Kisah Cinta Dalam Doa & Hati Singkat | KASKUS


Hujan mulai reda. Namun, pesanmu terus berderet dalam whatsappku. mas Bim, bukan maksud tega hati mengabaikanmu. Aku hanya ingin meredam rasa ini. Membendung tumpahan cinta dalam sanubariku padamu. 

Mas Bim, ingin rasanya aku berada di sampingmu menyandarkan tubuhku di pelukmu, merasakan kehangatan dan damainya cintamu. Mas Bim, apakah kau bisa mendengarkan kata hatiku yang selalu memanggil namumu. Hari ini engkau kabarkan bahwa kau akan kembali ke penjara suci ini, kau sebut itu pesantren.

 Hari ini akan mengakhiri obrolan ringan dari chat-chatmu yang entah sepekan aku tak membalasnya. Tak banyak kata yang keluar dariku, sementara kau selalu berdongeng panjang lewat chatmu, mengabarkan hari-hari liburmu. 

Mas Bim, bukannya aku tak perduli padamu. Namun, aku terlalu malu mengungkapkan rasa senangku saat membaca deretan panjang pesanmu itu.
“Ra, sebentar lagi magrib. Kotak HP segara di keluarkan”. Ucap Mbak Aima menyuruhku, seperti biasa itu isyarat untuk mengumpulkan hp.
“nggeh mbak” ucapku takdzim pada mbak Aima sebagai seniorku di pondok ini.
Mas Bim, hari ini adalah hari adalah hari terakhir liburan di pondok ini. Aku merindukan lantunan nadzom asmaul husna kala kau lantunkan di sepertiga malam terakhir dari balik dinding pesanteren yang membatasi kita. Aku tahu kau selalu mengagungkan Tuhanmu di waktu sakral itu, saat orang lain terlelap kau angkat tanganmu memohong keberkahan Tuhanmu.
Mas Bim, liburanku di pondok ini terasa sepi tanpa melihat bayangmu dari kejauhan. Setiap kau lewat depan gerbang pondok putri ini untuk menyetorkan hafalan  Quranmu, ketahuilah aku selalu memperhatikanmu dari balik jendela kamarku. Mungkin kau tidak tahu bahwa kamarku dilantai atas, sangat jelas melihat siapa yang lewat untuk ke ndalam abah Yai.
“mbak, aku arep takon?” ucapku pada mbak Aima
pie Ra, arep takon opo?” jawabnya sembari menekan bell tanda untuk mengumpulkan hp bagi santri yang tidak pulang.
jenengan ngerti kang Bim mboten?” timbalku pada mbak Aima
“hm, lapo ndadak takon mas Bim?” Kamu seneng yo karo mas Bim?” kata mbak Aima mengejekku.
mboten mbak, mboten” ucapku pada mbak Aima.
“hilih, siapa sih yang nggak kenal mas Bim. Putra pak kiai Arsyad pengasuh pondok Pesantren Daarul Furqon Jawa Barat itu, mosok ora ngerti awak mu Ra?”. jawab mbak Aima meyakinkan.
oalah ternyata Gus to. Jenengan juga seneng to mbak karo mas Bim hihi”. Ucapku balik menggoda mbak Aima.
ora lah, ngawur!, mesti wes nduwe calon. Pancen Gus ko”. Ucap mbak Aima mengelak.
Mas Bim, hari ini aku mengetahui rahasia besar mu. Kau adalah Muhamad Bima al-Fattah putra kiai Arsyad al-Fattah. Mas Bim, mungkin keputusanku tepat untuk tidak menggapaimu. siapa aku ini?, dan siapa engkau mas Bim. Engkau pangeran berparas menawan, senyum indahmu meneduhkan hatiku. Sikapmu yang aris selaras dengan perangai Nabi ku. kasihmu pada sesama mengingatkan pada senyum rahmat Tuhan ku. beruntungnya seorang yang menjadi pendamping mu nanti mas.
Mas Bim, aku tidak bisa menggapaimu. Mendoakanmu semoga limpahan keberkahan Tuhan menyelimuti hari mu adalah caraku tersenyum padamu. Ingin sekali aku menggapaimu, andai kau tahu mas Bim, saat kau menjadi seorang yang paling penting dalam mensukseskan kegiatan di pondok kita ini, di situlah ada doa yang kuselipkan untukmu. Mas Bim,  syahdunya tutur katamu pada saat kau meminta tolong aku untuk mengantarkan makanan untuk tamu-tamu di ndalem Abah membuatku selalu ingin memperhatikanmu.
Kumandang adzan maghrib membalut telingaku. Senjaku sore ini bersama bayangmu semakin menambah rintihan rindu di hatiku. Esok, hariku akan terasa nyaman dengan kehadiranmu dibalik dinding pembatas pondok ini. Satu hal yang mesti engkau tahu, disini aku selalu mendoakan kebaikan menyertai langkahmu. Itulah caraku mencintaimu, tidak lebih. Mencintaimu dalam doaku adalah kebahagiaan dalam hidupku.