Tanda di Balik Kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW Menurut Quraish Shihab
Isra mi’raj merupakan salah satu peristiwa
besar dalam agama Islam. Kisah ini teradapat pada surat al-Isra di dalam
Alquran. Banyak ulama yang berpendapat terkait penamaan surat ini, yaitu surat
al-Isra dan Bani Isr’il. Ia dinamai al-Isra karena awal ayatnya berbicara
tentang al-Isra yang merupakan uraian yang tidak ditemukan secara tersurat
selain pada surat ini. Demikian juga dengan Bani Israil, karena hanya di dalam
surat ini lah diuraikan tentang pembahasan dan penghancuran Bani Isra’il. Ada
juga yang beranggapan surat ini adalah surat subhana karena awalan surat
ini dimulai dengan kata tersebut. (lihat Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah,
Jilid VII, 2005:395).
Kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW tercantum
pada ayat pertama dalam surat al-Isra’, yaitu sebagai berikut:
سُبْحَانَ
الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى
الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu
malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Quraish
Shihab menafsirkan ayat ini dengan menyatakan bahwa kata (سبحان) subhana terambil dari kata (سبح) yang mulanya berarti menjauh.
Hal ini sama dengan seorang yang berenang digambarkan dengan menggunakan akar
kata yang sama, karena pada hakikatnya dengan berenang ia menjauh dari
posisinya yang semula. Kendati demikian kata (سبحان) bisa digunakan untuk menunjukkan
keheranan atau keajaiban terhadap sesuatu. (lihat Quraish Shihab, Tafsir
al-Misbah, Jilid VII, 2005:400). Kata سبحان ini menjadi salah satu tanda
bahwa peristiwa ini merupakan bentuk keheranan yang sebelumnya tidak pernah ada
setelah Allah mengenalkan ayat tersebut.
Selanjutnya penggunaan redaksi سبحان الذي أسرى بعبده tanpa menyebut nama Allah tetapi
menyebut perbuatan-Nya yakni mengisrakan. Hal ini sebagai tanda bahwa ada
penekanan peristiwa tersebut sangat mengherankan dan menakjubkan. Kata أسرى ini
mengandung arti perjalanan malam. Sedangkan huruf ب
pada kata بعبده ketika diterjemahkan secara harfiah adalah
dengan hamba-Nya. Huruf -ba- itulah
menggambarkan redaksi ini menjadi kalimat transitive artinya tidak
membutuhkan objek. Hal ini menyimpan makna bahwa ada satu pihak yang
menjalankan perjalanan ini yaitu Allah SWT sebagai subyek yang menjalankan dan
Nabi Muhamad SAW sebagai obyeknya. Perjalanan ini ditempuh dalam kurun waktu
satu malam dari al-Masjidil al-Haram hingga al-Masjidil Aqso. (lihat Quraish
Shihab, Tafsir al-Misbah, Jilid VII, 2005:401).
Quraish Shihab melanjutkan bahwa pada ayat
tersbut terdapat beberapa kali pengalihan redaksi dari persona ketiga pada kata
سبحان الذي dan
pada kata عبده.
Selanjutnya ke persona pertama yaitu الي باركنا dan لنريه agar kami perlihatkan kepadanya, yang apabila tanpa pengalihan akan dikatakan yang
telah Dia berkati dan agar Dia perlihatkan kepadanya. Setelah
pengalihan itu redaksi ayat di Atas beralih lagi ke persona ketiga yaitu انه sesungguhnya Dia. Pengalihan-pengalihan tersebut merupakan tanda
yang menunjukkan bahwa peristiwa Isra mi’rah ini benar-benar bersumber dari
Allah yang diliputi oleh kesucian dan keagungan Allah swt. Hal ini sebagai
petanda bahwa peristiwa Mi’raj yang dilakukan Nabi dari al-Masjidil Aqso’ hingga
naik ke sidrotul muntaha merupakan bentuk kekuasaan Allah yang paling
Agung.
Quraish Shihab menjelaskan ayat tersebut
secara logis terhadap susunan bahasa dalam Alquran. hal ini menjadi bukti bahwa
Quraish Shihab sampai menekankan adanya dalam membaca ayat ini sampai terhadap
peralihan persona ketiga. Dengan demikian ayat ini menjadi tanda bahwa tanpa di
dasari keimanan yang kuat maka akal manusia tidak akan sampai
merasionalisasikan kisah ini sehingga dapat diterima oleh akal manusia yang
terbatas.
Dari pemaparan di atas, dapat kita ketahui
bahwa tanda yang tersimpan dalam ayat ini memiliki tujuan/maqosid untuk
menjelaskan kepada pembaca bahwa dalam memahami Agama tidak sepenuhnya selalu
menggunakan akal pikiran kita. Karena akal pikiran manusia memiliki
batasan-batasan tertentu. Ayat ini ini memiliki maksud sebagai sistem
motivasional atau memotivasi kepada pembaca bahwa ada yang lebih tinggi
tingkatan di atas akal yaitu soal keimanan. Kendati demikian, dewasa ini banyak
ulama yang mencoba merasionalisasikan kisah ini dengan mengaitkan beberapa term
ilmu pengetahuan seperti al-Razi dan Thantawi Jauhari dalam kitab tafsir
Ilminya.
Kendati demikian, kedua ulama tersebut berkesimpulan
bahwa tafsir bil ‘ilmi tidak
sepenuhnya memandang kisah Isra’ Mi’raj dengan teori-toeri ilmu pengetahuan
modern yang bersifat exact dan kerap ditakutkan oleh para penolak tafsir
bil ‘ilmi karena teori-teori ilmiah akan berubah-ubah dilain
masa. Hal ini terbukti bagaimana Thantawi Jauhari menjelaskan Isra Mi’raj jauh
dari hitungan-hitungan saintis sebagaimana al-Razi yang memandang kisah ini
dari kaca mata ilmu jiwa yang menerangkan tentang hakikat ruh dengan
menguraikan ilmu pengetahuan yang bersifat saintis seperti ilmi fisika dan
kosmologi.
Referensi tulisan:
Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jilid VII, (Pustaka Umum Islam Imam Jama, Jakarta Tahun
2005.


Post a Comment
0 Comments