artikel
Kenapa Penting Berorganisasi? Berikut Alasannya
Teori organisasi menjelaskan bahwa organisasi adalah suatu unit sosial yang dikoordinasikan secara sengaja, yang terdiri dari dua orang atau lebih guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Alifiulahtin
Utaminingsih, Perilaku Organisasi Kajian Teoritik dan Empirik Terhadap
Budaya Organisasi, Gaya kepemimpinan, Kepercayaan dan Komitmen : 2014). Dari pengertian ini dirasa sedikit terbuka
dalam pemahaman kita terhadap organisasi. Di kehidupan yang kita jalani saat
ini misalnya, kita tidak akan terlepas dari peranan organanisasi, “baik secara
sadar maupun secara tidak sadar”. Karena selagi kita berinteraksi dengan manusia
lainnya, maka kita tidak akan bisa terlepas dari peranan organisasi ini.
Pada pernyataan di atas, mari coba kita akan buktikan
bersama bagaimana peranan organisasi ini sangat besar dalam kehidupan. Dari hal
yang paling sederhana ketika kita baru bangun tidur, hal yang pertama yang akan
kita lihat adalah jam. Pertanyaan kemudian adalah untuk apa kita menanyakan
jam? Ya, kebanyakan dari kita punya harapan untuk bangun pada jam-jam yang
telah diinginkan. Hal ini karena untuk melakukan aktivitas agar tepat waktu,
berangkat kerja, kuliah, ngaji, misalnya dan lain sebgainya. Dari kasus ini,
tanpa kita sadari sebenarnya kita sudah terlibat dalam organisasi.
Dari analogi di atas, poin sederhananya adalah
ketika kita ingin berangkat menjalankan aktivitas itu harus tepat waktu. hal ini
mengikat adanya interaksi kita terhadap
orang lain. Kita bisa dijustifikasikan sebagai seorang yang disiplin, patuh
terhadap peraturan, dan sebagainya. Hal inilah membuktikan bahwa ada sebuah
tindakan koordinasi secara sengaja untuk mencapai tujuan bersama.
Analogi
selanjutnya untuk memperkuat statement di atas bahwa kita tidak bisa
terlepas dari peranan organisasi dalam kehidupan kita adalah dari hal yang
paling sederhana lagi, yaitu pada kegiatan selanjutnya -ketika kita baru bangun
tidur- karena kebanyakan aktivitas kita
yaitu menuju kamar mandi, hanya untuk sekedar mandi agar terlihat bersih dan rapi. Hal ini kadang
sering disepelekan, padahal ada sisi yang menarik, yaitu terkadang tidak kita
sadari bahwa penggunaan alat-alat mandi kita seperti seperangkat sabun dan
kawan-kawannya diproduksi oleh sistem yang diorganisir.
Produksi sabun mandi wa akhwatuha ini
merupakan hasil dari peranan banyak instansi, mulai dari produsen-distributor
hingga sampa pada kita sebagai konsumen. Dari sini sangat jelas dan gamblang
bahwa adanya sabun mandi dan kawan-kawannya hingga sampai ketangan kita -sebagai
konsumen- tidak terlepas dari peranan organisasi secara massive. Dari
dua analogi di atas penulis berharap bisa merubah sedikit mindset kita
untuk bersikap antipati terhadap organisasi seperti yang dianut oleh para
apatis organisatoris (baca: orang yang acuh pada organisasi). Padahal di
manapun kita berada, tidak akan terlepas oleh peranan organisasi.
Penulis sepakat pada pernyataan Argyris yang
menerangkan eksistensi organisasi melalui pernyataan: “...
Oraganisasi-organisasi biasanya dibentuk orang guna mencapai sasaran-sasaran
yang dapat dicapai terbaik secara kolektif (Arygris, 1964: 35)”. Kita
sebagai manusia yang selalu berinteraksi dengan manusia lainnya, untuk mencapai
tujuan tertentu akan selalu berkutat dengan orang disekelilling kita agar apa
yang kita inginkan tercapai dengan mudah. Di sini seharusnya mindset kita
sudah terbuka bahwa eksistensi sebuah organisasi sudah kita rasakan bersama.
Eksistensi organanisasi tanpa perlu bergulat
dengan banyak teori-teori para tokoh seperti yang dikatakan oleh Gareth R. Jones
bahwa organisasi sebagai alat yang digunakan orang untuk mengkoordinasikan
pekerjaan dalam upaya mencapai tujuan atau memberikan nilai tambah (Lihat: Agus Joko Purwanto, Pentingnya Mempelajari Teori Organisasi, ADPU4341/Modul1). Padahal
dalam kehidupan sehari-hari kalau kita mau merenung sebentar saja pada satu
aktivitas yang kita lakukan, itu bisa kita temukan eksistensi dari organisasi
tersebut. Dari kegiatan makan misalnya. Era globalisasi saat ini kita
dimanjakan dengan satu teknologi yang selalu menyelimut ‘grab food’
misalnya. Mari kita renungi sejenak perkara ini.
Sahabatku, grab food ini merupakan satu
substansi dari aplikasi grab yang dewasa ini sangat di gunakan banyak
orang. Sebenarnya bukan Cuma grab, ada go-jek, uber, dan lainnya.
penulis mengambil satu sample saja perkara ini, grab. Kita semua
pasti pernah memesan makanan dari aplikasi grab food ini, right. Mari
kita jabarkan betapa besarnya peranan organisasi dapat kita rasakan di sini.
Perusahaan pengelola grab tentu bekerja
sama dengan beberapa pelapak makanan sehingga kita sebagai konsumen dapat
memilih berbagaimacam menu makanan yang tersaji. Dari sini untuk pengertian
yang mendasar kita sudah terbayang ketika konsumen pengklik satu item makanan
yang disukainya dan melakukan transanksi hingga makan itu sampai di tangannya. Dari
sini sudah dipastikan bahwa eksistensi organisasi sudah dirasakan oleh kita
semua, yaitu kesepakatan dari pihak grab dan pelapak makanan ini tentu
sudah mewanti-wanti sebelum program ini launching dan diakses oleh
masyarakat era globalisasi ini. Tujuan dari dua substansi ini sudah terlaksana,
yaitu datangnya makanan di hadapan konsumen yang memesan via aplikasi tersebut.
Hal ini merupakan satu contoh eksistensi organisasi yang sudah kita rasakan
tanpa kita sadari selama ini
Sahabatku, dari statement ini akhirnya
penulis ingin menyampaikan bahwa seapatisnya kita terhadap organisasi baik
secara frontal atau back streat mendeklarasikan diri kita untuk tidak
berorganisasi, hierarkinya kita sudah bergelut dengan organisasi. Pada
pernyataan pertama dalam tulisan ini mari kita buka ruang terhadap mindset kita
secara bijaksana untuk menambah satu ruang pandangan terhadap kehidupan kita,
bahwa organisasi itu adalah hal yang penting, baik di sekolah, kampus, kantor,
kampung, ataupun negara, karena kita tidak akan lepas dari peranan organisasi.
Lalu bagaimana cara kita ikut andil dalam memerenkan pentas organisasi ini baik
(maslahat) secara diri sendiri atau untuk masyarakat umum insya Allah
akan dituangkan pada statement selanjutnya.
Referensi Tulisan:
1. Alifiulahtin
Utaminingsih, Perilaku Organisasi Kajian Teoritik dan Empirik Terhadap
Budaya Organisasi, Gaya kepemimpinan, Kepercayaan dan Komitmen (Malang:
Penerbit Elektronik Pratama dan Terbesar di Indonesia, 2014), hlm.1
2. Winardi, Teori Organisasi dan Keorganisasian, (Jakarta: Pt Raja Grafindi
Persada, 2003), hlm. 2
Agus Joko
Purwanto, Pentingnya Mempelajari Teori Organisasi, ADPU4341/Modul1, hlm. 1.6

Post a Comment
0 Comments