sepuluh dzulhijjah adalah hari raya idul adha bagi umat muslim sedunia, selain mereyakan kegiatan haji yang dilaksanakan di tanah haram, ada hal yang tidak kalah penting, yaitu hari raya berkurban. Tradisi ini adalah momentum untuk mengenang kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anak kesayangannya yaitu Nabi Ismail (ada yang menyebut juga Nabi Ishak).

Berbicara tentang kurban, ini secara khusus dalam tradisi Islam dapat dimaknai sebagai persembahan kepada Allah dari binatang ternak seperti unta, sapi, kambing, dan lainnya sesuai ketentuan. Hal ini merupakan bagian dari satu tradisi bentuk ibadah atau ritual suci dalam agama Islam.

Dengan demikian di negara yang mayoritas muslim seperti indonesia, setiap menjelang idul adha tentu kita akan menemukan banyak orang yang berjualan hewan-hewan untuk berkurban seperti kambing, sapi, dan lainnya, tentu ini untuk kebutuhan kurban saja.

Tradisi kurban telah ada pada masa kerajaan babilonia saat itu. dalam tradisinya harus mengorbankan anak-anak sebagai bentuk ritual ibadah saat itu. tidak heran kenapa Nabi Ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan putranya pada saat itu (Liswindio, semangat Kemanusian dalam berkurban, 2020). Hal ini sebagai bentuk dakwah Nabi Ibrahim dikalangan umatnya saat itu.

Namun, ada catatan penting yang perlu kita ketahui adalah saat disembelih putra Nabi Ibrahim saat itu digantikan oleh Allah dengan seekor kambing. Ini merupakan bentuk penghargaan Islam terhadap kritik atas nilai kemanusiaan pada saat itu. selain itu, hal ini juga merupakan teologi pembebasan dalam ajaran Islam, yaitu kritik atas sebuah tradisi untuk kearah yang lebih baik lagi.

Kita bisa renungi bahwa dalam berkurban ada sisi kemanusiaan yang dapat kita rasakan, yaitu dari sisi sejarah sebagaimana yang disebutkan di atas. Tidak hanya itu, seiring berkembangnya zaman, hingga datang Nabi Muhammad saw sebagai penyempurna ajaran Islam menganjurkan agar daging kurban harus diberikan kepada masyarakat sepenuhnya. Hal ini merupakan bentuk kesamaan dan kesetaraan kelas.

Islam sangat komprehensif dalam memandang kesetaraan kelas, dalam masalah kurban ini salah satunya. Semangat berkurban ini bisa memberikan kebahagiaan kepada masyarakat sekitar dengan sama merasakan nikmatnya mengkonsumsi daging kurban.

Apalagi dalam keadaan pandemi covid-19 pada masa PPKM yang terjadi di negeri kita saat ini. Kita bisa melihat banyak sisi kemanusian yang hilang seperti banyak masyarakat yang menimbun obat, masker, vitamin, dan lainnya hingga panik buying, dan korupsi dana bansos. Di sisi lain, ketidak percayaan sebagian masyakarakat kepada pemerintah, dan sebaliknya, hingga kepada tenaga kesehatan. Ini menjadi problem ternyata ada sisi kemanusiaan kita yang terkikis.

Dengan demikian, adanya momen seperti hari raya kurban ini, mari sama-sama kita niatkan untuk menumbuhkan kembali rasa kemanusiaan kita terhadap sesama. Saling membahu memberi semangat dan harapan agar bisa melewati masa-masa sulit ini. Bagi siapapun yang saat ini bisa berkurban, berkurbanlah!. Dan berikan daging kurban itu kepada saudara kita lainnya, agar kita bisa tersenyum bersama melewati masa sulit ini. Dengan begitu kita memanggap bahwa diri kita semua sama dimata kemanusiaan.

Selamat hari raya idul adha 1442 H, mohon maaf lahir batin. Salam dari kami untuk sahabat semua yang selalu menebar narasi damai dan kebaikan.