referensi gambar:
https://inet.detik.com/science/d-4920320/ngeri-ledakan-terbesar-di-alam-semesta-terdeteksi

Isra mi’raj merupakan salah satu peristiwa besar dalam agama Islam. Kisah ini teradapat pada surat al-Isra di dalam Alquran. Banyak ulama yang berpendapat terkait penamaan surat ini, yaitu surat al-Isra dan Bani Isr’il. Ia dinamai al-Isra karena awal ayatnya berbicara tentang al-Isra yang merupakan uraian yang tidak ditemukan secara tersurat selain pada surat ini. Demikian juga dengan Bani Israil, karena hanya di dalam surat ini lah diuraikan tentang pembahasan dan penghancuran Bani Isra’il. Ada juga yang beranggapan surat ini adalah surat subhana karena awalan surat ini dimulai dengan kata tersebut. (lihat Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jilid VII, 2005:395).

Kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW tercantum pada ayat pertama dalam surat al-Isra’, yaitu sebagai berikut:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

            Quraish Shihab menafsirkan ayat ini dengan menyatakan bahwa kata (سبحان) subhana terambil dari kata (سبح) yang mulanya berarti menjauh. Hal ini sama dengan seorang yang berenang digambarkan dengan menggunakan akar kata yang sama, karena pada hakikatnya dengan berenang ia menjauh dari posisinya yang semula. Kendati demikian kata (سبحان) bisa digunakan untuk menunjukkan keheranan atau keajaiban terhadap sesuatu. (lihat Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jilid VII, 2005:400). Kata سبحان ini menjadi salah satu tanda bahwa peristiwa ini merupakan bentuk keheranan yang sebelumnya tidak pernah ada setelah Allah mengenalkan ayat tersebut.

Selanjutnya penggunaan redaksi سبحان الذي أسرى بعبده tanpa menyebut nama Allah tetapi menyebut perbuatan-Nya yakni mengisrakan. Hal ini sebagai tanda bahwa ada penekanan peristiwa tersebut sangat mengherankan dan menakjubkan. Kata أسرى ini mengandung arti perjalanan malam. Sedangkan huruf ب pada kata بعبده  ketika diterjemahkan secara harfiah adalah dengan hamba-Nya. Huruf  -ba- itulah menggambarkan redaksi ini menjadi kalimat transitive artinya tidak membutuhkan objek. Hal ini menyimpan makna bahwa ada satu pihak yang menjalankan perjalanan ini yaitu Allah SWT sebagai subyek yang menjalankan dan Nabi Muhamad SAW sebagai obyeknya. Perjalanan ini ditempuh dalam kurun waktu satu malam dari al-Masjidil al-Haram hingga al-Masjidil Aqso. (lihat Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jilid VII, 2005:401).

Quraish Shihab melanjutkan bahwa pada ayat tersbut terdapat beberapa kali pengalihan redaksi dari persona ketiga pada kata سبحان الذي dan pada kata عبده. Selanjutnya ke persona pertama yaitu الي باركنا dan لنريه agar kami perlihatkan kepadanya, yang apabila tanpa pengalihan akan dikatakan yang telah Dia berkati dan agar Dia perlihatkan kepadanya. Setelah pengalihan itu redaksi ayat di Atas beralih lagi ke persona ketiga yaitu انه sesungguhnya Dia. Pengalihan-pengalihan tersebut merupakan tanda yang menunjukkan bahwa peristiwa Isra mi’rah ini benar-benar bersumber dari Allah yang diliputi oleh kesucian dan keagungan Allah swt. Hal ini sebagai petanda bahwa peristiwa Mi’raj yang dilakukan Nabi dari al-Masjidil Aqso’ hingga naik ke sidrotul muntaha merupakan bentuk kekuasaan Allah yang paling Agung.

Quraish Shihab menjelaskan ayat tersebut secara logis terhadap susunan bahasa dalam Alquran. hal ini menjadi bukti bahwa Quraish Shihab sampai menekankan adanya dalam membaca ayat ini sampai terhadap peralihan persona ketiga. Dengan demikian ayat ini menjadi tanda bahwa tanpa di dasari keimanan yang kuat maka akal manusia tidak akan sampai merasionalisasikan kisah ini sehingga dapat diterima oleh akal manusia yang terbatas.

Dari pemaparan di atas, dapat kita ketahui bahwa tanda yang tersimpan dalam ayat ini memiliki tujuan/maqosid untuk menjelaskan kepada pembaca bahwa dalam memahami Agama tidak sepenuhnya selalu menggunakan akal pikiran kita. Karena akal pikiran manusia memiliki batasan-batasan tertentu. Ayat ini ini memiliki maksud sebagai sistem motivasional atau memotivasi kepada pembaca bahwa ada yang lebih tinggi tingkatan di atas akal yaitu soal keimanan. Kendati demikian, dewasa ini banyak ulama yang mencoba merasionalisasikan kisah ini dengan mengaitkan beberapa term ilmu pengetahuan seperti al-Razi dan Thantawi Jauhari dalam kitab tafsir Ilminya.

Kendati demikian, kedua ulama tersebut berkesimpulan bahwa tafsir bil ‘ilmi  tidak sepenuhnya memandang kisah Isra’ Mi’raj dengan teori-toeri ilmu pengetahuan modern yang bersifat exact dan kerap ditakutkan oleh para penolak tafsir bil ‘ilmi karena teori-teori ilmiah akan berubah-ubah dilain masa. Hal ini terbukti bagaimana Thantawi Jauhari menjelaskan Isra Mi’raj jauh dari hitungan-hitungan saintis sebagaimana al-Razi yang memandang kisah ini dari kaca mata ilmu jiwa yang menerangkan tentang hakikat ruh dengan menguraikan ilmu pengetahuan yang bersifat saintis seperti ilmi fisika dan kosmologi.

Referensi tulisan:

Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jilid VII,  (Pustaka Umum Islam Imam Jama, Jakarta Tahun 2005.