“jasad dan jiwa yang saling mengikat adalah bentuk dari eksistensi manusia, dan setiap manusia adalah pemimpin untuk dirinya sendiri”

-Muhamad Jamaludin-

Hallo sahabat angkringan baca 17 yang masih setia dengan berbagaimacam tulisan diblog ini. kembali lagi beretorika dengan penulis -sang presiden Angkringan Baca 17 hehe-. ok tanpa basa-basi lagi, jadi kali ini penulis akan sedikit berdialek dengan sahabat baca dimanapun kalian berada tentang apa saja sih tipe-tipe kepemimpinan dalam organisasi?, lalu dimanakah posisi kita jika saat ini kita masih menjabat sebagai pemimpin salah satu organisasi. atau kita bisa menganalisah tipe pemimpin apa pemimpin kita saat ini. 

 Secara garis besar ada beberapa tipe kepemimpinan dalam organisasi. Di antara macamnya ada tipe kepemimpinan otokratis, militeris, paternalistis, kharismatik dan demokratis. Pertanyaannya adalah sebagai seorang pemimpin organisasi di manakah posisi kita berada? pada tipe kepemimpinan yang mana? atau pertanyaanya kita persempit lagi sebagai manusia yang merupakan pemimpin untuk dirinya sendiri, di posisi manakah kita? dan kemanakah kita akan membawadiri ini?

kepemimpinan otokratis

Pertama kepemimpinan otokratis adalah pemimpin yang menganggap bahwa organisasi adalah milik kita pribadi, mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. Kita juga menganggap bahwa bawahan kita adalah alat untuk mencapai tujuan kita semata. kita juga tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat orang lain karena kita menganggap bahwa diri kitalah yang paling benar. Selain itu kita juga sangat bergantung kepada kekuasaan formal dalam menggerakkan bawahan kita, dan kita selalu menggunakan pendeketan yang mengandung unsur ancaman dan paksaan. Ketika cara kita memimpin organisasi dengan cara seperti ini, maka kita termasuk pemimpin dengan tipe kepemimpinan otokratis.

Kepemimpinan militeristis

Kepemimpinan militeristis adalah kepemimpinan yang menganggap dirinya adalah seorang atasan yang patut dihargai. Catatan pentingnya adalah kepemimpinan tipe ini tidak sama dengan pemimpin pada militer ada umumnya. Kepemimpinan tipe ini sangat menggunakan pangkat dan jabatannya dalam menggerakkan bawahannya, kepemimpinan tipe ini cenderung sangat senang pada formalitas yang berlebihan. Ketika kita memiliki tipe kepemimpinan tipe ini kita akan menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan kita. Kita juga tidak akan mau menerima kritik dari bawahan kita.

Kepemimpinan paternalis

Kepemimpinan ini memiliki ciri kebapakan, artinya sifat-sifat umum dari tipe pemimpin ini selalu menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa. Jika kita memiliki tipe kepemimpinan ini kita cenderung akan bersikap terlalu melindungi bawahan, kita juga jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan dan jarang adanya pelimpahan wewengan. Kita juga jarang memberikan kesempatan kepada bawahan kita untuk mengembangkan inisiatif daya kreasi, dan kita sering menganggap bahwa diri kita yang lebih tahu dari bawahan kita. Kepemimpinan tipe ini biasanya kita akan sulit menemukan regenarasi organisasi sebagai estafet kepengurusan roda organisasi yang sedang kita jalani.

Kepemimpinan kharismatis.

Tipe kepemimpinan kharismatis memiliki daya tarik yang sangat besar, dan memiliki pengikut dengan jumlah sangat besar. Tipe kepemimpinan ini memiliki pengaruh yang sangat besar seolah-olah memiliki kekuatan Supernatural powers baik ditinjau dari segi kekayaan, umur, kesehatan, profil pendidikan, dan sebagainya.

Kepemimpinan demokratis

Tipe kepemimpinan yang seperti ini adalah tipe kepemimpinan yang terbaik. Kita yang memiliki tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan individu kita. Biasanya dalam berproses menggerakan bawahan, kita yang memiliki kepemimpinan tipe ini selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia di muka bumi ini. Kita juga selalu berusaha menyelaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi. Kita yang memiliki tipe kepemimpinan ini senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya. Kita juga selalu mentolerir bawahan yang berbuat kesalahan dan memberikan pendidikan kepada bawahan agar tidak berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreatifitas, insiatif, dan prakarsa dari bawahan.

Dari beberapa penjabaran tipe kepemimpinan di atas sedikit membuka celah untuk berpikir bagaimana esensi kita sesungguhnya. Kita merupakan pemimpin bagi diri kita sendiri. Di sisi lain kita juga merupakan personal-personal yang dipimpin oleh personal lainnya. kegiatan memimpin dan dipimpin dalam dunia ini sangat mafhum. Karena kita adalah manusia yang berpikir untuk bagaimana hidup kita mengarah pada hal yang lebih baik lagi.

Hidup yang kita jalani saat ini merupakan bentuk kesepakan antara jasad dan jiwa kita. Adanya ikatan yang kuat antara jasad dan jiwa kita merupakan salah satu bentuk eksistensi kita sebagai manusia seutuhnya. Dari sini kita merasa bahwa ikatan jasad dan jiwa kita ternyata membentuk satu eksistensi kita yang disebut manusia. Manusia dijadikan wakil Tuhan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini.

Manusia adalah pemimpin untuk menjaga keseimbangan lingkungan di muka bumi ini, kita diamanahkan untuk melestarikan bumi ini. Berangkat dari sini kita sudah sedikit memahami bahwa kita adalah pemimpin. Lalu pertanyaannya tipe kepemimpinan seperti apa kita ini? Apakah kita adalah seorang pemimpin yang militeristis untuk diri kita? Ataukah pemimpin yang demokatir untuk diri kita?.

Manusia memiliki kehendak. Manusia bebas berpikir dan bertindak. Dari sini kita agak sedikit lega untuk memimpin diri kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Adanya kesepakatan antara jasad dan jiwa kita dari organisasi yang bernama manusia -badan dan jiwa dalam diri kita-. Jiwa memimpin jasad kita, akal mengarah pada hal yang dianggapnya logis. Tetapi jiwa bernegosiasi dengan akal untuk merasakan sesuatu kekuatan yang tidak bisa direspon oleh akal.

Manusia memang memimpin untuk dirinya sendiri. Entah tipe kepemimpinan apa yang dipakai, semua memiliki perbedaan karakter yang disebut persepsi masing-masing. Hanya saja dalam kehidupan manusia selalu berinteraksi dengan manusia lalin. Dan di sana akan terjadi gesekan antara tipe kepemimpinan satu dengan yang lain secara personal. Ketika hal itu bergesekan, akan ada satu mediasi antara gesekan itu. Hal ini menjalin sebuah kesepakatan. Hasil kesepakatan ini direspon dengan mengangkat satu personal yang paling berpengaruh terhadap personal lainnya. kondisi ini bisa disebut organisasi antar personal.

Oraganisasi antar personal akan tercipta melalui dialektika antara beberapa personal yang bermuara pada kesepakatan bersama. Dari sini teori-teori tentang kepemimpinan yang dipikirkan banyak tokoh bisa kita serap. Berangkat dari sini kita sebagai manusia yang memiliki wisata paradigma yang luas bisa menjelajahi eksistensi personal lainnya. ketika hal ini terbentuk, maka antara personal satu dengan yang lainnya akan menjalin negosiasi. Hasil yang dicapai adalah bermunculan sebuah kesepakatan terhadap visi yang dibangun. semoga bermanfaat.

Referensi Tulisan:

Tati Nurhayati, Hubungan Kepemimpinan Transformasional dan Motivasi Kerja,  Jurnal Edueksos Vol No 2, Juli-Desember 2012