Setalah berdoa di malam hari, aku memandang langit.

Mantap, ternyata sang bulan sedang purnama. Indah sekali.

Secepatnya ku tarik senyum di bibirku dan sayup mataku memandang keindahannya.

Ternyata ia pun menatap, dan menyapaku.

Bulan:” hei anak manusia, kenapa kau berpura-pura bahagia?”

Aku:”hah! Ko tahu?.

Bulan:” kau hanya kurang bersyukur atas karunia Tuhanmu selama ini”.

Aku:” eh, ko gitu?”

Bulan:”apa yang kau capai saat ini adalah impian orang lain yang ingin mencapainya juga. Kau selalu mengeluh, dan selalu merasa kurang dengan membandingkan dirimu dengan orang lain.

Aku:”sebentar ini dalam konteks apa dulu?”

Bulan:” hal ini aja kau masih belum tahu. Sudah tentu dalam konteks materialisme.

Aku:”eh ko tahu materialisme?, diskusi sama siapa kau?

Bulan:” kau lupa, aku memantau semua kesibukan kalian di atas bumi ini. Kehadiranku sebagai purnama saja banyak yang tidak menganggapku. Tapi, it’s ok, no problem. Aku tidak memperdulikan itu!.

Aku: "haha cie, gak dianggap juga. eh tapi ada juga yang mengharapkan dan mengagumi keindahanmu loh, wahai bulan!".

Bulan:”sudah pasti itu. inget untuk mencapai puncak purnamaku ini, butuh berhari-hari dan tirakat kuat. tapi posisi purnamaku ini, tidak lama hanya beberapa saat aja. Tidak abadi, aku tetap menikmati posisiku ini.

Aku: "tapi kenapa manusia banyak yang memuji matahari?"

Bulan: "itulah kalian wahai anak manusia, kalian tidak tahu setiap malam, matahari mengadukan kalian pada Tuhan atas kerusakan yang kalian perbuat di siang hari, sampai-sampai ia tidak ingin bersinar lagi".

Aku: "eh, ko gitu, lalu apa yang harus kita lakukan?"

Bulan: " tidak tahu, aku cuma bulan. kalian manusia kan bisa mikir sendiri"

Aku: "hahaha, iyo wes"

Bulan: "ya, begitulah"

Aku:”hm. Makasih sudah menemani keluh kesahku ini.

Bulan:” hahahaa dasar anak manusia”.

dan kita tertawa bersama hingga sang mentari muncul.