“Substansi itu penting, tetapi terkadang kita terjebak dalam cara pikir kita yang kerdil” -Muhamad Jamaludin- 

Teori organisasi menjelaskan bahwa organisasi adalah suatu unit sosial yang dikoordinasikan secara sengaja, yang terdiri dari dua orang atau lebih guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Alifiulahtin Utaminingsih, Perilaku Organisasi Kajian Teoritik dan Empirik Terhadap Budaya Organisasi, Gaya kepemimpinan, Kepercayaan dan Komitmen : 2014). Dari pengertian ini dirasa sedikit terbuka dalam pemahaman kita terhadap organisasi. Di kehidupan yang kita jalani saat ini misalnya, kita tidak akan terlepas dari peranan organanisasi, “baik secara sadar maupun secara tidak sadar”. Karena selagi kita berinteraksi dengan manusia lainnya, maka kita tidak akan bisa terlepas dari peranan organisasi ini.

Pada pernyataan di atas, mari coba kita akan buktikan bersama bagaimana peranan organisasi ini sangat besar dalam kehidupan. Dari hal yang paling sederhana ketika kita baru bangun tidur, hal yang pertama yang akan kita lihat adalah jam. Pertanyaan kemudian adalah untuk apa kita menanyakan jam? Ya, kebanyakan dari kita punya harapan untuk bangun pada jam-jam yang telah diinginkan. Hal ini karena untuk melakukan aktivitas agar tepat waktu, berangkat kerja, kuliah, ngaji, misalnya dan lain sebgainya. Dari kasus ini, tanpa kita sadari sebenarnya kita sudah terlibat dalam organisasi.

Dari analogi di atas, poin sederhananya adalah ketika kita ingin berangkat menjalankan aktivitas itu harus tepat waktu. hal ini mengikat adanya  interaksi kita terhadap orang lain. Kita bisa dijustifikasikan sebagai seorang yang disiplin, patuh terhadap peraturan, dan sebagainya. Hal inilah membuktikan bahwa ada sebuah tindakan koordinasi secara sengaja untuk mencapai tujuan bersama.



Analogi selanjutnya untuk memperkuat statement di atas bahwa kita tidak bisa terlepas dari peranan organisasi dalam kehidupan kita adalah dari hal yang paling sederhana lagi, yaitu pada kegiatan selanjutnya -ketika kita baru bangun tidur- karena kebanyakan aktivitas  kita yaitu menuju kamar mandi, hanya untuk sekedar mandi agar terlihat bersih dan rapi. Hal ini kadang sering disepelekan, padahal ada sisi yang menarik, yaitu terkadang tidak kita sadari bahwa penggunaan alat-alat mandi kita seperti seperangkat sabun dan kawan-kawannya diproduksi oleh sistem yang diorganisir.

Produksi sabun mandi wa akhwatuha ini merupakan hasil dari peranan banyak instansi, mulai dari produsen-distributor hingga sampa pada kita sebagai konsumen. Dari sini sangat jelas dan gamblang bahwa adanya sabun mandi dan kawan-kawannya hingga sampai ketangan kita -sebagai konsumen- tidak terlepas dari peranan organisasi secara massive. Dari dua analogi di atas penulis berharap bisa merubah sedikit mindset kita untuk bersikap antipati terhadap organisasi seperti yang dianut oleh para apatis organisatoris (baca: orang yang acuh pada organisasi). Padahal di manapun kita berada, tidak akan terlepas oleh peranan organisasi.

Penulis sepakat pada pernyataan Argyris yang menerangkan eksistensi organisasi melalui pernyataan: “... Oraganisasi-organisasi biasanya dibentuk orang guna mencapai sasaran-sasaran yang dapat dicapai terbaik secara kolektif (Arygris, 1964: 35)”. Kita sebagai manusia yang selalu berinteraksi dengan manusia lainnya, untuk mencapai tujuan tertentu akan selalu berkutat dengan orang disekelilling kita agar apa yang kita inginkan tercapai dengan mudah. Di sini seharusnya mindset kita sudah terbuka bahwa eksistensi sebuah organisasi sudah kita rasakan bersama.

Eksistensi organanisasi tanpa perlu bergulat dengan banyak teori-teori para tokoh seperti yang dikatakan oleh Gareth R. Jones bahwa organisasi sebagai alat yang digunakan orang untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalam upaya mencapai tujuan atau memberikan nilai tambah (Lihat: Agus Joko Purwanto, Pentingnya Mempelajari Teori Organisasi,  ADPU4341/Modul1). Padahal dalam kehidupan sehari-hari kalau kita mau merenung sebentar saja pada satu aktivitas yang kita lakukan, itu bisa kita temukan eksistensi dari organisasi tersebut. Dari kegiatan makan misalnya. Era globalisasi saat ini kita dimanjakan dengan satu teknologi yang selalu menyelimut ‘grab food’ misalnya. Mari kita renungi sejenak perkara ini.

Sahabatku, grab food ini merupakan satu substansi dari aplikasi grab yang dewasa ini sangat di gunakan banyak orang. Sebenarnya bukan Cuma grab, ada go-jek, uber, dan lainnya. penulis mengambil satu sample saja perkara ini, grab. Kita semua pasti pernah memesan makanan dari aplikasi grab food ini, right. Mari kita jabarkan betapa besarnya peranan organisasi dapat kita rasakan di sini.

Perusahaan pengelola grab tentu bekerja sama dengan beberapa pelapak makanan sehingga kita sebagai konsumen dapat memilih berbagaimacam menu makanan yang tersaji. Dari sini untuk pengertian yang mendasar kita sudah terbayang ketika konsumen pengklik satu item makanan yang disukainya dan melakukan transanksi hingga makan itu sampai di tangannya. Dari sini sudah dipastikan bahwa eksistensi organisasi sudah dirasakan oleh kita semua, yaitu kesepakatan dari pihak grab dan pelapak makanan ini tentu sudah mewanti-wanti sebelum program ini launching dan diakses oleh masyarakat era globalisasi ini. Tujuan dari dua substansi ini sudah terlaksana, yaitu datangnya makanan di hadapan konsumen yang memesan via aplikasi tersebut. Hal ini merupakan satu contoh eksistensi organisasi yang sudah kita rasakan tanpa kita sadari selama ini

Sahabatku, dari statement ini akhirnya penulis ingin menyampaikan bahwa seapatisnya kita terhadap organisasi baik secara frontal atau back streat mendeklarasikan diri kita untuk tidak berorganisasi, hierarkinya kita sudah bergelut dengan organisasi. Pada pernyataan pertama dalam tulisan ini mari kita buka ruang terhadap mindset kita secara bijaksana untuk menambah satu ruang pandangan terhadap kehidupan kita, bahwa organisasi itu adalah hal yang penting, baik di sekolah, kampus, kantor, kampung, ataupun negara, karena kita tidak akan lepas dari peranan organisasi. Lalu bagaimana cara kita ikut andil dalam memerenkan pentas organisasi ini baik (maslahat) secara diri sendiri atau untuk masyarakat umum insya Allah akan dituangkan pada statement selanjutnya.

Referensi Tulisan:

1. Alifiulahtin Utaminingsih, Perilaku Organisasi Kajian Teoritik dan Empirik Terhadap Budaya Organisasi, Gaya kepemimpinan, Kepercayaan dan Komitmen (Malang: Penerbit Elektronik Pratama dan Terbesar di Indonesia, 2014), hlm.1

2.  Winardi, Teori Organisasi dan Keorganisasian, (Jakarta: Pt Raja Grafindi Persada, 2003), hlm. 2

Agus Joko Purwanto, Pentingnya Mempelajari Teori Organisasi,  ADPU4341/Modul1, hlm. 1.6