Menelisik sekilas makna toleransi
Hallo sahabat angkringan baca 17 yang masih setia dengan berbagaimacam tulisan di blog ini. kembali lagi beretorika dengan penulis -sang presiden Angkringan Baca 17 hehe-. ok tanpa basa-basi lagi, jadi kali ini penulis akan sedikit berdialektika dengan sahabat baca dimanapun kalian berada, mari kita telisik sedikit makna toleransi ? yuk lah kita langsung kepembahasannya.
Istilah toleransi berasal dari
bahasa Inggris tolerance atau tolerantia dalam bahasa latin.
Sedangkan dalam bahasa Arab, istilah ini merujuk pada kata tasamuh atau tasahul
yaitu: to tolerate, to overlook, excuse, to be indulgent, forbearing,
lenient, tolerant. Perkataan tasamuh; bermakna hilm dan tasahul
diartikan sebagai indulgence, tolerance, tolaration, forbearnace, mercy dan
kindnsess.[1]
Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia kata “kerukunan” diartikan sebagai
“hidup bersama dalam masyarakat melalui “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk
tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran.[2]
Dalam prilaku beragama, toleransi
ini merupakan satu persyaratan yang utama bagi setiap individu yang
menginginkan satu bentuk kehidupan bersama yang aman dan saling menghormati.
Dengan begitu, hal ini diharapkan akan terwujud pula interaksi dan kesepahaman
yang baik di kalangan masyarakat beragama tentang batasan hak dan kewajiban
mereka dalam kehidupan sosial yang terdiri dari berbagai macam perbedaan baik
suku, ras, hingga agama, dan keyakikan.[3]
Agama Islam dapat diaplikasikan
dalam masyarakat manapun, karena Islam secara esensial merupakan nilai yang
bersifat universal. Kendati demikian dapat dipahami bahwa Islam yang hakiki
dirujuk pada konsep Alquran dan as-Sunnah, tetapi dampak sosial yang lahir dari
pelaksanaan ajaran Islam memiliki konsekuensi yang dapat dirasakan oleh manusia
secara keseluruhan.[4]
Berdasarkan pemaparan di atas, agama Islam
sangat menjunjung tinggi soal toleransi. Hal ini sangat jelas disebutkan dalam
surat al-Kafirun. Kendati demikian, untuk menjabarkan esensi makna dalam surat
tersebut, penulis akan menggambarkan beberapa penafsiran surat tersebut
ditinjau dari pandangan ulama tafsir dari era klasik hingga kontemporer.
Zamakhsayari sebagai mufasir era klasik menjelaskan dalam
tafsinya bahwa surat al-Kafirun ini merupakan surat yang yang diturunkan
untuk menguatkan status ke-Tuhanan Allah SWT, sebagai salah satu surat pembebasan
kemunafikun. Zamakhsayari sangat tegas mengatakan bahwa yang dituju pada penyematan kata kafir
pada surat ini adalah orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah SWT.[5]
Berdasarkan penjelasan di atas, kita bisa
lihat bahwa penyematan kata kafir dalam surat ini merupakan bahasa yang
sangat baik, karena adanya penguatan tauhid bagi umat Islam. Secara eksplisit
Imam Zamakhsayari mengatakan bahwa adanya penguatan tauhid ini berarti
adanya agama selain Islam. Pengakuan inilah merupakan bentuk toleransi dalam
beragama.
Ibnu katsir menjelaskan bahwa surat ini merupakan surat pernyataan Rasulullah
SAW. tentang terlepasnya diri dari perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang
musyrik. Ayat pertama dalam surat ini Ibnu Katsir menafsirkan bahwa perkataan
qul yaayyuhal kafirun ini adalah bentuk khitab terhadap
orang-orang kafir Quraish, namun kata itu juga tetap untuk merujuk
kepada seluruh orang kafir di muka bumi ini.[6] Ibnu
Katsir juga menambahkan dalam riwayat lain bahwa hal ini merupakan
kebodohan orang-orang kafir kala itu karena mengajak Rasulullah SAW. Untuk
menyembah berhala mereka selama satu tahun, kemudian mereka akan menyembah Rabb
Beliau satu tahun pula, dan kemudian Allah menurunkan surat ini di dalamnya
agar Rasullah SAW. Terlepas dari perbuatan tersebut.[7]
Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan
bahwa surat ini merupakan penekanan untuk meneguhkan ketauhidan umat muslim,
hal ini di buktikan dengan penafsiran Ibnu Katsir terhadap ayat wala ana
abidumma ‘abadtum yang artinya “dan aku tidak pernah menjadi penyembah
apa yang kamu sembah” disini Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ajaran
yang dibawa Rasulullah tidak akan pernah menyembah sesembahan apa yang
orang-orang kafir sembah. Artinya ini salah satu upaya melepaskan diri
dari ajaran-ajaran mereka, karena sesungguhnya setiap orang beribadah sudah
pasti memiliki sembahan dan ibadah yang ditempuhnya. Dan Rasulullah SAW. Serta
para pengikutnya senantiasa beribadah kepada Allah SWT atas apa yang
disyariatkannya.[8]
Imam Al-tabari juga
menafsirkan surat ini adalah surat yang menjelaskan betapa putus asanya kafir
Quraish untuk mengajak Rasulullah masuk kedalam agama meraka, atau untuk
memberhentikan dakwah Rasullullah SAW. Hal ini dibuktikan dengan disuguhkannya
hadis dan atsar yang ada mengenai ayat-ayat dari surat al-Kafirun.[9]
Imam al-tabari menyantumkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas
bahwa orang kafir Quraish menjanjikan Rasulullah SAW. Dengan memberikan
beliau harta hingga beliau menjadi orang terkaya di Mekkah, memberikannya
dengan wanita yang beliau inginkan dan memberikan beliau tahta kerajaan, mereka
berkata kepada Nabi ‘wahai Muhammad ini untukmu semua’, dan berhentilah mencaci
maki Tuhan-tuhan kami, jangan menyebutkan-Nya dengan yang buruk-buruk. Maka
kami akan memaparkan satu permintaan yang lain, yang mana hal ini akan
memberika kita kebaikan bersama. Lalu Nabi bertanya kepada meraka apa itu?,
mereka menjawab: ‘sembahlah Tuhan-tuhan kami (lata, dan Uzza) setahun dan kami
sembah Tuhanmu selama setu tahun juga. Maka nabi menjawab apa yang Allah wahyukan
kepada beliau.[10]
Abi Hayyan dalam tafsirnya menjelaskan
sebab turunnya surat ini, tidak berbeda sebagaimana umumnya ‘ulama mufassir
lainnya yaitu sebab turunnya ayat ini adalah dialog Nabi Muhammad SAW. Dengan orang-orang kafir Quraish tentang tawaran beribadah
secara bergantian antara Nabi Muhammad beserta kaum muslim untuk menyembah
Tuhan para kafir Quraish dan sebalinya mereka menyembah Allah dengan
anggapan saling memberi kebaikan di antara keduanya.[11]
Surat ini merupakan sebuah kabar
untuk kaum muslimin agar tidak ragu untuk menjalankan perintah dan
ajaran-ajaran Allah SWT. Surat ini juga menjelaskan kepada kaum muslim tentang
sifat orang kafir di antara meraka yang susah diatur, dengan bukti bahwa mereka
tidak menghiraukan perintah-perintah Allah SWT. Abi Hayyan menjelaskan kata kafir
yang tertuang dalam surat ini adalah bentuk pengkhususan terhadap Walid Ibn
Muughirah, Ash Ibn Wail dan Aswad Mutholib, Umayyah, Ubayya Ibnaa Kholfi, Abu
Jahal, dan buahnya Hijaj, dan teman-temannya bagi yang tidak selamat dan mati
dalam keadaan kafir.[12]
Pengkhususan ini untuk memperjelas bahwa siapa saja kaum-kaum musyrikin yang
susah diatur untuk taat kepada Allah SWT.
Quraish Shihab menyebutkan bahwa surat ini merupakan bentuk penolakan Nabi terhadap ajakan kaum
musyrikin yang di perkuat dan diteguhkan oleh Allah SWT untuk menyelesaikan
pesoalan Nabi dengan kuam musyrikin. Ini merupakan respon cepat wahyu dari
Allah SWT terhadap kebingungan nabi untuk menjawab persolan ini, seandainya
nabi menggunakan akal beliau untuk menjawab persoalan ini tentu akan mendapati
jawab yang sama. Sedangkan sebelum turunnya surat ini Allah telah menurunkan
surat Nuh yang menganjurkan untuk tidak
mengikuti seruan pada pembohonh, dengan harapn Nabi bersikap lemah supaya
mereka bersikap lemah pula.[13]
Kesimpulannya, para ulama tafsir baik secara implisit maupun eksplisit mengatakan agama Islam mengambil sikap secara tegas untuk saling toleransi dalam kehidupan beragama. hal ini secara jelas tercantum dalam surat al-Kafirun. Dengan demikian kita sebagai umat muslim harus membuka ruang dalam berpikir untuk menjunjung tinggi perbedaan keyakinan yang dianut oleh setiap manusia. dengan begitu kita bisa menjalani kehidupan saling berdampingan dan menjunjung tinggi perbedaan.
Referensi Tulisan:
Abi Qosim Zamakhsyari, Tafsir
al-Kassyaf, Libanon: Daarul marefah, 2009.
Jalil, Al-Imam
Al-Hafiz, Imaddudin abil fida Ismail bin Katsir Ad-Dimaski, Tafsir Alquran
Al-Azim, Jilid XIV, 2000.
Jarir,
Muhammad bin katsir bin Galib al-amali, Abu Ja’far al-Tabari, jami’ al-Bayaan
fi tawil al-Quran, (Digital
Liberary : Maktabah Syamilah).
M.
Quraish, Tafsir al-Misbah Pesan,
Kesan, dan Keserasian al-Quran, Cet IV. Jakarta: Lentera Hati, 2005.
Muchtar, Adeng
Ghazali, “Toleransi Beragama dan Kerukunan Dalam Perspektif Islam”, Jurnal
Agama dan Lintas Budaya, Vol. 01, No. 01, 2016
Suryana, Toto, “Konsep dan Aktualisasi Kerukunan Antara Umat Beragama”, Jurnal
pendidikan Agama Islam-Ta’lim, Vol. 09, No. 02, 2011.
Yusuf, Muhammad bin Abi Hayyan al- Andalusiy, Tafsir Bahri
al-Muhit, Jilid VIII, Bairut: Daarul Kutub al-Alamiyah Tahun 1413 H/1993 M
Shihab,
[1]Adeng Muchtar Ghazali, “Toleransi
Beragama dan Kerukunan Dalam Perspektif Islam”, Jurnal Agama dan Lintas
Budaya, Vol. 01, No. 01, 2016, Hlm. 27
[2]Adeng Muchtar Ghazali, “Toleransi
Beragama dan Kerukunan Dalam Perspektif Islam”..., hlm. 28
[3]Adeng Muchtar Ghazali, “Toleransi
Beragama dan Kerukunan Dalam Perspektif Islam”..., hlm. 28
[4]Toto Suryana, “Konsep dan
Aktualisasi Kerukunan Antara Umat Beragama”, Jurnal pendidikan Agama
Islam-Ta’lim, Vol. 09, No. 02, 2011, hlm. 132
[5]Abi< Qosim Zamaksyari<, tafsi<r al-Kasya<f..., hlm. 1225
[6]Al-Imam Jalil Al-Hafiz< Imaddudin
abil fida Ismail bin Katsir Ad-Dimaski, Tafsi<<>r Alquran Al-Az{i<m, Jilid XIV, (Bairut: maktabat 'awlad alshaykh lilrratib, 2000), hlm.
286
[7] Al-Imam Jalil Al-Hafiz< Imaddudin
abil fida Ismail bin Katsir Ad-Dimaski, Tafs>ir Alquran Al-Az{i<m,..., hlm. 286
[8]Al-Imam Jalil Al-Hafiz< Imaddudin
abil fida Ismail bin Katsir Ad-Dimaski, Tafsir Alquran Al-Az{i<m,..., hlm. 286.
[9]Abi< Ja’far bin Jariral-T{abari, Tafsir
al-T{abari Jami’ al-Bayan ‘An Tawil Quran..., hlm. 703
[10]Abi< Ja’far bin Jariral-T{abari, Tafsir
al-T{abari Jami’ al-Bayan ‘An Tawil Quran..., hlm 703
[11] Muhammad bin Yusuf bin Abi<> Hayyan al-
Andalusiy<, Tafs<ir Bah{ri al-Muhit{,{,..., hlm. 522.
[12] Muhammad bin Yusuf bin Abi Hayyan
al- Andalusiy, Tafsir Bahri al-Muhith..., hlm. 522.
[13] M. Quraish Shihab, Tafsir
al-Misbah Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Quran..., hlm. 579


Post a Comment
0 Comments