pada tanda.
Semiotika tingkatan kedua mengandung bentuk, konsep. Hal ini akan menjadi pisau
bedah kita menggali makna pada lirik sebelum cahaya.
“Yakinkah ku berdiri Di hempa tanpa tepi,
Bolehkah aku Mendengarmu
Terkubur dalam emosi Tanpa bisa bersembunyi, Aku dan nafasku Merindukanmu
Terpuruk ku di sini Terangi dia yang sepi, Dan ku tahu pasti Kau menemani
Dalam hidupku, Kesendirianku”
Terkubur dalam emosi Tanpa bisa bersembunyi, Aku dan nafasku Merindukanmu
Terpuruk ku di sini Terangi dia yang sepi, Dan ku tahu pasti Kau menemani
Dalam hidupku, Kesendirianku”
Jika
kita melihat dari segi bahasa ini merupakan sebuah ungkapan seorang dalam jiwa
penuh keraguan, dalam jiwa yang merintih dalam kesakitan, meratapi kehidupan
yang tidak memberi kenyamanan pada hati.
Selanjutnya
ada ugnkapan kebutuhan dirinya akan luka yang dirasakan seorang. Dari segi
maknanya lirik ini seolah berbicara bahwa “aku adalah seorang yang lemah dan
tak punya apapun, tanpa arah dalam alam semesta yang luas ini.” Sesuai
dengan firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 28:
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
“Teringat ku teringat, Pada janjimu ku terikat,
Hanya sekejap ku berdiri, Kulakukan sepenuh hati. Peduli ku peduli, Siang dan malam
yang berganti, Sedihku ini tak ada arti
Jika kaulah sandaran hati, Kaulah sandaran hati, Sandaran hati.”
Dari penggalan lirik ini kita bisa lihat
ada ungkapan yang merupakan inti dari apa yang ingin disampaikan dalam lagu
ini. Yaitu ketergantungannya seorang hamba sebagai makhluk Tuhan yang
disebutkan diatas bahwa kita adalah makhluk yang lemah, maka dari situ ada satu
mekanisme kita bisa mengobati hati kita dari kesendirian ini yaitu
menghadirkannya Tuhan dalam kehidupan kita. Dengan berdoa kepadaNya dengan
penuh percaya diri dan penuh kesadaran hati akan keyakianan janji Allah sesuai
firmanNya pada surat al-Baqarah ayat 146:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ
الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ
يَرْشُدُونَ
Artinya: “ Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku
adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”[4]
“Inikah yang kau mau Benarkah ini
jalanmu, Hanyalah engkau yang ku tuju
Pegang erat tanganku Bimbing langkah kakiku. Aku hilang arah Tanpa hadirmu, Dalam gelapnya Malam hariku.”
Pegang erat tanganku Bimbing langkah kakiku. Aku hilang arah Tanpa hadirmu, Dalam gelapnya Malam hariku.”
Bait terakhir ini
ditegaskan kembali bahwa ini lah eksistensi kita sebagai hamba yang selalu
membutuhkanNya dalam setiap langkah kita. Jika kita tinjau lirik ini dengan
kacamata tasawuf maka seolah kita sudah mengenal siapa Allah dengan berma’rifat
kepadanya dan mengabdikan diri kita sebagai murid (orang yang sudah
maushul atau sudah menggantukan seluruh hidupnya pada Allah SWT).
Terakhir dari tulisan ini
penulis hanya menyaring dari apa yang penulis baca. Adapun makna yang tersimpan
dibalik lirik lagu ini akan berbeda ketika dibedah dengan pendekatan lainnya.
tentu hal ini pun tidak terlepas dari latar belakang seorang yang membaca
teksnya. Karane sejatinya sebuah interpretasi itu bisa lahir dari celah manapun
sesuai dari kacamata yang melihatnya. Wallahualam
Sumber referensi :
A. Sihabul Millah, Semiotika al-Qur’an
Muhamad Arkoun, ( CV Lintang Hayuning Buwana, Ygyakarta: 2017
https://tafsirq.com/topik/annisa+28, diakses pada 25/07/19 pukul 21:44 WIB
https://tafsirq.com/topik/al+baqarah+186, diakses pada 25/07/19 pukul 21:45 WIB
[2]
A. Sihabul Millah, Semiotika
al-Qur’an Muhamad Arkoun, ( CV Lintang Hayuning Buwana, Ygyakarta: 2017),
hal. 148.


Post a Comment
0 Comments