Sejarah mencatat bahwa Sayyidah Khodijah adalah salah satu wanita terbaik sepanjang masa. Beliau menjadi istri pertama Rasulullah SAW. Sepanjang hidupnya, beliau selalu menjadi penguat, pendamping baik suka maupun duka hingga akhir hayat bersama Rasulullah SAW. Dengan demikian, ulama mengarang kitab tentang kisah Sayyidah Khodijah ini sebagai bentuk takdzim dan mengharapkan keberkahan yang melimpah ruah.

Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani mengarang sebuah kitab dengan judul al-Busyra Fi Manaqib Sayyidah Khodijah al-Kubro. Abuya Sayyid Muhammad menjelaskan bahwa adanya manaqib ini supaya ada majelis dan tempat-tempat perkumpulan di desa, dan atau di kota agar dapat mempelejari kisah Sayyidah Khodijah ini. Selain itu, Abuya Sayyid Muhammad juga berharap dengan adanya manaqib ini, agar masyarakat islam pada umumnya, terkhusus para muslimat dapat mengikuti sifat yang agung Sayyidah Khodijah ini, terlebih para santri putri yang sedang menimba ilmu di pondok-pondok pesantren di manapun berada.

Al-mualif diawal kitab ini dengan menyebutkan silsilah nasab Sayyidah Khodijah. Sayyidah Khodijah memiliki nasab baik, dari datuk-datuknya terbebas dari sifat kekufuran jahiliyyah, dan nasabnya masih ada hubungan kerabat dengan datuk-datuknya Nabi Muhammad SAW. Dari awal ini, kita disuguhkan tentang pengetahuan bahwa Sayyidah Khodijah tersucikan dari jalur nasabnya.

Sayyidah Khodijah juga tersucikan baik tingkah dan prilakunya dari kotoran jahiliyyah seperti berzinah, dan prilaku buruk lainnya. sehingga dari sinilah Sayyidah Khodijah dijuluki dengan sebutan Sayyidah al-dzohiroh (baca: tuan putri yang suci). Sayyidah Khodijah juga dijuluki sebagai al-kubro karena memiliki sifat dan prilaku yang agung.

Sayyidah Khodijah dilahirkan lima belas tahun lebih awal dari Sayyidina Muhammad SAW. Sayyidah Khodijah tumbuh di kalangan orang-orang baik yang selalu mengitari kesehariannya, yaitu tumbuh dan berkembang di rumah yang suci. Kakek-kakeknya memiliki akhlah yang baik dan bagus. Sehingga inilah salah satu dorongan dirinya memiliki akhlah yang baik dan terpuji.

Sayyidah Khodijah tumbuh menjadi pribadi yang cantik secara dzhohir dan sempurna akhlaknya (cantik secara batin), dan memiliki keutamaan dalam hidupnya. selain itu, Sayyidah Khodijah juga memiliki jiwa yang kuat dalam berprinsip, benar dalam tindakannya, bagus dalam mengatur seluruh urusan kehidupannya, dan pandai dalam men-tasyarufkan hartanya hingga berkembang pesat.

Sayyidah Khodijah mempunyai firasat yang kuat dalam hidupnya. Hal inilah yang menjadi bukti dengan dipilihnya Sayyidina Muhammad SAW, sebagai pendamping hidupnya hingga akhir hayatnya. Sayyidah Khodijah juga memiliki pandangan yang dalam terhadap sesuatu hal, dan memiliki cita-cita yang tinggi dengan sistematika berpikir yang baik.

Sayyidah Khodijah pernah menikah sebanyak dua kali, sebelum dinikahi oleh Sayyidina Muhammad SAW untuk terakhir kali, hingga wafatnya. Hal ini lah yang menjadi salah satu keistimewaan dan kemuliaannya untuk menutup kehidupannya. Sayyidah Khodijah diberkahi oleh Allah SWT, dengan memiliki kekayaan yang melimpah dan pelayan yang banyak dalam kehidupannya. Hal ini lah yang seterusnya menjadi pendukung dalam dakwah Nabi Muhammad SAW.

Sayyidah Khodijah sangat pandai dalam bidang perdagangannya, sehingga memiliki banyak para pedangan yang bekerjasama dengannya. Sayyidah Khodijah memiliki trik dalam berdagangnya yaitu dengan cara mudhorobah (baca: bagi hasil jual beli) kepada para pedagang yang dipekerjakannya. Hal inilah yang menjadi cara investasinya dengan baik dan berkembang pesat.

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa Sayyidah Khodijah pantas disebut sebagai mutiara yang sangat mahal harganya, kuat, tangguh dalam berbagai hal, wangi namanya. Sehingga Sayyidah Khodijah kelak menghasilkan keturunan putri-putri yang masuk sebagai wanita terbaik sepanjang masa seperti Sayyidah Fatimah binti Muhammad SAW. Hal inilah yang menjadi catatan sejarah sehingga dzuriyatunnabi tersebar keberbagai belahan dunia dan menjadi catatan penting tentang ajaran Islam.

Dari tulisan sederhana ini, al-Mualif  kitab ini mengajarkan kepada kita sebagai umat Islam pada umumnya, terlebih kepada para muslimat untuk menjadikan Sayyidah Khodijah sebagai tauladan dalam kehidupan kita. Tidak menutup kemungkinan, bahwa sebagai seorang santri putri seharusnya mengikuti jejak langkah Sayyidah Khodijah dalam kehidupannya. Selain itu, inilah cara kita mengetahui bagaiamana potres secara ringkas sosok tauladan yang sempurna yang menjadi pendamping setia Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah mengajarkan Islam. Wallahualam.

Tulisan ini dikutip dalam kitab al-Busyro fi Manaqib Sayyidah Khodijah al-Kubro karya Syaikona Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani hal 7-10 yang menjadi kajian di bulan Ramadhan di Pondok pesantren An Nur Ngrukem Komplek Nurul Huda yang diampu oleh guru kami tercinta Agus Muhammad Rumizijat.

Penulis: Muhamad Jamaludin