Ternyata perlu menggunakan alam bawah sadar dalam beroganisasi. Berikut penjelasannya!
“Tidak ada kekuatan lain yang aktif di dalam organisme yang hidup selain kekuatan fisikal-kimiawi”
-Sigmund Freud (1856-1939)-
Hallo sahabat angkringan baca 17 yang masih setia dengan berbagaimacam tulisan di blog ini. kembali lagi beretorika dengan penulis -sang presiden Angkringan Baca 17 hehe-. ok tanpa basa-basi lagi, jadi kali ini penulis akan sedikit berdialektika dengan sahabat baca dimanapun kalian berada, pentingkah menggunakan alam bawah sadar untuk sukses berorganisasi ? yuk lah kita langsung kepembahasannya.
Teori alam bawah sadar
Alam sadar adalah apa yang kita sadari pada saat-saat tertentu, pengindraan langsung, ingatan, pemikiran, fantasi, perasaan yang kita miliki. Terkait erat dengan alam sadar ini dinamakan Freud dengan alam pra-sadar, yaitu apa yang kita sebut saat ini dengan “kenangan yang sudah tersedia (available memory), yaitu segala sesuatu yang mudah dapat dipanggil ke alam sadar, kenangan-kenangan yang walaupun tidak kita ingat waktu berpikir, tapi dapat dengan mudah dipanggil lagi”.
Secara teori yang dipaparkan oleh Sigmund Freud (1856-1939) tentang sebuah alam bawah sadar dapat membuka pemikiran kita bahwa sejatinya kita sebagai manusia yang idealis seperti yang tertuang dalam buku Appearance And Reality (1893) yang ditulis oleh Francis Herbert Brandley (1846-1924) bahwa terdapat hubungan antara pemikiran dengan realitas. Pemikiran adalah sebuah kondisi dimana sel-sel otak merespon rangsangan yang diterimanya yang kemudian diasumsikan dengan penjabaran prinsip, sedangkan realitas adalah sebuah asumsi dalam bentuk kenyataan.
Jika berbicara tentang alam bawah sadar ini kita akan menemukan satu kondisi dimana setiap manusia memilikinya, yaitu insting. Freud juga berpendapat bahwa alam bawah sadar adalah sumber dari motivasi dan dorongan yang ada dalam diri kita. Insting dan motivasi adalah dua buah pernyataan yang merupakan sebuah kerangka berpikir kita, bahwa dalam berorganisasi ternyata kita perlu meningkatkannya.
Sebagai manusia, tentu kita disebut makluk yang idealisme. Namun, pada kenyataannya idealisme tidak semestinya menduduki urutan teratas ketika kata ini disandingkan dengan manusia. Karena kita adalah manusia, penulis ingin membuat kesepakatan kepada pembaca tentang asumsi ini. Baik, manusia memang makhluk yang berpikir dan merespon ransangan yang diterima secara pendekatan biologi. Namun, disamping itu manusia memiliki emosional yang secara idealisme tidak bisa merealisasikannya. Berangkat dari sini, penulis sering berdiskusi dengan sahabat-sahabat penulis tentang berorganisasi harus menggunakan insting.
Idealisme akan berbicara tentang realita. Realitanya semua hal apapun yang berada di dunia ini pasti terikat dengan norma, karena norma membentuk prilaku manusia yang kemudian bermuara pada paradigma. Namun, hirarkinya terkadang norma juga tidak menjadikan manusia yang idealis. Mengapa demikian? Mari kita berdiskusi tentang hal ini, dan akan sangat menarik jika kita sedikit merenungi hal ini.
Manusia normatif akan membuang sampah pada tempatnya. Semua sepakat itu merupakan sebuah tindakan normatif. Tetapi pada kenyataannya banyak dari kita yang membuang sampah bukan pada tempatnya. Sering kita melihat sampah berserakan di sekeliling kita. Namun, kita tidak pernah merespon tindakan ini dengan memungutnya dan mengantarkannya ke tempat sampah terdekat kita.
Berbicara tentang idealisme mengenai kasus di atas. Kita sebagai manusia yang idealis tentu terkadang kita berpikir bahwa meski sampah itu berserakan kita akan berpikir “nanti juga ada petugas kebersihan yang membersihkannya”. Ini merupakan tindakan yang sangat idealis. Namun, secara emosional ini belum bisa diterima dengan tanpa berdiskusi. Tapi bagaimana jika alam bawah sadar kita memanggil tanpa harus berdiskusi dengan akal yang dikuasai oleh idealisme kita, tentu kita akan memungut sampah itu lalu berjalan mengantarkan ke tempat sampah terdekat.
Realisasi teori alam bawah sadar dengan aktivitas di organisasi
Dalam berorganisasi sangat diperlukan untuk melakukan tindakan yang demikian. Kita butuh motivasi dan insting kita sebagai bagian dari alam bawah sadar sebagaimana yang dipaparkan oleh Freud di atas tadi. Idealisme pun penting dalam menjalankan roda organisasi. Namun, alam bawah sadar jauh lebih penting dalam memutar roda organisasi yang kita jalani.
Alam bawah sadar ini harusnya kita realisasikan dalam kehidupan berorganisasi kita. Hal ini dikarenakan jika seandainya pelaku organisasi lain -sebutlah rekan organisasi- kita tidak bisa melaksanakan peranannya dalam menjalankan organisasi yang sama-sama sedang dijalani. Maka insting dan motivasi ini akan cepat merespon menopang dan menutup lubang regulasi yang sedang tidak stabil ini. Dengan demikian, organisasi yang sedang kita jalani ini akan berjalan tanpa hambatan.
Sahabatku, dari sini penulis ingin menyampaikan bahwa idealisme memang penting, karena dengan idealisme kita akan mendapatkan identitas kita sebagai manusia yang berpikir. Namun, disamping itu kita juga sebagai makhluk yang memiliki insting dan motivasi untuk menopang idealisme kita ketika idealisme sedang tidak bisa merealisasikan rangsangan yang kita terima. Jadi berorganisasilah dengan menggunakan akal juga dengan alam bawa sadar –hati dan rasa-, agar amanah yang kita emban sebagai pelaku praktis dalam berorganisasi dapat terealisasi dengan baik. Wallahualam, semoga bermanfaat.
Referensi Tulisan
George Boeree, Personality Theories, (Yogyakarta: Prismasophie, 2016), hlm. 32
K. Bertens, Sejarah Filsafat Kontemporer Jerman dan Inggris, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2013), hlm. 25


Post a Comment
0 Comments