Mengenal Relevansi Metode Hermenutika Terhadap Penafsiran teks Alquran | Review Buku #Part_1
Tulisan ini akan mengupas pemikiran Dr. Phil. Sahiron Samsuddin dalam bukunya yang berjudul Hermeneutika Dan Pengembangan Ulumul Quran. Namun, untuk lebih terfokus apa saja yang tertuang dalam buku yang luar biasa keren ini, kita akan membagi beberapa part. Diawal pembuakaan buku ini pak Syahiron membuka penjelasan hemeneutika sebagai kata yang memiliki arti “menjelaskan”.
Kata tersebut juga memiliki tingkat keberagaman
dan kebertingkatan definisi. Beliau mengutip kata Gadamer bahwa hermeneutika
sebelum menjadi sebuah disiplin keilmuan istilah ini me-refer pada kata
penafsiran dan pemahaman yang selanjutnya di sebut oleh Schleiermacher sebagai
“seni memahami” secara bahasa atau bahasa tertulis.
Beliau melanjutkan dengan mendefinisikan hermeneutik berdasarkan pemikiran dari Vedder yang beranggapan bahwa penjelasan atau interpretasi sebuah teks, karya seni atau prilaku seseorang yang di pandang oleh Jung tidak berbeda dengan istilah penafsiran dan pemahaman dengan segala bentuknya. Dari perspektif itulah bisa kita baca bahwa istilah ini me-refer pada aktivitas penafsiran terhadap obyek-obyek tertentu seperti teks, simbol-simbol seni, dan prilaku manusia itu sendiri.
Beliau menyebutkan sejarah perkembangan hermeneutika menjadi tiga bagain diantaranya: pertama, hermeneutika sebagai teks mitos, hermeneutika pada bagian ini menguak makna-makna terdalam dibalik kata-kata yang terdapat dalam teks kanonik pada masa Yunani kuno yang di kenal dengan Filsafat Antik;
Kedua adalah Hermeneutika teks kitab suci, bagian ini penafsiran mulai merambah pada teks-teks keagamaan seperti yang dilakukan oleh Philo dengan metode penafsiran allegoris, Origanes yang berjasa mengembangkan pemikiran hermeneutis Bible, hermeneutik teks keagamaan ini pun dirasa ada pada dunia Islam, dimana kala itu para sahabat menafsirkan dan menawili al-Qur’an seperti Ibnu Abbas dan Sayyidina Umar Ibnu Khottob yang mensirkan al-Qur’an surat at-Taubah ayat:60, mereka para sahabat menafsirkan al-Qur’an bukan pada ranah tekstual saja.
Selanjutnya, hermeneutika al-Qur’an juga pernah
dikembangkan oleh sufi. Pendekatan ulama sufi terhadap teks al-Qur’an
didasarkan pada pembedaan dua bentuk makna teks al-Qur’an yaitu: zhahir
dan bathin; yang terakhir adalah hermeneutika umum, terjadi perbedaan
hermeneutika antara klasik dan modern. Jika hermeneutika klasik hanya membahas
tentang interpretasi hanya pada teks-teks kanonik saja. Namun, hermeneutika
modern mencoba berbicara tentang interpretasi menganai segala hal yang bisa di
tafsirkan. Jadi ini mencakup ilmu-ilmu sosial yang selanjutnya disebut dengan
allgemeine.
Beliau juga menyebutkan pula perkembangan pemikiran hermeneutik islam dimasa kontemporer dengan beberapa ciri. Pertama, teori dan metode penafsiran masih didominasi oleh hermeneutik kitab suci dan sumber keislaman lainnya, objek utama penafsiran itu adalah al-Qur’an dan hadis. Disini banyak ilmuan-ilmuan muslim yang merefleksikan pemikiran dari sarjana barat fazlur Rahman misalnya.
Jika kita membaca buku-buku hermeneutik karya Wahrheit und methode kayara Gadamer, maka kita akan memberikan respon kritis dan sekaligus menerima sebagian dari pemikiran dari sarjana barat sehingga muncul metode double movement dalam menafsirkan ayat. Ini dirasa pengaruh keilmuan barat tentang hermeneutik juga ikut andil dalam pemikiran mufasirun kita, akan tetapi tidak terlepas dari kritik dan menyaring pemikiran barat tentang hermeneutiknya.
Kedua, dalam mengkaji hermeneutik untuk di refleksikan dengan teks al-Qu’an sarjana muslim tidak membahas tentang keotentikan al-Qur’an melainkan mengkaji interpretasi ayat terhadap keadaan lingkungan baik dari sahabat hingga saat ini yang terus bersinergi dengan era waktu, hal ini berbeda ketika dibarat meraka sangat jelas menggunakan hermeneutik untuk membahasa keotentikan teks bible.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat kita simpulkan pada bab awal buku yang digagas oleh Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin ini mengenalkan kita bagaimana relevansi metode hermenutika terhadap penafsiran teks Alquran. hal ini, untuk menambah kelengkapan kajian terhadap keilmuan Alquran. karena Alquran merupakan sumber dari semua sumber ilmu, akan relavan dibaca dengan pendekatan ilmu apapun. wallahualam.


Post a Comment
2 Comments
Mantul bang
ReplyDeleteasiapp...
Delete