Hallo sahabat angkringan baca 17 yang masih setia dengan berbagaimacam tulisan di blog ini. kembali lagi beretorika dengan penulis -sang presiden Angkringan Baca 17 hehe-. ok tanpa basa-basi lagi, jadi kali ini penulis akan sedikit berdialektika dengan sahabat baca dimanapun kalian berada, tentang apa dan bagaimana esensi sebagai seorang pemimpin itu? yuk lah kita langsung kepembahasannya.

 Ada sebuah pepetah mengatakan bahwa “singa memang raja hutan, tetapi ingatlah srigala tak pernah bermain sirkus”, ternyata di dalam berorganisasi, baik secara formal maupun non-formal, tentu kita akan menemukan sosok pemimpin di dalamnya. Meski Pemimpin itu diakui secara formalitas maupun diakui secara konteks (simbolis). Di antaranya dikemukakan oleh Janda sebagai berikut:

    “leadership is a particular type of power relationship characterized by a group member’s perception that another group member has the right to prescribe behaviour patterns for the former regarding his activity as a group members” (kepemimpinan adalah jenis khusus hubungan kekuasaan yang ditentukan oleh anggapan para anggota kelompok bahwa seorang dari anggota kelompok itu memiliki kekuasaan untuk menentukan pola prilaku terkait dengan aktivitasnya sebagai anggota keompok

    Kutipan di atas sedikit membuka celah pemahaman kita mengenal esensi pemimpin. Berangkat dari sini, kiranya telah membuka pikiran kita bahwa yang disebut pemimpin adalah seorang dari anggota kelompok yang memiliki kekuasaan untuk menentukan pola prilaku terkait dengan aktivitas kelompok itu sendiri. Pemimpin adalah ujung tombak pergerakan suatu kelompoknya. Ia berpengaruh terhadap semua tindakan dari anggota-anggota kelompoknya.

    Kepemimpinan bisa juga diartikan sebagai prilaku, sebagaimana yang dikemukakan oleh Sweeney dan McFarlin, “leadership involves a set of interpersonal influence processes. The processes are aimed at motivating sub-ordinates, creating a version for the future, and developing strategies for achieving goals”, artinya kepemimpinan melibatkan seperangkat proses pengaruh antar orang. Proses tersebut bertujuan memotivasi bawahan, menciptakan visi masa depan, dan mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan.

    Statament di atas membuka kembali celah berpikir kita yang sebelumnya berbicara tentang personal dan kemudian dibalut dengan sebuah proses. Penulis beranggapan disini bahwa kepemimpinan ini berangkat dari bakat yang bersumber dari personal dari dalam diri, yang kemudian dilanjutkan pada cara prilaku bentuk pengungkapan dari bakat itu sendiri melalui interaksinya. Kepemimpinan melibatkan seperangkat proses pengaruh antar orang yang disebutkan di atas adalah salah satu bentuk tindakan dari bakat yang dimiliki seseorang untuk memimpin sebuah perkumpulan.

    Pemimpin yang baik memang hadir dari bakat yang dimiliki oleh sesorang, tetapi terkadang terbentuk pula melalui proses. Dua teori di atas merupakan dalil ringan tentang esensi sebagai pemimpin. Setiap orang merupakan pemimpin untuk dirinya sendiri. Tuhan telah menitipkan kehendaknya kepada manusia sebagai seorang pemimpin untuk berjalan dan mengelola sebagian ciptaanya di muka bumi ini.

    Mari kita sedikit merenung saat dimana kita masih kecil, pernah diberikan sebuah cerita oleh guru kita di sekolah dasar dulu. Cerita tentang si raja hutan yang sangat berpengaruh terhadap ekosistem hutan rimba, sebutlah singa. Singa adalah raja hutan yang sangat berperan menjaga rantai makanan di hutan tersebut. Bayangkan jika tidak ada singa -si raja hutan- maka kondisi hutan tidak akan mengalami keseimbangannya.

    Singa memang raja hutan, tetapi srigala tidak pernah bermain sirkus. Artinya singa memang memiki pengaruh karena esensinya sebagai hewan ketika ia berada di dalam hutan rimba, berbeda ketika ia menjadi seekor hewan peliharaan manusia. Ia akan mudah diatur dan dikendalikan dalam pertunjukan sirkus. Hal ini berarti the power fo leadership singa masih bisa dikalahkan dengan kekuatan manusia. Singkatnya kepemimpinan personal akan ditangguhkan pula dengan kepemimpinan personal lainnya, ketika kepemimpinan itu ada yang lebih mencolok.

    Srigala tidak pernah menjadi hewan sirkus. Dan mari kita sedikit berpikir pada statament ini. Srigala yang secara heirarki kalah tatanan kepemimpinannya dengan seekor singa tidak pernah menjadi seekor hewan yang bermain sirkus. Dari sini ternyata sebuah fakta berbicara bahwa jiwa kepemimpinan itu memiliki identitas. Penulis menambahkan bahwa kepemimpinan itu adalah identitas selain dari sebuah prilaku.

    Identitas adalah sesuatu yang melekat pada diri sendiri. Di atas penulis sedikit menoleh bahwa setiap manusia merupakan pemimpin untuk dirinya sendiri. Srigala menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Penulis menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Pembaca pun demikian adanya. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita bisa menjadi srigala yang tidak pernah bermain sirkus? Dengan demikian kita perlu banyak merenung untuk menjawab pesoalan ini.

    Kita bertanggung jawab penuh atas tindakan yang kita lakukan. Setiap secuil perbuatan yang kita kerjakan adalah reaksi dari apa yang sistem saraf pusat kita perintahkan. Di sini penulis ingin berbica, bahwa ada hal yang lebih penting dari sebuah eksistensi kita sebagai pemimpin, yaitu sebuah proses kepemimpinan. Kita perlu memadukan antara kita sebagai pemimpin, dengan kita sebagai objek yang dipimpin. Kalau singa kita ibaratkan diri kita adalah objek yang dipimpin, sejatinya kita tetap objek pemimpin untuk diri kita. Tetapi ada kalanya kita juga harus menjadi srigala yang tidak pernah bermain sirkus.

    Analogi di atas sangat tepat dibenturkan dengan tindakan memimpin dan dipimpin. Kita adalah pemimpin untuk diri kita sendri yang berarti kita adalah pemimpin yang tugasnya adalah memimpin. Tetapi, naik ke atas ternyata kita bukan hanya pemimpin untuk diri sendiri. Kita juga berperan menjadi objek yang dipimpin oleh persona lain karena kepemimpinannya lebih mencolok. Hal ini karena kita berinteraksi dengan pemimpin-pemimpin lainnya. Sederhananya, kita adalah persona untuk diri kita yang merupakan pemimpin untuk diri kita, tetapi kita pula adalah anggota yang dipimpin oleh persona yang memiliki pengaruh lebih besar dari diri kita, sebut saja pemimpin daerah atau pemimpin negara yang menaungi kita.

    Sahabatku, dari statament ini penulis ingin menyampaikan bahwa kita adalah seorang pemimpin yang sangat bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri. Selain itu kita pun anggota organisasi kehidupan yang diintruksikan untuk mengikuti perintah dan mengikuti kebijakan dari pemimpin yang mengayomi kita. Dari sini kita buka celah berpikir kita untuk selalu bersikap profesional terhadap apa yang kita hadapi.

Referensi Tulisan:

 Udik Budi Wibowo, Teori Kepemimpinan, (BKD Kota Yogyakarta, 14 Juni 2011)