Bagaian awal buku ini menjelaskan bahwa hermeneutika di ambil untuk menggantikan atau konon katanya melengkapi metode tafsir klasik al-Qur’an yang selama ratusan telah dikenal dan diterapkan para ulama dalam menafsirkan al-Qur’an. Adanya kajian ini dianggap sebagai ancaman bagi metode penafsiran al-Qur’an, memang al-Qur’an tidak bisa dirubah secara redaksi teksnya. Namun, hermeneutika akan merubah cara menafsirkannya, maka hasil penafsirannya pun dirasa akan berubah. Sebagaimana yang dicontohkan Adian Husaini dalam bukunya tersebut memberikan salah satu contoh dampak dari penggunaan metode hermeneutik seperti hukum-hukum Islam yang selama ini sudah disepakati Muslimin bisa saja berubah.

            Buku ini dirasa salah satu bentuk penolakan pada metode hermeneutik. Adian Husaini juga menjelaskan bahwa bahwa umat Islam sudah punya ilmu tafsirnya sendiri. Adanya kajian hermeneutik ini juga beliau beranggapan salah satu kajian yang membuat redikalisasi pemikiran dalam beragama.

            Selanjutnya Adian Husaini menjelaskan bahwa hermeneutika merupakan metode penafsiran untuk menginterpretasikan bible dikalangan kristen. Metode hermeneutik dirasa tidak cocok untuk menginterpretasikan al-Qur’an karena al-Qur’an sendiri adalah kalam Tuhan yang murni di Tanzil kan kepada Muhammad, berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang  diadptasikan oleh pemikiran paus dan Isyiah. Hal ini dikarenakan bible juga memungkinkan sifat “teks manusiawi” dengan anggapan ini maka memungkinkan berbegai metode hermeneutika.

            Adian Husaini juga mengeritik bahwa penggunaan metode hermeneutika juga memiliki beberapa dampak seperti relativisme tafsir, kecurigaan dan mencerca ulama Islam, dan dekontruksi konsep wahyu. Berdasarkan pemaran diatas saya beranggapan bahwa Adian Husaini tidak menerima metode hermeneutika karena memang itu bentuk kekhawatiran beliau terhadap pemaknaan al-Qur’an yang tidak sesuai dengan kesepakatan ulama terdahulu. Meskipun saat ini benyak rekontruksi makna didalamnya ketika mengkaji berbagai ayat yang dipahami secara kontekstual tetapi anggapan beliau bahwa dengan menggunakan metode hermeneutika dikhawatirkan mengurangi keotentikan al-Qur’an seperti bible pada saat ini. Hanya saja saya beranggapan bahwa ketika kita mempelajari metode hermeneutika ini dianggap sebagai bahan pengetahuan agar kita bisa menggali makna al-Qur’an yang penuh dengan makna yang tersembunyi dibalik ayat-perayatnya.  wallahualam