artikel
Nilai Moderat di Balik Paguyuban Yasinan Dusun Grudo
Mahasiswa IIQ An nur Yogyakarta angkatan ke 16
pada februari hingga april mendatang diterjunkan ke desa Panjangrejo, Pundong,
Bantul, Yogyakarta dalam agenda kuliah kerja nyata (KKN). Penulis mendapapatkan
kesempatan belajar bermasyarakat bertepatan di Dusun Grudo, Panjangrejo. Kuliah
kerja Nyata (KKN) ini merupakan salah satu ajang pengabdian kecil mahasiswa kepada masyarakat.
Dusun
Grudo memiliki 4 wilayah RT yang terdiri
hampir 200 kepala keluarga di dalamnya. Di sini masyarakat memiliki banyak
variasi keagamaan yang sudah rutin di laksanakan seperti mujahadat pada malam
senin untuk kalangan bapak-bapak, mujahadat pada malam rabu untuk kalangan
ibu-ibu, pengajian sabtu legi untuk semua kalangan dalam rangka mendoakan para
korban bencana gempa yogyakarta silam, paguyuban Yasinan keliling pada malam
jumat, dan lain sebagainya.
Sahabaku,
pada paguyuban yasinan ini penulis tersenyum kala mendengarkan pernyataan ketua
RT 02 beliau sangat rinci menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan salah satu
warisan terdahulu sejak 40 tahun lamanya. Paguyuban yasinan ini bukan hanya
untuk kumpul-kumpul semata yang kemudian membicarakan berbagai persoalan di
masyarakat dusun Grudo. Tradisi ini sangat moderat karena melihat beberapa
pertimbangan yang ada, seperti penulis bertanya pada salah satu warga yang
mengikuti paguyuban ini, beliau mbah Yusuf yang saat ini sudah berumur hampir
70 tahun. Mengapa yasinan ini tidak dilaksanakan di masjid saja?. Beliau
menjawab karena tidak semua watga bisa pergi kemasjid mas, warga disini
rata-rata sebagai petani yang kadang waktunya digunakan untuk beristirahat di
rumah, namun kalau di undang personal hadir di rumah yang mendapat gilirannya
mesti akan hadir.
Tempat
dilaksanakan paguyuban ini adalah salah bentuk pemikiran yang sangat moderat di
masyarakat Grudo. Karena untuk menyesuaikan minat masyarakat untuk selalu berdzikir dan memuji
Allah SWT tidak mesti dipaksakan di masjid. Hal ini sangat toleran sekali
karena yang ditonjolkan disini adalah substansi dari memuji Allahnya, hanya
saja teknisnya di buat lebih merakyat dan membuat masyarakat sangat nyaman.
Paguyuban
Yasinan bukan hanya majlis dzikir dan majlis doa saja. Di paguyuban ini
masyarakat pun sangat asyik membicarakan banyak persoalan kehidupannya. Satu hal
yang sangat khas di sini adalah adanya pembacaan iuran masyarakat (baca:
arisan) untuk pembeliaan hewan qurban setiap tahunnya. Ini merupakan bentuk
komitmen yang luar biasa di masyarakat Grudo, hal ini yang dikatakan oleh ketua
RT 02 merupakan ajang memajukan kemandirian umat di Dusun Grudo ini.
Sahabatku,
hikmah yang dapat kita ambil dari paguyuban Yasinan malam jumat ini adalah
bagaimana bersikap moderat dalam mengenalkan syariat Islam kepada masyarakat
sekitar kita. Hal ini merupakan ajang penguatan ukhuah Islamiyah, dan wathoniah
masyarakat kita agar selalu saling menghargai sesama dan tidak saling menghujat
sesama hingga menimbulkan pola pikir yang radikal.
Tulisan
sederhana ini merupakan bentuk celotehan untuk sama-sama kita merenung dan
membuka kembali pemikiran kita agar melihat beberapa fenomena dari berbagai
segi. Paguyuban Yasinan ini salah satu contoh nyata bahwa fenomena di
masyarakat jika di lihat dari beberapa segi akan memiliki banyak arti dan
kemaslahatan dan kemajuan sesama umat. Mari sama-sama kita junjung tradisi ini
dan selalu mengedepankan nilai-nilai toleransi sesama kita baik dalam
menjalankan tradisi beragama apalagi berbeda agama.
Wallahualam.
Penulis: Muhamad Jamaludin (Instruktur Nasional moderasi Beragama)


Post a Comment
0 Comments