Coboy Kampus yang mampus

 Aktivis Pragmatis atau Mahasiswa Apatis? | KNPI SEMARANG

Malam ini terasa panas. Gelisah tak memiliki tepi.  Rasanya baru kemarin gw sibuk keliling kampus nenteng proposal untuk kegiatan kaderisasi. Pergantian raja dalam ormawa kampus baru saja terlewati. Pasca  presiden mengeluarkan statement untuk kuliah di rumah karena pandemi, januari hingga juli gw terlewati begitu aja. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang bersandiwara di atas panggung ormawa. Ah. Mungkin ini kuasa Tuhan, cukup ku ucapkan puji padaNya.

Gw sadar, hari ini bukan artis orwama lagi. Tapi apakah tanggung jawab moral gw sebagai mahasiswa bisa terganti dengan rasa bodo amat. Tidak, itu bukan idealis yang sesungguhnya. Ah sudah lah, para artis pun sedang cuti menikmati keadaan. Tuhan maafkan diriku coboy kampus yang sudah mampus ini.

            “ngopi yuk” ucap Aray memecahkan lamunan gw.

            “ngopi di mana? warung kopi tutup Cuma sampai jam 23.00 aja, gk serulah” kata gw menjelaskan keadaan.

            “di sini aja, lu tunggu di kamar Bim, kantin pondok buka kan?” tanya Aray

            “buka, ok lah. W beli rokok kedepan kalau gitu” pinta gw pada Aray

            “ok lah.” Jawab Aray menyetujui.

            Malam semakin larut. Tak ada yang berarti hanya sebatang surya enam belas yang gw hisab bergantian., tak kalah kopi hitam yang terasa agak manis tetap terasa pahit ketika mengingat para artis ormawa berkampanye menebar janji manis kala itu. ah sudah lah itu jadi urusan mereka. Pemain lama jangan banyak bicara, cukup percayakan pada sang raja dan para pembantunya saja.

            “Bim, skripsi lu gimana udah acc?” tanya Aray

            “belum euy, masih revisi. Eh lu nulis apa si” jawab gw singkat.

            “kalem lah, gw aja baru mau semprot. Lagi nulis puisi euy” timbal Aray membandingkan.

            “haha, tuntaskan lah. Eh Ray ini gimana sih kampus sepi banget? Nggak ada kegiatan apa-apa edan aing mah” ucap gw mengubah topik.

            “haha lah atuh gimana lagi pandemi, mau turun aksi tolak omnibuslaw pan nggak boleh kita mah mahasiswa santui” ucap Aray sambil terkekeh.

            “hahah nanti pada mati lagi yah kena corona, alibi aja sih itu mah. Lah atuh bisa lah buat kegiatan yang seru meski di era pandemi gini, bisa lah adain event apa gitu di kampus. Kan ini mahasiswi juga pada bisa akses hp. Masih banyak yang di rumah juga. Liat aja asrama putri masih lengang gitu” curhatan gw pada Aray.

            "pergerakan gitu-gitu aja, himpunan, banom, pasif. kumaha ieu, Mahasiswa ko nyerah sama keadan. haha lieur aingmah liat nya juga haha" 

            “hahaha udah pres, kita fokus skripsi aja. Inget wapresmu udah acc noh. Hahah” ucap Aray mengakhiri percakapan ini.

            “hahah ok lah ok. Kampret emang lah” kata gw sambil terkekeh.

            “haaa, santai. Nih mending dengerin puisi gw aja. Dah selesai” pinta Aray.

Apa kabar mahasiswa IIQ tercinta...

Rasanya sudah lama kita tidak bersua....

Aku rindu dengan rutinitas kita....

Berdiskusi membahas sesuatu yang sebenarnya tak berguna...

Ngopi bersama meskipun tak membawa apa-apa...

Mengadakan acara meskipun tak pernah ada konsep nyata...

Berdongeng, bercerita seolah kita adalah penguasa satu-satunya...

Pada akhirnya, kini semua hilang begitu saja...

Dengan mengkambinghitamkan ckorona sebagai alibi tanpa fakta...

 

Apa kabar pergerakan mahasiswa?

Islam Indonesia, katanya...

Bagaimana dengan kader kebanggaan kita??

Apakah mereka masih punya nyali untuk bersandiwara??

Bagaimana dengan para pimpinannya??

Apakah benar ia takut korona??

 

Apa kabar DEMA?

Apakah sudah dirancang program kerjanya??

Dan apa kabar untuk ketuanya??

Yang dengan bangga menyebut dirinya PRESMA??

Sudahkah engkau bersandiwara?

Seperti yang dulu kau katakan saat kampanye terbuka...

Jangan-jangan kau juga takut korona....

 

Apa kabar dengan KORDA?

Sudahkah mengikuti lomba?

Berharap piala yang sebenarnya hanya bulshit belaka...

Bagaimana dengan ketuanya??

Kuharap kau tidak terkena corona....

 

Aku baru saja membuka WA..

Dan baru sadar dengan adanya berita....

Bukan dari mahasiswa....

Tapi dari rektorat yang selalu eksis dengan surat-surat terbukanya.....

Mengalahkan lembaga pers mahasiswa....

Dimana mahasiswanya??

 

Ah sudahlah.... sepertinya tak ada harapan....

Aku ingin mengadu saja kepada awan....

Tapi ia tidak mendengarkan...

Kuadukan pada hujan,

Ia pun hanya menetes perlahan...

Lalu kuadukan pada SEKJEN TUHAN...

Tapi aku malah mendapat cacian...

 

Ah sudahlah.... terserah kalian....

            “gimana puisi gw, keren gak pres?” tanya Aray minta penilaian

            “hahaha, masuk pak. Kuy viralkeun lah” jawab gw.

            “kuy lah. Viralkeun jangan kasih kendor” kata Aray.


Post a Comment

2 Comments

  1. Mantapp,..anda ini termasuk orang yang kreatif,.. banyak karya2 anda yang sudah saya baca,...hanya pesan singkat dari saja, teruskanlah imajinasi anda, agar dapat di contoh banyak orang, terutama bangsa indonesia,...
    Senang rasanya banyak orang indonesia masih mau semngat dalam segala hal

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin aamiiin.. makasih atas supportnya kawan. doakan semoga saya bisa terus produktif untuk nulis hmmm makasih

      Delete