google.com, pub-1258190076894736, DIRECT, f08c47fec0942fa0



“ada hal yang menarik dalam hidup ini, adalah sebuah perbedaan. Dua sisi antara formal dan non-formal, manakah yang paling mengikat kita?”

-Muhamad Jamaludin-

Drs. Ig. Wursanto dalam bukunya berjudul Dasar-Dasar google.com, pub-1258190076894736, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Ilmu Organisasi sebenarnya menyebutkan banyak bentuk dan tipe organisasi. Hal ini dapat ditinjau dari beberapa kategori. Ia menyebutkan secara detil bentuk organisasi berdasarkan jumlah pucuk pimpinan yaitu organisasi tunggal atau organisasi jamak. Ia juga menyebutkan organisasi berdasarkan dari segi tujuan yaitu organisasi niaga atau organisasi ekonomi, sosial atau organisasi kemasyarakatan. Ia juga menyebutkan tentang organisasi berdasarkan keresmiannya yaitu organisasi formal atau informal, dan masih banyak lagi yang lainya.

Ketika membaca buku Dasar-Dasar Ilmu Organisasi ada banyak pengalaman yang menarik. Di situ dijelaskan banyak variabel organisasi, tetapi penulis simpulkan dari banyak variabel organisasi yang disebut akan mengkrucut pada satu garis besar yaitu organisasi formal dan informal. Meminjam bahasanya Herbert G. Hicks yang penulis kutip dari bukunya Dr. Ig. Wursanto yaitu Dasar-Dasar Ilmu Organasasi sebagai berikut:

“A formal organization has well-defined structure that may describe its authority, power, accountabilitym and responsibility relationship. The structure can also define that channel specified jobs every member. The hierarchy of object of formal organizations is explicity stated. Status, prestige, pay, rank, and ather perguimitites are well ordered, nad controlled. Formal organization are durable and planned; becaise of their emphasis on orther, they are relatively inflexible. Membership in formal organization is gained consciusly time, and usually openly”

pertanyataan di atas menggambarkan bahwa organisasi formal memiliki struktural yang baik, kekuatan, hubunga-hubungan yang baik. Struktural ini dapat menghubungkan saluran-saluran dalam berkomunikasi. Organisasi formal juga mempuanya spesifikasi yang jelas bagi anggtanya. Selain itu hirarki dari tujuan organisasi formal juga dinyatakan dengan tegas. Dalam organiasi formal segala sesuatu tentang pangkat, status diatur dengan baik. Terkahir dalam organisasi formal perekrutan anggota dilakukan dengan sadar dan  umumnya terbuka.

Ada banyak contoh organisasi formal seperti Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) organisasi di tingkat kampus, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)  organisasi di tingkat sekolah, Nahdlotul Ulama atau Muhammadiyah oraganisasi masyarakat di tingkat Nasional, dan masih banyak yang lainnya. selama perkumpulan sekelompok orang ini memiliki peraturan yang mengikat seperti anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organasasi, serta kepemimpinan diangkat berdasarkan mekanisme pemilihannya maka organisasi tersebut adalah organisasi formal.

Sebaliknya jika organisasi informal yang disusun secara bebas, spontan, dan keanggotaannya direkrut secara tidak sadar. Herbert G. Hicks memberikan beberapa contoh organisasi informal seperti perkumpulan bridge (bridge club),pesta makan malam (a dinner party), orang-orang yang menolong kerusakan mobil mogok di jalan (passers by who rescu the injured at a car wreck). Penulis sepakat dari apa yang dipaparkan Herbert G. Hicks yang dikutip dalam bukunya Dr. Ig. Wursanto yaitu Dasar-Dasar Ilmu Organasasi tentang beberapa contoh organisasi informal. Hanya saja pengertian ini masih terlalu umum dipahami.

Hemat penulis dari pemaparan di atas tentang organisasi informal ini berbicara tentang seperti beberapa geng atau komunitas yang ada di sekitar kita inilah organisasi informal dengan makna khusus. Berangkat dari pemaran di atas bahwa organisasi formal memiliki beberapa kategori dan karakter khusus. Hemat penulis organisasi informal ini memiliki keluasan untuk tidak terikat pada sebuah aturan sebagaimana yang tergamblang pada organisasi informal.

Pada bagian ini, penulis perlu menyebutkan secara umum variasi organisasi di sekitar kita. Variasi organisasi ini penulis paparkan secara general. Hal ini bertujuan agar lebih terfokus pada hakikat organisasi yang memiliki diskursus makna. Dengan demikian, peranan kita selama ini dalam lingkup interaksi sosial akan lebih terarah terhadap pembacaan kita mengenai organisasi. Hal ini bertujuan agar maindset kita terhadap organisasi itu tidak penting akan terkikis dengan kesadaran keberadaan diri kita ternyata dalam lingkup organisasi yang selama ini tidak kita sadari.

Referensi Tulisan:

 Ig. Wursanto, Dasar-Dasar Ilmu Organisasi, (Yogyakarta: Penerbit Andi Yogykarta, 2005)

google.com, pub-1258190076894736, DIRECT, f08c47fec0942fa0