Buku ini menceritakan bagaiamana sedikit potret tentang Seorang tokoh bernama KH. Abdurrahman Adakhil yang kemudian dikenal dengan Abdurrahman Wahid yang sering disapa dengan panggilan Gus Dur. Namun, buku ini tentu belum cukup memahami seluruh sepak terjangnya Gus Dur. Jika kita ingin melihat seluruh potretnya Gus Dur, perlu juga melihat jejak-jejaknya di masa lampau yang sangat berilian yang pernah digoreskannya. Dengan demikian, buku ini belum bisa menjelaskan secara utuh melihat pribadi Gus Dur secara komprehensif, melainkan hanya sebuah upaya menghadirkan alam pikirnya ‘Gus Dur’ dari sisi yang lain.

    Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan yang terkumpul dalam kolom-kolom Gus Dur di majalah Tempo dasawarsa 1970-an dan 1980-an. Dalam buku ini terbagi menjadi tiga tema besar di antaranya adalah soal refleksi kritis pemikiran Islam yang terdiri dari 27 artikel, Intensitas Kebangsaan dan Kebudayaan yang terdiri dari 25 artikel, dan Demokrasi, Ideologi, dan Politik: pengalaman Luar Negeri yang terdiri dari 21 artikel.

    Inti dari pemikiran Gus Dur dalam buku ini adalah ketika beliau mengutip satu narasi dari Al-Hujwiri yang mengatakan bahwa “bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah kafir. Allah tidak perlu disesali kalau “ Ia menyulitkan” kita. Dan juga tidak perlu dibela kalau menyerang hakikat-Nya”. Dari narasi ini yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.

    Gus Dur menggunkan analogi kisa seorang X yang merupakan sarjana luar negeri yang pulang ke tanah air. Sarjana tersebut resah karena setiap saat mendengar narasi kebencian dan kemarahan di mimbar-mimbar masjid. Sarjana X juga mendengarkan ceramah seorang ilmuan hebat yang menolak wawasan ilmiah dunia dengan mengajukan teori ilmu pengetahuan menurut Islam secara alternatif.

    Lanjut soal sarjana X yang merasah resah melihat banyak narasi Agama yang digunakan golongan Islam di negeri ini yang selalu mengutarakan kebenarannya atas golongannya. Artikel-arikel yang dimuat dalam buku Tuhan Tak Perlu Dibela ini memang tulisan-tulisan lama Gus Dur. Akan tetapi, keresahan beliau terhadap melihat fenomena saat narasi ini ditulis, ternyata dapat kita rasakan saat ini pula.

    Gus Dur mengajak kita merenung dalam buku ini, yaitu tentang cara mengimbangi narasi-narasi yang menebar kemarahan dan keresahan sesama pemeluk Islam dari berbagai golongan dan paradigma yang berbeda-beda. Cara mengimbanginya adalah dengan ‘tidak melayani’ informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam, hanya perlu menjawab dengan narasi yang meneduhkan persoalan secara dewasa dan bijaksana dan bisa-bisa saja tidak perlu dicari-cari, atau lebih tepatnya –gitu aja kok repot-.

    Buku ini memang mengajarkan kita bahwa Islam perlu dikembangkan, tetapi tidak untuk dihadapkan pada serang-serang orang. Allah adalah yang Maha Benar, tidak akan berkurang sediktpun kebenaran dan kebesarannya dengan adanya keraguan manusia kepadanya. Maka dari itu, Allah pun tidak perlu dibela oleh kita yang merupakan ciptaannya yang lemah. Pun tidak menolak untuk dibela. Perlu tidaknya membela, tergantung dari paradigma mana kita berangkatnya, selagi tetap menjunjung tinggi nilai dari toleransi antar narasi memahami Ketuhanan, dan kedewasaan dalam berpikir perdamaian akan selalu ada, hingga pertempuran atas nama agama akan bisa diminimalisir.