artikel
Perintah Shalat Tahajud Di Balik Makna Lirik Lagu Sebelum Cahaya sebuah analisa semiotika Muhamad Arkoun
Letto merupakan grup musik yang dibentuk di
tahun 2014. Grup ini beranggotakan Noe atau Sabrang Mowo Damar Panuluh sebagai
vokalis yang merupakan putra dari Muhamad Ainun Najib yang akrab di sebut Cak
Nun, anggota yang lainya adalah Patub (gitaris), Arian (bassis), Dhedot
(Drumer).[1]
Penulis
sangat menyukai salah satu lagu dari grup band yang satu ini, sebelum cahaya. Mungkin
jika kita plettonic (nama fans Letto) sangat famous dengan lagu ini. Hanya
saja jika mau berkontemplasi kita akan menemukan sebuah pesan yang teramat
dalam dari lirik lagu tersebut.
Kebetulan
akhir-akhir ini penulis lagi senang dengan kajian semiotika. Secara singkat
dari pemahaman penulis tentang kajian yang satu ini, di tuangkan secara gurih
di dalam buku semiotika al-Qur’an Muhamad Arkoun karya Ahmad Sihabul Millah
(wakil Rektor III IIQ An Nur Yogyakarta). Dalam buku tersebut beliau mengakatan
bahwa semiotika adalah kata yang berasal dari kata semeion yang berarti
tanda.[2] Bukan
hanya itu, semiotika juga terkait dengan beberapa istilah seperti semaionan,
yang berarti petanda, dan semainomenan, nanda.[3] Sampai
sini berarti sudah terbayang apa itu semiotika?
Pengertian
semiotika diatas membuat pengertian bahwa ilmu ini berurusan dengan pengkajian
terhadap tanda dan segala yang berhubungan dengan tanda.[4] Jika
kita membaca kajian ini harusnya kita mampir pada pemikiriannya Ferdinan de
Saussure dan CS. Peirce dulu barulah setelah itu merambah pada pemikirannya
Muhammad Arkoun. Tetapi kita akan fokus pada pemikiran Arkoun yang digunakan
untuk membedah makna dalam lirik lagi ini.
Dalam
gerakan semiotika Arkoun membagi beberapa gerakan dalam kancah semiotika studi
al-Qur’an paling tidak melingkupi ruang komunikasi seperti kajian pengujaran,
model-model aktansial, aktan pertama-pengirim-subyek, aktan penerima-subyek,
aktan penerima subyek II, pengujaran transenden, status penangkap. Yang kedua,
adalah daftar dan hirarki berbagai kode kebudayaan pengutipan berbagai kode,
bebagi kode, berbagai titik tolak baru kode-kode, isotopi aksiologi. Yang
ketiga adalah susunan dan fungsi cerita, dan yang terakhir adalah simbol.[5]
Sebenarnya
Arkoun melakukan analisis terhadap tanda-tanda bahasa dengan merupakan korpus
resmi tertutup yang didalamnya memuat ujaran dalam bentuk bahasa. Setiap bahasa
tentu memiliki tanda-tanda bahasa yang ikut memengaruhi pembentukan maknanya. Sebagai contoh Arkoun menggunakan dua metode
pendekatan semiotika, Yakni metode semiotika tingkat pertama dan semiotika
tingkat kedua.[6]
Semiotika tingkat pertama mengandung unsur tanda, penanda, dan pada tanda. Semiotika
tingkatan kedua mengandung bentuk, konsep. Hal ini akan menjadi pisau bedah
kita menggali makna pada lirik sebelum cahaya.
Lirik lagu sebelum cahaya pada bait Ku
teringat hati Yang bertabur mimpi Kemana kau pergi cinta, Perjalanan sunyi Engkau tempuh
sendiri Kuatkanlah hati cinta. merupakan sebuah ungkapan
kelalaian seorang manusia jika dilihat dari semiotika tingakatan pertama kita
melihat akan melihat sebuah penanda disana bahwa itu merupakan kelalain seorang
hamba yang di tandai dengan kata cinta.
Ingatkan engkau kepada Embun pagi
bersahaja Yang menemanimu sebelum cahaya Ingatkan engkau kepada Angin yang
berhembus mesraYang kan membelaimu cinta. Penggalan lirik berikutnya merupakan
sebuah tanda yang jika di ungkapan ini merupakan pernyataan bahwa kita harus
merenung pada tanda-tanda dialam sekitar yang akan bermuara pada sang Pencipta.
Kekuatan hati yang berpegang
janji Genggamlah tanganku cinta Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri Temani hatimu
cinta. Selanjutnya ini
merupakan sebuah tanda bahwa kita diajak untuk bersujud dan mengingat sang
pencipta untuk mengadukan keluh kesah kita atas kelalaian yang kita buat hingga
mentari tersenyum menjemput kita selanjutnya.
Ingatkan engkau kepada Embun pagi bersahajaYang menemanimu
sebelum cahaya Ingatkan engkau kepada Angin yang berhembus mesra Yang kan
membelaimu cinta. Kali ini jika
ditinjau dari semoitika tingkat kedua mengungkap bahwa pada kondisi ini
menggambarkan sebuah situasi seorang hamba yang sedang berkomunikasi dengan
sang pencipta lewat doa-doa yang ia panjatkan di waktu sepertiga malam terakhir
sebelum malam lewat, sementara embun sudah mulai merambat dan sang mentari akan
hadir tersenyum melihat seorang hamba yang mengakui eksistensinya dihadapan
sang penciptanya.
Secara eksplinsit ingin mengungkap
tentang dahsyatnya shalat malam yang secara mantap di katakan oleh Allah SWT
lewat surat al-Isra ayat 78-79:
أَقِمِ
الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ
إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا,
وَمِنَ
اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ
مَقَامًا مَحْمُودًا[7]
.Artinya“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai
gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu
disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang
tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu
mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS al-Isra 78-79).
Terakhir penulis ingin menyampaikan bahwa tulisan ini merupakan sebuah
analisa sederhana dari pembacaan penulis terhadap konsep semiotika al-Qur’an
Muhamad Arkoun karya Ahmad Sihabul Millah, MA (Wakil Rektor III IIQ An Nur
Yogyakarta) yang kebetulan dosen penulis sendiri. Ini akan berbeda dengan
penafsiran dari pencipta lagunya, atau bahkan akan berbeda pula jika di bedah
dengan pendekatan lain misalnya hemeneutika.
Dari sini kita bisa sedikit belajar bahwa memahami sebuah fenomena tentu
harus dilihat dari berbagai aspek agar kita bisa membuka banyak wawasan dan
interpretasi kita terhadap subuah fenomena tersebut akan semakin kaya dengan
banyak persepsi.Wallahualam.
Referensi tulisan :
A. Sihabul Millah, Semiotika al-Qur’an Muhamad Arkoun,
( CV Lintang Hayuning Buwana, Ygyakarta: 2017
https://tafsirq.com/17-al-isra/ayat-78-79, diakses pada 24/07/19 pukul 23.04
[2]
A. Sihabul Millah, Semiotika
al-Qur’an Muhamad Arkoun, ( CV Lintang Hayuning Buwana, Ygyakarta: 2017),
hal. 51
[4]
A. Sihabul Millah,... hal. 51


Post a Comment
0 Comments